
Menelan ludah dengan susah payah setelah menahan gejolak nafsu yang membuat mereka basah, Rose kembali menggoda mereka dengan membelai bagian tubuh mereka sebelumnya menahan diri untuk tidak menyentuh bagian tubuh vital mereka.
" Untuk sekarang, aku harap kalian bisa memahami batasan yang aku katakan. Karena bagaimanapun juga, apa yang aku lakukan selalu terikat oleh karma. " ucapannya tidak lama setelah menyebutkan hukum karma yang mengikat tubuhnya.
" [ Karma baik akan membawanya ke alam dewa dan karma buruk akan membawanya kekal dalam alam dunia sebagai makhluk yang hina ] " ucap seorang dewi sembari membaca sebuah buku diantara dimensi ruang dan waktu yang hanya dipenuhi kehampaan.
...----------------...
Memberikan pelukan erat dengan kecupan dahi pada masing-masing dari mereka secara berurutan serta sedikit ucapan untuk menambah semangat dan kepercayaan dalam diri sebelum mereka melangkah pergi sebagai petualang tingkat tinggi, Altaira yang baru bangun dari gubuk sederhana mulai menyapa ayahnya sebelum nasehat panjang menjadi menu pembuka sebelum berlari halang rintang.
" Eh?! Apakah Ay-nda serius? " ucap Altaira yang begitu terkejut melihat beberapa dari mereka yang tinggal sementara dalam mansion tengah berbaris rapi menunggunya.
" He, em. Iya, tentu aku serius dengan apa yang aku katakan. " balas Rose dengan menggelengkan kepala sebagai tanda kesal atas ucapan Altaira yang hampir membuka kebenaran atas dirinya yang sesungguhnya.
Berjalan menjauh dari mereka yang penuh semangat sembari menjelaskan secara singkat kepada Altaira mengenai masa tinggal sementara yang hampir mencapai batas kesepakatan bersama, wajah ceria dari Mina mulai memudar bersama didengarnya ucapan bahwa mereka akan meninggalkan mansion dengan segera.
" Nh, jadi memang seperti itu keadaannya? [ Aku sempat terkejut saja dengan perubahan yang begitu tiba-tiba dan mendapati Izeral yang aku pikir hanya anak muda adalah wadah baru dari ayahku yang tiada dan mulai tinggal bersama puluhan wanita cantik yang begitu menggoda. Jujur saja, aku sempat ingin melampiaskan amarahku yang berdasar pada rasa tega darinya yang berani menghianati cinta dari kedua ibuku. ] Hehe, jika anda tidak menjelaskan hal semacam itu sebelumnya. Saya akan mengira bahwa anda adalah sosok [ayah] yang hina. " ucap Altaira dengan nada canda yang disertai bumbu pedas diantaranya.
__ADS_1
Membalas ucapan itu dengan nada serupa, ucap penyesalan dari lubuk hatinya mulai keluar begitu saja dan membuat Altaira yang mendengarnya memilih untuk mengalihkan pandangan dengan rasa sakit didada.
" Dan, ya. Hehe, aku senang bahwa pada akhirnya aku bisa memanggil nama kalian berdua. " lanjutnya dengan senang sembari memukul pelan bahu Altaira layaknya seorang teman sebaya.
Mengamati setiap kemampuan dari mereka yang sebagian besar adalah demi human, Altaira kembali menarik nafas panjangnya sebelum memutuskan cara terbaik untuk melatih mereka.
" Masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang sama seperti kemampuan yang kami miliki. [ meski dalam artian yang berbeda. ] " gumamnya kembali setelah melihat setiap regu yang terbagi memiliki kemampuan yang unik.
Berlatih menggunakan senjata pada beberapa boneka jerami yang menjadi target pemanasan mereka, senyum senang kembali terlihat di wajah Altaira setelah memahami maksud dari ayahnya yang mengucap bahwa mereka adalah kristal daya.
" Jika memang benar itu maksudnya, itu berarti mereka memiliki potensi sebagai seorang pahlawan di masa depan nanti. " gumamnya sesaat setelah mengingat fungsi dari kristal daya yang mampu memberikan lonjakan kemampuan di luar nalar dengan bergantung pada jenis dan fungsinya.
" Baiklah, kalian! Mari kita uji kemampuan kalian di area halang rintang pertama!! " teriak Altaira sembari mencoba menyembunyikan rasa kesal yang datang secara tiba-tiba sebelum masuk ke arena halang rintang yang terbagi menjadi empat area dasar.
Menyambut senang pelukan erat dari Vira dan memberinya sedikit nasehat untuk tidak melakukan hal berbahaya ataupun ikut dalam latihan yang di awasi oleh Altaira, senyum senang lagi gembira mulai memudar dari wajah Vira sebelum Rose membawanya ke tempat yang lebih dirasa aman dari tempatnya berada.
" Nh! Kaka! Aku bukan lagi anak-anak seperti mereka!! " Teriak Vira di saat Rose menyambut baik kedatangan anak-anak yang ikut singgah dalam kediamannya.
__ADS_1
Menutup mata kirinya dan hanya menyisakan mata kanan yang terbuka, dengus suara dari Rose yang senang atas apa yang dia duga membuatnya memilih untuk mengabaikan ucapan Vira sebelum menggodanya dengan canda.
" He, em. Baiklah, baiklah. Vira sudah dewasa dan Vira sudah bisa melawan nasehat kakaknya. " ucapnya sembari membantu menenangkan balita yang menangis diantara anak-anak itu dan membuat Vira terdiam tanpa kata setelahnya.
Mencoba memperbaiki situasi yang membuatnya nampak di benci anak-anak yang selalu menjadi teman bermainnya, Rose meminta salah satu pelayan mansion yang mengurus anak-anak itu untuk membawakan sedikit kudapan bersama Vira demi memperbaiki situasi yang ada.
" He, em? Sepertinya tadi ada seorang yang sudah dewasa? Tapi sekarang kemana perginya dia? Apakah anak kecil yang ada dihadapanku adalah dia? He, em? Sepertinya bukan, kan ya ? " canda Rose sembari menggoda Vira kembali sebelum mengusap sisa air mata yang nampak membekas diantara kedua matanya.
Menepuk tangan kakaknya sembari berkata bahwa dia tidak menangis atas apa yang terjadi dan bersikukuh bahwa dirinya bisa membalikkan situasi tanpa bantuannya, sebuah canda dengan nada ancaman kembali keluar dan membuat Vira goyah atas keyakinannya.
" Tapikan, tapikan. Aku sudah besar ka! Cobalah lihat ini!! Dadaku sudah tumbuh lebih besar dari dada milik Ka Merry! " Ucap Vira dengan mencoba menunjukkan buah dadanya ke hadapan Rose sebelum Rose menahannya.
Menarik tangannya kembali atas sensasi kelembutan yang begitu kenyal dirasa bersama perasaan yang kembali timbul dalam dirinya, hembusan nafas panjang sempat dilakukannya untuk kembali menjernihkan pikiran sebelum memanggul Vira ke sebuah ruangan.
" [Hehey, Apakah kaka sudah mengakuiku sebagai wanita dewasa seperti Ka Sasya dan lainnya? ] " pikir Vira dalam hati ketika mengingat satu kejadian dimana dirinya sempat melihat kakaknya tengah melakukan hal tidak terduga bersama Sasya.
Menurunkan Vira dan membuatnya duduk di kursi dari ruang khusus tempatnya bertugas sebagai pilar utama, sebuah suara dari pintu yang terkunci sempat terdengar jelas setelah masuknya dua orang pelayan mansion yang selalu mengawasi Vira disaat dirinya tidak ada bersamanya.
__ADS_1
" Nh? Kenapa kaka harus marah seperti itu? Bukankah tadi Kaka berkata bahwa aku bukankah wanita dewasa? Lalu apa masalahnya ? " ucap Vira dengan tiba-tiba disaat Rose nampak serius dengan kedua pelayan itu.