Fantasyum

Fantasyum
Bab 8.5


__ADS_3

Menarik nafas panjang sembari melihat tepian danau dekat camp bandit sebelumnya membuatnya merasakan hal yang di sebut sebagai kedamaian.


Terduduk malas pada satu batang pohon yang tumbang, Rose terdiam tanpa kata sembari merenungi diri atas hal yang selalu mengganjal dalam diri mengenai tindak tanduknya dalam dunia ini.


" Dalam kesempatan kedua ini, aku memang berniat menjalani hidupku dengan bebas tanpa bersinggungan dengan mereka yang menjadi karakter utama. Namun semenjak pertemuan itu, sistem terus mempertemukan ku dengan hit poin dari satu kisah yang nantinya akan mengubah seluruh kisah di masa mendatang. " gumamnya dengan kesal sembari menuliskan beberapa hal yang berkaitan dengan Fei, Iris, Lilis maupun Regina dan para dewa dewi yang ada.


" A! Argh!!! Aku hanya ingin kembali hidup dalam kedamaian seperti sebelumnya. Duduk manis di sebuah rumah sederhana di temani pelayan yang setia. " teriaknya penuh amarah sebelum mengucap keinginan yang terpendam dalam dirinya.


Terus berteriak sembari mengucapkan hal memuakkan yang terus membuatnya tertekan membuat Airin maupun Vi terbangun dari tidurnya dan mendapati tuannya tengah meluapkan amarahnya


Dengan menahan tubuh Vi sembari menggelengkan kepala untuk memberikan ruang pribadi pada Rose, Vi mulai menganggukkan kepalanya sembari mencoba mendengarkan keluh kesah dari tuannya.


" * hzmpt* Argh. Haha, ha~h. Dalam suasana semacam ini, seharunya aku bisa menghangatkan tubuhku dengan pelukan hangat dari Vi maupun mengunci diri dalam mecha suit milik Airi. " ungkapnya penuh harap setelah kembali duduk di batang pohon sebelumnya


" Ha~hms. Jika saja karma poin tidak mengikat diri, aku bisa memainkan jari jemari ini pada gumpalan lembut dari Vi maupun Airi. Dan lagi, jika boleh melakukannya kembali. Aku sangat ingin tidur di samping Airi sembari menikmati air lacta dalam opsi khususnya. " lanjutnya setelah menjatuhkan diri ke rerumputan yang basah akibat dinginnya malam sembari membayangkan kedua pelayannya ada dihadapannya.


Merasa puas atas apa yang dikatakan tuannya mengenai keinginan yang tidak dapat dilakukan olehnya membuat keduanya sangat ingin mewujudkannya meski harus berbenturan dengan karma.


Setelah berjalan kembali dan mengecup kening Vi dan Airi, Rose kembali membaringkan diri agak jauh dari keduanya sembari menahan nafsu dalam diri agar tidak menodai kesucian Vi maupun Airi.


" Aku harap, aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. [ Meski dalam mimpi semata ] " gumamnya penuh harap sebelum memejamkan mata.

__ADS_1


----------------


Menarik nafas panjang di atas sebuah kursi goyang sembari memandang tirai hijau pepohonan, Rose mengambil sebuah hidangan sederhana di atas meja dengan malasnya sebelum kembali membaringkan tubuhnya dalam kemalasan


Langkah kaki ringan yang begitu jelas terdengar membuat Rose mengalihkan pandangan sembari menebak siapa sosok yang akan datang.


" Selamat pagi, tuan. Kami kemari, untuk menghabiskan hari. Menemani tuan, dalam kedamaian. " ucap Airi dan Vi secara bergantian dalam pakaian khas pelayan dengan beberapa bagian yang nampak vulgar


Sempat menahan keinginnanya untuk memanjakan diri pada kedua sosok menggoda di depan mata, Rose yang merasa yakin bahwa ini adalah dunia mimpinya mulai mempersilahkan keduanya untuk duduk di atas pangkuannya.


Wangi parfum yang begitu harum membuatnya terlena atas hal luar biasa di saat memangku keduanya.


Bagian intim darinya mulai menunjukkan reaksinya ketika kedua pelayannya itu mengusap lembut bagian vitalnya sementara dirinya sangat asik memainkan gumpalan lembut yang juga mulai menunjukkan reaksinya


Bangkit dari duduknya sembari menggendong kedua tubuh pelayannya untuk di baringkan di atas kasur panjang pada lantai ke dua, Rose menjatuhkan diri di atas kedua tubuh pelayannya yang kini tanpa busana sembari melakukan gerakan sederhana


Beberapa suara menggelikan saling bersahutan dikala suasana di atas ranjang semakin liar dengan beberapa hal intim yang di lakukan


Kembali duduk di tepian ranjang sembari memeluk erat tubuh Vi dari belakang dengan terus bergerak dengan pelan, Airi yang semula terkulai lemas tanpa tenaga kembali bangkit dan menarik tubuh Rose untuk melanjutkan giliranya.


Enggan menyianyiakan satu mimpi yang mungkin tidak akan terjadi kembali, Rose terus melakukan hal serupa sampai batas akhir dari keduannya.

__ADS_1


Melihat secara samar adanya pengurangan pada karma buruk yang ada, Rose mengambil jeda untuk mengisi tenaga sebelum kembali melepaskan hasratnya.


Dari satu ruang penuh noda dan diteruskan pada ruang lain yang untuk mengganti suasana membuat seluruh ruangan yang ada hampir terpenuhi oleh aliran kasih dari mereka yang melepaskan hasratnya.


Terbaring puas di atas rerumputan dengan pelukan mereka yang kini kembali suci tanpa noda, Rose mengucap sebuah kata yang mana ucapan itu membuat mereka bahagia karena Rose menyebutkan dua nama untuk calon anak mereka jikalau mereka benar-benar melahirkan anaknya.


Kembali membaringkan tubuh tuannya yang tertidur seperti sebelumnya sembari memasukkan buku teleportasi kedalam tas pinggang yang selalu di kenakkan tuannya, Airin dan Vi kembali ke tempat mereka semula sembari menyimpan satu rahasia mengenai hal liar yang dilakukan tuannya.


" Hehe, Ifana, Anira, hehe. Ayah akan melindungi kalian sampai ayah tiada, hehe. " ucapnya melantur sebelum berganti posisi dan mendengkur


Memulai hari dengan penuh energi sembari membuka persediaan untuk memasak makanan sepesial, senyum kebahagiaan masih nampak jelas di wajah Rose yang terus mengingat mimpi indahnya semalam


Tersenyum senang dalam kebahagiaan ketika melihat tuannya nampak bersinar, Airin dan Vi yang semula bersepakat untuk tidak mengungkit kejadian sebelumnya hanya terdiam dalam senyuman ketika Rose mengatakan bahwa semalam dirinya bermimpi hal yang menyenangkan.


Meski sempat ragu atas hal serupa mimpi itu yang terasa sangat nyata bahkan saat dirinya melukai bagian tubuhnya, sebuah kecupan di pipi yang begitu tiba-tiba dari Airi dan Vi membuatnya enggan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dalam satu waktu yang hilang.


Kembali duduk di samping Rose sembari mempererat pelukan pada lengannya sempat membuat bagian vitalnya kembali berreaksi katika mengingat kembali kelanjutan mimpi yang serupa dengan apa yang kini terjadi


Melepas pelukan tangan dari keduanya sebelum menariknya masuk dalam pelukan, Rose yang sempat ingin mengulang apa yang ada di mimpinya memilih untuk kembali ke posisinya semula sembari berkata bahwa itu bukanlah area netral.


" Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Karena adanya karma yang mengikat, aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan meski aku sangat ingin melakukannya [ sekarang] " balasnya sembari memandang tepian danau.

__ADS_1


Melihat suasana yang begitu canggung antara mereka dengan Rose yang kembali terdiam tanpa kata membuat Airin yang mengenal lebih lama sosok tuannya mulai membuka sebuah topik pembicaraan terkait kelemahan yang Rose miliki.


" Hehe, itu benar Vi. Meski enggan mengakuinya. Selain dari penilaian karma yang ada, aku lemah terhadap hal sederhana semacam itu. " ucap Rose dengan tawa setelah membenarkan ucapan Airin mengenai beberapa kelemahan yang disebutkan.


__ADS_2