Fire And Water

Fire And Water
Cp 99# Valid


__ADS_3

Gerakan dari dua kubu tentu akan membuat perubahan dari masa depan, oleh karenanya juga lah semua akan ditentukan seperti apakah nantinya, antara Zhang Xuan dan Aliansi, jika dilihat tentunya aliansi akan menang namun beda cerita jika lawan yang dihadapinya adalah seseorang juah dari kata manusia dimana kekuatan musuh sudah berada diluar nalar dan kekuatannya bisa mendekati setengah dewa


Membuat ALIANSI harus lebih ekstra melawan musuhnya nanti namun semua itu tidak bisa dilihat jika hanya sekilas oleh sebab itu butuh kepastian dari dialog cerita dan semua ini tidak bisa berberjalan tanpa adanya Mc kita yaitu Putra dan kawan-kawan yang waktu itu masih berada dipulau dan 3 hari mereka benar-benar full digunakan untuk memulihkan diri


Dan ini saatnya untuk mereka beraksi menumpas akar permasalahannya, namun sebelum keberangkatan mereka, ternyata mereka mengadakan pertemuan di tenda rapat untuk membahas mengenai langkah berikutnya, karena mereka tidak bisa salah mengambil langkah dan tentunya harus melakukan musyawarah terlebih dahulu dengan yang lain


-Tenda rapat-


Sebuah tenda dengan berwarna corak seperti militer membuat keberadaan tersendiri dari sekian banyak tenda pengungsi, dan tentunya tidak sempurna jika tanpa adanya sebuah meja bundar dengan kursi yang mengelilinginya dan semuanya seperti konferensi walaupun tidak mirip karena dihadiri oleh beberapa orang penting seperti Putra, Ari, Krise, Vera, Sina, Miya, Samuel, Sonia, Sofia, Andrian, Rico, Rudi, dan jendral lainnya


Semua sudah berkumpul dalam satu tenda dan akan membahas mengenai langkah atau step yang akan mereka jalani untuk kedepannya tanpa ada nanti kesalahan dimasa depan, di suasana yang hening tanpa ada percakapan membuat Vera gugup sendiri karena sebagaian dari pengisi acara sudah memasang tatapannya tersendiri


"Langka pertama kita adalah Jupiter!!" hingga tanpa disangka-sangka Krise membuka mulutnya untuk angkat bicara karena ia merasa suasana harus dicairkan agar rapat bisa berjalan dengan lancar


"Maksudnya, kita harus pergi ke negara Jupiter terlebih dulu!" sahut Putra yang ikut mengartikan kalimat kakaknya


"Benar,.. Kalian tahu kan kalau negara mars pasti sedang masa perang besar, dan jika kita melewati laut kemungkinan besar pasti jalur laut akan dipotong oleh pasukan musuh"


"Benar apa yang dikatakannya". Ujar Ari untuk valid kan argumen Krise


"Memang jika kita ke negara jupiter kemungkinan kita bakal aman tetapi berbeda dengan serdadu, tentu mereka tidak bisa meninggalkan negerinya yang sedang dilanda bencana" sambung Samuel karena mau gimana pun dia adalah seorang mantan pasukan dari Nicolaus dan ia tahu seluk-beluk latar dari prinsip seorang tentara


"Tidak masalah karena tugas kami adalah untuk mengamankan rakyatnya dulu" jawab seorang perwira dengan atribut penuh di seragamnya yaitu Kapten Yino


"Tetapi aku tidak bisa ikut ke sana!!" ucapnya dengan tegas yang membuat seluruh mata teralihkan ke pria tersebut. "Ari" batin seluruh orang dalam diam dengan membuka mata dengan sempurna karena merasa terkejut melihat keseriusannya semua itu bisa dilihat dari mimik wajahnya


"Apa maksud mu?!" tanya Putra dengan melontarkan tatapan bingung kepadanya


"Maya masih disana, dan aku harus menolongnya"


"Jangan bilang kamu mau kembali kesana setelah kita melalui ini semua?"


"Maafkan aku semuanya tapi aku harus memastikan keadannya dulu karena mau gimana pun dinegara mars sudah berada di ujung tanduk dan aku takut kesialan menimpa Maya dan keluarganya" jawab ari dengan lantang sambil membungkukkan sedikit tubuh


"Huh.. Keras dasar kepala" gumam Putra dengan menghendus kesal


"Dan apapun yang terjadi pasti aku akan datang untuk menolong kalian semua"


"Woi.. Kamu kira kami lemah" celetuk Miya dengan sinis


"Tidak, bukannya aku tidak percaya justru karena aku yakin kalau kalian bisa menang tanpaku sehingga aku bisa menolong seseorang yang berharga untukku"


"Hmm... Baik-baik, tolong jaga dia untuk kami" sambung Putra


"Dan sampaikan salamku padanya ya!" seru Vera dengan senyum sumringah. Sehingga Ari yang melihat wajah mereka semua langsung yakin dan menjawab dengan satu kata penuh keharuaan, "Baik!!" itulah kata yang keluar dari mulut Ari


"Kalau itu kemauan mu, aku hanya bisa mendukung, sobat" batin Andrian yang memperhatikan dengan senyum tipis melekat di bibir


Tidak selang lama akhirnya, Rudi angkat bicara bahkan kali ini tubuhnya tampak sehat walaupun dihari-hari sebelumnya ia sudah mengalami luka amat parah di sekujur tubuh, khususnya kaki yang secara tidak langsung mengalami patah tulang, tetapi semua berkat perawatan dari Sofia, akhirnya semua dapat pulih sepenuhnya


"Baik, berarti kita akan membagi menjadi dua kubu yaitu satu kembali ke negara mars, sedangkan satu lagi akan langsung pergi ke negara Jupiter, bukankah begitu?"


"Yah... bisa dibilang seperti itu tapi kita harus menempatkan warga yang paling aman?" sahut Samuel


"Bagaimana jika negara Mars?" sambung Andrian dengan lantang


"Aku tidak yakin karena disana masih masa kobaran api menjolak tinggi"


"Kalau menurut anda bagaimana? apa yang harus kita lakukan terhadap warga?" tanya Samuel dengan melempar pertanyaan ke jendral Rino


"Tapi menurut ku sebaiknya kita bawa mereka ke negara Mars saja"


"Kenapa begitu?" heran Samuel


"Karena jika kita membawa mereka lewat jalur laut Jupiter dengan kapasitas melebihi pengungsi petinggi, yang ada akan menyebabkan karantina untuk warga asing"


"Anda benar, dan itu akan membuat tekanan batin untuk mereka apalagi selama ini mereka sudah mengalami mimpi buruk yang cukup panjang" sambung Putra dengan menghela nafas panjang


"Jadi apakah ini valid?,.. kalau kita membawa warga ke bangsa sendiri?" ucap Andrian, dan benar saja seluruh orang yang mengikuti rapat hanya mengganggukan kepala sebagai isyarat 'setuju'


"Kita akan meluncurkan kapal pada pagi nanti, jadi setidaknya kalian siap-siap untuk memberi salam perpisahan kepada keluarga!!" sahut jendral Jupiter dengan tegas, dengan memberi kesimpulan bagi rapat kali ini bahkan dari sekian banyak orang yang ikut rapat tidak ada satupun yang memberi komplen ataupun kurang setuju dengan hasil rapat.


Setelah usai dari rapat akhirnya seluruh anggota rapat meninggalkan tenda menuju keinginannya masing-masing, dan seperti biasa Putra dan Vera selalu bersama, bahkan mereka sudah terlihat seperti ibu dan anak yang selalu nyintil setiap saat namun kali ini Putra menemani Vera untuk bertemu ayahnya

__ADS_1


Mereka bertemu di pesisir pantai dengan gelora ombak dimalam hari, tentu saja angin malam membuat tulang menggigil sehingga Putra dan Vera menggunakan pakaian tebal supaya tidak masuk angin, dan bertemu Ziel yang masih berdiri termenung disana


"Papa, kenapa disini?" tanya Vera yang berjalan menyamperi ayahnya bersama dengan Putra


"Ah.. Papa hanya melihat ombak saja kok!!" balasannya dengan senyum tipis merekah di buah bibirnya sambil memperhatikan kedatangan putrinya


"Tapikan disini sangat dingin?"


"Papa tidak akan apa-apa, tenang saja"


"Bagaimana aku bisa percaya??"


"Karena yang lebih membuatku sakit adalah melihat anak yang paling aku disayangi harus bertaruh nyawa demi seorang pria tua tak berguna ini"


"Kenapa? Papa bicara seperti itu?"


"Ah.. Tidak apa-apa kok, anggap saja aku sedang bergerutu" jawabnya kemudian kembali menatap ombak malam yang bergitu germesik


"Papa" gumam Vera dengan bimbang karena melihat situasi yang tak mengenakan membuat Putra angkat bicara dengan lantang berbicara apa adanya


"Om.. Tenang saja, karena besok pagi anda dan Vera akan kembali ke rumah kalian!!" tentu ucapan tersebut langsung membuat Vera dan Ayahnya terkejut dan menaruh tatapan intens ke Putra seperti ingin meminta penjelasan darinya


"Apa maksudmu!!" komen Vera dengan nada tinggi. "Tentu saja karena misi mu telah usai, dan saatnya kamu pulang ke rumah bersama-sama dengan ayahmu" jawab cepat dari Putra yang tak ubah dalam pendiriannya


"Tapikan lawan kita bel-_.. " belum sempat Vera mengakhiri kalimatnya, Putra telah lebih dulu memotong sambil membelai rambutnya dengan lembut. "Sisanya serahkan saja padaku!!" balas Putra dengan lembut


"Tapi"


"Kenapa kamu sangat perduli dengan vera?" tanya Ziel dengan tampang datar


"Hmmm... Mungkin karena perasaan, om" jawab Putra dengan pedenya kemudian memalingkan tubuh dan berjalan menjauhi kedua anak dan ayah tersebut


"Kamu mau kemana?" tanya Vera


"Aku ingin kembali ke tenda dulu, karena ada urusan mendadak, dan menurutku kalian ingin lebih terbuka satu sama lain, jadi aku akan pergi dulu.. Dah" seru putra dengan melambai-lambai


"Dasar" gumam ayah Vera dengan senyum tipis


Setelah Putra pergi seketika suasana langsung berubah 180° dimana hanya ada aura ketenangan yang ada disana bahkan waktu itu suasana hati Vera sangat amat senang hingga ingin rasanya menangis didalam pelukan sang ayah, karena mau bagaimana pun dirinya sudah banyak mengalami hal buruk selama ia jauh dari ayahnya hingga menciptakan rasa rindu diantara mereka tetapi karena rasa sungkan hingga akhirnya ia hanya bisa memendam rasa tersebut dengan mata berkaca-kaca


"Hiks... Hiks.. Aku rindu, papa" sahut Vera dengan derai air mata bergelimang di pipi. "Sama, papa juga rindu dengan mu, nak" balas ayahnya hingga mereka saling berpelukan dibawah rembulan dan ombak sehingga udara menjadi saksi akan keharuan mereka berdua


Usut demi usut waktu berlalu hingga mereka saling melepas pelukan untuk mengakhiri suasana haru tersebut, tetapi alhasil akhirnya Vera bisa menghela nafas lega karena kerinduannya bisa terbalaskan dengan pelukan walaupun sesaat


"Aku bersyukur karena bisa menyelamatkan ayah dari mimpi buruk ini" ujar Vera dengan senyum


"Terimakasih banyak, mungkin tanpa mu papa sudah pasrah lebih awal"


"Maksud papa?" bingung Vera


"Gak ada apa-apa kok, lupakan saja, ohiya... Putra ternyata anak yang baik ya" alih tak alih ayahnya vera mengalihkan perhatian anaknya agar tidak bertanya lebih jauh dari itu


"Hmm... Menurutku juga begitu" balasan Vera dengan malu-malu, hingga ayahnya yang melihat memasang senyum tipis kemudian kembali berkata. "Jadi bagaimana keputusan mu?" tanyanya dengan lirih


"Keputusan?"


"Iyah, keputusan untuk hari esok"


"Entahlah"


Vera yang masih bimbang kemudian kepalanya dibelai sama seperti Putra memperlakukan drinya namun kali ini adalah ayahnya sendiri. "Apapun keputusan mu, papa akan terima, toh dunia ini sudah rusak jadi tidak ada yang bisa diharapkan lagi"


Untuk sesaat Vera tertegun sambil menatap mata ayahnya sengan tatapan sayu, kemudian bebarapa saat juga ia langsung memberikan jawaban dengan berkata. "Tentu saja aku akan menemani papa kemana pun, mulai sekarang!!"


"Tapi bagaimana dengan Putra?" tanya sang Ayah dengan kebingungan


"Tentu saja, aku percaya dengan Putra kalau tidak mana mungkin aku ikut papa, karena aku yakin semua pasti akan baik-baik saja, dan dia pasti akan kembali bersama kita"


"Sebenarnya aku tidak ingin menjadikan beban diantara mereka, karena aku takut nanti Putra akan merasa gelisah ketika di pertempuran gegara aku disana" sambung Vera di dalam hati dengan seyum tulus menyuguhkan kepada ayah


"Terimakasih" balasan dari sang ayah. Dan ketika suasana kehangatan mulai berubah menjadi dingin mereka pun kembali ke tenda karena udara semakin menyengat di tulang. Sedangkan disisi lain Putra bertemu dengan kakaknya di dekat mobil pengangkut, karena kepergian besok jadi kelompok Krise super sibuk untuk mengatur pengangkutan seperti barang-barang, hingga persediaan suplay karena dari posisi mereka menuju Mars sangat amat jauh dan tentunya membutuhkan konsumsi agar bisa bertahan hidup selama perjalanan


Terutama mengatur jadwal makan dan kuantitas dalam konsumsi bahan, sehingga Krise mulai mengatur bahan kedalam mobil. "Hei.. Kak" sapa Putra yang berjalan menghampiri kakaknya yang berdiri sambil membawa secercah kertas dengan menghitung suplay untuk dimasukkan kedalam mobil dan dibawa masuk kedalam kapal nantinya

__ADS_1


Tentunya dibantu oleh serdadu dari Jupiter. "Ada apa?, kakak sibuk untuk sekarang!!" ketus Krise sambil menatap sebentar Putra lalu kembali lagi ke note. "Heh.. Aku belum bicara apapun loh" gerutu Putra dengan tertohok


"Bodo amat" jawab Krise dengan terkekeh. Awalnya ketus tapi lama kelamaan Krise mulai menatap Putra yang terduduk di rumput dengan menatap langit malam. "Kamu kenapa?" tanya dari Krise dengan iba tapi tidak terlalu serius menatapnya karena ia masih harus mengurus note nya karena sebentar lagi akan selesai


"Tidak ada kok" jawab singkat Putra sambil menghela nafas panjang, setelah beberapa saat akhirnya tugas Krise selesai dan segera duduk disamping Putra dengan merogoh saku celana, dan mengeluarkan sebuah bungkus rokok kemudian membukanya


"Mau?"


"Tidak, terimakasih"


Pada waktu itu Putra hanya bisa melihat Krise sedang menyumet rokoknya lalu menghisap secara perlahan kemudian di hembusan, tentunya ada kenikmatan dibalik itu semua itu. "Apa ada hubungannya dengan ayangmu?"


"Berisik" ketus Putra dengan sinis


"Haha.. Dasar kamu ini, cerita saja jika ingin bercerita"


"Untuk apa cerita privasi?"


Cletuk...


Tiba-tiba Krise menjitak kepala Putra dengan keras seraya menceletuk ucapan sinis. "Kamu anggap aku siapa, kakak sendiri kok kaya gitu!!"


"Hehe.. Sorry"


"Malah cengegesan" gerutu Krise


"Sekarang kamu mau cerita atau enggak sih?!!" sambung Krise


"Hmm.. Mulai dari mana yah"


Cletuk...


Untuk kedua kalinya Krise menjitak kepala sang adik yang ngeselin itu walaupun begitu Putra sama sekali tak membalas karena hubungan mereka yang sudah semakin erat. "Kenapa menjitak ku lagi sih!!" gerutunya


"Entah kenapa aku jadi kesel sendiri"


"He.... Mana bisa begitu"


"Bodo amat"


"Hmm... Sebenarnya lawan kita itu seperti apa dan apakah kita bisa pulang dengan selamat?"


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya Krise untuk memastikan


"Jawabanya singkat, karena lawan kita adalah bos terakhir"


"Memang jika dipikirkan kali ini lawan kita bukanlah lawan yang mudah, tetapi bukan berarti kita tidak bisa melawannya, karena kekuatan paling besar adalah kebersamaan"


"Konsep dari mana itu?" bingung Putra


"Dasar, dikasih nasehat malah ngelunjak" geram krise dengan mengumpat Putra


"Baik-baik, terimakasih buat nasehatnya kakakku!!" seru Putra dengan terkekeh-kekeh. "Anak kurang ajar" dengan emosi memuncak Krise melancarkan satu jitakkan kearah dahi Putra namun dengan sigap Putra menghindar dan berlari menjauh dari kakaknya


"Kemari kau!!" seru Krise dengan nada tinggi


"Males ah,.. nanti aku kena jitak lagi, oh iya makasih buat konsepnya aku akan simpan ideologi konyol itu di pertempuran nanti" balasan dari Putra yang langsung meninggalkan Krise seorang diri.


**********


Halo... Semuanya, kambali lagi dengan author yang kece ini walau karyanya kurang fantastis sih😅😄.


Tapi author bersyukur karena sudah mengembangkan cerita ini hingga ke detik ini, yaitu hampir 100 chapters, dan ini merupakan karya pertama author setelah sekian lama melewati masa pelatih dimana semua ini hanya untuk menjadi seorang penulis profesional


Walaupun banyak sekali kekurangan dari segi majas ataupun kosa kata, tapi sedikit demi sedikit saya selalu berusaha untuk mengubahnya karena semua karya pasti akan ada progeress,


Dan untuk kalian semua, saya ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena sudah mau menemani saya dari 0 hingga sekarang, dan setelah karya ini tamat, author akan menciptakan karya terobosan baru dengan memperbanyak kemajuan dari detik ini ke karya berikutnya karena menurut author


Karya ini sudah bagus hanya saja banyak kesalahan dalam pengetikan, ya wajar saja namanya juga manusia jadi banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang diperbuatnya


Untuk kedepannya author harus banyak memperbaiki semuanya dan untuk itu kalian semua tolong bantu saya yah.. Karena hanya kalian lah satu-satunya pengumpul stamina saya untuk berkarya.


Dan untuk yang terakhir, untuk latar karya ini semua hanyalah khayalan belaka jadi jangan terlalu serius dan menganggap ini sebagai non-fiksi yah. Hehehe...

__ADS_1


Sayonara...


__ADS_2