
Menundukkan kepala setelah mengucap permintaan maaf atas peristiwa tidak terduga di waktu sebelumnya, sosok kepala sekolah yang tidak lain merupakan sosok Angela yang menampakkan diri dalam balutan busana putih dan kuning ke emasan pada bagian penyambung jahitan, suara sanggahan mulai terdengar bersama diangkatnya sebuah tangan diantara barisan staf dan guru yang masing-masing dari mereka memakai busana serupa namun dengan jubah dan jahitan berbeda warna untuk membedakan jenis pekerjaan mereka.
" Sungguh, Senia. Saya pribadi sudah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan karenanya tidaklah mungkin bahwasanya masalah yang terjadi disebabkan olehmu. " ucap Angela mencoba menenangkan keributan yang ada selagi membela Senia yang merasa sangat terkejut dengan masalah yang terjadi di bawah tanggung jawabnya.
Menyalahkan diri sendiri sebagai hal yang tepat untuk menjadi jalan tengah dari semua keributan yang ada disertai alasan atas pembaruan sistem pertahanan yang belum sempura mulai menenangkan ketegangan diantara mereka terkait isu dari pihak dalam yang berniat menghancurkan otoritas kesatuan sekolah sihir.
" Demi keamanan bersama, setidaknya hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini hanyalah memulangkan kalian. " ucapnya yang terhenti beberapa saat bersama tarikan nafas berat tanda penyesalan.
Melanjutkan kalimatnya yang tertunda sebelumnya, saran kecil dari Queenela yang menolak kepulangan diri yang begitu tiba-tiba membawa sebuah cahaya pada Angela yang seketika itu melihat sosok serupa tuannya.
" [ Hehe, meski aku sendiri tidak terlalu mengerti mengenai apa yang mereka katakan. Setidaknya dengan ini aku masih bisa belajar untuk membanggakan ayah seperti yang aku janjikan. Hehe. ] " tawanya dalam diam ketika melihat wajah dari Angela nampak kembali menunjukkan senyuman.
Memberikan opsi pada mereka mengenai keinginan mereka untuk tinggal ataupun kembali ke tempat asal berdasar pada ketersediaan diri tanpa paksaan, sebagian besar dari siswa tingkat 6 sampai 9 memilih untuk tetap tinggal demi menjadi sosok hebat yang diakui seluruh negri dan membuat siswa peringkat dasar di bawah mereka mengikuti langkah mereka dengan harapan sama seperti Queenela yang berniat menjadi kebanggaan orangtua dan negaranya.
__ADS_1
" Ha! Ha-? Ha!! Haa!! Haa~!!! " teriak suara yang bermula dari seorang siswa tahun pertama mulai bersahutan dengan beberapa siswa lain yang mengalami luka ringan hingga luka fatal dari kejadian sebelumnya.
Mengarahkan pandangan pada tenda sederhana di dekat bagian utama dari Sekolah tinggi Platina, beberapa siswa yang tengah bahu-membahu memperbaiki area sekolah itu dengan sukarela menggunakan tenaga maupun sihir yang mereka punya mulai berkumpul di dekat tenda sederhana itu untuk memastikan bahwasanya tidak ada hal buruk lain yang akan terjadi pada mereka.
" Tenanglah kalian, mereka hanya terkejut atas apa yang terjadi sebelumnya dan tidak ada hal lain yang perlu dihawatirkan dari mereka. " ucap perawat yang berjaga di dalam tenda setelah beberapa guru dan staff mulai memeriksa keadaan mereka yang terluka.
Membisikkan sebuah hal tidak terduga pada staff terdekat dengan bagian tugas yang setara dengan kepala sekolah ataupun wakilnya, perawat yang bertugas itu meminta pada staff yang dimaksudkan untuk segera menyampaikan penemuan atas luka tanda kutukan pada dua siswa tahun pertama.
Menyapa balik Viro dengan ramah sembari menanyakan kejadian terakhir sebelum mereka kehilangan kesadaran, Vira yang sedari awal belum mengetahui kondisi buruk dari tubuhnya yang terkontaminasi sihir korupsi mulai mengungkit kehadiran sosok siswa tahun pertama yang datang menolong mereka meski tidak yakin bahwa pertolongan yang dimaksud adalah memberikan luka tambahan pada Viro maupun dirinya sendiri.
" Nh? Begitukah caramu berterima kasih pada seorang yang menyelamatkan kamu? " ucap Queenela dengan perasaan asing dalam dada ketika mendengar anggapan bahwa dialah penyebab luka yang diterima Vira maupun regu yang bersama dengannya.
" [ *Hmph* Ternyata sama seperti yang ada dalam salah satu kisah yang ayah ucapkan. ] " pikirnya sesaat sembari meletakkan beberapa racikan ramuan buatannya sebelum melangkah pergi dengan rasa enggan untuk kembali mendekatkan diri pada Vira maupun yang lainnya.
__ADS_1
Berpapasan dengan seorang siswa tanpa angka pada lambang seperti yang seharusnya, perawat yang kebetulan berganti giliran jaga itu mulai bertanya mengenai kedekatan para siswa dalam tenda dengan siswa yang baru melewatinya.
" Apakah benar begitu, Viro? " tanya perawat itu yang tidak percaya dengan apa yang Vira jelaskan.
Mengulang ucapannya kembali mengenai apa yang dia tahu mengenai Queenela dengan menambahkan beberapa hal sebagai penegasan, perawat yang nampak dekat dengan Viro segera memberikan nasehat kepada Vira mengenai desas-desus maupun rumor yang melekat pada siswa tanpa angka pada lambang itu sembari menyarankan untuk tidak terlalu dekat dengannya.
" Queenela Vee Rose, seorang siswa tahun pertama yang keberadaannya cukup dekat dengan kepala sekolah saat ini. Selain dari kemampuan fisik maupun sihir yang berada pada tingkat kategori misteri dalam uji kemampuan sebelumnya, dia juga merupakan satu-satunya orang yang mendapatkan hadiah personal access dari kepala sekolah yang mana personal access itu sendiri dapat membuatnya mengakses berbagai informasi dasar terhadap ujian lisan maupun uji kemampuan selama dia tinggal dalam lingkup Sekolah tinggi Platina " ucap perawat sebelumnya yang masih terngiang dalam kepala meski sudah beberapa hari berlalu semenjak penjelasan itu diucapkan.
Memandang langit penuh heran mengenai rumor bahwasannya Queenela merupakan anak gelap dari kepala sekolah maupun sosok hina yang melakukan kecurangan dalam uji lisan dan kemampuan, keyakinan dalam hatinya yang percaya pada kemampuan sesungguhnya dari Queenela mulai goyah tak kala mendengar beberapa siswa tingkat 5 berbincang mengenai sebab tragedi penyerangan sebelumnya yang terus menyeret siswa tanpa angka pada lambang seragamnya.
" Begitulah penjelasan yang dapat saya berikan, kepala sekolah Angela. Saya tidak bermaksud meragukan penilaian anda mengenai Queenela maupun meyakini kebenaran atas rumor yang ada. Namun demikian, setidaknya saya dan regu analisis telah melakukan hal terbaik atas lososnya dua monster tingkat tinggi itu ke lingkup Sekolah Platina. " ucap seorang pria dari ras Druid berpakaian seragam hitam khusus para staff dengan warna selingan biru dan kuning pada bagian penghubung jahitan serta lambang kaca pembesar timbul pada perisai segi lima pada tanda seragamnya.
Menganggukkan kepala setelah mendengarkan penjelasan dari kepala bidang keamanan sekolah dan memintanya untuk kembali memperbaharui informasi atas sistem keamanan yang baru di perbaiki, pemikiran mengenai Queenela yang dikira merupakan anak dari ras Void yang rasnya sama dengan sosok tuannya yang kini telah membatu di atas reruntuhan menara liga mulai menimbulkan tanya dalam diri mengenai keputusan pada pemanggilan orang tua dari Queenela sebagai antisipasi awal atas pembuktian bahwa Queenela bukanlah pelaku utama dari penyerangan monster sebelumnya.
__ADS_1