
Matahari telah menyingsing menyinari kota dan Pulau hingga tentara negara sudah berkumpul di lapangan Dengan seragam lengkap dan senjata mesin ditangan membuat mereka jadi lebih keren, untuk warna seragam tentara memakai warna Coklat dengan logo negara yang ditempel di dada, dika juga ikut untuk menjadi salah satu dari mereka karena kejadian kemarin membuatnya harus berangkat walaupun belum siap hati
Namun diantara orang yang ada di sana hanya dika yang masih terpikirkan tentang perkataan putra karena perkataannya kini ia menjadi tidak tenang walaupun sudah berusaha agar tidak panik, seringkali dika merasa takut karena itu sudah menjadi alamiah manusia tapi kali ini berbeda dika benar-benar sudah merasa takut sebelum berperang
Di bawah terik matahari yang menyinari tentara berjumlah 500 personil dengan perasaan campur aduk akan perang membuat mereka sedikit gelisah hingga tidak lama menunggu akhirnya datang jendral dan komandan perang secara bersamaan di depan gerombolan serdadu dengan badan gagah dan penuh kharisma mereka berdiri di antara rekannya
Awalnya suasana hening dan tenggang, bahkan tentara yang jumlahnya lebih banyak, tidak berani membuka mulut karena kedudukan mereka jauh dibawah jendral, suasana hening membuat hati tak karuan termaksud dika, hingga tak lama jendral membuka mulut dengan suara lantang dan tegas, "Saudara-saudaraku, apa kalian sudah siap dengan perang yang akan kalian hadapi nantinya?!!" tanya jendral dengan suara lantang membuat suaranya terus berdenging di setiap kuping tentara
Namun dari banyaknya prajurit hanya 60% yang berbicara siap, sebagian lagi hanya diam membeku termaksud dika, kurang percaya diri adalah salah satu keraguan mereka yang terus menghantui
"Bagus, aku tahu masih ada yang belum siap namun aku tegaskan sekali lagi kalau ini demi negara, kalau bukan kalian lalu siapa lagi yang akan melindungi negara, jadi aku minta ke kalian tolong pinjamkan kekuatan kalian agar kita bisa menyelamatkan rumah dan tanah air kita" sambung jendral
Hingga dengan serentak tentara berteriak, "Kami siap!!" suara yang dilandaskan semangat 45, membuat suasana hening menjadi menggelora dan dipenuhi rasa semangat
"Itu baru semangat, sekarang kalian bisa berangkat mengunakan kapal perang yang disiapkan dengan jumlah 5 dan 3 kapal selam dan 4 Jet tempur yang akan memandu perjalanan kita nanti apa kalian paham"
"Siap paham!!!" tentara bersuara dengan serentak dan terlihat mereka sudah mengendalikan diri
"Baiklah untuk memulai perjalanan kita mari kita berdoa menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing, berdoa mulai" Perintah jendral sambil menundukkan kepala, hingga dalam waktu singkat suasana jadi hening
"Berdoa selesai" sambung jendral yang kembali mengangkat Kepalanya diikuti bersama rekannya
Setelah berdoa selesai mereka segera berjabat tangan dan segera berangkat ke pinggir kota karena kapal sudah menunggu di perairan danau bersama dengan Jendral dan komandan tentara yang ditugaskan untuk menjadi komandan perang sesampainya di sana mereka segera memasuki kapal tempur dan kapal selam sesuai kapasitasnya, dan sisa dari prajurit akan di tempatkan di kapal pengangkut yang telah tersedia
Kepergian mereka sesuai dengan waktu yang di sepakati karena mereka akan sampai di malam hari nanti sedangkan pesawat tempur akan diluncurkan pukul 16.00, bersama kapal induk
Sementara putra kini sudah berjalan cukup jauh dari camp tentara walaupun dia membawa uang namun semua uang itu tidak berguna karena ditempatnya tidak ada alat transportasi ataupun toko yang buka untuk melakukan transaksi jadi Putra hanya bisa berjalan dengan sabar dan berharap kalau nanti akan ada bantuan yang menjemputnya
Walaupun dia lebih berharap kepada masyarakat dari pada petugas negara, karena dia takut kalau dia dibantu oleh mereka yang ada malah diinterogasi yang ujung-ujungnya masalah malah di perpanjang, sebenarnya Putra ingin menghubungi Vera namun smart phone rusak dan rusaknya tidak di ketahui kapan
Jadinya dia hanya bisa pasrah dengan keadaan dan hanya bisa terus berjalan supaya mendapat titik terangnya, tidak lama berjalan Putra sudah merasa kalau areanya sepi jadi ia mengunakan kekuatannya untuk mempercepat langkah dan tidak butuh waktu lama Putra sudah melewati 10 Km dalam 2 menit
Perjalanannya terus berlanjut ketika dia berpapasan dengan mobil merah yang mirip ambulan awalnya dia bingung ingin menghampirinya atau tidak, namun tidak lama memperhatikan akhirnya keluar orang yang ada didalam mobil yaitu dua gadis cantik, Putra yang melihat sekilas langsung tahu siapa mereka
Padahal jarak pandangannya cukup jauh dari dua gadis tersebut, tanpa pikir panjang dengan cepat putra mendekati mereka sambil memanggil nama mereka, "Vera, Sonia" nada tingginya membuat mereka terkejut dan menoleh kearah putra
Alangkah terkejutnya Vera ketika orang yang dia lihat adalah putra hingga dengan cepat dia berlari dan memeluknya dengan erat sambil berkata, "Syukurlah, kamu baik-baik saja" ucap Vera sambil memeluk putra dengan erat, sonia yang melihat hanya bisa tersenyum dan ikut mendekat
"Maafkan aku kalau sudah membuatmu khawatir" seru putar sambil membalas pelukan Vera
"Tidak ini semua salahku, waktu itu tanpa pikir panjang aku meninggalkanmu padahal waktu itu kamu sedang membutuhkan pertolongan"
Dengan senyum hangat putra mengelus rambut Vera sambil berkata, "Semua itu tidak benar, karena kamulah aku bisa melihat dunia dengan jelas walaupun waktu itu aku benar-benar hampir mati" putra membuat raut wajah masam
"Maksudmu?" bingung Vera dengan melepas pelukannya
"Tidak lupakan saja, tapi yang lebih sekarang kenapa kalian bisa disini, bukannya ini tempat sepi?" tanya balik putra
"Kejadiannya sih kemarin, Malam itu Vera datang ke kamar rian untuk meminjam mobil agar bisa menyusul mu disini, berhubung aku khawatir dengan keadaannya jika kesini seorang diri, jadinya aku ikut deh bersamanya, dan benar saja mobil kami mogok dan montir dapat sampai pukul 8 pagi" jelas sonia yang membuat Pipi Vera merona
"He,.. Alangkah nekatnya kamu ver" muka kecut putra membuat Vera semakin malu
"Kalau begitu sebaliknya kita kemana?" potong Vera sambil mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Haha,. Lucu juga Vera kalau sedang malu" batin sonia yang ingin tertawa namun tidak enak melihat perasaan Vera
"Ehm,.. Kalau jam 8 sih kelamaan tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kalian disini, apalagi ini terlalu sepi" Gumam putra Sambil memegang dagunya
"Kita berdua tidak ada jalan lain selain menunggu lagian ini sudah jam 7 mungkin mereka akan sampai dalam waktu satu jam lagi" balas sonia
Tidak lama berfikir, akhirnya putra teringat dengan ari yang terakhir kali dia lihat sudah tidak sadarkan diri, "Kak sonia, bagaimana keadaan ari sekarang?" tanya putra
"Kalau ari aku tidak tahu tapi kemungkinan Vera tahu"
"Kemarin sih dia sedang dirawat di ruang darurat karena demamnya, namun aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini" jawab Vera
"Oh,. Begitu ya" muka datar terlihat bari ekspresi putra
"Kami kenapa, put?" bingung Vera
"Vera apa kamu masih mempunyai kontak dengan pemimpin negara, dulu aku pernah bilang bukan kalau aku akan bertemu dengan mereka jika waktunya tiba dan saat inilah waktunya, karena dalam 3-4 hari lagi kita akan perang terakhir atau last untuk kita menghancurkan organisasi mawar hitam!!" tatapan serius sambil memegang pundak Vera kini membuatnya deg-degan
"Putra, apa maksudmu!!!" bentak sonia
"Vera apa kamu ingat waktu kita bertemu anggota mawar hitam di hutan, dan parahnya dia berhasil lolos dan aku berani bertaruh kalau orang tersebut akan mengadu kepada Nikolaus kalau rian adalah pemberontak" sambung putra sambil mengabaikan pertanyaan sonia
"Jadi?" bingung Vera
"Pilihan kita cuman 2, antara melawan atau menunggu kematian rian dan teman-temannya"
"Putra kamu dengar dulu apa yang ingat aku katakan, kalau kamu menyerang dalam waktu 4 hari lagi, kasihan mereka yang masih di rawat ataupun yang terluka seperti Rian, Ari, atau mungkin Diki (pria transparan) dan Rico yang saat ini tidak diketahui sedang dimana" bantah Sonia
"Kalau begitu aku sendiri yang akan ke sana" raut wajah datar dari putra membuat Sonia dan Vera terkejut
"Maafkan aku vera, tapi memang ini keputusanku karena aku tidak ingin melihat orang terdekatku terluka jadi aku akan menanggung semua itu sendiri" balas putra
"Bukannya aku sudah bilang kamu tidak sendirian, kamu ada kami dan kita bisa saling mengandalkan dengan begitu aku yakin kalau kita bisa menang melawan mereka"
Putra mendengar ucapan Vera hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Vera sambil berkata dengan suara kecil, "kamu terlalu banyak berfikir Vera sebenarnya aku mampu melakukannya sendiri dan lagi aku tidak sendirian"
"Apa kamu sudah ada teman lain?" tanya Sonia yang memotong pembicaraan
"Tidak, hanya kalianlah temanku dan aku yakin sekali nanti hanya kalian yang datang untuk menolongku"
"Putra kamu tahu apa yang kamu katakan barusan aku pernah bilang kalau waktu 4 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk kami" bantah Sonia
"Haha,.. Jika menunggu kalian tentu tidak akan ada kepastian namun aku yakin kalau kalian pasti akan datang menolongku"
Setelah sonia mendengar perkataan putra kini ia semakin bingung dan mulai pusing dengan perkataannya hingga dengan kesal ia berkata, "Lalu apa maksud dari perkataan mu barusan, aku ingatkan padamu kalau aku tidak suka dengan orang yang suka bertele-tele!!"
"Tang san, dika, dan bantuan sekutu, itulah orang yang akan membantuku melawan mawar hitam bahkan tanpa bantuan dari kalian aku pasti bisa mengatasinya sendirian, dan jika nanti terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan aku yakin sekali kalau kalian pasti akan datang untuk membantuku!!" jelas putra merasa sudah cukup membuat lawan bicaranya kebingungan
"Kamu terlalu membuatku pusing putra, apa tidak ada hal yang perlu kamu jelaskan secara langsung tanpa harus membuat temanmu pusing" keluh sonia
"Sebenarnya aku menunggu dia" mata putra menunju kebelakang Vera dan sonia yang membuat mereka menoleh dan alangkah terkejutnya mereka ketika tahu kalau montir telah datang hingga dalam waktu dekat mobil dapat di perbaiki dan bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju kota pusat
Putra yang mengendari mobil sedangkan sonia dan Vera duduk dibelakang, walaupun tidak bicara secara langsung namun putra bisa tahu kalau dua gadis tersebut sedang memikirkan jalan pikirannya, apalagi terlihat dari aura sonia yang mencoba untuk membaca pikirannya
__ADS_1
Sampai kesunyian di mobil terpecah ketika sonia membuka mulutnya, "Putra, ternyata dari perkataan mu tadi tidak ada kebohongan yang terselubung dari sana" ucap sonia hingga Vera ikut angkat bicara
"Maksud kamu, putra beneran ingin melawan mawar hitam sendirian?"
"Aku tidak yakin namun dari tadi aku mencoba membaca pikirannya namun nyatanya tidak ada titik kebohongan di sana"
"Putra apa kamu beneran ingin melawan mereka kamu harus tahu kalau mereka itu kuat dan kamu tidak akan bisa mengalahkannya" khawatir Vera dengan mendekatkan tubuhnya kepada putra
"Aku sudah bilang kalian tenang saja, aku melakukan ini karena aku sudah memiliki rencana ku sendiri, dan aku janji kalau aku pasti bisa mengatasinya seorang diri"
"Tap itukan-" sebelum Vera melanjutkan pertanyaannya sonia telah lebih dulu memegang pundak Vera yang menandakan kalau keputusan putra tidak bisa di ubah apalagi dia paling malas berbicara dengan orang yang suka bertele-tele
Dengan nafas berat akhirnya Vera mulai duduk di kursi dan memperhatikan jendela mobil sambil melamun melihat pemandangan luar akibat, perasaan berat Vera mulai berkata, "Kalau begitu mau kapan kamu ingin melakukan pertemuan?" ucap Vera dengan judes
Senyum aneh mulai terlihat dari pipi putra sambil berkata, "Manusia akan benar-benar menjadi kuat ketika berhasil melawan rasa takutnya" ucapan putra membuat Vera terkejut dan mulai mengerti tentang maksudnya
"Kalau begitu aku ikut" ujar Vera hingga membuat sonia terkejut berbeda dengan putra dia hanya terus tersenyum
"Apa maksudmu Ver, perasaan tadi kamulah yang menentang tapi kenapa kamu malah Ikut-ikutan?" bingung sonia
"Sebelum aku memberi tahu kamu sonia, aku ingin mengucapkan terimakasih kasih untukmu putra, aku tahu dari perkataan mu tadi, hanya saja aku yang tidak sadar"
"Hah?!" bingung sonia
"Akhirnya aku tahu, kenapa aku tidak berani melawan mawar hitam dan menyelamatkan ayahku, sebenarnya itu bukan karena musuh yang terlalu kuat melainkan aku yang terlalu takut, padahal sudah banyak yang terjadi terhadap mawar hitam hanya saja aku tidak sadar, bahkan dengan bodohnya melarang mu untuk menghentikan rencana yang berpeluang besar untuk mengakhiri semua penderitaan ini, tapi aku tidak menyangka kalau kamu sudah berfikir sejauh itu!!"
"Hahaha,.. Akhirnya ada orang yang faham dengan isi pikiranku" tawa putra membuat Vera menghela nafas
"Aku masih tidak mengerti tentang cara berfikir kalian?" bingung sonia
"Putra memang seperti itu dia tidak suka memberi tahu kita secara spontan maunya memberi rangkaian teka-teki sampai harus membuat kita pusing dulu"
"Kok kamu bisa suka dengan dia, Ver"
"Yang namanya jodoh pasti membingungkan" balas Vera membuat mereka menghela nafas bersama
"Aku tidak ingin kematian mereka menjadi sia-sia, apalagi ini adalah momen yang tepat untuk mengakhiri semuanya, aku benar-benar sudah muak dengan permainan mereka yang terus merenggut nyawa orang tak bersalah" ucap putra dengan geram
"Jadi gimana rencana mu, Putra?" tanya Vera
"Tentu saja menghubungi pasukan Sekutu, dan memperkuat kekuatan tempur aku ingin semua ini akan berakhir dalam satu serangan dan aku tidak ingin gagal lagi"
"Lalu bagaimana dengan Ari?" sambung sonia yang ikut bertanya
"Ari akan siap kapanpun ketika detik penghancuran mawar hitam jadi tanpa kamu tanya aku yakin Ari pasti akan datang menjadi pahlawan kesiangan"
"Kenapa kamu sebegitu yakinnya?" tanya sonia
"Tentu saja, karena aku bisa memperkirakan semua itu dengan tepat" jawab putra dengan senyuman aneh
Sesampainya mereka di rumah sakit putra dan Vera langsung ke kamar ari sedangkan sonia dia ingin memeriksa keadaan Rian yang dirawat di ruang VIP, walaupun Vera punya koneksi terhadap pemimpin negera namun dia masih tidak yakin karena posisinya jauh di bawah dari pada ayahnya bahkan dari kecil dia tidak pernah di ajak masuk oleh ayahnya ketika ada rapat penting
Apalagi sekarang ingin mengumpulkan Sekutu milik ayahnya, itu sudah membuat Vera khawatir dan kurang percaya diri, namun putra berkali-kali mensupport agar Vera mendapat kekuatan dan tidak merasa khawatir terhadap dirinya sendiri hingga Vera memutuskan untuk menghubungi Sekutu besok hari dengan rapat penting yang diatur putra dengan nama Rapat Kehancuran
__ADS_1
Dengan diketuai Vera sebagai anak dari Ziel yang tentu saja mempunyai hak untuk menyelenggarakan rapat kerena ayahnya memiliki kekuasaan dan peran yang penting dalam pembentukan Sekutu.