
πΏπͺππ§...
πΏπͺππ§...
Ledakan demi ledakan yang terus menerus terjadi disaat kilat kuning dan hitam bertabrakan akan tetapi karena kondisi Pria petir yang tidak Fit akibat serangan dadakan dari pria berjubah yang entah datang dari mana tapi kata-katanya masih sangat mengganggu pikirannya yaitu tentang menyebut tuan, karena dia yakin sekali kalau pria yang dia lawan ada kaitannya dengan gerbang pertama
Hingga sampai di saat pria petir mengambil nafas dengan menjauhi lawannya dengan terengah-engah dia terus mengambil nafas Walaupun saat itu tubuh dan tulang terus mengeluarkan rasa nyeri dan sakit akan tetapi yang ada di benaknya hanya bisa bertarung kerena jika bukan dia yang membunuh maka dirinya yang akan terbunuh
"Sial, dia terlalu kuat" pria petir yang kini sudah terlihat kelelahan karena mengunakan 50% kekuatan untuk melawan pria berjubah tersebut tapi pertarungan tadi tidak meninggalkan luka ataupun memar sedikitpun melainkan jubahnya telah compang-camping dan nafas sudah tidak teratur
Dengan menahan rasa sakit dirinya mulai untuk menyerang tapi kali ini dia sudah benar-benar kelelahan jadinya dia bertarung dalam mode biasa di berlari secara manual dan meloncat ke arah pria tersebut sambil terlihat di tangan sebuah sengatan listrik yang cukup untuk membunuh orang normal
Akan tetapi ketika tinjunya hampir sampai tepat dadanya, pria tersebut telah lebih dulu menahannya mengunakan telapak tangan yang telanjang hingga seketika pria petir langsung kaget dan mundur beberapa langkah karena baru kali ini tinjunya ditahan dalam keadaan telapak tangan kosong padahal sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat hal seperti ini terjadi
Dari sekian waktu akhirnya pria berjubah membuka mulutnya kembali sambil berkata dengan nada berat, "Aku tidak akan bisa di kalahkan, oleh manusia rendah sepertimu, selagi aku dekat dengan sumber energi kehidupan" itulah kata-kata yang keluar dalam mulutnya
Hingga pria petir mulai mengambil kesimpulan kalau dia kuat jika ia sedang dekat dengan gerbang atau mungkin ada sumber lain, pria petir mulai memperhatikan sekelilingnya dan di sana tidak ada siapapun selain gerbang besar yang saat itu berada di dekat mereka, "Kalau benar dia kuat jika berada di dekat gerbang bukannya itu sama saja aku dalam bahaya" batinnya dengan keringat bercucur deras dari kening hingga menetes ke baju
Tanpa berfikir panjang ia langsung menyerang pria berjubah dengan kekuatan yang ada dan disaat itu terlihat jelas perbandingan kekuatan antara petir dan bayangan yang kini sedang beradu bela diri saat itu dari mereka tidak ada yang membawa pedang ataupun senjata tajam jadi mereka bertarung secara murni tanpa ada kecurangan walaupun jika dilihat pria petir akan kalah
Reflek mereka sama hanya saja kekuatan berbeda pria petir yang merasa terpojokkan mulai mengeluarkan jurus andalannya yaitu membuat pedang petir berwarna kuning keemasan dan bentuk sama seperti katana hingga pria jubah juga terkejut karena yang dia lihat hanya sekilas petir yang menyambar musuh setelah itu muncul katana kuning ditangan
Dengan santai pria petir menghunuskan pedang ke arah pria jubah dengan segenap kekuatannya hingga terjadi sebuah ledakan serta di iringi guntur menggelegar tapi beruntungnya pria jubah berhasil menghindarinya dan menyerang balik mengunakan tinju berkabut hitam yang terletak di tangan kanan karena kecepatan mundur dan maju dari langkah musuh kini pria petir kelabakan hingga dengan terpaksa mengunakan badan katana untuk menahannya
karena ledakan dirinya mundur untuk beberapa langkah dan mengambilkan kuda-kuda agar bisa menyerang dengan sebuah tebasan putar yaitu serangan dadakan yang akhirnya ia berhasil melukai dadanya dengan luka cukup dalam dan panjang dari perut sampai ke dadanya
Dengan menjerit dia merintis kesakitan, pria petir yang melihat itu segera memanfaatkan kesempatan tersebut hingga dengan kilat kuning dia menghilang dan muncul dibelakangnya dengan kuda-kuda yang siap menebas dalam hitungan detik pria petir menebas punggungnya hingga menyebabkan darah bercucur keluar dengan deras
Malam itu pria petir berhasil mengalahkannya dan mengangkat katana ke langit hingga petir malam menyambar pedang dan hilang seketika, dengan baju yang telah tercampur darah dan tatapan kosong dia hanya berkata dengan pelan, "Sampai kapan semua ini terus berlanjut" ucapnya di bawah langit malam dan sesekali ia menoleh ke arah gerbang
***
Dilain tempat Samuel masih memikirkan cara agar tentaranya tidak ditangkap secara sia-sia apa lagi setelah berhentinya perang membuat tentara negara bergerak secara perlahan untuk mendekati lokasinya, sofia sembari tadi melihat Samuel melamun sempat kebingungan ingin berkomentar karena dia tidak mempunyai ide ataupun solusi dalam menyelesaikan masalahnya
Hingga ditengah lamunannya tiba-tiba terdengar suara dengan nada berat berkata, "Sepertinya kalian sedikit kebingungan" kata itu membuat Samuel dan sofia terkejut dan menoleh kearah asal suara dan alangkah terkejutnya dia ketika tau orang itu adalah gatot salah satu pimpinan mereka yang dibawa dalam perang
"Tuan Gatot" sofia saat itu masih dalam keadaan terkejut dan kebingungan karena mereka sudah tertangkap basah dalam aksi pemberontakan
"Singkirkan mulut kotor mu itu dasar penghianat!!!" bentak Gatot dengan menghentakkan kakinya dan terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia sedang marah besar
Dengan cepat Samuel melangkah beberapa langkah dan merentangkan tangan kirinya dengan isyarat untuk melindungi sofia, saat itu Samuel tidak ingin membalas perkataan Gatot yang pada akhirnya mereka harus bertarung satu sama lain
"Dasar bang*at" dengan cepat Gatot melangkah ke arah Samuel yang saat itu masih berdiri tegak didepan sofia dan untuk Gatot, Samuel bisa menganalisis identitasnya terutama pada kemampuannya yaitu Kekebalan hingga dirinya kebal terhadap apapun yang menyerang fisiknya
__ADS_1
Walaupun Samuel sudah memusatkan medan gravitasi ke area Gatot tapi dia tidak tersungkur maupun kakinya bertekuk dan bahkan dirinya perlahan berjalan mendekatinya, dirinya ingin berlari tapi sangat di sayangkan kalau itu tidak mungkin karena situasi tempat yang sudah terbakar membuat jarak pandang dan asap menyengat menghalanginya untuk kabur
Bahkan untuk meminta bantuan saja mereka tidak bisa tapi di sana masih ada beberapa tentara yang sudah jinak dengan mengunakan senjata di tangan tapi ragu untuk menembaknya karena mereka tau kalau Gatot juga merupakan pemimpin mereka sekaligus komandan mereka dalam perang ini
Sofia yang melihat tentara di sekitarnya tampak ketakutan dan hanya bisa menundukkan kepala ketanah membuat Sofia tahu kalau mereka sedang ketakutan dengan kehadiran Gatot, walaupun jumlah mereka bisa diperkirakan 23 orang namun metal mereka dapat di hancur dengan hentakan kaki Gatot dan tatapan yang penuh amarah
Dengan pelan Gatot berjalan mendekati Samuel, akan tetapi ketika melihat tentara tersebut masih menundukkan kepala membuat Gatot marah hingga dengan emosi dia berkata kepada tentara yang sedang berada dibelakang Samuel, "Tentara bodoh, apa kalian ingin memberontak kepada tuan Nikolaus" sentak Gatot yang lagi-lagi membuat mental tentara down
"Cih,. Dasar Keras kepala" gumam samuel dengan menambah tekanan karena jarak antara dia dan Gatot semakin dekat, hingga tekanan gravitasi milik samuel berhasil membuat kaki Gatot bertekuk lutut dan memperlambat gerakannya namun karena emosi yang meledak dirinya kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya
Sofia yang melihat tidak bisa hanya diam dan menonton akhirnya dia memutuskan untuk turut menyerang Gatot mengunakan pistol yang dirinya ambil dari saku celana milik salah satu tentara yang mati dan mencoba untuk menodongkan pucuk senjata ke arah Gatot yaitu tepat di kepalanya yang saat itu langkahnya terhambat oleh medan gravitasi
Jadi sangat mudah bagi Sofia untuk membidik orangnya dengan jalan lambat apalagi di masa sekolahnya dia selalu digelar sebagai Pemanah terbaik di kelas, walaupun kali ini dia merasakan hal berbeda yaitu dia bukan menembak hewan ataupun benda mati akan tetapi kali ini dia harus membunuh manusia yang merupakan pengalaman pertamanya
Samuel melihat senjata yang dipegang Sofia bergetar dan mulai memejamkan matanya walaupun dia tidak bisa melihat sasarannya dalam posisi mata tertutup, Samuel segera menghentikan aksinya dan berkata kepada Sofia, "Jangan paksakan dirimu untuk berbuat apa yang tidak kamu sukai" dengan senyuman indah di pipi Samuel
Membuat detak jantung Sofia mulai tidak teratur dia merasa hanya berada di dekat Samuel, dirinya bisa merasakan aman dan kehangatan, dan detik itulah Sofia melihat langkahnya kaki yang maju menuju ke arah musuh sambil membawa pistol
Dengan berlari dia mengambil ancang-ancang dengan melancarkan tinju sambil memperkuat medan gravitasi di kepalan tangan hingga tinjunya berhasil meninju dada Gatot akan tetapi tinju tersebut tidak terpengaruh padanya karena kemampuan kekebalan telah melindunginya
"Sial" Ketus Samuel ketika hendak menarik tangan yang tertempel di dada Gatot namun telat beberapa detik sampai pergelangan tangannya di cengkeram oleh lawannya
"Hahaha" tawa Gatot dengan di iringi aura kemarahan hingga dengan seketika membuat badan Samuel bergetar ketakutan
Hingga beberapa detik Samuel membuka matanya dan terlihat dibelakang Gatot seorang anak remaja yang tak lain adalah andrian, "Halo Kak, Bagaimana kabarmu?!" sapa andrian sambil melambaikan tangan mengunakan tangan kiri karena tangan kanannya sedang memegang pundak Gatot
"Rian?" bingung Samuel karena perasaannya tercampur aduk dari rindu, kaget, dan takut, sampai-sampai ia tidak bisa mengekspresikan wajahnya dalam beberapa saat Samuel bengong akhirnya andrian mencoba untuk mendekati kakaknya dan berkata
"Apa kakak, lupa akan kemampuanku" ucap andrian memukul dada Kakaknya dan berjalan mendekati sofia, Samuel akhirnya teringat akan kemampuan adiknya yaitu hipnotis dengan syarat menyentuh target dan dirinya juga sempat melihat Rian menyentuh pundak Gatot
"Sial, aku malah terlihat seperti orang bodoh" gumam Samuel hingga menyingkirkan pandangnya yang saat itu melihat kepalan tangan Gatot dan menodongkan pistol di arah dahinya sambil melihat kebelakang sesaat untuk memastikan andrian telah mengalihkan pandangan Sofia,
karena dia tidak ingin Sofia melihat pemandangan sadis saat ini, dengan tatapan mata kosong Samuel membayangkan bagaimana jika dia membunuh apa dia masih bisa di terima Tuhan, karena tidak ada lagi cara agar dirinya bisa lakuin selain menerima dengan senang hati akan pertumpahan darah ini bahkan dirinya bisa merasa tak pantas jika harus bersanding dengan keluarga
Setelah melihat tangannya yang penuh dengan bau darah, tidak lama merenung akhirnya dia menarik Pelatuk senjata hingga dalam waktu singkat terdengar suara tembakan yang pelurunya menembus kepala Gatot dan untuk kemampuannya setelah andrian hipnotis, dirinya sempat mengendalikannya untuk non-aktifkan kemampuan hingga dalam satu tembakan peluru dapat tembus tulang
πΏπ€π€π§...
Suara tembakan dengan peluru tembus kepala Gatot, hingga dalam waktu yang bersamaan dia langsung terkapar ketanah dengan darah mengalir keluar dari lubang tembakan, sementara Sofia tadi tidak sempat melihat adegan tembakan karena keburu andrian menghalangi pandangannya
"Halo Kak cantik, apa kakak adalah pacar kakakku?" seru andrian sambil melambaikan tangan ke arah Sofia
"Ternyata kamu adik Samuel yang pernah di ceritakan itu toh" balas Sofia yang langsung melangkah kehadapan andrian dan langsung mencubit pipinya
__ADS_1
"Aww,.. Sakit kak" andrian meringis kesakitan akibat cubitannya terlalu kuat
"Ah, Maaf"
"Tenyata kamu memang mirip dengan kakakmu ya" sambung Sofia dengan terlihat sebuah senyuman manis sambil memegang pundak, dan disaat itulah Rian terasa seperti anak kecil karena tinggi badan dirinya 169 cm sedangkan tingginya hanya 162, jadi bisa dibayangkan bukan bagaimana rasanya jadi andrian ketika teman-temannya melihat tingkah kakak iparnya
"Perasaan aku sudah pernah ke sana Walaupun hanya sekali deh" ucap Andrian yang mengganti topik supaya tidak malu sendiri
"Ya, itukan kamu hanya bertemu kakakmu bukan aku" Sofia melihat ekspresi Rian yang menyipitkan mata sekaligus nyengir hingga terlihat gigi membuatnya tau kalau andrian sedang malu ketika berada di hadapannya dan mencoba untuk melepaskan cengkeraman di pundak Rian
"Yah Maaf, soalnya waktu itu aku sangat takut kalau ketahuan apalagi itu adalah pengalaman pertamaku dalam menjadi penyusup" jawab rian hingga terdengar suara kakaknya
"Apa masih ada waktu untuk masa reuni" suara Samuel sambil berjalan mengelap pistolnya yang terkana noda darah mengunakan sapu tangannya dari raut wajah terlihat samuel masih sedih dan terpukul akibat melihat dirinya yang begitu sadis
"Eh, apa dia cemburu ya?" batin sofia akibat melihat kedatangan samuel dengan wajah masam, sedangkan andrian yang hanya menolehkan padangan bisa tahu apa yang dirasakannya ketika pertama kali membunuh manusia
Putra saat itu masih berada di tengah hutan belantara bersama dengan teman-temannya karena hutan yang gelap dan banyak nyamuk membuat putra terpaksa harus menyalakan api unggun supaya bisa memberi penerangan bagi mereka apalagi melihat keadaan ari yang sedang melemah namun tidak bisa dibawa ke rumah sakit
Karena jalur sudah diblok polisi dan mereka tidak bisa meninggalkan teman yang saat itu masih bertarung dan berperang di medan perang, sebenarnya putra ingin ke lokasi tapi Vera menghentikannya karena di sana tidak ada orang yang bisa bela diri jadi mereka sangat membutuhkan pelindung dari orang kuat
Apalagi posisinya yang berada di tengah hutan, mereka takut kalau disaat putra pergi akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan oleh karena itu Vera dan maya menyuruh putra agar tetap tinggal bersama mereka walaupun putra tidak suka menunggu
Akan tetapi selama putra di sana mereka tidak ada yang membuka bicara ataupun bertanya satu sama lain yang akhirnya ditempat itu hanya hening disertai bunyi serangga kecil, Vera yang memperhatikan sikap putra sempat heran karena semenjak ibunya meninggal dirinya sudah jarang melihatnya berkomunikasi bahkan tersenyum
Akan tetapi setelah dia ingat kembali dia sangat ingat ketika tatapan dan tindakan putra disaat dia menyelamatkan ari, karena dia sangat penasaran ia berdiri lalu berjalan beberapa langkah ke arah putra hingga dirinya duduk disebelah putra dan membuka mulutnya dengan berkata, "Putra kenapa kamu sangat niat untuk menyelamatkan Ari?!" pertanyaan Vera membuat maya yang tadinya hanya memperhatikan ari
Kini langsung tertuju ke arah Vera dan Putra sementara temannya andrian yang memiliki kemampuan transparan hanya bisa diam sambil memperhatikan, dan untuk ari dia masih tidak sadarkan diri dan tidur di tanah dengan menggunakan paha maya sebagai bantal agar kepalanya bisa bersandar
"Aku tidak terlalu tahu dengan perasaanku tapi aku yakin itu karena aku tidak ingin melihat orang di sekitarku sedih, walaupun aku tidak tau apakah ada orang yang sedih akan kepergian ibuku"
"Kenapa kamu berfikir seperti itu" ucap Vera
"Entahlah, tapi yang jelas aku sudah menganggap ari seperti saudaraku sendiri itu karena ibuku sangat mempercayai ari dan bahkan ibuku sendiri sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri dan selalu mempercayainya sama seperti dia percaya kepada anaknya" balas putra
Walaupun Vera masih susah untuk mencerna dari kata-kata putra tadi, tapi dirinya tau kalau Ucapnya barusan berasal dari hati terdalamnya walaupun putra tidak tau dengan kata-katanya sendiri, hingga tidak lama putra kembali berkata
"Mungkin aku menyelamatkan Ari memiliki suatu tujuan yaitu dia harus tau akan kematian ibuku yang tak manusiawi itu supaya dia tau harus berada di jalan yang mana dan menyelamatkan Ari bukannya sama saja keinginan kalian selama ini" sambung putra
Akhirnya vera mengerti akan maksud putra, dengan menyelamatkan Ari dirinya bisa membuat Maya dan Vera tidak perlu cemas akan keadaannya, dan menyelamatkan Ari yang dianggap seperti saudaranya sendiri, membuatnya memiliki sebuah alasan untuk menyelamatkan Ari apalagi dia belum tau soal kematian ibu putra akibat mawar hitam dan jika Ari tau pasti dia akan membantu putra untuk meringkus mawar hitam bersama-sama
Walaupun ucapan putra sebuah teka-teki untuk Vera tapi setelah tahu maksud dan intinya bisa membuat Vera lebih dekat lagi dengan putra karena sedikit demi sedikit dirinya bisa tahu akan isi hati putra, malam itu Vera tidak lagi menanyakan sesuatu hal karena dia masih memikirkan cara agar putra kembali tersenyum apalagi dia sangat rindu dengan sosoknya yang dulu
Namun karena angin malam begitu dingin membuat tubuh Vera menggigil kedinginan apalagi mereka dekat dengan laut itu justru membuat angin malam semakin dingin dan menyengat hingga ke tulung, Putra yang sadar segera melepas jaketnya dan ia berikan kepada Vera dengan wajah memerah dia berkata "Lain kali, kalau keluar malam jangan menggunakan baju tipis"
__ADS_1
Vera yang melihat sifat lembut putra kini mulai tersenyum dan merasakan kalau putra akan selalu perduli kepada orang sekitarnya apapun keadaannya.