Fire And Water

Fire And Water
Cp 75# Kebencian


__ADS_3

Terlihat disebuah lorong menuju pintu istana yang hanya diterangi oleh sekilas obor di setiap dindingnya, di sana terdapat Putra dengan nafas sedikit kewalahan sehabis menahan kekuatan berskala besar milik Nico, bahkan pergelangan tangannya mulai merasakan nyeri dan sakit akibat tak kuasa menahan serangan milik musuh


"Haha,.. Bagaimana?" tanya Nico dengan senyum sadisnya


"Lumayan!!!" acuh Putra segera melesat mendekati Nicolaus dengan kekuatannya sehingga terjadilah saling adu tinju antara Putra dan lawannya dengan kecepatan tak terlihat, membuat mereka sulit untuk ditebak mana bertahan dan menyerang namun yang mereka tahu tampak jelas Putra selalu terdesak mundur akibat serangan yang bertubi-tubi


Dari lawannya, Joko yang melihat ingin sekali membantu adiknya namun dia masih menunggu dan terus menunggu sampai datang waktunya, untuk bergerak menyelamatkan Putra, setelah cukup lama menyaksikan tampak Putra mulai babak belur dan darah mengalir dari sela mulutnya sehingga dia tak sanggup untuk melanjutkan perlawanannya dan lebih memilih untuk mundur beberapa langkah dari tempatnya


"Cih,.. Aku salah sangka ternyata dia benar-benar kuat" ketus Putra dengan nafas tak teratur


Tidak lama datang dari arah pintu segerombolan tentara yang menjadi bantuan untuk Putra, karena situasinya mulai menguntungkan Joko memanfaatkan hal tersebut untuk meminta izin agar dia diberi hak untuk mengatasi Putra seorang diri sedangkan tuannya mengurus tentara sekutu


"Tuan Nico, biar aku saja yang mengurusnya" ucap Joko yang mendengar suara langkah kaki dari balik bayangan


"Kamu ingin mengurus bocah ini?" tanya Nico memastikan


"Tentu saja, karena kemampuan saya cukup untuk membunuhnya"


"Baiklah, kalau begitu urus dia secepatnya!!!" setelah itu Joko berjalan mendekati Putra dan berkata dengannya


"Mari kita battle di lain tempat" ajak Joko


"Cih,.. Boleh juga" ketus Putra yang akhirnya mengikuti Joko melewati Nicolaus dengan wajah dan tubuh yang penuh luka membuatnya susah untuk berjalan setelah melewati jalan perempatan Joko berbelok kanan yang tujuannya untuk mengajak Putra ke halaman samping tidak jauh berjalan akhirnya terlihat cahaya bulan yang menandakan hari sudah semakin malam


Dan tempat tersebut berada dihalaman samping dekat Gunung yang luasnya hanya beberapa petak karena tempat tersebut sering digunakan sebagai tempat latihan menembak dengan penasaran Putra melontarkan pertanyaannya kepada pria misterius didepannya


"Apa tujuanmu mengajak aku ketempat ini!!" tanya Putra dengan tangan memegangi perut sambil menahan rasa sakit yang luar biasa


Tidak lama Joko berpaling melihat Putra dengan tatapan penuh kerinduan yang mendalam akibat selama ini dia selalu mencari adiknya, "Namaku Krise dan kamu adalah orang yang selalu aku cari!!" jawab Krise dengan wajah penuh harapan


"Mencari aku?" bingung Putra


"Benar, dulu aku mencari mu tapi karena aku masih terlalu kecil membuatku terpaksa mengurungkan niat dan berusaha untuk bertahan hidup sampai saat ini dan sekarang lah waktunya aku bertemu denganmu Putra"


"Jangan-jangan kamu.. " Putra mencoba untuk mencerna setiap perkataan dari lawan bicaranya sehingga mulai ter-ingang di kepalanya kalau dia berkemungkinan adalah kakak tiri yang dibicarakan oleh Ayah dan ibunya dulu


"Aku tidak bisa memberi tahu mu sejak dulu tapi aku bisa memberitahumu sekarang, yaitu aku adalah kakak tiri mu!!"


"Bohong, aku tidak percaya dengan ucapan mu, lagian aku tahu kalau kakakku itu orang baik bukan orang jahat sepertimu" emosi Putra yang meledak-ledak bagaikan tabung gas di sumet api sehingga tanpa sadar nadanya membuat luka di hari kecil Krise yang cukup dalam


"Apa aku sejahat itu di matamu?" tanya Krise dengan tatapan yang susah untuk digambarkan bahkan warna matanya tidak terlihat terang lagi dari sudut pandang orang kedua


"Tentu saja, karena ketua kalian sudah membunuh kedua orang tua ku" ucap Putra dengan mengernyitkan alisnya


"Ibumu tidak menerimaku sebagai anak bagaimana mungkin aku akan berpihak padanya" ketus Krise dengan tatapan sinis


"Kau salah, ibuku sudah berkata dalam mimpiku kalau dia juga mengakui mu sebagai anak"


"Bohong, tidak mungkin jika dia mengakui ku tapi tidak mau merawat ku layaknya anak sendiri, bahkan melihatku pun dia enggan"


"Sudut pandang mu terlalu sempit tol*l, sebagai seorang ibu mana mungkin membiarkan anaknya dalam bahaya, apalagi dalam masalah suami yang merupakan pembunuh berantai yang pada akhirnya akan melahirkan dendam dan ujung-ujungnya akan berdampak pada anak semata wayangnya"


Kata-kata itu hanya membuat Krise terdiam dan mematung bagaikan pondasi yang baru disemen perlahan namun mengeras tapi hatinya selama ini sudah keras sehingga ketika mendengar perkataan Putra, mendadak membuat lahirnya Krise yang baru hingga dengan tersenyum lebar namun menakutkan membuat Putra bergidik ngeri


"Aku tidak takut jika kamu mau marah, karena seharusnya yang marah itu aku bukan kamu!!" sambung Putra membalas tatapan dengan tatapan


"Berisik!!, jadi memang benar memutuskan untuk membunuh ibumu adalah keputusan yang tepat" ketus Krise sehingga Putra yang mendengar tidak terima dan langsung menyerang namun karena lukanya yang belum pulih membuatnya tidak bisa bergerak dengan maksimal

__ADS_1


"Heh!!.. Jadi kamu memang mau melawanku" ketus lagi darinya yang dengan cepat menangkis dan menyerang balik mengunakan sikunya untuk menyerang punggung Putra sehingga dalam waktu singkat lawannya langsung tergelatak ke tanah dengan kondisi tubuh lemas


"Argh... sakit sekali punggungku" rintihan Putra yang berusaha keras untuk mencoba berdiri namun sakit di punggung membuat dia stack dalam posisinya yaitu tersungkur dihadapan lawan


"Apa aku perlu bantuan Master?" batin Putra bertanya kepada diri sendiri


"Tidak, aku tidak boleh meminta bantuannya karena ini masalah keluarga, jadi sudah kewajiban ku untuk menyelesaikannya" sambung Putra yang menolak untuk meminta bantuan


"Kau tahu aku ini orangnya tidak memiliki belas kasihan jadi walaupun kamu meminta ampun sampai tangis darah pun percuma, karena aku sudah kecewa denganmu!!!" ujar Krise yang terus berdiri di samping Putra yang sampai saat ini masih masih tersungkur di tanah


"Cih,.. Aku juga tidak akan sudi meminta belas kasihan dari mu" cibir Putra sambil membuang air liurnya ke sembarang tempat sambil bangkit berdiri walaupun saat itu kakinya terus ter'tantih-tantih untuk berdiri dengan tegap


Krise yang melihat hanya bisa menatapnya dengan pandang intens sambil terus-menerus memasang wajah datar yang memang sajak awal dia sudah tidak perduli lagi dengan statusnya yang kakak tiri karena hatinya sudah terlanjur masuk kedalam lubang kebencian.


Sementara itu terlihat di kapal induk yang masih berusaha untuk melumpuhkan pesawat tempur milik musuh yang menyerang secara membabi buta tanpa memikirkan strategis ataupun tak-tik dalam perang sehingga banyak sekali cela untuk Jendral Jupiter yang memiliki rencana untuk mengikis jumlah mereka satu-persatu


Tapi dalam diam tiba-tiba terdengar suara gadis yang tutur katanya halus walaupun nadanya saat itu sedang tercampur oleh rasa khawatir, "Jenderal apa semua ini akan baik-baik saja?" tanya Vera dengan tatapan yang terus menatap langit akibat di langit sedang terjadi gempuran antara hidup dan mati mereka


Waktu itu mereka sedang berada disebuah ruangan yang didekatnya ada sebuah kaca besar untuk digunakan sebagai tempat mereka menyaksikan pertempuran yang sadang berlangsung dan ruangan itu tak lain adalah ruang rapat yang bernama ruang 00, sebelumnya pernah digunakan sebagai 'ruang rapat sebelum perang'


"Kamu tidak perlu khawatir nak Vera, karena keselamatan kamu sudah aku jamin sebelum tunangan mu pergi ke medan perang"


"Ah.. Anda bicara apa sih" ujar Vera dengan malu-malu


"Hmm,.. Mau se'dewasa apapun mereka, mereka tetaplah anak muda" batin jendral dengan senyum tipis


Tidak lama menikmati suasana tersebut terdengar suara keributan dari luar mulai dari rintisan bahkan tembakan mulai terdengar dari luar ruangan, seakan-akan sedang terjadi keributan didalam kapal induk sehingga Jendral berjalan keluar namun sebelum membuka pintu, Vera berkata dengan suara cemas karena dia khawatir kalau suara barusan adalah serangan dari musuh


"Jendral, apa anda akan pergi ke asal suara?" tanya Vera dengan suara lirih seakan-akan sedang ketakutan, tentunya suara tersebut membuat hati jendral ikut tersayat akibat melihat tatapan gadis malang yang harus ikut dalam masalah kematian


Bahkan tatapannya sudah hampir penuh dengan air mata yang ingin jatuh dari selaput matanya, sehingga jendral mencoba untuk menenangkannya lewat kata-kata singkat seperti, "Nona Vera tenang saja, karena saya hanya pergi sebentar dan akan kembali sebelum satu jam" ucapan jendral membuat Vera sedikit tenang walaupun di hatinya sedikit takut


Dor.. Dor...


Derrttt... Derrttt...


Suara senjata api dari dua belah pihak yang saling baku tembak, antara lain tentara sekutu mengunakan senjata mesin sedangkan pasukan Assassin hanya mengunakan pistol bermerk HK USP, senjata industri dari Scarlett yang dikirim secara ilegal oleh persatuan bangsa


Jendral yang baru tiba segera menimpali tentara tersebut oleh beberapa pertanyaan yang saat itu tentaranya sedang sibuk baku tembak dengan lawan, "Hey,.. Apa yang terjadi?" tanya Jendral yang mendengar baku tembak dari dalam ruangan


"Kami juga tidak tahu pasti, tapi sebelumnya kami mendengar suara teriakan dari arah lorong ini dan ketika kami hendak memeriksanya, tiba-tiba kami mendapat serangan secara dadakan sehingga aku terpaksa mundur dan terdesak sampai situasinya seperti ini" jawab singkat Tentara tersebut dengan wajah penuh dengan keringat


Jendral yang mendengar hanya bisa memalingkan pandangannya dan menatap kearah lain dan di sana sudah ada beberapa tentara yang terluka maupun tewas dengan tergelatak dilantai yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi


"Apa-apa ini, kenapa kalian tidak membawa mereka ketempat yang lebih aman dulu!!" ujar Jendral dengan ekspresi Aneh namun terlihat sebagain besar dari raut wajahnya yang tidak tega melihat keadaan mayat tergeletak ditengah pertempuran dengan kondisi mengenaskan


"Maafkan kami jendral, jumlah kami saat ini tinggal 6 orang, dan amunisi kami juga menipis jadi kami tidak bisa membawa mereka sambil terus menyerang balik, apalagi posisi mereka di tempat terbuka yang letaknya lumayan jauh untuk beberapa langkah lebih cepat sebelum mereka menyadarinya dan saya khawatir jika saya mundur maka mereka akan terus menyerang kita dari belakang"


"Bukankah kalian tentara terlatih, lalu kenapa kalian ragu untuk melakukan hal itu" ucap Jendral dengan mengernyitkan alisnya


Tidak Jendral, kali ini situasinya berbeda dimana mereka lebih unggul dalam kecepatan dan ketepatan, apalagi jika membahas pergerakan lawan, seakan-akan mereka lebih unggul dalam latihan formal dari kita semua"


"Kalau begitu apa mereka bisa dibilang sebagai kelas pembunuh?"


"Jika saya boleh berargumen mereka jauh dari kelas pembunuh melainkan seorang Assasin yang bisa dibilang sekelas ninja" ucapan tentara tersebut dengan badan merinding membuat Jendral sedikit paham dengan situasinya


Tidak lama, terdengar suara rekan dari tentara lain yang berteriak dengan suara lantang dan panik, karena ucapannya begitu agresif

__ADS_1


"Jendral, kita mendapat serangan!!" teriakan dari salah satu tentara yang ada di balik dinding sebelumnya dia sedang mengintip kearah lawan secara intens layaknya sedang berada di medan perang


"Apa!!" kaget dari salah satu tentara yang pernah menjadi lawan bicara Jendral


"Maksudmu mereka sedang berlari ke arah sini!!" ucap Jendral untuk mastikan


"Benar!!"


"Tunggu apa lagi, cepat tembak mereka!!" teriak jendral dengan keras


"Tidak bisa Jendral, karena mereka mengunakan boom asap untuk membatasi jarak pandangan kita!!"


"Sial, kenapa mereka bisa tahu" gerutu jendral dengan geram


"Mungkin mereka tahu, kalau amunisi kita sudah menipis, jadi mereka ingin membuat kita membuangnya secara sia-sia dengan cara menembaki arah asap tersebut" balas tentara yang dari awal pernah menjadi lawan bicaranya


"Jangan tembak, tapi pastikan!!" perintah Jendral membuat tentara sisa yang ada di persembunyian segera keluar dari balik dinding dan menghadang jalur dengan cara menodongkan senjata ke asap yang masih tebal secara terang-terangan


Sedangkan Jendral bersembunyi dibalik dinding sambil mengintip keadaan dengan menggenggam sepucuk pistol, sembari mereka menunggu sampai mendengar step musuh namun setelah menunggu lama akhirnya terdengar suara langkah kaki yang sangat singkat namun terdengar jelas


Tak,.. Tak.. Tak..


Suara hentakan kaki dari balik asap membuat tentara Sekutu memberondongkan tembakan kearah suara dan benar saja baru saja terdengar langkah kaki kini sudah terdengar jeritan seseorang yang berteriak histeris


Argh,....


Jeritan itu teringang di kepala mereka sebelum mereka diberi kejutan lain dari seseorang, yaitu berupa dinamit yang tertera 6 detik sebelum meledak, sehingga dengan cepat mereka berlarian namun siapa sangka ternyata ledakan tersebut sangat besar yang membuat seluruh tentara tewas sebelum mereka menjauh dari boom


𝘿𝙐𝘼𝙍...


"Sialan,.. gendang telingaku hampir pecah" rintis Jendral sambil memegangi kupingnya yang dimana terlihat mulai mengalir darah dari dalam, dengan badan penuh luka dan baju hampir sebagian besar terbakar akibat ledakan dinamit membuat pandangan Jendral hampir pudar namun karena mendengar langkah kaki membuat dia segera berlari ketempat Vera berada


Setelah berjalan dengan langkah panjang ditambah pandangan mulai memudar, membuat dirinya berjalan dengan jalan sedikit sempoyongan namun untungnya dia berhasil sampai tepat waktu dan melihat Vera yang menatap keluar kaca akibat pesawat tempur yang terus bertempur di udara


"Nona Vera" panggil Jendral dengan rintih sebelum dirinya tersungkur ke lantai membuat Vera yang mendengar membalikan pandangan dan melihat Jendral sudah tersungkur dengan badan penuh luka, tentunya membuat Vera berlari menghampiri Jendral sambil menanyakan pertanyaan yang mungkin saja akan ditanyakan ketika orang sedang panik


"Jendral, ada apa denganmu?" bingung Vera sambil melirik tubuh Jendral yang sudah penuh dengan luka bakar


"Kabur" bukannya menjawab justru jendral malah memerintahkan Vera untuk kabur walaupun nadanya pelan dan tak bertenaga tapi Vera bisa tahu dari cara bibirnya mengucap


"Apa maksud anda?" bingung Vera yang tidak mengerti situasinya sendiri


"Tidak ada waktu lagi, cepat kabur!!" ketus jendral yang mendorong tubuh Vera sehingga Vera yang didorong pun langsung terduduk di posisinya, dengan wajah kaget dan takut Vera hanya bisa mematung tanpa bisa berkata-kata sampai dia mendengar suara asing yang berada diluar ruangan yang berkata, "Wah,... Terlalu dramatis" ucapan tersebut membuat Jendral dan Vera sama-sama terkejut sehingga mata mereka melotot dengan lebar ketika melihat seseorang berpakaian serba hitam yang berada di ambang pintu dengan jumlah 2 orang sambil menatap mereka.


"Siapa kalian?" tanya Vera dengan wajah ketakutan akibat melihat dua orang asing yang menatap mereka dengan aura pembunuh keluar dari tubuh masing-masing orang


"Siapa kami itu tidak penting, tapi ada hal yang perlu kamu tahu, sebenarnya kami adalah malaikat pencabut nyawa kalian" ucap salah satu dari mereka sehingga Jendral mengambil pisau dari celana dan membalikkan tubuhnya yang berusaha untuk menusuk secara langsung ke perut dari orang yang berbicara dengan Vera


Tapi sangat disayangkan karena belum sempat menusuk kulit, pisau Jendral langsung ditangkap dengan tangan kosong walaupun tidak bertenaga tapi tetap saja, pisau tersebut telah merobek telapak tangan yang menggenggam pisau secara langsung sebelum menusuk perut target, dengan tatapan tajam dan aura intimidasi, pembunuh itu segera menatap Jendral yang sudah tidak berdaya akibat tubuhnya yang lemah


Ditambah rencananya gagal total karena dia terlalu ceroboh dan tidak bisa memperkirakan kalau lawannya lebih kuat darinya, Vera yang melihat aksi Jendral hanya bisa terdiam dengan ketakutan akibat baru pertama kalinya dia melihat seseorang berencana untuk membunuh orang tanpa ada rasa ragu sedikitpun.


********


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..

__ADS_1


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋


__ADS_2