
Setelah mereka berlari cukup jauh tiba-tiba terjadi ledakan dimana kapal sebelum Dika wafat berada, karena ledakan tersebut sang jendral memalingkan pandangan dan melihat kapal yang dimiliki hancur satu-persatu, namun setelah dia lihat lagi dirinya tidak melihat satu pasukan musuh atau meriam yang membuat kapal tersebut hancur
Hingga dia menghentikan langkahnya di pesisir pantai dan bertanya kepada Samuel yang berlari lebih dulu, namun karena jalannya masih sempoyongan jadi jendral dapat mengejarnya dengan mudah
"Kenapa kapal itu hancur tanpa sebab?" bingung jendral sambil menatap kapal yang hancur dari ujung kanan sampai kapalnya
"Bukan, kapal itu dihancurkan oleh seseorang" jawab Samuel sambil menghentikan langkahnya
"Seseorang?" bingung jendral
"Dia adalah seseorang yang paling kami takuti sekaligus Ketua dari organisasi Mawar Hitam"
"Ketua?"
"Namanya Nikolaus, dan dia bukan manusia biasa"
"Jadi dia sama seperti kamu!!" tanya jendral dengan panik
"Bisa aku jawab iya"
"Sial, ada apa dengan dunia ini" gumam Jendral dengan murung
Namu tidak lama Samuel berlari kearah jendral dan mendorongnya hingga terjatuh, namun karena telat selangkah membuat Samuel tekena serangan yang berupa belati menyayat punggungnya
Argh,..
Suara jerit Samuel yang terguling ke pasir pantai karena beberapa menit yang lalu dia merasakan aura pembunuh yang terpancar dari dalam hutan yang jaraknya masih jauh, namun tidak lama aura tersebut terhenti, karena Samuel melihat jendral tanpa senjata dirinya bisa tahu kalau jendral yang diincar oleh orang itu
"Rian!!" panggil jendral yang melihat Samuel terjatuh tak berdaya di pasir akan tetapi pandangannya tidak bertahan lama karena dia mendengar suara langkah kaki yang terdengar dari dalam hutan
Dan benar saja hal pertama yang dia lihat adalah seorang pria serba hitam dengan memegang sebuah belati ditangan, dirinya berkata dengan nada meremehkan, "Wah,.. Ternyata tuan Rian jika ingin melindungi gesit juga yah" ucapan pria tersebut sambil memainkan belati dengan diputar-putar
"Sial, jangan bilang dia memiliki kemampuan yang sama persis dengan pria yang membunuh rekanku di ruang rapat itu" batin Jendral yang mencoba untuk bangkit berdiri
"Kamu tahu tidak, kalau aku tadi sudah mencari mu di kapal tapi kamu nya tidak ada, justru malah mayat rekanku yang ada didalam, tapi aku cukup beruntung karena ketika aku sedang menunggu tuan Nikolaus aku melihat kamu yang sedang berlari dari dalam kapal, jadinya bisa deh aku menghibur kebosanan ku untuk menusuk lambung mu!!" ucapan dengan disertai nada sadis membuat mental Jendral jadi tak karuan
Karena dia bisa melihat sendiri kemampuan yang dimiliki oleh rekan pembunuh ini, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh
"Heh,.. Aku tidak menyangka kalau kamu sungguh baik ingin menungguku" jawab Jendral dengan memasang kuda-kuda bela diri
Namun disaat ia merogoh saku celana dirinya tidak mendapatkan senjatanya, sehingga dirinya baru ingat kalau senjatanya ia tinggal di atas kapal karena sudah kehabisan amunisi
"Hahaa,.. Benar-benar sial hari ini" batin Jendral yang tertawa dengan keadaannya
Akan tetapi tidak lama pembunuh tersebut berkata sambil membuang senjatanya ke pasir
"Sepertinya kamu tidak memiliki senjata, kalau begitu aku kasih kamu kesempatan yaitu mari kita beradu bela diri saja, mumpung aku sedang baik" ujar pembunuh tersebut yang sadar dengan ekspresi lawannya
"Terimakasih" balas Jendral dengan waspada
Sehingga disaat itu mereka mulai bertarung, langkah awal dimulai oleh pembunuh tersebut karena dia ingin membunuh sang Jendral jadi ia bergerak dengan cepat ke arah Jendral berdiri
Sedangkan jendral tidak ingin gegabah jadi ia terus memasang kuda-kudanya dengan tatapan terfokus kepada lawan yang saat itu sudah bergerak kearahnya dengan cepat
Serangan pertama yang berupa terjangan dapat dihindari oleh jendral namun disaat sang pembunuh tersebut mendarat di melancarkan tendangan memutar sehingga jendral cuman bisa menangkis, walaupun tidak berdamage namun dorongannya dapat membuat dia terjatuh ke pasir pantai
__ADS_1
Bahkan ketika jendral terjatuh pembunuh tersebut tidak memberikan kesempatan karena pada saat jendral terjatuh ia langsung melancarkan serangan yang berupa loncatan dua kaki hingga jika tekena secara langsung akan langsung mati karena pada saat itu pembunuh tersebut melompat tepat pada dada jendral
"Sial" celetuk jendral dengan segera menggulingkan tubuh kesamping kanan sebelum kedua kaki pembunuh tersebut mendarat di dadanya
"Oh,.. Beruntung juga kamu" sahut pembunuh tersebut dengan memalingkan badan melihat sang Jendral kembali berdiri
Disaat sang jendral baru berdiri, musuhnya telah melancarkan serangan hingga mengenai dadanya mengunakan teknik tendang melayang sampai dalam waktu singkat dirinya kembali terpental di dekat Samuel terbaring tak berdaya
Arghh,..
Rintisan sang jendral dengan darah mengalir dari mulutnya, bahkan tanpa sadar pandangannya kini mulai memudar namun disaat dia hendak pingsan dirinya melihat Samuel terbaring dalam posisi tengkurep dengan darah mengalir dari punggung, walaupun hanya cuman luka sayatan namun lukanya cukup besar hingga darahnya tidak berhenti keluar
"Payah,.. Aku benar-benar payah" gumam jendral penuh penyesalan akibat dirinya tidak bisa di andalkan
"Haha,.. Bagaimana?, apa kamu sudah menyerah" tanya pembunuh tersebut dengan nada meremehkan
"Aku akui kamu memang layak disebut Assassin, tapi apa sebaiknya kamu tidak terlalu meremehkan kemampuan jendral perang" bangun jendral dengan badan sedikit sempoyongan
"Cih,.. Dasar orang gak sadar posisi" cibir pembunuh tersebut sambil menatap jendral
Namun ketika suasana sedang mencengkram tiba-tiba terdengar suara yang sangat asing bagi mereka suara tersebut berkata, "Sudah cukup bermain-mainnya" ucapan tersebut berasal dari belakang sang pembunuh sambil menodongkan sepucuk pistol ke arah kepala
"Siapa?" belum sempat pembunuh tersebut berpaling dirinya sudah mendapatkan tembakan dari belakang hingga dalam waktu singkat pria tersebut langsung mati ditempat
Disaat yang bersamaan terjadinya ledakan kapal yang ditumpangi oleh jendral sebelumnya, sampai terlihat Nikolaus dengan badan penuh luka dan berkata, "Huh,.. Ini yang terakhir, sisanya akan aku rampas sebagai senjata perang" gumam Nikolaus dibalik kobaran api kapal yang telah hancur
Beruntungnya samuel karena disaat Nikolaus melihat sekelilingnya ia tidak melihat siapapun kecuali pembunuh dari Mawar Hitam yang sudah tergeletak tak berdaya di pasir pantai
Nikolaus menghancurkan kapal mengunakan cara mengumpulkan tenaga ditangan lalu menghantam kapal di bagian lemah, sampai dalam waktu singkat kapal tersebut langsung meledak menjadi beberapa bagian, bahkan ketika ledakan terjadi Nikolaus mengunakan kemampuan kekebalan untuk menahan ledakan agar tidak melukai tubuhnya terlalu serius
Tentu saja dia mengombinasikan seluruh kemampuannya yang berupa tinju dengan kilat, dan kekebalan dengan teleportasi sehingga sekali tinju kapal langsung hancur dan ledakan tidak membuatnya terpental karena ketika kapal meledak Nikolaus langsung teleportasi di atas awan dan terjatuh disaat kapal sudah meledak
Didalam hutan terlihat seorang pria yang sedang mengatur nafas yang masih terengah-engah, antara lain dia adalah seorang jendral yang baru saja selamat dari amukan Nikolaus
Karena pada detik terakhir dirinya ditolong oleh seseorang yang baru saja menembak pembunuh Mawar hitam, Samuel dirangkul hingga masuk kedalam hutan dan bersembunyi dibalik semak belukar sementara jendral ia langsung berlari kedalam hutan tanpa beban jadinya mereka bisa selamat tanpa ketahuan oleh Nikolaus
Tapi semua tindakan tersebut membuat banyak pertanyaan bagi jendral yang ditolong kepada orang itu hingga dia melontarkan satu pertanyaan kepadanya, "Siapa kamu?" tanya jendral yang kini mulai mengatur kembali nafasnya
"Panggil saja aku Lian, kalau kamu tanya kenapa aku menyelamatkan kamu, itu sebenarnya karena dia adalah teman aku" jawab Lian sambil membaringkan tubuh Samuel di rerumputan
"Kamu satu komplotan dengannya?" tanya balik jendral
"Apa maksudmu?" bingung Lian yang tidak mengerti maksud dari lawan bicaranya
"Bukan, maksudku apakah kamu juga pemberontak dari organisasi musuh?"
"Kalau iya memangnya kenapa, lagian kita sama-sama memiliki satu tujuan" jawab Lian dengan ketus
"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawaku, tapi aku ingin bertanya kepadamu, apa pasukan ku yang ada di camp masih ada?"
"Untuk saat ini mereka masih dalam pertempuran, mungkin mereka hanya bisa bertahan beberapa jam lagi sebelum mereka benar-benar dikalahkan"
"Sial, aku harus cepat ke sana!!" gumam Jendral sambil mengepal tangannya
"Tidak, untuk saat ini kamu jangan ke sana dulu, karena di sana masih sangat berbahaya untukmu"
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan prajurit ku!!"
"Kita memang sudah buntu" ucap Lian dengan pasrah
"Apa maksudmu?"
"Pasukan mu sudah dikepung dari dua arah yaitu depan dan belakang, jika kamu datang bukannya percuma"
"Jangan bilang, kapal sudah disadap musuh?" tanya Jendral dengan panik
"Baru 60% mungkin hanya hitungan menit kapal dikuasai Assassin, karena kamu tahu kalau kemampuan mereka sangat luar biasa"
Setelah mendengar ucapan Lian kini jendral tidak bisa berkata-kata karena semua ucapannya telah mati kata mau bagaimanapun posisi jendral tidak akan berguna jika tanpa adanya tempat berlindung dalam menyusun rencana
"Lalu rencana mu apa?" tanya balik jendral kepada Lian
"Aku akan membawanya ke Camp militer kami untuk mengobati luka-lukanya"
"Bagaimana dengan aku?" bingung jendral kerena posisinya serba salah
"Kalau itu urusan kamu, untuk sekarang keselamatannya jauh lebih penting" ucap Lian sambil memapah Samuel
"Cih,.. Posisiku sekarang jauh lebih buruk dari sebelumnya" gumam jendral dengan kesal
"Kalau kamu mau kamu bisa ikut denganku dulu ke markas kami" usul Lian
"Tidak usah, Terimakasih untuk tawarannya" tolak jendral
"Jadi kamu ingin kemana?"
"Aku adalah seorang jendral jadi, aku akan ke tempat dimana seharusnya aku ada, bukan malah ikut bersembunyi bersamamu, jadi aku akan kembali ketempat ku, untuk mengatur pasukan ku"
"Apa kamu yakin?" tanya Lian
"Iyah, terimakasih untuk tawarannya" ucap jendral kemudian pergi ke arah berbeda
"Heh,.. Orang yang tidak kenal rasa takut, aku bangga denganmu" gumam Lian kemudian menggendong Samuel dipunggung nya, dan bergegas menuju camp dimana Sofia ada di sana
Lian yang mengambil jalan memutar membuatnya susah untuk berjalan melewati semak belukar yang ada di hutan tersebut, karena dirinya tidak mungkin akan lewat lereng gunung yang merupakan jalur lalu-lalang tentara Mawar hitam
Ditambah dia membawa beban dipunggung membuat setiap langkahnya selalu menguras tenaga cukup banyak, namun saat itu yang ada di pikiran cuman keselamatan Samuel hingga tanpa pamrih dia berjuang untuk melewati hutan belukar yang ada di pesisir pantai
Kenapa hanya Lian saja yang ada diwaktu Samuel terluka, sebenarnya semua itu terjadi beberapa jam yang lalu dimana squadnya ditugaskan untuk membantai regu 1-6 di camp Selatan, setelah semua tentara mati sesaat squadnya ingin kembali berkumpul namun Lian mencari alasan untuk bisa berpisah dari yang lain namun tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali
Sampai dia berkata kepada yang lain ketika mereka sedang dalam perjalanan melewati hutan belantara ketika hendak melaporkan tugas kepada tuan Joko
"Semuanya kalian duluan saja, aku ingin kembali ke tempat tadi" seru Lian membuat langkah temannya terhenti dan memalingkan pandangan menatap Lian yang waktu itu berjalan paling belakang
"Apa maksudmu?" bingung Yuno dengan menatap tajam kearah Lian
"Jangan salah sangka, entah kenapa aku memiliki firasat kalau Rian ada di sana"
"Jadi kamu ke sana hanya untuk memastikan Rian ada di sana atau tidak?" ucap Yuno
"Benar, apa ada masalah buat kamu!!" ketus Lian menatap tajam balik ke arah Yuno
__ADS_1
"Biarkan saja dia, menyusul temannya" Sahut Riza membuat Yuno mengurungkan niat untuk melarang Lian bertemu sahabatnya
Hingga mereka mulai berpencar keberbagai tempat untuk tujuan masing-masing, dan kenapa hanya Lian sendiri yang berpisah tujuannya agar tidak dicurigai oleh orang lain.