
" Lari!!! Selamatkan diri!!! " Teriak seorang penduduk kota yang berlari menyelamatkan diri dengan wajah amat ketakutan serta pakaian yang terkoyak berselimut noda darah.
Merasa bahwa ada seorang pengungsi yang kembali kehilangan akal sehatnya akibat mengingat kehancuran desa asalnya, penduduk kota yang nampak terbiasa akan hal itu hanya mengabaikannya dan menyerahkan kegaduhan itu pada para penjaga yang terasa tidak berguna.
* Krakas, krakas, krakas * Suara gusar dari sesuatu yang merambat di sekitar dinding rumah yang berhimpitan nampak terdengar samar bersama beberapa suara mendesis maupun lolongan hewan buas yang seharusnya tidak mungkin ada di pusat kota
" Lari!!!! " Teriak seorang penduduk pria sembari menyeret penduduk wanita yang terdiam tanpa kata disaat melihat puluhan monster nampak menatapnya tajam diantara gelapnya jalanan.
* Krakakas! Kras! Kras! Kras!! * Puluhan hewan buas berbentuk musang dengan ekor berapi mulai menyerang dengan ganas seluruh penduduk kota bersama beberapa hewan lain serupa ular ungu dengan kristal energi mana yang tumbuh di sekujur tubuhnya maupun chimaira dengan bentuk dasar kura-kura berkaki laba-laba dengan ekor biru menyala serta duri-duri hitam yang menutupi bagian tempurungnya.
* Toooaaaanngggss!!! Toooaaaanngggss!!! toooaaaanngggss!!! * Peringatan tanda bahaya mulai bergema di seluruh sudut kota dengan sebuah pengumuman mengenai serangan binatang buas di bagian kota tenggara.
" Cepat! Cepat!! Cepat!! Ambil ini!! Bergegaslah!!! " Kegaduhan hebat mulai terjadi dalam barak para penjaga yang berlari penuh keberanian untuk memasuki medan pertarungan di kota tenggara.
Berbagai suara teriakan maupun benturan dari puluhan pedang yang diadukan dengan hujan duri hitam terus terdengar menghiasi area pertempuran bersama rapalan mantra dari puluhan penyihir dari para petualang kota yang membantu para rekan partynya yang juga ikut menghalau serangan dari gempuran monster yang menyerang.
__ADS_1
" Nh, ya ampun. Sepertinya ada keributan besar di kota tenggara. " gumam Alruene yang kembali melihat puluhan kesatria penjaga terus berlalu lalang ke satu sudut kota.
Mengambil kembali belanjaan yang sempat terjatuh akibat kebodohan para penjaga itu, Alruene mulai melanjutkan langkah kakinya menuju kediaman Ezra dengan senyuman sembari mengharap satu pujian yang akan Ezra berikan kepadanya.
" Selamat datang kembali Ruene. Aku sudah lama menunggu kedatanganmu kembali. " Sapa Ezra dengan perlengkapan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya bersama Merry yang nampak gugup atas sesuatu yang tidak diketahuinya.
Mengenakan sebuah rompi dengan ornamen berbulu hewan buas ber warna hitam senada beserta garis ungu mengkilap di antara bagian penutup sela jahitan yang ada, sebuah senjata alteri yang tidak pernah dilihat olehnya nampak tersembunyi dibalik punggung bersama sebuah pedang besar maupun perisai yang mengikat kedua senjata sebelumnya.
" Pakai ini dan temui aku di depan nanti. " ucap Rose dengan wajah serius sembari memberikan sebuah pakaian sihir para Rola.
" Dilihat dari banyaknya pleton yang menuju kota beberapa waktu lalu, aku simpulkan bahwa keadaan saat sangatlah berbahaya. " ucapnya sembari berlari di atas atap bangunan rumah sepanjang perjalanan menuju bagian tenggara kota beserta Alruene dan Merry yang di gendong serupa barang di kedua sisi.
* Stings!! Stings!! Krakas!! Sdumpts! Swusuuuungss!!! Srududududududungss!!! * Melihat puluhan kesatria nampak kehilangan nyawa diantara rekannya yang masih mengadu pedang dengan monster yang menyerang, suara gusar dari para musang mulai terdengar di kala beberapa ular ungu mulai memancarkan cahaya biru sebelum puluhan duri hitam menghujani setiap penjuru area.
* Splats! Gbrums * " Musang kacang api, Ular kristal energi, Chimera Ava Turtela, kan ya? " ucapnya bertanya pada diri sendiri setelah menghancurkan satu duri hitam sebesar lengan orang dewasa dan melihat bagian tenggara kota yang hampir hancur seluruhnya.
__ADS_1
Berjalan penuh keberanian diantara kekacauan di setiap sisi jalanan, Merry yang mengenakan pakaian khas dari arc wizard berwarna dasar putih dengan garis merah dari ornamen pita maupun bagian penutup jahitannya mulai membuka sebuah buku pustaka kuning dengan ukiran mata naga hijau di pusatnya sebelum mengaktifkan sihir penyembuhan area bersama bariarel pelindung yang membatasi garis terdepan kota dengan garis belakang yang dipenuhi prajurit dan petualang yang terluka.
" Siapa wanita itu? Apakah petualang tingkat tinggi? Tidak-tidak! Para petualang tingkat tinggi tengah melakukan ekspedisi dan yang tersisa saat ini hanya tingkat menengah ke bawah! Siapa sebenarnya dia? Aku belum pernah melihat sihir bisa seindah ini! " ucap para petualang maupun prajurit di garis belakang yang saling bersahut-sahutan ketika terpusat pada Merry yang nampak tenang diarea pertempuran.
* sdrumpts! Sbrals!! Sbralss!! Gcliingggssss!! Swuuuuuuung!! sdradambsss!! * Sebuah akar tanaman menghancurkan seekor musang kacang api yang hendak menerkam Merry di saat yang bersamaan dengan meledaknya tubuh monster lain yang kehilangan nyawa dan menjatuhkan kristal sihir sebelum sihir partikel peningkat pertahanan maupun sihir partikel penghancur area di aktifkan oleh Alruene yang berjalan dari sisi lain kota sebelum memunggungi Merry untuk saling melengkapi kekurangan diri.
" Ternyata benar apa yang aku kira tadi. Perisai terkutuk putri Andelyn telah masuk dalam mode penghancur diri di saat penggunanya hampir mendekati ajal kematiannya. " ucap Rose di hadapan tubuh Sasya yang terikat rantai biru menyala diantara dua gerbang sihir pemanggil monster sebelumnya bersama perisai hitam yang hampir hancur seutuhnya.
* Slisings! Sdrapts! Gbrams! Gbrams! Drudududududdududumss!! Splendumsss!!! * Menggunakan Belati Century kembali untuk memotong pergelangan tangan dari Sasya agar terlepas dari jerat perlindungan Perisai Andelyn, berbagai ledakkan dari monster hasil panggilan mulai terdengar bersama hentakkan energi luar biasa di saat yang hampir sama ketika pergelangan tangan Sasya terpisah dari bagian tubuh utamanya.
" Cure of Corruption! Healing Jade Teorara! Regeneration Ava Nevira! " ucap Rose merapal berbagai mantra untuk menyembuhkan luka fatal yang dirinya buat agar tubuh Sasya tidak mengalami kerusakan mengerikan dampak korupsi maupun klorosi sembari menyatukan kembali kedua lengan yang terpisah dari tubuh utama.
Memperhatikan sekitar area yang menampakkan beberapa sisa dari tubuh manusia dewasa yang dikira penyebab aktifnya pasif pertahanan diri pads perisai Andelyn membuat perasaan marah tertuju pada diri karena lalai dan membuat teragedi berdarah semacam ini.
" Tuan? Ize? " ucap Merry dan Alruene menyapa Rose setelah pintu rumah singgah yang tertutup rapat segel sebagai tanda pertemuan mulai terbuka.
__ADS_1
Melihat Izera terbaring penuh luka di sofa panjang ruang utama bersama seorang kesatria demi human yang memakai perisai dan senjata besar serupa milik Izera, membuat mereka berdua mengambil sikap siaga.