
" Aya~h, Ibu~! Coba lihatlah ini! " ucap seorang perempuan berrambut biru keputihan sembari menyerahkan memberikan sebuah amplop surat dengan senag
" Hehe, Ye~y! Benar, ayah, ibu. Untuk pertama kalinya aku diakui sebagai sosok yang hebat! Hehehe. " lanjutnya dengan senang sembari melihat sebuah senyuman di kedua wajah orang tuannya yang terdiam tanpa kata
" Hm~ ya, ayah. Meskipun aku selalu menjadi murid yang tertinggal dan terasingkan. Aku tetap semangat untuk menunjukkan apa yang aku bisa seperti yang ayah katakan dan membuatku bisa seperti ini." tambahnya sembari meneteskan air matanya ketika mengingat perjuangannya untuk diakui dalam kelas yang dirinya tempati.
Sembari duduk dan meletakkan surat itu di atas meja, perempuan itu melanjutkan tangisnya sembari memeluk erat foto buram diantara kesunyian malam.
" Hua~amsss, * drupts * argh. [ Melegakan.] Berkat kebaikan dari kepala sekolah, kami diberikan hari libur untuk pemulihan sampai akhir minggu depan. " ucap perempuan itu sembari merenggangkan tubuhnya sesaat sebelum melihat kalender kecil dengan lambang 8 dewa yang menaungi 12 kerajaan.
" Sol, XI, Ila, adalah hari pembekalan sebelum kepergian kami ke tempat mengagumkan itu. " ucapnya dalam hati sembari membersihkan perisai besar kebanggaannya sebelum menaruhnya di samping pedang yang terpancar sedikit aura.
Dengan memandang langit diantara kesunyian di atas reruntuhan kuil berselimut ilalang, perempuan itu nampak memejamkan mata dengan ukiran dalam wajah manisnya.
* krassess krassess krassess* langkah kaki diatas dedaunan nampak terdengar samar
" Oya Oyah, Sepertinya aku pernah melihat perempuan ini sebelumnya. " gumamnya sembari mengingat sosok yang serupa dengannya
* Gsriiiingssss sdammmsss * " Siapa kamu! " ucap perempuan itu setelah melompat menjauh dari Rose dan mengambil sikap siaga bersama dengan perisai untuk melindungi diri beserta pedang tajam yang diacungkan.
* supts * " A~ benar. Nona Pladin! " balas Rose setelah mengingat sikap siaga dari perempuan itu yang serupa dengan salah satu yang ikut dalam ujian sebelumnya
__ADS_1
Bingung dengan apa yang sosok asing itu katakan, perempuan itu mulai mundur dan menjaga jarak ketika sosok asing itu mulai mendekat.
" Tenanglah, tenang. Aku bukanlah musuhmu. " ucap Rose secara berulang sembari menunjukkan wujud yang mungkin dikenal oleh perempuan itu.
Memanggil sebuah nama yang terlintas dalam benaknya setelah mengingat kejadian sebelumnya, perempuan itu mulai menurunkan pedangnya sembari memastikan kebenarannya.
" Hm? Ada berbagai alasan yang membuatku enggan menunjukkan diri dalam wujud semacam ini. " ucap Rose membalas pertanyaan perempuan itu mengenai bentuk aslinya.
" Emh? Bukankah dengan penampilan ini, anda bisa mendapatkan banyak kemudahan dalam berbagai hal? Seperti rumah tempat tinggal dan sesuatu yang diimpikan? " balas perempuan itu sembari menggambarkan keinginannya secara tersirat.
" Hehe. iya, Iris. Apa yang kamu ucapkan memang dapat menjadi sebuah kenyataan. Namun kembali lagi dengan apa yang aku impikan sejak lama. [ Aku hanya ingin hidup dalam dunia tanpa adanya polusi maupun polutan di setiap penjuru negri. ] " balas Rose sebelum menghentikan ucapannya sembari menundukkan kepala.
" Bagaimana menurutku? Hehe, ya~. Itu bukanlah hal yang sulit untukku dalam penaklukan reruntuhan semacam itu. Lagipun jika kamu sudah menjadi seorang Raider, kamu akan memahami beberapa hal sepesial yang ada di setiap reruntuhan yang ada. " balasnya mengenai penaklukan reruntuhan yang nampak mudah baginya.
" Lalu, bagaimana agar aku bisa menjadi sosok Raiders itu? " balas Iris tertarik
Melihat Iris yang begitu bersemangat dengan hal yang berkaitan dengan Raider Ruins, Rose sempat mengalihkan pandangannya ke langit cerah kala itu sebelum bangkit dan menjelaskan sesuatu.
" Tidak ada hal khusus yang perlu kamu siapkan untuk menjadi seorang Raider Ruins. Karena bagaimanapun juga, Raider hanya sebuah pemberian untuk menghormati mereka yang menuntaskan penaklukan dalam kekejaman penuh siksa di bagian terdalam reruntuhan neraka. " lanjutnya sembari melihat ke arah reruntuhan lain yang ada dihadapannya bersama Iris yang menerima ajakannya.
Terdiam tanpa kata dengan kembali menatap tegang ke arah reruntuhan seperti sebelumnya, Iris mulai melangkahkan kakinya.
__ADS_1
* sreeeeeeessssshssssss srisingssss* Bersamaan dengan keluarnya darah yang menghujani tubuhnya dari tubuh monster tanpa bentuk tubuh sempurna, Iris hanya bisa gemetar ketika melihat Rose terus menari bersama sepasang sabit kecil di tangannya dan menyerang beberapa monster yang tersisa.
" Hal dasar yang kamu harus perhatikan sebelum menjelajahi satu reruntuhan adalah persiapan, rekan, dan tentunya perkiraan kekuatan yang ada dalam diri. " ucapnya sembari menghampiri sebelum meminta Iris membereskan beberapa monster berbentuk jari jemari.
* Scriiiiiiiingssssss Sbruuuuuummmmssssshh..... * Melangkahkan kaki ke lantai selanjutnya, sebuah senjata api bertipe meca nampak melesatkan serangan area dan membinasakan seluruh monster yang ada hingga menembus lantai setelahnya.
" Pengetahuan tingkat lanjut yang perlu kamu perhatikan setelah hal dasar sebelumnya, hanyalah kemampuan senjata, research & item yang cocok untuk bertahan dalam situasi tidak terduga. " lanjutnya dengan menciptakan sebuah shelter untuk Iris sebelum melanjutkan pertarungannya dikala para monster menunjukkan kekejamannya.
* Swupsss Sdradadadadadadamssss * Sesaat setelah sabit besar dengan aura hitam nan pekat ditebaskan, berbagai ledakkan mulai bermunculan dari tubuh para monster yang terbalut dalam api hitam sebelum akhirnya menjatuhkan beberapa drop item maupun research item.
" Selain dari apa yang aku katakan sebelumnya, kamu pun harus pandai memanfaatkan jeda waktu yang ada untuk memanen research item yang ada maupun berbagai hal menarik lain dalam setiap lantai seperti sebelumnya, sebelum para monster kembali datang dan menyerang." tambahnya sembari mengais beberapa drop item maupun research item yang ada sebelum kembali melangkah lebih dalam dari lantai sebelumnya.
* Swupsss swupsss sdrapts swupsss Sdradadadadadadamssss swupsss Sdradadadadadadamssss Sdradadadadadadamssss * " Dan hal mutlak yang harus selalu kamu ingat adalah efektifitas dalam gerak dan selalu melepaskan kemampuan terhebat di saat yang tepat. " ucapnya dengan jelas disaat boss lantai nampak memberikan serangan brutalnya pada dirinya dan dia hanya menangkisnya dalam gerakan sederhana melalui teknik seni bela dirinya.
Dengan terus memperhatikan gerakan cepat yang nampak kasat untuk dilihat membuat Iris sadar bahwa keinginannya untuk menjadi seorang raider ruins membutuhkan waktu yang sangat panjang dan melelahkan.
* swuwups swuwups swuwups swupsss sdraaaammmm sdraaaammmm sdradadadadadadamssss sbruummmshs. * Dalam sekejap mata sesuatu yang nampak lebih besar dari Boss reruntuhan itu muncul dengan sesuatu yang nampak bergelombang sebelum sosok besar itu melesatkan serangan brutalnya pada bos lantai dan membuat pandangannya terhalang oleh debu yang berterbangan.
" Hehe... ya. Hanya beberapa hal tadi saja yang dapat aku sampaikan kepadamu jikalau kamu memang berkeinginan untuk menjadi seorang raider ruins seperti sebelumnya. " ucapnya sembari mengusap kepala Iris dengan pelan setelah bertanya mengenai jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keinginan itu.
" [ Baiklah, dengan adanya pelajaran berharga ini. Akan aku pastikan, setelah lulus nanti. Aku akan menjadi seorang raider ruins sperti dirinya dan pengajar yang lebih baik dari Bu Nana! ] " ucapnya sembari mengepalkan kedua tangannya sembari memandang bintang di kegelapan malam.
__ADS_1