
Meneriakkan kemarahannya dengan lonjakkan energi yang amat besar menggunakan sisa tenaga yang dimiliki, batas kemampuan dalam diri Vi mulai menampakkan diri bersama keluarnya darah diantara mata, telinga, bahkan mulut yang masih berusaha keras mempertahankan bariarel itu sebelum Apex nomer 45 kembali memberikan pukulan yang lebih hebat dari sebelumnya.
* kpyars, kpyarss, slilins, slinses* " Nh, tuan~. Aku, pulang. " ucapnya dengan memaksakan senyum kebahagiaan disaat pecahan dari bariarel area memantulkan bayangan dirinya yang benar-benar kacau sembari mengabaikan kepalan tangan dari Apex nomer 45 yang menuju bersama hembusan angin yang menerbangkan semua tubuh lemas tanpa jiwa.
Memejamkan kedua matanya sembari barharap bahwa kematiannya tidak terlalu menyakiti dirinya, tangis air mata yang bercampur darah kembali muncul bersama di lepaskannya semua penyesalan terhadap dunia.
...----------------...
" Baiklah, baik semuanya. Sudah saatnya kalian menunjukkan kemampuan kalian kepadaku. " ucap Rose yang mengenakan maskergas biohazard bersama dengan busana serupa dengan busana yang digunakannya untuk menolong Sasya.
Tersenyum dengan bangga bersama dikenakannya kembali zirah tempa sesuai janji dari Izera, Alruene, Merry dan Sasya mulai membakar semangat mereka sebelum berjalan penuh keberanian menuju area pertempuran sebagai sosok pembalik keadaan.
" [ Dengan sedikit penyesuaian di beberapa bagian, Alruene bisa setara dengan "Druid kuno penjaga jantung ke 2", Merry bisa setara dengan " Saint Celestial" dan yang paling mengejutkan dari semua itu, Sasya bisa setara dengan " Vi " dalam perubahan " Dewi kuil penjaga gerbang Torii " sebagai bagian pelengkap dari formasi inti fighter tank, mage dan support. ] " ucapnya dalam diam sembari melihat ketiga sosok itu melakukan peranannya masing-masing.
" Dan untuk kamu. Setidaknya gunakanlah benda ini dan jadilah sosok yang membantu mereka dari bayangan hutan. " ucapnya memberikan senapan runduk Apex 935 pada Altaira yang nampak menantikan perintah langsung dari dirinya.
__ADS_1
Menerima dengan senang salah satu senjata hebat milik ayah yang selalu di kagumi, Altaira segera mengambil posisi terbaik untuk membantu tiga kakaknya bersama mecha suit maupun drone yang digunakan untuk melindungi diri lagi membasmi para familia yang terlewat dari bidikannya.
" Lalu, bagaimana dengan a-? yah? " tanya Altaira yang berniat menunjukkan kemampuannya untuk melindungi ayahnya agar bisa kembali mendapat pujian sebelum melihat ayahnya tengah mengusap pelan sebuah monster raksaksa dengan alteri besar diantara tubuhnya.
Bertanya mengenai apa yang Altaira katakan disaat dirinya masih terfokus pada Mist sebelum mengabaikan pertanyaan itu karena Altaira tidak kunjung meresponnya, Rose kembali mempersiapkan diri untuk naik ke atas kepala Mist sembari melihat ke arah bariarel pertahanan yang melempar jatuh Apex nomer 45 akibat serangan fatal yang nampak mengenai dirinya.
...----------------...
* Dradang!! Dradang!! Dradang!! * Getaran tanah yang teramat kuat terasa bagai gempa mulai terasa bersama riuhnya suara dari pepohonan yang mulai hancur hingga menimbulkam kepulan asap dari debu yang membumbung tinggi akibat sesuatu yang tidak diketahui.
" Kreeeeheeeeeessss!!!! " Bersama suara dari mendesis dari ular yang terdengar samar diantara kekacauan yang ada, sesosok lipan besar tiba-tiba datang menerjang Apex nomer 45 dan menyeretnya menjauh dari zona perang yang porak-poranda.
* Glupts * " Apa itu tadi? " ucap seorang demi human yang berigidik ketakutan di saat merasakan adanya tatapan tajam dari sosok mengerikan di waktu yang hampir bersamaan dengan serangan dari lipan besar sebelumnya.
* Sumpts! Seclising!! * Belum lepas dari keadaan bingung atas apa yang terjadi sebelumnya, sebuah selimut aura membuat tubuh mereka bercahaya kembali dan memulihkan semua luka yang ada maupun stamina yang membuat mereka terkejut buka kepalang tidak lama setelah rekan mereka yang kehilangan beberapa bagian dari tubuhnya kembali bangkit dengan tubuh lengkapnya.
__ADS_1
" Apakah kalian tidak sayang nyawa!! " Teriak Alruene sembari melampiaskan kekesalan dalam diri pada para prajurit yang hanya terdiam tanpa kata sebelum melempar tubuh mereka pada beberapa familia yang muncul dari segala sisi area.
Mengabaikan kedatangan sosok serupa dalam tragedi besar dalam kota di waktu sebelumnya, beberapa prajurit yang kembali pulih itu mulai mengangkat senjatanya kembali sembari mengobarkan api semangat di waktu melihat sosok memikat dengan armor kesatria platina yang diantara ukirannya terdapat warna emas dengan lingkaran yang melindungi perisai segi lima serta ukiran lain serupa mawar di atasnya nampak menerjang para familia.
" Thump! * Gbrags !!* Crap !! * Gbramss!!! * Grab!! * Dbuuuummmsss!!! * " ucap Sasya meneriakkan setiap aksi sembari memberikan dampak area serta luka fatal dari setiap serangan serupa tebasan kuat dari pedang yang membelah puluhan familia yang datang sampai deretan pepohonan yang ada di sekitarnya maupun serangan hantaman keras dari perisai besi dan injak bumi yang mampu mementalkan familia yang berdatangan hingga membuat kawah besar diantara permukaan tanah yang dipijak olehnya.
Meneriakkan beberapa kata penyemangat setelah merasa bahwa semua sosok yang terluka telah pulih seutuhnya, Merry mulai berjalan pelan ke antara reruntuhan sebuah tenda yang mana di tempat itu terdapat Airina yang kehabisan tenaga serta kerusakan fatal yang cara pemulihannya jauh berbeda dengan cara pemulihan manusia maupun demi human bahkan ras iblis yang ada di sekitarnya.
" [ Nh, jadi benar. Airina sudah mencapai batasannya. ] " ucapnya dalam diam sembari mencoba tetap tenang di atas kepala dari Mist yang mencoba meremukkan tubuh Apex nomer 45 menggunakan lilitan tubuhnya tidak lama setelah melihat suar merah yang di tembakkan oleh Altaira sebagai tanda bahwa Ibunya hampir kehilangan nyawa.
Meneriakkan kode akses pembaruan diri dari Airina dan melihat kembali beberapa kubus nampak datang begitu cepat dari tempat yang tidak diketahui kembali, Rose menunjukkan senyum di balik masker gas yang dikenakan sebelum mulai menghujani tubuh Apex nomer 45 menggunakan Belati Century yang di genggam erat olehnya maupun Blade of Charon yang menyatu serupa pedang prisma yang ada di lengannya.
" [ Meski aku sendiri tidak terlalu memahami fungsi sebenarnya dari tubuh terkutuk ini dengan sempurna, namun.] Berkat bantuan dari Vexilis, aku bisa menggunakan sedikit kemampuan dari tubuh iblis ini untuk menyerap energi mana pada tubuh yang ditargetkan dan membuat tubuh itu meledak hebat akibat kekacauan mana dari dalam tubuhnya. " pikirnya sesaat sembari membulatkan tekad sebelum menjatuhkan diri ke antara lubang besar yang di buat oleh Mist dan menghancurkan tubuh Apex nomer 45 dari dalam.
Menggunakan teori dasar serangan penghancur diri dari dalam tubuh setelah menyadari bahwa serangan penuh yang di berikan tidak memberikan dampak ataupun luka fatal, Rose yang berada di dalam tubuh Apex nomer 45 tidak segan untuk memuaskan diri dengan merobek setiap bagian tubuh yang menjijikan itu hingga membuatnya tertawa atas ingatan dari perang besar melawan dewa petaka terlintas dalam benaknya.
__ADS_1