Fantasyum

Fantasyum
Bab 24.4


__ADS_3

Memandang satu sama lain sebelum meminta Mina untuk mengatakan buku macam apa yang membuat Vira benar-benar meledakkan amarahnya, Mina yang kini merasa lebih tenang dari sebelumnya mulai menggambarkan buku yang dimaksudkan dengan bentuk detail serta warna dasar dari buku yang dirasa mirip dengan deskripsi dari buku sihir Vira yang hilang.


" Tidak, tidak, tidak. Kalian salah mengira bahwa buku itu adalah buku sihir biasa." ucap Sasya yang datang terlambat ke aula utama mansion yang dipenuhi penghuni mansion yang terluka bersama buku sihir yang dimaksudkan oleh Mina.


Mengucap penyesalan atas sebab dari hal yang tidak dapat ditinggalkan, Sasya mulai menjelaskan bahwa buku yang dibaca oleh Vira merupakan buku sihir Greimori yang mampu memberikan kekuatan dasar atas fisik ataupun sihir secara acak pada pembaca membuat mereka yang mendengar penjelasannya itu merasa tidak percaya.


" He,em. Aku sendiri pun merasakan hal yang sama seperti kalian di waktu pertama kali mendengarnya. " lanjutnya dengan tenang atas ucapan menusuk dari kumpulan orang tidak berguna yang meragukan penjelasannya.


Berjalan kembali mendekati mereka setelah pergi ke suatu tempat cukup lama, mereka yang semula menghina dirinya mulai terdiam tanpa kata setelah dirinya menunjukkan buku sihir yang hampir serupa dengan buku sihir milik Vira dengan satu penegasan bahwa buku sihir itu merupakan salah satu artefak sihir yang Izera temukan dalam satu reruntuhan sebelum desanya benar-benar dihancurkan oleh sosok Apex yang menyerang.


" Maaf jika ini terdengar tiba-tiba. Meski sekarang sudah dirasa terlambat untuk mengatakannya, kekuatan yang aku miliki pun berasal dari buku yang diberikan oleh tuanku demi membuatku berguna baginya. " ucapnya lirih sembari menundukkan kepala.


Mencoba memahami apa yang dirasa kurang jelas bagi mereka atas ucapan lirih dari Sasya, ledakkan kecil amarah sempat timbul dalam dada Alruene maupun Merry yang merasa paham atas maksud dari Sasya yang merujuk pada peristiwa serangan besar dalam kota.

__ADS_1


" Apakah benar begitu! Lalu yang sebelumnya? dan setelahnya itu bagaimana ? " ucap Altaira yang sangat terkejut dengan bisikan kata dari Alruene dan Merry hingga membuat penasaran Rola maupun para penghuni lainnya.


Mengesampingkan masalah sebelumnya dan kembali memfokuskan diri pada masalah Vira saat ini, pandangan mata dari lima sosok yang dianggap sebagai yang terkuat setelah Izera memberikan tekanan mental dalam diri Mina yang merasa bahwa ada masalah serius yang akan dibahas terkait murka Vira sebelumnya.


" Sa--saya sendiri memang menemukan bu--buku itu diantara semak yang saya rapikan di pagi sebelumnya da---dan di waktu istirahat yang telah diberikan Tuan Ize sebelumnya, saya yang merasa tertarik pada buku itu mulai membacanya. " ucap Mina dengan menahan rasa takutnya tak kala dirinya kembali di bawa ke ruang bawah tanah yang nampak jelas terdapat bebarapa penghuni yang tengah melakukan ekstasi mana dalam diri untuk dimasukan dalam tabung misterius yang diciptakan oleh Ize sebelumnya penaklukan Apex nomer 45 sebagai bentuk hukuman atas kasus pencurian yang sengaja dirahasiakan.


Menelan ludahnya dengan susah payah dihadapan mereka yang terus berbisik mengenai sesuatu yang diluar pemahamannya, suara dentuman dari pintu yang terbuka memberikan tekanan mental berlebih terutama keberadaan dari Vira yang duduk di samping Sasya yang secara tidak langsung membuatnya saling bertatap muka.


" Kendalikan amarahmu, Vira. " ucapnya menahan tubuh Vira yang sesekali berniat meraih busana yang membalut tubuh Mina dengan tatapan marahnya.


" Nh, kalau tidak salah. Aku sedikit mencatat sedikit hal penting yang kakak ucapkan mengenai senjata ini. " balas Vira setelah melihat mereka nampak membahas sesuatu kembali dengan serius sebelum mengizinkannya keluar untuk mengambil catatan yang dimaksud.


Membaca isi catatan kecil dari Vira yang berisi nama dan kegunaan dari senjata yang dimaksud serta beberapa buff maupun dbuff tambahan yang dirasa kurang jelas untuk menggambarkan kekuatan sebenarnya yang tertanam didalamnya.

__ADS_1


" Century adalah nama dari sepasang belati yang kakak berikan untukku. Selain dari keindahan atas ukiran yang ada, kekuatan dalam belati ini pun bisa dianggap setara dengan senjata hebat yang dimiliki Kak Alruene, Ka Merry maupun Ka Sasya karena dengan adanya satu buff bernama Corruption, amarah ataupun keputus asaan dalam diri bisa di buah menjadi kekuatan yang mampu memperkuat diri dengan ganti kesadaran yang akan hilang setelah mencapai batas tertentu yang dapat dilihat dari bercak hitam yang akan muncul pada telapak tangan sampai batas siku ataupun lengan tangan sebelum bagian bahu. " ucap mereka yang langsung melihat bagian tubuh dari Vira setelah selesai membaca catatan yang dibuat demi melihat bercak noda yang dimaksudkan.


Menjelaskan maksud ucapan dari kakaknya mengenai kesetaraan senjata kecil itu dengan senjata hebat yang dimiliki oleh mereka, wajah terkejut lagi tak percaya nampak jelas dari raut wajah Vira tak kala efek khusus yang dimaksud dapat membuat Vira berubah bentuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya.


" Jadi karena itu! Kakak bisa berubah menjadi Iblis! " Teriaknya dengan tiba-tiba setelah menghantamkan tangannya di atas meja.


Menganggukkan kepala satu sama lain setelah menyetujui bahwa sudah saatnya Vira mengetahui kebenaran yang ada, mereka berlima mulai menunjukkan perubahan bentuk dari dalam diri dalam ruang tempat kristal Izera berada dan menampakkan secara jelas sosok asing yang berasal dari ras berbeda.


" Ka Alruene ? " ucapnya menebak sosok dryad yang terbalut gaun hijau bergaris dengan bagian rumbai serupa selaput berwarna kekuningan serta hiasan berbagai bunga dibagian jahitan kedua lengan serta syal maupun mahkota yang senada dengan warna dasar hijau muda.


" Ka Merry ? " Lanjutnya pada sosok penyihir yang terbalut pakaian hitam serupa para biarawati yang lebih ketat serta bagian cadar yang menutup separuh wajah bersama topi khas para penyihir tingkat tinggi yang serupa para penyihir dengan lencana tanda peringkat di sekitar kota.


" Ka Altaira dan Ka Sasya ?" ucapnya penuh percaya diri dari dua orang sebelumnya pada sosok perempuan yang memakai mecha suit yang mengingatkannya pada seorang pria dalam acara eksekusi serta seorang perempuan cantik yang terbalut pakaian terbuka akibat ukuran dada yang lebih besar dari pakaian yang membalutnya dan menampakkan diri serupa dewi perang dimatanya sebelum mengucap nama Rola dengan ragu setelahnya.

__ADS_1


Memberikan pelukan hangat pada Vira yang nampak takut atas dirinya, usapan pelan yang diberikan oleh Altaira dan Sasya mulai membuat tangis air mata mengalir di mata Vira yang tidak lama setelahnya ucap nasehat dari Alruene dan Merry mulai terdengar bersama tepukan keras yang membuatnya sadar bahwa dunia tempatnya berada merupakan dunia yang amat mengerikan seperti apa yang terucap oleh kakaknya di waktu kedua matanya hanya bisa melihat kegelapan.


__ADS_2