
" Kenapa? kamu bilang? " ucap Izera pada Rola tidak lama setelah dirinya maupun para pelayannya mulai tinggal dalam mansion pemberian Vi dan Airina.
" Tentu aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan ? Aku tidak ingin membuat Vira kehilangan akal sehatnya, jika dia tahu bahwa kakaknya telah tiada sejak lama akibat serangan para pemuda yang disewa ayahmu di waktu itu! " Teriaknya dihadapan Rola sembari menunjukkan bekas luka yang mulai terbuka bersama perubahan wujud iblisnya yang nampak jelas memberikan jeda pada bagian bola mata kanannya yang tiba-tiba menghilang sebelum digantikan menjadi bola mata biru menyala yang pusatnya tertera jelas satu lambang dari runera.
Memaksakan diri untuk meredam rasa takutnya demi mengetahui kebenaran yang ada, tamparan keras di pipi Izera membuat tangan Rola terluka bersama ucapan tidak terima atas hinaan yang terucap sebelumnya.
" Oh, baiklah! Baik! Jika itu adalah hal yang kamu percaya, kenapa kamu tidak membangkitkan tubuhnya dan bertanya padanya secara langsung untuk melihat kenyataan yang ada! " balas Rola yang tidak mampu lagi berfikir jernih terhadap ucapan Izera yang terus memojokkan dirinya.
Melepas tawa tepat di wajah Rola dengan sengaja sembari mengatakan bahwa dirinya sudah pernah melakukannya, beberapa fakta baru mengenai kehancuran desa tempat mereka tinggal sebelumnya pun berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan oleh dua orang bodoh yang tidak lain merupakan sosok ayah bagi Rola maupun bangsawan hina yang berniat mempersunting Rola.
" Tentu aku tidak bercanda, Sera. Di waktu bangkitnya dalam kubur, dia mengucap secara jelas bahwa saat kamu menolak mentah ajakan pernikahan dari bangsawan itu di tengah ramai nya kedai, ayahmu sangat murka kepada Ize dan mengirimkan beberapa berandal desa untuk menyerang tubuh menyedihkannya yang berniat memberikan sepotong pai daging pada Vira yang menanti kepulangannya. " ucapnya yang tanpa sadar mulai meneteskan air mata tak kala bayangan dari sosok Ezra yang memohon ampunan tak kala pukulan keras terus menghujani dirinya.
__ADS_1
Melanjutkan kembali bagian yang sempat terhenti dengan menyebutkan perjuangan Ezra yang harus merangkak penuh luka demi mencapai rumahnya, ucap sapa dari Vira yang sedari awal kepergiannya duduk diam memeluk boneka jerami dengan satu tangan yang terikat pada gagang pintu rumah sebagai cara menyatakan bahwa dirinya telah kembali.
" Kau tahu setelahnya ? Harg! Ize terbaring dihadapan Vira dengan bahagia setelah memberikan pai itu kepada Vira meski hanya seperempat bagian saja yang mampu dirinya selamatkan akibat penyerangan sebelumnya! Dan tidak lama setelah Ize kembali menampakkan diri untuk bekerja, akhir hidupnya pun mendatangi dirinya. " ucapnya menggambarkan situasi terakhir dalam diri Izera sebelum kematian mendatangi dirinya.
Menambahkan kesaksian dari Dewi Vexilis yang menjelaskan bahwa jiwa Izera yang semula bangkit atas ritual terlarang yang dilakukan oleh pengikut dari bangsawan sebelumnya demi membuat citra diri maupun nama baik Izera hancur di mata Rola, kesan tidak percaya kembali muncul dalam dirinya yang tidak lama setelahnya membalikkan ucapan itu dengan ucapan omong kosong belaka yang mana nama dari Dewi Vexilis tidak pernah didengar oleh dirinya.
" He,em. Sayangnya apa yang diucap Rose adalah kebenarannya. Sera. " ucap Dewi Vexilis yang muncul secara tiba-tiba di belakang Rola yang meragukan keberadaan dirinya.
" Dan karenanya, dengan memberikan sebuah harga yang setara pada kakakmu. Aku mendapatkan bentuk perubahan semacam ini. " lanjut Rola setelah menjelaskan satu kebohongan mengenai bentuk perubahan tubuhnya yang kini serupa malaikat dengan balutan busana pelayan mansion yang didominasi warna hitam lengkap dengan penutup mata yang terdapat asesoris berbentuk matahari di bagian dahi serta empat pasang sayap kehitaman yang terus menjatuhkan bulu-bulunya.
Mengatakan keegoisan dirinya yang mengibginkan posisi yang setara dengan Alruene, Merry, Sasya dan bahkan Altaira meski harus membuang jauh rasa kemanusiaannya, Rola mengucap lirih rasa penyesalan yang timbul setelahnya sebelum perlakukan yang di maksudkan mulai menghapus bekas penyesalan yang tersisa dalam dirinya.
__ADS_1
" [ Sekarang aku tahu maksud dari ucapanmu, Izera. ] " ucapnya dalam hati ketika Vira terus mengucap kekesalan pada dirinya yang mengambil langkah tidak terduga demi memperoleh kekuatan khusus yang membuatnya setara dengan pelayan pribadi dari Izera.
Mengakhiri malam dengan kisah kenangan mengenai keseharian menakjubkan bersama kakaknya sewaktu masih bisa melempar canda dan tawa, mereka yang larut dalam kebersamaan mulai memejamkan mata tanpa sadar dalam ruang khusus tempat kristal Izera berada dan melupakan keberadaan Mina yang masih terkurung dalam ruang bawah tanah sembari menunggu kepastian masalah diantara dirinya dengan mereka yang menjadi pemilik mansion setelah Izera.
" Nh, [benarkah itu!] Lalu bagaimana dengan Viro ? Apakah mereka baik-baik saja ? [ ya ampun, aku tidak menduga bahwa Vira bisa seimbang melawan Viro! ] He,em. [ Syukurlah. Keputusanku untuk tidak memberikan belati century yang asli asalah keputusan yang benar.] " ucap Rose yang asik membalas pesan suara dari Vi sembari mengusap pelan kepala Queenela yang tidur diatas pangkuannya.
Mengatakan harapannya terhadap Vira yang semula berfokus pada pendidika umum dan budi pekerti yang baik tanpa harus menempatkannya pada sekolah tinggi maupun bergengsi, tawa kaget dari Vi yang terlalu memfokuskan diri pada kepercayaan yang Rose beri membawanya pada hal berlebihan.
" Tidak perlu membatalkan rencana itu, Vi. Aku tahu bahwa kamu berniat baik untuk memegang tanggungjawab terhada Vira dan kamu ingin Vira menjadi sosok hebat seperti Viro dan Altaira. [ Meski aku tidak tahu juga si, kebenarannya. ] Dan yah, hehe. Aku sendiri menyadari bahwa semenjak aku kembali dalam wujud Ize, aku mungkin terlalu memanjakan dirinya sampai kekuatan hebat seperti itupun aku sampai melewatkannya. " lanjutnya menanggapi persiapan matang mengenai Vira yang akan menjadi sosok hebat lagi bermartabat selayaknya Viro maupun Altaira.
Menggigit bibirnya sendiri ketika merasa bahwa anak yang di besarkan olehnya terasa kurang menunjukkan kepuasan pada Rose selaku suaminya, tatapan tajam disertai amarah yang cukup besar membuat tekad dalam hati Vi mulai membawanya pada perbaikan pola asuh dan didikan dengan harapan bahwa rasa puas akan nampak pada Rose yang sekaligus membuktika bahwa dirinya mampu melakukan tugas sebagai ibu.
__ADS_1
" Tapi, yah. Aku sendiri tidak menyalahkan kamu sepenuhnya. Karena dari apa yang aku dengar dari Viro dan Altaira di waktu masih berada dalam tubuh Izera, aku merasa bahwa kamu adalah ibu sekaligus istri yang patut dibanggakan. " tambahnya memberikan pujian meski sempat kesulitan memilih kata yang cocok terhadap pola asuh dari Vi.