Fire And Water

Fire And Water
Cp 83# Reuni


__ADS_3

Ditengah suasana yang mencengkram membuat Putra dan seluruh orang disana merasakan suasana yang sangat mengganggu di hati mereka karena bagaimana tidak jika seseorang melihat kejadian tragis tersebut di depan mata persis, apalagi yang di lihat oleh mereka adalah real yang sudah dijelaskan secara objektif dengan lokasi sudah penuh dengan mayat dan darah bergelimpangan di atap kapal


"Apa-apaan ini?!!" rasa bingung yang mendominasi seluruh suasana membuat Jenderal dan yang lain tidak bisa berfikir secara jernih dan logis karena yang ada dibenak setiap orang hanya rasa takut dan khawatir akan apa yang terjadi pada saat itu


Tidak lama tertegun tiba-tiba terdengar suara bising yang memenuhi gendang telinga setiap orang, sampai-sampai di antara mereka ada yang menutup telinga, khususnya Vera yang tidak langsung tidak tahan dengan suara tersebut karena yang mereka dengar hanya suara nyaring seperti gesekan benang tapi dalam skala besar


"Suara apa sebenarnya ini!!" gerutu Vera yang merintis kesakitan akibat gendang telinganya sudah penuh dengan suara asing tersebut


Sementara untuk Putra, krise, dan jenderal hanya bisa menutup telinga tanpa bisa berkata-kata karena pusat tenaga mereka hanya di tumpukan pada rasa sakit walaupun begitu suara tersebut tidak berhenti dalam waktu singkat karena butuh kira-kira 1 menitan hingga suara bising itu berhenti dengan sendirinya


Sampai seluruh orang disana tersungkur dengan tubuh yang lemas tak bertenaga, disaat itu juga datang 7 manusia berjubah hitam dengan serentak sambil berdiri tegak menghadap Putra dan yang lainnya, mereka berdiri diantara para mayat dengan tatapan sinis


Bahkan yang membuat mereka beda hanya dari bola mata yang terlihat begitu merah menyala bagaikan lampu penerang, sampai-sampai Putra dan yang lainnya merasakan takut akan kehadiran mereka, berbeda dengan krise yang sembari awal sudah menjalin kontrak dengan seseorang di antara mereka, jadi dibenaknya hanya sekedar memberi infomasi ataupun pemberitahuan


"Siapa kalian!!" teriak sang Jenderal dengan cepat menodongkan sepucuk pistol ke arah pria misterius tersebut walaupun pada saat itu tangannya masih gemetar hebat


"Bukannya kemauan kalian sudah tercapai?" datang asal suara yang bertanya diantara rombongan Putra, yang tak lain dan tak bukan adalah krise itu sendiri


"Kakak?" bingung Putra yang melirik kearah Krise dengan tatapan penuh pertanyaan tapi ketika suara Putra ingin keluar suasana langsung berubah akibat krise mendapat balasan dari antara mereka yang berkata dengan nada berat


"Kami hanya mau menangkap dia!!" unjuk-nya, dengan mengarahkan jari telunjuk ke arah Putra walaupun pada saat itu Putra masih sempoyongan akibat gendang telinga yang kesakitan


"Aku!!" bingung Putra dengan mimik wajah penuh tanya


"Iya, soalnya kamu adalah anak firdaus dari seseorang yang di cari oleh tuan kami"


"Sial, kenapa aku tidak berfikir sampai sana!!" batin Krise yang menyadari akan kesalahan fatalnya


"Berani sekali kalian menyebut nama ayahku dengan sembarang!" jawab Putra dengan penuh penekanan yang berupa tatapan intimidasi


"Aku tidak memiliki perasaan, karena kami diciptakan hanya untuk mematuhi apa kata tuan kami"


"Cih.." cibir Putra sambil mengepalkan telapak tangannya


"Putra, terlalu berbahaya jika kamu berada disini sebaiknya kamu pergi dari sini, dan kalau bisa ajak yang lain juga" bisik Krise


"Kenapa harus kabur?" Putra kini balik bertanya tapi dengan balasan yang nadanya setara dengan kakaknya


"Tentu saja karena mereka semua bukan tandingan kita" jawab Krise


"Lalu kenapa?, lagian aku juga tidak akan mungkin dibiarkan pergi begitu saja"


"Namun setidaknya kamu ada usaha untuk selamat, bodoh"


"Halah,.. Bac*t mati tinggal tanam" ketus Putra dengan datar


"Eh.. Nih anak, memang maunya mati" ekspresi masam Krise yang secara tidak langsung menyindir akan jawaban Putra


Sementara dilain tempat Ari dan timnya sudah sampai di lokasi namun tidak menemukan apapun di sana kecuali tumpukan mayat dari tentara pihak Sekutu maupun organisasi, bahkan matinya pun beraneka macam ada yang utuh dan tak utuh yang tentunya mengundang mual bagi seluruh tim ari


Bahkan Ari yang selalu memasang wajah datarnya kini langsung shock dengan apa yang ia lihat pada waktu itu jadi mereka semua mual di waktu yang bersamaan, tidak lama kemudian mereka akhirnya bisa menghirup udara segar di dalam hutan yang letaknya jauh dari istana karena begitu mereka melihat pemandangan tersebut sontak dengan langkah seribu mereka berlari


Meninggalkan lokasi menuju dalam hutan, karena hutan yang didepan istana terbakar membuat mereka berlari kesamping istana yang letaknya kebetulan berada di camp tentara Organisasi Mawar Hitam, dengan ekspresi jutek Sonia berkata dengan gerutunya


"Sialan, hampir pingsan aku tadi di sana, untung aja Ari langsung menarik aku ke sini jika tidak mungkin aku udah mabuk darah"


"Ya beruntung saja aku tidak pingsan" keluh Andrian dengan letih


"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa bengong di situasi seperti tadi"


"Eh,.. Maksudmu tadi itu aku hanya sedikit terkejut" balas Rian yang menjawab argumen Sonia

__ADS_1


"Iyalah tuh" jawab Sonia yang bibirnya tersenyum kesamping


"Sudahlah, dari pada kalian terus bertengkar disini lebih baik kita cari yang lain, karena setelah kejadian tadi perasanku jadi tak enak" potong Ari dengan raut wajah letih


"Kamu benar ri, tapi kita harus kemana saat ini" balas Rico yang sejenak suasana langsung hening namun tidak lama mereka berfikir tiba-tiba terdengar suara rumput yang berbunyi sehingga mereka semua memalingkan padangan dan melihat dua gadis cantik dengan satu diantaranya membawa sniper


"Kalian!!" gumam Ari sambil menatap ke arah gadis yang berjalan kearah mereka salah satu diantara mereka membawa pistol sambil menodongkannya kearah Ari dan satu lagi membawa sniper berjenis AWM ditangannya


Gadis itu bukan lain adalah Sina dan Miya yang memiliki paras cantik layaknya gadis umur 17 tahun, walaupun pada saat itu umur mereka sudah menginjak kepala dua


"Kamu Andrian?" tanya seorang gadis yang menodongkan sebuah pistol ke arah Ari tapi pertanyaannya tertuju kepada Rian


"Iyah, aku andrian adik dari Samuel dan aku yakin kalian pasti anggota kakakku!!" jawab Rian dengan pedenya tanpa ada introspeksi di kalimatnya


"Pede sekali kamu adik" ketus seorang gadis pembawa sniper dengan sinis


"Eh?!!.." bingung Rian yang penuh tanda tanya


"Hei.. Hei.. Kalau kalian ingin ngobrol bisa tidak senjatanya diturunkan dulu, kalau pelatuknya ke pencet apa pelurunya enggak tembus kepala ku nanti" potong Ari dengan sinis akibat tidak suka akan perlakuan Sina yang seakan-akan sedang mengancamnya


"Hehe.. Maaf" ucap Sina dengan cengengesan walaupun begitu tapi dari ekspresinya barusan sangat membuat kesan yang sangat manis layaknya gadis polos sehingga Rico kini tertarik dengan sina walaupun dia tidak tahu detail tentang gadis dihadapannya


"Hey,.. Sina, kamu kaya anak ABG aja sih" celetuk Miya yang tak suka dengan tingkah temannya karena mau bagaimanapun mereka itu sepantaran dan sudah sewajarnya jika mereka bersifat sedikit dewasa dari pada gadis puber


"Jadi kalian siapa kalau bukan anggota kakakku?" Bingung Andrian yang masih teringang di kepalanya akan perkataan Miya, bahkan kebingungan tersebut sampai jadi sebuah bibit pertanyaan


"Haha.. Kamu terlalu banyak berfikir adik kecil, ada yang perlu kamu tahu ya, partner dan anggota itu berbeda dan kami jauh dari kata pengikutnya" balas Miya dengan tawa jahilnya


"Haha.. Tenyata kamu terlalu polos yah, Rian" tawa Sonia yang ikut tertawa kecil


"Sial, aku dikerjain" batin Andrian yang mengupat Miya dengan ekspresi jengkel


"Iyah kamu benar, karena waktu kita tidak banyak" ujar Putra sehingga mereka pergi dari tempat itu menuju tenda tentara dengan dipandu oleh Miya dan Sina yang berjalan lebih dulu dari antara mereka semua


Setelah mereka berjalan mengitari hutan tanpa disadari mereka telah sampai di kumpulan tenda camp, yang dengan segera Miya mengajak mereka semua menuju tenda khusus dimana Samuel berada saat itu


Setelah mereka sampai terlihat di sana, Sofia sedang membaca buka sedangkan Samuel masih terbaring lemah di ranjang, "Sofia, bagaimana keadaanmu!!" panggil Miya yang mengejutkan Sofia akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah karena dengan kedatangan Miya, Sofia bisa bernafas lega bahkan ketika bertemu mereka masih sempat berpelukan di depan semua orang


"Aku baik-baik saja, tapi aku lebih bersyukur lagi karena kamu tidak terluka, Miya" balas Sofia yang membalasnya dengan pelukan sejenak sebelum mereka melepaskan tubuh mereka satu sama lain karena Sofia ingin melakukan observasi terhadap orang-orang yang bersama dengan Miya dan Sina waktu itu


"Kalian!!" kaget Sofia akan kehadiran Andrian dan teman-temannya, karena kehadiran mereka lah yang ditunggu oleh Samuel dan rekannya


"Hallo, selamat malam" sapa andrian dengan senyum dan lambaian tangan kecil untuk menyapa Kakak iparnya


"Haha.. Dasar" ketus Sofia sambil menghela nafas pelan karena semua itu sesuai dengan keinginan Samuel, tapi kelegaan tersebut tidak berlaku lama karena sesaat kemudian terdengar suara rintihan Samuel akibat tubuhnya yang dipaksa untuk duduk walaupun waktu itu tubuhnya masih sakit dan lemah


"Awww... Dasar kelamaan" rintihan plus cibiran yang diberikan Samuel untuk adik tercintanya yang baru saja datang di medan perang milik Samuel


"Yah,.. Maaf, lagian jarak rumah untuk kesini tidak lah dekat jadi wajar aja kalau aku kelamaan datangnya"


"Kamu sudah makan?" tanya Samuel yang bertanya singkat untuk membuka reuni mereka, akan tetapi pertanyaan Samuel justru membuat seluruh orang merasa bingung akan apa yang sedang dipertanyakan olehnya apalagi situasi saat itu tidak memungkinkan untuk bercanda


Tetapi Andrian tidak mengambil pusing justru ia juga membalasnya dengan singkat yaitu dirinya berkata, "Kebetulan aku belum makan, kak" jawab dengan senyum tulusnya


"Nih ambil" Samuel yang melempar sebuah roti bungkus ke arah rian, sehingga dengan sigap rian menangkapnya dan berkata, "Terimakasih"


Seluruh orang yang melihat hanya bisa tersenyum ketika melihat cara Samuel menyampaikan rasa rindunya lewat makanan ringan, walaupun itu hanya sebatas roti akan tetapi di balik pemberian itu ada sebuah rasa yang sangat besar menghambat hatinya sehingga ia tidak bisa menyampaikannya secara lisan melainkan lewat benda lain yang menurut kita sederhana


Tentunya pemberian tersebut langsung dimakan oleh Andrian dengan pola makan yang terlihat menikmati, Sonia dan Sofia yang melihat hanya bisa tersenyum tipis melihat kedua orang yang mereka sukai telah menyampaikan perasaan mereka satu sama lain


Disela suasana Samuel mulai memecah keheningan dengan bertanya, "Jadi dimana, Lian?" pertanyaan tersebut tentunya membuat tanda tanya bagi tim Ari tetapi tidak untuk Sina dan Miya, karena sebelum mereka berpisah sempat Sina melihat Nicolaus mengeluarkan aura aneh dalam tubuhnya, jadi ia takut kalau sesuatu hal buruk menimpanya

__ADS_1


"Kenapa kalian diam?" kini Samuel semakin mendesak Sina dan Miya untuk jujur karena pada waktu itu mereka berdua telah menjadi sorotan semua orang


"J-jadi Lian sebenarnya dia" terlihat Sina yang menjawabnya dengan gagap karena tidak tahu harus jujur atau tidak karena ia takut jika Samuel mengetahui tentang temannya maka tanpa berfikir Samuel akan bertindak memaksa dirinya sendiri apalagi saat ini keadaannya sangat buruk


"Kamu tenang saja, karena Lian saat ini sedang mengurus apa yang seharusnya kamu urus jadi kamu tidak perlu khawatir" potong Sofia dengan menggantikan Sina untuk menjawab pertanyaan Samuel


"Ah,... Padahal ada banyak hal yang ingin aku konsultasikan dengannya" keluh Samuel yang menghela nafas berat


Walaupun Sofia merasa bersalah namun itu semua untuk kebaikan jadi apapun kedepannya, itu sudah menjadi konsekuensinya, karena sejak awal kebohongan ini sudah menjadi pilihan baginya, yaitu tidak membiarkan Samuel lebih awal tahu tentang situasi yang sedang dihadapi oleh mereka


"Kakak, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" tanya Andrian yang sudah dari awal menyimpan pertanyaan ini namun tidak menemukan waktu yang tepat untuk bertanya


"Hmm,.. Bisa dibilang ini terjadi hanya karena ingin melindungi seseorang dan aku terlalu emosi sampai tidak sadar kalau aku hampir mengacaukan segalanya"


"Maksudmu?" bingung Rian


"Tentu saja, karena berita tentang kematian Rudi membuatku berfikir pendek, yaitu ingin membunuh Nico dengan kedua tanganku sendiri, tapi siapa sangka jika perkiraan ku terlalu dangkal karena Nicolaus jauh lebih kuat dari apa yang aku bayangkan"


"Jadi karena itu kamu memutuskan untuk pergi dari camp?" timpal Sofia yang ikut bertanya


"Bisa dibilang seperti itu, karena mau bagaimana pun Rudi adalah teman yang sudah menemani ku sejak awal, jadi aku sudah membuat pendirian yaitu cukup kehilangan Rudi saja aku tidak ingin sampai Lian ikut hilang dari kehidupanku"


Seketika suasana sangat hening, terutama untuk Sofia yang langsung terdiam ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Samuel barusan, jadi ia berfikir kalau keputusannya jauh lebih tepat dari pada Samuel mengetahui hal yang sesungguhnya, sesudah keheningan sesaat itu tiba saatnya untuk Ari bertanya kepada Samuel karena dari awal ia ingin sekali bertanya namun selalu keduluan oleh orang terdekatnya


"Anu.. Jadi apa kakak mengetahui tentang, Putra?" tanya Ari dengan menatap Samuel yang penuh balutan perban di setiap tubuhnya


"Tentu saja aku belum tahu, karena tidak lama aku harus berpisah dengan sekutu karena cidera ini"


"Sayang sekali, padahal aku merasa cemas dengan Putra karena perasaan ku jadi tidak enak akan dirinya" jawaban Ari membuat yang lain berfikir keras yaitu cara cepat mereka untuk menemukan pria yang bernama Putra itu karena ada kemungkinan kalau perang ini bisa berakhir olehnya


"Kalau begitu kita harus mencarinya, bukan?" tanya Miya dengan menatap Ari dalam-dalam


"Bisa dibilang seperti itu, karena hanya dengannya kekuatan kita akan semakin sempurna"


"Tapi posisi dia aku tidak tahu dimana, bahkan untuk mencarinya saja aku tidak tahu harus memulainya dari mana"


"Kenapa kita tidak pergi ke kapal induk saja, mungkin ada kesempatan kita untuk menemukan petunjuk tentang Putra" bantu Rico hingga Ari mulai mengingat tentang kapal induk yang sempat mereka lihat ketika masih di perjalanan


"Kamu benar, ada kemungkinan kalau kita bisa menemukannya di sana"


"Yasudah kalau begitu kita bagi menjadi dua kelompok saja" ujar Sofia


"Dua kelompok?" bingung Ari dengan maksud gadis cantik dihadapannya


"Benar, satu kelompok ada yang stay disini lalu satu lagi ada yang pergi ke sana"


"Aku setuju dengan usul, kakak" balasan dari Rico yang antusias


"Baiklah, kalau gitu Aku, Ari, andrian dan Sina, akan menjadi kelompok yang pergi ke kapal induk dan sisanya tinggal disini" usul Miya dengan serius


"Baiklah aku setuju, kalau gitu mari kita pergi karena semakin cepat semakin baik" setuju Ari sehingga mereka bergegas pergi meninggalkan tenda namun ketika hendak keluar Samuel menyampaikan pesannya untuk Andrian dan timnya


"Berhati-hatilah, dan tunggu sampai kami datang membantu kalian!!" ujar Samuel tapi dengan tangkas Rian menjawab, "Sudahlah, mulai sekarang dan seterusnya biar aku yang urus, kakak istirahat saja" jawab andrian dengan melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan tenda.


******


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚'𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋

__ADS_1


__ADS_2