Fire And Water

Fire And Water
Cp 49# Benci Jadi Cinta


__ADS_3

Sesampainya Putra diruangan Ari bersama Vera orang yang pertama mereka lihat adalah maya yang saat itu sedang menunggu di sampingnya dengan wajah gelisah dan khawatir mulai terlihat dari ekspresi maya, "Maya, kamu sudah sadar?" terkejut Vera ketika baru sampai di ranjang Ari karena terakhir kali dia tahu maya masih di rawat di ruangan yang berbeda


"Kak Vera, kak Putra?, sejak kapan kalian bisa bersama?" tanya balik maya


"Kami baru bertemu tadi pagi, aku mau minta maaf sama kamu Maya karena aku tidak bisa menjagamu sampai bangun"


"Haha,.. Tidak apa-apa kak, aku juga baru bangun dan karena aku khawatir dengan Ari jadinya aku langsung ke ruangannya saja, tapi syukurlah kalau kak Putra selamat aku ikut senang dengarnya"


"Terimakasih karena sudah mengkhawatirkan aku, Maya" balas Putra tanpa ekspresi, Vera yang melihat respons Putra dengan cepat menginjak kakinya dan berbisik, "Tidak begitu membalas perkataan seorang wanita, bodoh" sewot Vera dengan berbisik


Sementara Putra hanya bisa tersenyum kecut dan mencoba untuk menahan rasa sakitnya, "Yasudah maya, dari pada kita disini terlalu lama mending aku dan Putra pergi cari makan dulu, aku yakin kamu pasti belum makan" ujar Vera


"Iya kak aku memang belum makan tapi aku tidak mau merepotkan kakak"


"Sudahlah tidak apa-apa lagian kita sudah seperti saudara sendiri, jadi kamu tidak perlu sungkan untuk meminta"


"Sebenarnya tidak ada hal yang ingin aku minta selain makan saja kak, soalnya dari kemarin aku belum makan"


Kalau begitu kamu tunggu sebentar" balas Vera hingga menarik tangan Putra keluar ruangan untuk menemaninya mencari makan, padahal dari tadi Putra tidak mengeluarkan satu katapun


Kamar Ari terletak disudut dan berada di lantai bawah, sementara Rian dia berada di lantai 3 yang letaknya dekat jendela karena sonia memesan kamar khusus untuk Rian yang berada di dekat jendela supaya Rian bisa menikmati pemandangan walaupun penuh dengan bangunan, kalau kamar Ari dia berbarengan dengan pasien lain yang dirawat atau 5 orang untuk satu kamar jadi bisa dibilang ruang biasa dan ruang VIP jauh berbeda


Diluar Vera selalu mengamati tingkah putra yang terkesan dingin dan cuek, walaupun sebenarnya dia masih perduli dengan orang sekitar, entah kenapa Vera selalu bertanya-tanya kenapa putra dalam waktu singkat langsung berubah drastis, apa itu ada hubungannya dengan bibi siti?, semua itu masih tanda tanya


Tidak lama berjalan Vera mulai membuka mulutnya untuk bertanya kepadanya, "Putra, apa kamu punya masalah?" tanya Vera


"Tidak, apa yang membuatmu berfikir seperti itu?"


"Itu karena aku melihat tingkah dan sikapmu, seolah-olah kamu bukan lagi orang yang dulu"


"Haha,.. Aku tidak berubah hanya sedikit mengubah diri" tawa kecil putra


"Mengubah diri?"


"Iya, mengubah diri untuk dewasa" jawab singkat putra


"Lalu, apa kamu yakin ingin bertemu dengan Dewan Negara"


"Tentu saja"


"Tapi bagaimana caranya agar mereka mau melakukan pertemuan?"


"Aku akan mengirim surat lewat kurir, ke berbagai negara dan itu atas tanda tanganmu"


"Eh,. Apa kamu yakin itu berhasil" bingung Vera


"Mungkin sih berhasil"


Setelah mendengar perkataan tersebut, Vera hanya menghela hingga akhirnya mereka sampai di sebuah restoran kecil, yang setidaknya bisa untuk membeli makanan agar mereka dapat mengisi perut kosong, setelah membeli makanan mereka lanjut berjalan ke toko print untuk membuat surat berbasis ketikan


Agar bisa di kirim ke luar negara, semua itu berlalu tanpa mereka sadari hari sudah menunjukkan pukul 10.00, yang pada saat itu putra kembali ke rumah sakit untuk mengantar makanan sekaligus makan bersama di sana, Vera dan maya sering ngobrol selayaknya teman akrab sedangkan putra hanya diam dan memperhatikan Vera


Saat itu mereka makan di satu tempat yaitu di depan pintu ruangan ari, karena tidak enak hati jika harus menikmati makanan didepan orang sakit yang bahkan tidak mereka kenal, mereka makan disebuah kursi yang sering terlihat di rumah sakit dengan perasaan tercampur aduk ada yang khawatir tentang keadaan Ari dan ada yang ragu untuk berangkat ke pertemuan dewan Negara

__ADS_1


"Putra, ada apa?!" tanya Vera karena risih ditatap oleh putra dari samping kanan, untuk posisi duduk Vera berada di tengah


"Ehm,.. Tidak ada kok" jawab putra sambil membuang muka


Setelah selesai makan, maya langsung izin untuk ke kamar ari agar dia bisa memantau dan menjaganya, setelah dia masuk, Vera kembali bertanya kepada putra yang saat itu sudah menatapnya dengan aneh, "Putra, bisa kamu jelaskan kenapa kamu menatapku dengan tatapan aneh tadi?!" tanya Vera yang sudah ia tahan karena dia menunggu maya pergi


"Karena kamu cantik" jawab putra dengan singkat, padat dan jelas hingga membuat pipi Vera merona


"Ha!!, kamu tuh ngomong apa sih?" tanya Vera dengan wajah memerah


"Memangnya ada yang salah dari ucapan ku tadi"


"Tentu saja, ada" jawab singkat vera dengan malu-malu


"Iya apa?" balas putra


"Ihhh,." karena kesal Vera mencubit pinggang putra dengan keras sampai-sampai Putra merintis kesakitan karena cubitan tersebut


Dilain tempat terlihat kapal kayu yang berlabuh di pulau kecil yang letaknya di perbatasan negara Mars dan Jupiter, setelah berlabuh kapal tersebut langsung menurunkan serdadu dengan jumlah yang banyak dari setiap kapal, untuk kapal yang berlabuh berjumlah 3 dan total tentara yang ada terbagi-bagi dari setiap kapal


Namun tentara tersebut dipimpin oleh enam Pemuda yang turun dari kapal pada urutan terakhir, Walaupun terakhir tentara tidak di perbolehkan bubar langsung melainkan harus membentuk barisan karena akan di beri perintah oleh Samuel dan teman-temannya


Berbaris dengan rasa sedih menghantui membuat tentara tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan hidup, Samuel bisa tahu semua itu karena dia juga berada di posisi mereka hanya saja Samuel tidak berhadapan langsung dengan Naga Es, yang sudah membunuh ribuan tentara dalam waktu cepat bahkan dari 8 ribu tentara kini hanya beberapa ratus orang yang tersisa


Semua itu meninggalkan bekas rasa takut, khawatir, dan sedih di setiap hati tentara yang melihat tragedi tersebut, bahkan ada sebagian besar tentara yang memiliki niat untuk keluar dari Angkatan militer milik mawar hitam, disaat semua sudah berkumpul Samuel berdiri di antara mereka semua dengan ditemani Rudi dan Lian


Dengan suara lantang Samuel memecah keheningan dengan berkata, "Saudara-saudaraku, aku yakin kalau kalian pasti lelah jadi kalian di berikan waktu untuk beristirahat di kamar kalian masing-masing, aku harap setelah kejadian itu tidak membuat kalian putus asa, dan aku harap kalian tidak keluar dari militer karena aku membutuhkan kekuatan kalian semua" ucap Samuel dengan keras


Setelah mendengar itu semua tentara langsung bubar dari barisan dengan lesu dan muram terlihat dari wajah mereka, "Baiklah kalau begitu sudah saatnya kita untuk mengadakan rapat penting" usul Rudi kepada Samuel dan Lian yang saat itu ada di sampainya


Di dalam tenda yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan kapal sudah berkumpulnya tim Samuel yang saat itu sedang mengadakan rapat dadakan untuk membahas masalah yang akan mereka ambil sebelum kedok mereka terbongkar di hadapan Nikolaus, mereka rapat dimeja persegi dengan kursi yang disesuaikan dengan jumlahnya


Sampai saat ini Samuel belum melaporkan apapun kepada bos besar karena masih belum tahu apa yang akan dia laporkan nantinya, sedangkan Nikolaus juga tidak tahu kalau Samuel sudah mendarat di pulau tersebut karena letaknya cukup jauh yang membuatnya tidak bisa memantau tentara secara menyeluruh


Setelah semua berkumpul di satu tempat Samuel mulai angkat bicara dengan pembukaan yang berkata, "Syukurlah kita masih, bisa selamat dari semua kejadian yang telah kita lewati, bahkan tanpa sadar kita sudah berkali-kali melewati yang namanya kematian oleh karena itu sudah seharusnya kira merayakan keberhasilan kita, namun karena posisi yang mendesak membuat kita tidak bisa berfikir ke sana melainkan harus memikirkan langkah selanjutnya, aku harap orang yang ada disini mau mengerti kalau kita sudah melangkah sejauh ini dan sangat tidak mungkin untuk kita memutar balik karena takut dengan tembok menghadang"


Ucapan Samuel membuat suasana hening sejenak sebelum Sofia ikut angkat bicara, "Sebelum itu aku ingin bertanya bagaimana kita harus melaporkan kejadian ini kepada tuan Nikolaus, aku takut dia malah curiga kalau kekalahan ini ada kaitannya dengan kita, apalagi kita adalah orang yang dicurigai oleh tuan joko mengenai pemberontak Mawar hitam"


"Apa susahnya bukan lebih baik kita segera mengakhiri ini semua, selagi mereka sedang berada diposisi lemah" usul Rudi namun pendapatnya di bantah oleh Lian yang saat itu duduk di samping kirinya


"Tidak Rudi, Coba kamu lihat status kekuatan kita masih kalah jauh dari tentara Mawar hitam, apalagi dari segi mental dan sandera, kita masih kalah jauh dari mereka jadi aku tegaskan saja, kalau masalah penyerangan dilakukan dalam waktu dekat sangat merugikan kita"


"Benar apa yang dikatakan lian, jadi sebaiknya kita lebih fokus dengan cara mengulur waktu" Pendapat Pro dari Sina untuk Lian


"Kalau boleh aku kasih usul, seharusnya diantara kita harus berada di istana untuk memantau pergerakan bos besar, sekaligus mencari informasi di sana" usul Miya


"Kamu benar tapi siapa yang bisa masuk ke sana tanpa di curigai?" bingung Rudi dengan memegang dagunya


"Biar aku saja!!!" kalimat tersebut membuat anggota rapat terkejut, karena yang menunjuk dirinya sendiri adalah Sofia


"Sofia!! apa kamu yakin dengan pilihanmu barusan" miya meyakinkan Sofia agar tidak menyesal di kemudian hari


"Biarkan aku yang menjalani misi ini, karena aku yakin tuan joko tidak fokus ke aku"

__ADS_1


"Kenapa kamu se'yakin itu?!"


"Entahlah, hanya firasat yang aku andalkan sekarang" jawab Sofia


"Samuel, apa kamu tidak melarangnya?!" tanya miya kepada Samuel sembari tadi hanya diam


"Tidak ada yang bisa aku komen dari keputusan sofia, karena hanya dia yang bisa menyelamatkan kita apalagi nyawaku yang saat ini sedang terancam" balas Samuel sambil menghembuskan nafas berat


"Tapi itu sangat berbahaya, apalagi taruhannya adalah nyawa" ucap sina


"Kalian terlalu perduli kepada orang terdekat kalian, tapi tidak perduli dengan samuel dia sudah banyak berkorban untuk kita, bahkan dia sudah berkali-kali menentang maut" ujar Rudi dengan nada tinggi


"Hah!!!, jadi kamu kira sofia bukan teman kita?" bantah miya karena tidak terima dengan perkataan rudi


"Sudahlah teman-teman, tidak gunanya untuk kita bertengkar di situasi seperti ini, lagian tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, tapi kita semua sama jadi tidak ada gunanya bertengkar untuk hal yang tidak penting" sofia menjadi pihak ketiga antara Miya dan Rudi


"Bukan gitu sofia, tapi aku sedikit tidak menyangka kalau orang seperti dia bisa masuk dalam organisasi penting ini" ucap miya dengan menyindir


"Sebaiknya kamu diam saja, dari pada ngomongin orang yang tidak karuan" balas Rudi sambil menahan emosinya


"Lagian aku bisa bertahan karena tuan kevin, jika bukan karena dia sudah aku jamin kalau kamu bakal aku habisi"


"Kevin, Kevin, sebenarnya seberapa spasialnya dia sampai-sampai harus mempunyai Anak buah yang resek seperti ini" balas Rudi


"Hah!!, berani sekali kami menghina dia, asal kamu tahu saja, dia jauh melebihi mu yang berfikiran pendek dan dangkal"


"Aku sudah banyak bersabar denganmu, namun kali ini berbeda kamu sudah menghina dan merendahkan aku di hadapan teman-temanku" emosi Rudi sambil mendekati pandangan kemuka miya


Miya yang saat itu berada di sampingnya kini langsung merona karena dia bisa melihat dengan jelas tatapan Rudi dari jarak dekat, sedangkan yang lain hanya bisa menggelengkan kepala merasa kalau Rudi dan miya akan menjadi sebuah novel yang berjudul π˜½π™šπ™£π™˜π™ž π™Ÿπ™–π™™π™ž π˜Ύπ™žπ™£π™©π™–


Setelah melihat tingkah Rudi dan miya akhirnya tiba saatnya Samuel harus bergegas menuju markas pusat hingga dia berkata kepada yang lain, "Kalau begitu aku dan sofia akan berangkat ke markas pusat, sedangkan kalian tunggu kepulangan kami disini" ujar Samuel sampai membuat Rudi dan miya terkejut


"Apa kamu yakin ingin pergi melapor?!" ucap sina


"Tentu saja, lagian ini bukan pertama kalinya aku menghadapi maut" balas Samuel berjalan pergi meninggalkan tenda dengan diikuti sofia dari belakang


Namun sebelum Sofia pergi, sina berkata kepada sofia dengan nada tinggi, "Sofia, kamu hati-hati di sana" teriak sina hingga membuat sofia tersenyum dan pergi meninggalkan tenda


Tampak jelas dari raut wajah Samuel dan Sofia kalau mereka sebenarnya takut dan khawatir, tapi memang sudah tidak ada jalan lain untuk mengakhiri perang jika tidak melewati ini semua dan mereka yakin suatu saat akan datang dimana semua bisa hidup dengan tenang tanpa ada yang namanya rasa takut dan putus asa


Di istana tua tampak jelas kalau istana tersebut telah berdiri selama ratusan tahun karena terlihat rumput menjalar di setiap pilar-pilarnya, untuk letaknya istana tersebut berada di dalam hutan yang terletak di pulau kecil, yang jarang dihuni penduduk ataupun militer karena banyak orang yang beranggapan kalau pulau tersebut


Angker ataupun berbahaya karena terdapat bangunan kuno yang saat ini di tempati oleh Nikolaus sebagai markas utama mawar hitam, Sesampainya Samuel di markas pusat hal pertama yang dirasakannya hanya rasa takut dan gelisah, karena posisinya bisa membuatnya mati secara mental ataupun fisik


Apalagi jika dia harus berhadapan kepada tuan besar yang emosional, "Ha!!,.. Kenapa kali ini rasanya sangat berbeda dari pada biasanya" gumam Samuel dengan badan gemetar


"Kamu kenapa berhenti Samuel, padahal kita baru di depan pintu masuk?!" bingung Sofia karena langkah kaki Samuel berhenti didepan pintu istana


"Aku tidak tahu kenapa namun aku sangat takut untuk masuk kedalam"


"Sam" khawatir Sofia karena dirinya merasa kalau Samuel benar-benar ketakutan


Hingga tidak lama berdiri datang dua penjaga yang saat itu sedang berganti jam dengan rekannya, karena melihat Samuel berhenti didepan gerbang membuat mereka memasang posisi siaga yaitu menodongkan pucuk senjata kearah mereka sambil berkata, "Jangan bergerak" perintah tentara tersebut sambil berjalan mendekati Samuel tapi posisi siaga tidak ubah

__ADS_1


Karena kondisi yang berbahaya akhirnya Samuel dan Sofia terpaksa menurut dengan perkataan tentara tersebut yaitu tidak bergerak dan mengangkat tangan mereka ke atas yang menandakan tanda menyerah.


__ADS_2