Fantasyum

Fantasyum
Bab 11.4


__ADS_3

" Apakah kamu tengah bercanda? " ucap Tear sembari menjelaskan bahwa tidak pernah ada laporan terbaru mengenai munculnya reruntuhan baru setelah 20 tahun berlalu semenjak runtuhnya Liga Nebula.


Terdiam tanpa kata setelah mendengar ucapan dari Tear mengenai musnahnya seluruh reruntuhan membuatnya berfikir bahwa pertarungannya waktu itu, turut menghapus satu aturan dunia dan membuat reruntuhan tidak kembali menampakkan dirinya.


" Lantas, apa yang membuatmu begitu yakin bahwa itu adalah satu reruntuhan? " ucap ketua prajurit itu sembari mencoba menanyakan kepastian dari apa yang Rose katakan.


Dengan berbagai perasaan yang timbul dalam diri, sebuah kejadian dimana dirinya bertemu sang dewi tiba-tiba terucap tanpa sadar dan membuat amarah mereka semakin menjadi.


* grtkssss * Suara dari tulang yang patah begitu jelas terdengar dalam ruangan itu disaat Rose mencengkram erat pergelangan tangan Tear yang mencoba melukai dirinya.


" Apakah dengan adanya bukti semacam ini, kalian bisa yakin bahwa aku telah di berikan berkah oleh sang dewi? " tanya Rose dengan mata kanan yang kembali menunjukkan lambang runera serta bagian tubuh yang kembali berubah layaknya demi human berselimut aura.


Menarik nafas panjang sebelum mengembalikan wujud asalnya membuat Tear maupun ketua prajurit itu mencoba mempercayai apa yang Rose katakan meski dalam diri mereka masih tersimpan keraguan.


" Aku tidak meminta kalian untuk percaya dengan apa yang aku katakan. Namun yang pasti, disaat diriku berada dalam kondisi terancam akibat serangan binatang buas di dekat reruntuhan itu. Sosok dewi itu muncul dan memberikanku kekuatan untuk meraih kemenangan. " lanjutnya menjelaskan satu kebohongan yang membuatnya mendapatkan satu berkah untuk menyamarkan asal kekuatannya yang sebenarnya.


Mengambil keputusan terakhir untuk melepaskan Rose dari jerat masalah yang ada membuat dirinya teramat bahagia lagi lega setelah bertemu kembali dengan Vira, Luna maupun Rola.


" Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang anda sekalian berikan. " ucap Luna sembari membungkuk hormat setelah meminta kepada mereka untuk mengantarkannya pada satu gereja terdekat.

__ADS_1


Membalas ucapan terima kasih itu bersama dengan pelukan hangat dari Vira maupun Rola, rombongan prajurit itu kembali melanjutkan perjalanan mereka bersama Rose yang berniat menjadi saksi kunci atas kejadian sebelumnya.


" Bagaimanapun juga, dia adalah sosok yang amat berbahaya jika kita memusuhinya. " Nasehat Tear dengan wajah waspada membuatnya terus memikirkan satu cara agar dirinya dapat memantau Rose apapun kondisinya.


Merapikan diri dengan pakaian pemberian seorang prajurit sebelum memasuki ruang sidang untuk menjadi saksi atas kehancuran desa tempatnya berada, sempat membuatnya gugup terlebih setelah mendengar adanya sosok hebat yang mampu mendeteksi kebohongan di ruang sidang.


" Hormat kami pada penjaga teritori Negri Grelia! " ucap seluruh sosok yang ada dalam ruangan itu sembari menundukkan kepala ketika sosok demi human dengan ras serigala perak nampak berjalan menuju meja hakim pertama di iringi dengan beberapa sosok penjaga bertipe mecha.


Mendengar nama yang begitu familiar baginya membuatnya enggan untuk percaya bahwa Vi yang ada dihadapannya merupakan sosok Vi yang pernah menemani dirinya di kehidupan sebelumnya.


" Duduklah. " ucap Vi sembari melakukan perintah sederhana dengan gerakan tangannya sebelum keramaian yang ada kembali sunyi seperti sedia kala.


Duduk diantara beberapa hakim muda dari dua ras berbeda yang menjadi perwakilan atas ras manusia dan ras hybrid, sidang utama pada para prajurit pun di mulai dengan hentakkan energi yang begitu mengintimidasi.


Beberapa pertanyaan mulai dilontarkan oleh hakim muda perwakilan kepada Rose setelah keheningan yang ada dihancurkan oleh ketukan palu dari Vi sebagai hakim pertama.


" Ya, tidak, tidak, tidak dan saya tidak terlalu menginginkan hukuman berat kepada mereka karena tanpa mereka, mungkin saya dan beberapa warga yang tersisa tidak akan bisa selamat setelah serangan itu menghancurkan desa. " Balas Rose dengan cepatnya setelah beberapa pertanyaan dilontarkan berdasar pada laporan yang diajukan.


Meski sempat terfikir dalam diri mengenai beberapa perbedaan dalam laporan dengan kenyataan medan yang ada, Rose tetap memihak para prajurit penjaga yang telah menolong dirinya meski dirinya tidak terlalu peduli pada hukuman macam apa yang akan dijatuhkan pada mereka.

__ADS_1


" Dalam laporan yang telah kami baca, ada sekitar 4 sampai 6 kota dalam teritori yang kalian jaga telah hancur tak bersisa dan membuat 3695 manusia dan demi human yang tinggal di dalamnya harus meregang nyawa. " ucap Vi sembari menjelaskan beberapa hal dengan nada marahnya ketika mengetahui bahwa beberapa teritori yang ada dalam pengawasannya harus hancur akibat kelalaian para penjaga maupun pleton yang dirasa tidak berguna.


" Viteralis Nagra. " ucap Rose dengan sengaja untuk menghentikan ucapan Vi yang terus memojokkan para penjaga.


" Maaf, menyela ucapan anda. Namun dari apa yang nampak dalam raut wajah anda, saya bisa memahami bahwa anda pun pernah berhadapan dengan sosok monster dalam tingkatan naga. " lanjutnya setelah beberapa hakim muda melemparkan maksud dari pernyataan Rose yang begitu tiba-tiba.


Melepaskan ikatan yang menutup kedua mata dengan bekas luka, Vi sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.


" [ Apakah mungkin, dia yang di sana termasuk dalam ras serupa dengan beliau,[ masterku satu-satunya? ] " ucapnya tidak percaya setelah melihat lingkaran tanda runera terus berubah di bagian mata kanannya.


Mengetuk palu tanda keputusan final atas hukuman yang diberikan, tarikan nafas lega nampak begitu jelas atas semua sosok yang menjadi terdakwa.


" Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas kebaikan mu, anak muda. " ucap senang ketua penjaga itu meski harus kehilangan pekerjaan utamanya.


Meski sempat merasa kecewa atas keputusan final yang di terima oleh mereka, wajah gembira justru nampak terukir di setiap perwakilan yang menandakan bahwa keputusan itu merupakan keputusan terbaik dari pada hukuman serupa tahanan perang.


" Kehilangan pekerjaan dan status sosial merupakan hal teramat menyakitkan jika mereka berada dalam dunia kejam, tempatku tinggal. " gumamnya sebelum mengalihkan pandangan ke asrama sederhana tempat tinggalnya sementara.


* Dbuks * " Kaka! Terima kasih atas kerja kerasnya! " ucap Vira dengan memeluk tubuh Rose beberapa saat setelah membuka pintu asrama.

__ADS_1


Bermain lagi bercanda dengan adik kecilnya yang begitu manja beberapa saat sebelum Rola memanggil mereka untuk makan bersama, suasana yang begitu hangat itu membuat mereka nampak layaknya satu keluarga yang harmonis lagi bahagia.


* sbrakssss strats strats strats * " Vitralis Nagra, ya? Hehe, sudah lama sekali aku tidak mendengar seorang menyebutkan nama dari seekor naga dengan kemampuan penghisap mana. " gumam Vi sembari membuka satu buku ensiklopedia yang dipenuhi debu dan noda kuning dimana-mana.


__ADS_2