Fantasyum

Fantasyum
Bab 4.3


__ADS_3

Dalam sebuah aula besar dengan panggung yang cukup megah bersama dengan dua lantai yang terbagi, Rose duduk disamping Lilis sembari mendengarkan beberapa kata sambutan dari sosok Regina yang tidak lain merupakan seorang kepala sekolah dari kastel megah itu.


" Hm~ jika aku tidak salah mendengarnya tadi, Regina memiliki titel Saint yang dalam tingkatnya lebih dekat dengan godnes puppet." gumamnya sembari memainkan jarinya ke tubuh Vi yang mampak menggemaskan itu sementara beberapa calon peserta didik lainnya nampak memperhatikan setiap ucapan Regina dengan seksama


" Oleh karena itu, saya harap kalian bisa menjadi sosok hebat yang mampu melindungi negri ini. " ucap Regina sembari membungkukkan hormat dan membuat mereka yang ada di sana bersorak semangat.


Melihat sebuah air mata mengalir dari mata Lilis yang berkaca-kaca itu, dirinya sempat berfikir bahwa apa yang Regina ucapkan memiliki makna mendalam bagi Lilis dan orang-orang disana.


" Mari kita sambut dua sosok hebat yang akan bertanding di awal pembukaan tahun ajaran baru ini! Seral Rose! " ucap seorang berpakaian Butler sembari menyambut Rose yang mulai berjalan menuju sebuah arena pelatihan tidak jauh dari ruangan sebelumnya.


Melihat seorang yang nampak tidak asing bagi dirinya, Fei langsung menyapa hangat sosok Rose yang baru keluar itu dan membuat mereka yang ada disaana langsung tertuju pada Rose dengan tatapan tajam lagi menakutkan.


* gltuksss gltuksss * " [ Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi selain dari ini. ] " ucapnya dalam diam dengan sebuah senyuman yang dipaksakan ketika dirinya tidak menyangka bahwa uji kekuatan yang dimaksudkan oleh Lilis beberapa hari sebelumnya akan dipertontonkan di seluruh calon peserta didik sebagai bagian dari pelatihan mental dan sarana penentu penerimaan.


Sembari mengambil posisi siap dengan lagat layaknya seorang amatiran, seorang bangsawan yang menjadi lawan bertarungnya nampak begitu puas ketika dia berfikir bahwa Rose merupakan lawan yang mudah untuk dirinya kalahkan.

__ADS_1


" Kalau begitu, tolong ya~ Vi... " ucap Rose dengan lembut sebelum melemparkan tubuh Vi disaat Butler itu memberikan tanda dimulainya pertempuran.


*sprashsss* " Marks form godness! Evoluton! Flurry! " tambahnya sembari merapalkan sebuah mantra sesaat setelah melemparkan item tanda berkat dari dalam tas pinggangnya dan membuat semua sosok yang ada disana melihat sebuah perubahan bentuk dari sosok Vi yang kini menjadi seekor serigala besar yang nampak ganas.


Sembari memperlihatkan taringnya ke hadapan sosok yang menjadi lawan dari tuannya, sosok itu nampak memperlihatkan warna tubuh yang pucat dengan kaki yang gemetaran.


" Seperti itulah, Vi. Dengan menggunakan item ini, setidaknya aku bisa berharap bahwa mereka yang mungkin melihat pertandingan itu akan mempercayai bahwa item ini merupakan wujud dari kekuatanku sebagai tamer [meskipun aku tidak tahu bagaimana kebenarannya nanti. ] " Ucapnya pada Vi setelah menguji coba apa yang sempat terlintas dalam benaknya ketika Lilis merasa khawatir mengenai job dari ID cardnya yang menyatakan bahwa Rose merupakan seorang Tamer.


Dengan anggukan kepala yang menandakan bahwa dirinya memahami maksud dari ucapan tuannya, Vi kembali melakukan beberapa permintaan lain dari Rose sebelum akhirnya dia kembali ke bentuk asalnya dan menjadi sosok demi human.


Bersama dengan diakuinya Rose sebagai pemenang dalam pertandingan itu, Rose kembali melemparkan item tanda berkat itu sembari mengucapkan beberapa kata perintah dan membuat Vi kembali ke bentuk serigala kecil nan menggemaskan sebelum membantu para Butler lain yang nampak kesulitan untuk mengangkat tubuh dari bangsawan itu yang terjebak dalam tanah yang kembali mengeras.


" Hehe... Maafkan aku karena sebelumnya telah berfikiran buruk terhadapmu dan meremehkan kekuatanmu. " ucap bangsawan itu sembari membersihkan pakaiannya dari beberapa noda tanah yang menyelimuti tubuhnya.


Sembari memegangi kedua tangan dari bangsawan itu dan kembali memperkenalkan dirinya, bangsawan itu nampak tertawa lepas dan menepuk kedua bahu Rose beberapa kali sebelum akhirnya bangsawan itu menyebutkan siapa namanya.

__ADS_1


" [ Piero Faithful, yah? Seorang anak dari keluarga bangsawan yang memegang kendali atas perijinan dan pengawasan terhadap mereka yang memiliki status pelayan dan sangat disegani oleh beberapa sosok yang melakukan bisnis semacam itu dalam dunia bawah.] " ucapnya dalam diam sembari mengusap lembut tubuh Vi setelah mengingat sebuah informasi dari seorang tahanan dalam Penjara Rip's Dead.


Melihat sesuatu yang nampak sama seperti beberapa waktu sebelumnya, Lilis hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah peserta didik lain yang mulai menunjukkan kemampuan mereka dalam pertarungan itu sembari berfikir mengenai sesuatu yang difikirkan oleh Rose.


" Ibu~ bolehkah ibu mengijinkan ku untuk satu kelas dengannya? hehe. " ucap Fei dengan sikap manja setelah sebelumnya mengatakan beberapa hal terkait hari kelahirannya dan permintaannya yang selalu di tolak oleh Regina.


" Mengenai itu, mungkin ibu bisa mengaturnya untukmu. Namun dengan satu syarat bahwa kamu harus menjadi sosok yang baik lagi bermartabat tanpa menggunakan kekuatan pesona yang selalu kamu banggakan itu. Mengerti? " Balas Regina dengan sebuah tatapan tajam setelah sebelumnya mengingat beberapa hal mengenai sikap buruk putrinya yang terkadang membuat beberapa sosok yang menarik hatinya menjadi sebuah boneka.


" He, em. Ya, Ibu! Aku akan melakukannya! Aku janji! [ Karena meskipun aku menggunakan kekuatanku untuk meraih hatinya, dia nampak tidak bergeming atas pesona itu dan ketetapan itu membuatku semakin bersemangat untuk menggoyahkan dirinya~] " balas Fei dengan semangat sembari menunjukkan senyuman yang nampak mengerikan bersamaan dengan aura merah yang perlahan mulai berubah warna menjadi warna ungu kehitaman.


* Sdapts * " Dan lagi, Ibu minta kepadamu untuk berhati-hati terhadapnya. Karena dari apa yang ibu lihat darinya, dia merupakan sosok misterius yang ibu sendiri masih meragukan apa yang dirinya perlihatkan di sini maupun di saat penyerangan itu terjadi. " lanjut Regina setelah menjentikkan jarinya ke dahi Fei untuk membuatnya sadar bahwa sikap dan perilakunya sangat buruk meskipun hanya ada mereka dalam satu ruangan pribadi.


Sembari menghela nafasnya dan mengusap pelan bagian atas dari sebuah tempat tidur milik Lilis, Rose kembali melihat ke arah pantulan dirinya dalam cermin sembari melakukan beberapa perubahan kecil pada tubuhnya disaat Vi dan Lilis tengah menyiapkan sebuah hidangan untuk makan malam.


" Aku bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini dan aku pun sangat senang atas ingatanku di dunia itu bisa berguna untuk melakukan hal semacam ini. " gumamnya dalam kesendirian sembari mengembalikan bentuk tubuhnya kembali seperti semula setelah mencoba melakukan beberapa hal sederhana dengan beberapa anggota tubuh tambahan.

__ADS_1


__ADS_2