Fantasyum

Fantasyum
Bab 18.3


__ADS_3

Berdiri dalam ruang bawah tanah dari bangunan mansion yang dulunya milik seorang bangsawan korup, Rose terdiam dalam renungan di kala melihat beberapa tulang-belulang dari beberapa demi human maupun manusia yang dikiranya tewas akibat satu penyiksaan.


" Sayangnya aku tidak belajar mengenai job yang berhubungan dengan necromancer. " gumamnya sembari berjalan kembali ke lantai utama mansion.


Melihat kembali beberapa pelayan mansion yang memakai pakaian pelayan berdasar warna hitam dan celemek putih mulai mengalihkan keinginan dalam dirinya yang semula berniat menguji sihir sejenis necromancer dengan keinginan lain untuk menguji beberapa kemampuan lain dalam diri sebagai salah satu media pembuktian bahwa dia dapat membuat sesuatu secara nyata dan melawan sistem maupun aturan dalam dunia.


" Cila, Mina. Terima kasih sudah datang ke ruanganku di waktu istirahat kalian. " Sapa Rose pada kedua sosok yang datang dihadapannya dalam satu ruang penjara bawah tanah.


Menggelengkan kepala sembari menolak sapaan Rose yang terlalu berlebihan pada mereka yang berstatus rendah darinya membuat Rose kembali mengingat bahwa pandangan atas kasta masih terasa di lingkungan sekitarnya.


" Baiklah, jika itu membuat kalian berdua nyaman. " balas Rose tidak lama setelah beberapa perdebatan kecil menyinggung aturan dan kasta dalam masa lalu seperti yang Rose pikirkan sebelumnya.


Melanjutkan penjelasannya mengenai alasan di panggilnya mereka berdua di ruang penjara itu, wajah ceria diantara keduanya perlahan menghilang di kala Rose menyebutkan bahwa dirinya ingin menggunakan beberapa ruangan bawah tanah ini sebagai ruang penyiksaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


" Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya pada mereka yang sama denganmu, Mina. " Tidak akan ada kesempatan kedua untuk kalian jika kalian berani menghianati diriku. " Namun nyatanya, ada satu diantara kalian yang berani melakukan hal bodoh dan membuatku geram di buatnya. " lanjut Rose menyinggung salah satu dari kepala keluarga yang melakukan penggelapan dana hasil penjualan makanan miliknya maupun mereka yang diam-diam mengambil beberapa ornamen bernilai tinggi yang ada dalam mansion ini.


Memberikan sedikit waktu untuk Cila menegaskan beberapa ornamen yang hilang maupun perhitungan hasil pendapatan yang selalu kurang dari hasil yang telah ditetapkan membuat Mina mulai gemetar ketakutan bersama perasaan yang tidak karuan setelah melihat senyum senang dari Rose yang nampak memainkan sebuah rantai pengikat dari sel penjara yang dipenuhi dengan noda.


" Sedari awal memang aku tidak peduli dengan keberadaan mansion ini ataupun segala sesuatu didalamnya karena aku bukan tipikal seorang yang suka akan kemewahan. " ucapnya sebagai penegas atas peryataan Mina yang menyinggung keberadaan dari gubuk sederhana yang tidak jauh dari taman belakang mansion.


Geram dengan kepintaran dari Mina yang pandai bersilat lidah mulai membawa Rose pada satu batas kesabaran dalam menjelaskan dua hal berbeda dalam pandangan dirinya atas mereka maupun pandangannya terhadap keberadaan dari mansion dan segala isinya.


" Membiarkan kalian tinggal di sini merupakan keputusan yang aku ambil setelah perdebatan panjang antara diriku dengan penjaga territory maupun tiga pillar lainnya, karena aku berfikir bahwa kalian yang tinggal di sini dapat terlindung dari caci-maki penduduk kota dan memperbaiki kembali hidup sekembalinya kalian setelah kejadian eksekusi di lupa. " Jelasnya sebelum menyesali keputusan yang berakhir sebagai bumerang.


" Bagaimana dengan hubungan intim yang membuatku bisa menikmati setiap kemolekan tubuh kalian? Apakah kalian bersedia melakukannya? " Ucap Rose memotong pembelaan diri dari mereka yang menghianati diri dan menyebutkan bahwa mereka mau melakukan apapun perintah yang Rose berikan agar Rose mau memberikan kesempatan kedua untuk mereka.


Memandang wajah bingung dari mereka yang sebagian besar adalah demi human berstatus janda dalam balutan busana casual berbagai warna serta satu celemek putih yang menjadi pelengkap atas model dasar pakaian yang ada, beberapa teriakan dari mereka yang siap melakukan hal intim atau semacamnya membuat mereka membalikkan situasi dan meredakan ketegangan yang ada.

__ADS_1


" [ Luar biasa!!! Akh, tidak. Maksudku, ya ampun. Sungguh aku tidak menyangka bahwa mereka mau melakukan hal itu denganku. ] " pikirnya dengan senyum senang disaat membalikkan badan dari mereka.


" [ Tapi yah, mereka tidak terlalu buruk juga untuk menjadi pelepas hasrat nafsu yang ada. Terlebih lagi, tidak masalah kan? Untuk melakukan hal semacam itu atas dasar suka sama suka? Dan lagi, dengan adanya hal itu pun aku dapat m- ] " pikirnya kembali setelah mencuri pandang terhadap tubuh mereka yang amat menggoda sebelum Cila memintanya untuk memutuskan keputusannya.


Menarik nafas panjang untuk melupakan pemikiran bodohnya mengenai hasrat nafsu yang ada, Rose mengatakan bahwa mereka harus mau memberikan separuh dari jumlah mana yang ada dalam diri mereka sebagai pengganti atas di berikannya kesempatan kedua tanpa harus memberikan kenikmatan dunia dengan hubungan intim yang diucap sebagai canda tidak lama setelahnya.


" Untuk sekarang biarkanlah mereka kembali ke tempat tidurnya dan biarkan aku memikirkan cara untuk memanen energi mana [ Meski sebenarnya menggunakan kemampuan dari Mist adalah cara terbaik untuk memanen mana, aku mungkin ikut melepaskan hasrat nafsuku jika aku melihat mereka tengah di lilit oleh tubuh melata dari Mist sebelum mengigit bagian leher mereka dan menyerap habis mana hingga mencapai batas akhirnya. ] " balasnya sebelum mengingat kembali bayangan Mist yang menyerap habis mana dari beberapa Apex yang ikut dalam perang besar melawan dewa petaka.


Mendengar gemuruh langkah dari mereka yang kembali ke lantai utama, Alruene, Merry, Sasya dan Rola segera kembali ke kamar dalam gubuk sederhana sebelum Rose menyadari tindakan bodoh mereka dengan Altaira yang menjadi pemimpinnya.


" Lalu, kenapa kamu masih berada di sini? Bukankah jiwamu sudah aku murnikan bersama mereka yang kini telah damai di alam selanjutnya ? " ucap Rose pada Cila yang berdiri di atas tulang dari jasadnya yang belum juga menghilang.


Melingkarkan tangannya pada tubuh Rose dengan tubuhnya yang terlihat kasat layaknya satu pelukan untuk menghangatkan, beberapa ucapan sederhana mulai terucap dari Cila mengenai alasan keberadaan diri yang masih terikat pada dunia sebelum melempar canda dengan Rose yang nampak tenang terhadap kenyataan di hadapan mata.

__ADS_1


" Nh, takut? hehe, ya. Tentu saja aku sedikit takut kepadamu karena bagaimanapun juga, kamu dapat memberi dampak buruk [Diam] yang dapat membuatku kehilangan semua kemampuan bicara dan dampak lain [Palaraiz] yang membuat tubuhku kaku. " balasnya sembari membersihkan jasad dari Cila yang hanya menyisakan tulang sebelum duduk di bangku kusam bekas sel tahanan.


Tertawa dengan apa yang di ucap Rose dalam beberapa hal kecil sebelum larut dalam kisah panjang mengenai masa lalu sebelum wilayah itu di perbaiki oleh Vi sebagai penanggung jawab baru atas teritori mulai membawa Rose pada keberadaan lain dari mereka yang diakui sebagai istri yang kini telah menghilang di atas tanah Sylvi.


__ADS_2