Fantasyum

Fantasyum
Bab 12.4


__ADS_3

Dalam satu ruang yang hanya di sinari beberapa batuan murni dengan ukiran misteri, seorang pria tengah duduk memandang tubuh pria lain yang terlelap tenang dalam kurungan kristal keabadian.


" Tidak, masih belum cukup. Apa yang dimilikinya masih belum membuatnya setara dengan sosoknya yang luar biasa. " ucapnya sembari mengusap kristal itu dengan senyuman kekesalan.


* dbrums dbrums dbrums * Beberapa pukulan keras sempat terdengar sebelum pria itu pergi menghilang bersama luka memar di kedua tangannya.


" [ Jika nona muda tahu, bahwa kamu belum merelakan kepergiannya. Aku yakin, bahwa dia akan sangat kecewa atas apa yang kamu ucapkan sebelumnya. ] " ucap seorang perempuan dalam balutan jubah serba hitam sembari berjalan menjauh dari kristal yang dipenuhi dengan darah.


...----------------...


* gcrapts * Noda darah mulai memenuhi dinding satu ruang disaat Rose mencoba melatih diri untuk mengubah bentuk tubuhnya ke dalam bentuk lain yang sama seperti saat hari pengujian.


" Mungkin aku harus mempelajari satu teknik khusus untuk mengubah bentuk lain itu atau hal lain yang berkaitan dengan pola runera ke 9 itu. " gumamnya setelah menutup kembali lengannya dalam balutan perban sebelum memberikan sihir penyembuhan.


Menatap kedua tangannya dengan pemikiran panjang atas semua kegagalannya, suara langkah kaki mulai terdengar samar dan membuatnya memilih untuk berhenti menyiksa diri.


" Zera? Apakah kamu masih terjaga? " Sapa Rola sebelum masuk kedalam kamar tidur dari Rose yang gelap gulita.


Mencoba mencari lentera dinding dengan sisa cahaya yang ikut masuk dalam pintu yang terbuka, Rola terus meraba setiap sisi di dekatnya sampai sesuatu yang dirasa asing mengejutkan dirinya.


" Apakah ini darah? " gumamnya lirih setelah melihat noda merah yang terasa begitu kental di sertai bau amis yang mulai membuatnya mual.


" Nh. Sera, rupanya? " ucap Rose menyapa setelah menyalakan lampu lentera yang ada di dinding kamarnya dan membuat Rola menutup matanya.

__ADS_1


Mempersilahkan Rola untuk duduk di atas tempat tidurnya yang sederhana sementara dirinya membersihkan noda darah yang ada, Rola sempat merasa bingung lagi curiga atas apa yang Rose lakukan dalam kegelapan malam.


" Nh, maaf jika aku membangunkanmu dengan suara gaduhku. " balas Rose sebelum mengatakan bahwa dirinya tengah membersihkan luka fatal yang ada di lengan kanannya setelah mendapat satu serangan dari monster buruannya.


Terkejut dengan apa yang Rose katakan dengan wajah santainya membuat Rola segera bangkit dan memeriksa kondisinya.


" Tenanglah, Sera. Luka kecil semacam ini tidak akan menjadi masalah buatku. " lanjutnya menenangkan.


" Tapi, Zera! Tetap saja aku khawatir kepadamu. " balas Rola terus memaksa


* statapts, dbrughs * Keduanya jatuh dalam posisi tumpang tindih disaat rak yang menyangga tubuh Izera ambruk akibat Rola yang terus memaksakan diri.


Dalam beberapa saat setelah kejanggungan diantara keduanya berlalu, Rose kembali memastikan setiap bagian tubuh Rola tidak mengalami luka fatal maupun luka lainnya.


Tertunduk diam tanpa kata dengan terus menutupi wajah merahnya, Rola segera kembali ke kamar tidurnya setelah beberapa kata memalukan terucap tanpa sadar.


" Aku tidak terlalu mengerti apa yang dia inginkan dariku setelah menyebutkan dua kata itu. Namun dari apa yang aku ingat mengenai gaya bahasa itu, mungkin yang dia maksudkan adalah " Nier-Altaral-Faith " [ Perjalanan -Aula-suci ]." gumamnya yang teringat beberapa kosakata dari dunia baru itu yang mengacu pada perjalanan menuju aula suci ataupun perjalanan menuju janji suci.


Menggelengkan kepala dengan anggapan bahwa Rola tidak mungkin mengatakan hal serius itu dengan tergesa-gesa, Rose kembali menyelimuti tubuhnya dengan kain sederhana.


" [Ap--apa yang aku katakan barusan!! ] " ucap Rola sembari mengigit selimut yang membalut tubuhnya sebelum berguling kesana-kemari dengan wajah merah lagi gelisah.


* Skrings * Bel dari rumah makan sederhana itu kembali berbunyi dalam pagi nan begitu sunyi.

__ADS_1


" Vira, Kaka akan pergi mengambil beberapa misi dan akan kembali sebelum mentari kembali bersembunyi. Oleh karena itu, tolong jadi anak baik dan jangan merepotkan Ka Sera seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Mengerti?" ucap Rose sembari menenteng ransel besar dengan belati di kedua sisi ikat pinggang dalam balutan pakaian hitam serta topi besi serupa tudung petani.


Mengaitkan janji kelingking dengan senyuman setelah menunjukkan wajah kesal dan pembelaan diri bahwa dia hanyalah kambing hitam dari masalah waktu lalu.


" Hey, Bola bulu. Aku bisa melihatmu, bersembunyi di balik tong besar itu. " ucapnya menahan tawa ketika melihat tarian ekor putih kehitaman diantara tumpukan barang area pembuangan.


Merapikan pakaian yang melekat dalam diri setelah bersusah payah keluar dari tempat persembunyian untuk menghadang Rose dalam perjalanan, sosok yang di panggil bola bulu itu kembali menyapa Rose dengan senyuman sebelum mengucap satu permintaan.


" Bola bulu, bola bulu. Sudah berulang kali aku katakan kepadamu. Aku bukanlah sosok yang dapat memenuhi harapan itu. " balas Rose dengan helaan nafas panjang di awal pertemuan.


" Nho! hm! Aku bukan bola bulu! Namaku Vi[ora Alodia ] Ro[se]! dan aku tetap ingin menjadikan kamu sebagai guruku! " balas Viro dengan memperbaiki sapaan dari Rose yang nampak mengabaikan dirinya dan terap melanjutkan perjalanannya.


Baik dalam aula guild untuk pengambilan misi maupun pasar lokal untuk mengisi persediaan rumah makan, Viro terus mengikuti langkah Rose kemanapun dirinya pergi.


" Anu, begini Vi-ro. Sudah hampir dua tahun ini, kamu terus melakukan hal yang sama setiap hari dan meski aku abaikan pun, kamu tetap bersikap seperti ini. Jadi, aku mohon. Untuk yang kesekian kali. Tolong pergi dari sini dan berhenti merepotkanku seperti ini. " ucap Rose dengan kesal sembari melihat Viro yang tergantung dalam posisi terbalik setelah beberapa monster tipe tanaman menyerang.


" He, em. Tidak! Aku tidak akan menyerah sampai kamu memenuhi keinginanku! " teriaknya dengan semangat tanpa memperdulikan dirinya yang hampir kehilangan kesadaran akibat lilitan dari akar menjalar dari monster pohon besar.


Menarik nafas panjang dan kembali merasa bimbang atas apa yang diucapkan Viro, membuat dirinya berkeinginan untuk meninggalkannya dalam posisi seperti itu dan menganggap bahwa Viro hanyalah angin lalu.


" Hey!! Zeral!! Cepat tolong aku!! Aku bisa kehilangan nyawa jika kamu tidak menolongku dengan segera!! " Teriak Viro sekuat tenaga ketika beberapa tatapan mata merah mulai terlihat dalam langkah kaki Rose yang menjauh dari tempatnya terjebak.


" Hey!!! Hey!!!! Cepatlah!!! Tuan!!! Aku mohon!!! Selamatkan aku!!!! Aku janji aku tidak akan kembali mengikuti mu lagi!!! " Lanjutnya dengan panik ketika wujud monster yang di takuti mulai menampakkan diri bersama air liur yang membasahi pipi.

__ADS_1


" Aku mohon!!!! [Ayah!!!! ] " Jeritnya dengan tangis air mata ketika satu serangan fatal tengah menuju ke arahnya.


__ADS_2