
Memberikan salam perpisahan pada adik-adiknya sembari berpesan bahwa mereka harus menuruti aturan yang ada dan tidak merepotkan Altaira maupun yang lainnya, pelukan hangat kembali diberikan pada mereka sebelum dirinya melangkahkan kaki untuk pergi bersama Vira menuju sekolah sihir bergengsi.
" Em~n, maaf ya. Mina. Aku tidak bermaksud membuatmu jauh dari mereka. " ucap Vira yang kembali menjadi pribadi yang ramah dan ceria seperti biasanya.
Mengusap telapak tangan Vira yang memegang erat tangan kanannya menggunakan tangan kiri sembari berkata bahwa itu semua bukanlah salah Vira, ucapan kata dari Vi yang menyarankan mereka berdua untuk kembali secara rutin setiap 1 atau 2 bulan sekali membuat kerisauan hati dalam diri sedikit mereda.
" Nh, iya. Karena Bibi Vi mengatakan bahwa belati ini pun sangat berbahaya jika digunakan terlalu lama, jadi aku memutuskan untuk menggunakannya dalam kondisi terdesak saja. " Balas Vira menjawab ucapan Mina mengenai belati yang mampu mengubah pribadi diri.
Mengangguk setuju dengan apa yang Vira ucapkan membawa mereka pada berbagai pembicaraan lain mengenai pandangan Izera dari sisi keduanya yang saling mengucap hal berbeda lagi tak terduga sebelum larut dalam canda tawa hingga memejamkan mata dalam kereta kuda yang masih satu rombongan dengan kereta kuda dari tempat Viro dan Vi berada.
" Baiklah, dengan tanpa kehadiran dari Angela dan Victoria yang masing-masing memiliki tugas untuk mengawal acara pembuka maupun menjaga subjek penelitian tuan kita. Mari kita bahas kelanjutan masalah dari pertemuan selanjutnya. " ucap Airia yang berdiri dihadapan beberapa orang berjubah yang tidak lain merupakan anak cucu dari para saudara yang selamat dari medan pertempuran melawan dewa petaka.
__ADS_1
Mendiskusikan masalah sebelumnya yang membahas berbagai hal mengenai isu keamanan maupun aturan, salah satu sosok berjubah yang ada mulai bangkit dan menjelaskan bahwasanya mereka telah memaksimalkan semua keampunan yang mereka punya untuk memperkuat sistem keamanan dalam berbagai bidang serta merevisi ulang beberapa aturan berdasar masukan dan saran dari Rose maupun mereka yang setara dengan Vi dan Airina.
" Selain dari itupun, kami juga sudah mendapatkan konfirmasi dari kesatuan sekolah sihir Mawar Merah dan Hitam yang demikian dengan itu. Seluruh zona netral dari teritorial yang ada, sama-sama menolak tegas bujuk rayu para bangsawan hina yang berniat mencuri segala jenis informasi yang kita jaga selama ini. " lanjutnya membahas isu terkait campur tangan para bangsawan yang menginginkan kesetaraan kedudukan atas sekolah sihir yang dibangun berdasarkan unsur kesamaan nasib dari mereka yang gagal mempertahankan Liga Nebula.
Melihat wajah lega dari Airina dan Vi yang ada dihadapan dirinya membawanya pada kebanggan tersendiri setelah menyelesaikan konflik internal yang sempat memakan banyak korban dari generasi mereka yang sebelumnya.
" Benar katamu, Ege. Jika saja waktu itu, kita tidak membiarkan para bangsawan ikut campur tangan dalam masalah pembangunan. Masalah dari status sosial tidak akan mengubah Altaira menjadi sosok hina yang memandang rendah para manusia terutama mereka yang berasal dari tingkat terendah kasta para manusia. " ucap Airina menyinggung kemalangan yang terjadi pada Altaira dan membuatnya harus mengurung Altaira cukup lama dalam ruang penyiksa demi memperbaiki kondisi kejiwaannya.
Menundukkan kepala dengan waktu yang sama ketika mengingat kejadian serupa, ucap Vi yang mencoba mencairkan suasana terasa sia-sia ketika Airina kembali mengucapkan penyesalannya terhadap Altaira yang selalu memainkan para wanita dengan begitu kasar sebelum membunuhnya tanpa perasaan.
Mengucapkan kembali ucapan rasa terima kasih dari lubuk hatinya sembari menekankan bahwa tragedi yang sama tidak boleh terjadi untuk yang kedua kalinya, baik Vi maupun Airina mulai mengganti topik masalah baru dengan menyebutkan bahwa dua sosok berbeda yang dianggap penting bagi tuannya telah berhasil masuk dalam sekolah sihir yang mereka kelola meski dalam jarak kemampuan yang sangat berbeda.
__ADS_1
" M, tidak. Angela sama sekali tidak tahu mengenai kehadiran dari subjek penelitian tuan kita karena, ya. Setelah mendengar informasi mengenai tumbuh kembang sari Vira, yang kita maksud sebelumnya. Tuan berfikir bahwa akan sangat bagus jika subjek itu mampu mengembangkan tumbuh kembangnya di luar zona reruntuhan Liga Nebula. " balas Airina dengan begitu mudahnya tanpa memberitahukan apapun kepada mereka.
Mencoba menenangkan situasi yang dipenuhi keinginan untuk mempersiapkan segala sesuatu demi kenyamanan dari subjek yang dimaksudkan, suara panggilan dari kristal sihir di tengah meja tiba-tiba berbunyi dan menampakkan secara jelas kemarahan dari Rose terhadap dirinya yang membuat Victoria hampir kehilangan nyawa.
" Hehe, yah. Sepertinya subjek itu akan membawa banyak hal tidak terduga seperti pribadi tuan di waktu muda. " ucapnya menggigit ibu jarinya dengan cemas setelah mengetahui fakta bahwa subjek itu memiliki kemampuan yang melebihi sosok Victoria.
Mereview ulang laporan dari Victoria maupun Vi terhadap dua sosok yang digambarkan sebagai pembawa bencana, Airina sempat menahan tawa dalam diri ketika menyadari bahwa mereka memiliki kelemahan yang sungguh di luar prediksinya.
" Ya ampun, Vira dan Queenela. Ya ? [ Dari yang baca sebelumnya, Vira memiliki kemampuan serupa pembunuh senyap yang cukup hebat. Namun sayangnya berkat buku sihir yang dibaca oleh pelayan itu, kemampuan tubuhnya tidak mampu mengimbangi kekuatan hebat itu dan justru berbalik memakan tubuhnya sendiri. Sedangkan Queenela, memiliki berbagai jenis kemampuan yang berasal dari gen campuran dan salah satu yang terbaik atau lebih tepatnya yang terburuk adalah ramalan kematian. ] " ucapnya dalam kesendirian sebelum beberapa sosok berjubah kembali datang untuk melanjutkan pembahasan.
Menapakkan kaki dihadapan gerbang sekolah berpagar besi berwarna coklat alami disertai lambang bunga mawar putih di bagian utama gembok mengunci berbentuk roda bergerigi, berbagai macam ucap nasehat dari beberapa pelayan yang ikut menemani barisan siswa nampak riuh di saat gerbang itu masih menampakkan kesan diam tanpa suara hingga mentari berada pada kondisi sempurna di atas kepala.
__ADS_1
" Hey, nona. Bukankah lebih baik anda pergi menyejukkan diri bersama pelayan anda, bersama kami ? " ucap seorang pelayan yang menyapa Vira bersama sosok perempuan yang dirasa calon murid sama seperti dirinya namun memiliki masalah kepercayaan diri yang membuatnya terus bersembunyi di balik tubuh pelayannya dengan sesekali melihat ke arahnya.
Membalas salam dari pelayan dan nona di hadapannya dengan hormat seraya mempertanyakan apa yang mereka tahu mengenai masalah yang mungkin sedang terjadi, ucap lirih dari sang nona yang terpatah-patah mengingatkan dirinya mengenai salah satu adik dari Mina yang pemalu dan membuatnya merasa bahwa mungkin sedikit pendekatan bisa membantunya mengatasi masalah yang nona itu miliki.