
Setelah semua di jelaskan akhirnya Rudi kembali bertanya kepada tentara yang ada di sana dengan suara lantang, "Jadi apa kalian ingin membantuku untuk menghentikan tuan Nikolaus yang sudah sangat lama memperbudak kita?" tanya Rudi dengan tatapan serius
Awalnya tidak ada tanggapan dari tentara karena mereka bingung ingin membalasnya dengan kata apa semua niat dan tekad bisa dipatahkan dengan rasa takut mereka terhadap tuan besar yang sering menyiksa bawahannya
"Kenapa kalian takut, sekarang aku beri kalian pilihan yaitu mati membela kebenaran atau mati di dalam kejahatan, semua pilihan tersebut ada ditangan kalian jadi aku harap pilihan kalian adalah pilihan yang terbaik" ucap Rudi
Miya juga tidak ingin berdiam diri, akhirnya ia ikut angkat bicara dengan berkata mereka, "Bukannya kalian sudah tahu kebusukan Nikolaus, aturan kalian juga tahu harus berada dijalan yang mana"
"Baik tuan, kami akan ikuti anda sampai akhir hayat kami" ucap salah satu tentara yang berada didepan dibarisan pojok kanan
"Kalau begitu siapa lagi yang ingin ikut bersamaku?" tanya Rudi hingga mereka saling bertukar pandang dengan rekannya, sebelum mengangkat tangan dan terlihat jelas dari semua tentara yang ada, sudah semuanya setuju untuk ikut bersama Rudi
"Bagus kalau begitu aku senang mendengar kalian setuju, baiklah sekarang aku perintahkan kalian untuk kembali ketempat dan siapkan diri karena sebentar lagi kalian akan menyambut militer negara"
"Baik tuan" jawab serentak tentara dengan memberi hormat kepada Rudi lalu pergi meninggalkan tempatnya
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya miya sambil mengamati tentara tersebut bubar satu-persatu
"Entahlah aku juga tidak tahu harus apa, tapi yang jelas kita hanya bisa mengikuti apa yang tertulis di dalam kertas ini" jawab Rudi yang pergi menaiki tangga dengan diikuti miya dari belakang
Dilain tempat, Lian masih sibuk menghasut tentara dengan jumlah mencapai ratusan disebuah lapangan yang cukup luas Lian mengangkat bicara dengan berkata, "Terimakasih karena kalian mau mengikuti permintaanku untuk berkumpul disini, jadi aku bisa Langsung ke intinya yaitu dimana kalian bisa bebas dari perbudakan sadis milik Nikolaus dengan cara mau ikut bersamaku" Ucap Lian di depan orang banyak
Akan tetapi disaat suasana hening ada salah satu tentara yang letaknya berada si barisan paling depan mengangkat tangannya, dengan nyaring Lian berkata, "Silahkan apa yang ingin kamu tanyakan" ujar Lian yang mempersilahkan tentara tersebut untuk memberi pertanyaan
"Sebelum itu saya ingin meminta maaf jika saya lancang kepada Anda, tapi saya masih bingung dengan maksud dari perkataan anda dan saya yakin suara saya mewakili banyaknya orang yang ada disini" ucap tentara tersebut dengan pelan
"Baiklah, aku akan menjelaskan kepada kalian mengenai kata-kataku barusan" ujar Lian sambil menjelaskan tentang tujuan mereka agar bisa melawan organisasi sadis ini hingga semua tentara cukup terkejut karena menyerahkan diri kepolisian bukanlah jaminan untuk selamat melainkan menyerahkan diri agar diadili
Tapi menurut mereka itu bukan hal yang buruk karena mereka sudah seharusnya diadili apalagi melihat semua tindakan mereka terhadap rakyat pinggiran walaupun tidak membunuh namun rasa bersalah terus menghantui akibat terlibat dalam pembantaian
Setelah kian lama berfikir akhirnya mereka mulai mengangkat tangan dengan rasa keraguan namun tidak bisa memilih kecuali mengikuti alurnya hingga sudah diputuskan kalau seluruh tentara setuju dengan rencana Rudi
Entah apa yang terjadi dengan mendadak awan mulai menurunkan rintik hujan dengan pelan namun mengguyur tentara tersebut termasuk Lian yang saat itu masih berdiri di lapangan bersama sina, dengan pelan Lian bergumam, "Ternyata diakhir hayat aku masih bisa merasakan yang namanya hujan"
Sina hanya bisa diam sambil memperhatikan Lian bergumam, tapi karena langit ingin turun hujan Lian segera membubarkan tentara untuk kembali ke camp masing-masing agar mereka bisa istirahat ditempatnya dan setelah itu ia segera bergerak menemui Rudi yang saat itu berada di perbatasan antara air dan darat
Akhirnya mereka bertemu kembali disebuah menara kayu yang digunakan sebagai tempat pemantau, berkata lah Lian kepada Rudi yang saat itu baru sampai di pucuk, "Rudi bagaimana, Apa sudah terlihat pergerakan militer dari negara? Ucap Lian yang membuat Rudi berpaling melihat kedatangannya
"Belum ada, tapi kamu tenang saja aku pasti akan terus memantau mereka dan aku janji kepada kalian kalau aku akan membebaskan Rian dan sofia dari sana" balas Rudi yang kembali berpaling melihat lautan menggunakan teropong ditangannya
__ADS_1
"Tentu saja aku yakin kalau kamu pasti bisa melakukannya " Gumam Lian berjalan mendekati Rudi
"Sina, bagaimana tugas kalian di sana?" tanya miya kepada sina yang mengikuti Lian dari belakang
"Kamu tenang saja, aku dan Lian sudah menghasut tentara yang tersisa dan aku yakin dari jumlah mereka yang ada akan membantu kita dalam melawan Mawar hitam"
"Baguslah, aku senang mendengarnya" balas miya kembali menoleh ke arah laut untuk melihat keadaan sekaligus memantau sekitarnya
Waktu terus berlalu hingga tiba saatnya putra dan Vera pergi ke karnaval bersama namun disaat mereka ingin pergi, putra sempat bertanya kepada Vera yang saat itu mereka berada di depan pintu kamar, "Kamu memakai baju pendek apa tidak kedinginan nantinya?" tanya putra sambil mengamati Vera yang berada di samping kanan
"Menangnya tidak boleh, lagian kamu aja yang terlalu lebay memakai baju panjang segala" ketus Vera
"Eh,.. Gini-gini aku mementingkan kesehatan ya"
"Masa sih" balas Vera sambil memasang wajah cemburu
"Kenapa semenjak kejadian itu Vera jadi lebih sering cemberut sih" batin putra dengan wajah sedikit heran
"Sudahlah, aku ingin pergi ketempat Karnaval, jika kamu tidak mau ikut yasudah" ketus Vera tanpa basa-basi pergi meninggalkan putra sendiri
"Kenapa jadi aku yang salah" bingung putra dengan cepat mengikuti Vera dari belakang
"Vera, kenapa kamu diam saja apa ada yang salah dari Kata-kataku tadi, kalau ada aku minta maaf deh lagian aku bilang seperti itu karena aku tidak ingin kamu sakit" ucap putra dengan rasa iba
Namun tidak ada respons dari Vera bahkan melirik pun tidak, putra yang merasa diabaikan hanya bisa menerima dengan lapang dada, namun itu belum selesai dia masih memiliki satu kesempatan lagi untuk membujuknya supaya mau memaafkannya yaitu nanti setelah mereka sampai di Karnaval
Disaat itu juga putra mencoba untuk berbicara baik-baik dengannya, tidak lama akhirnya putra dan Vera sampai didepan gerbang masuk Karnaval sudah terlihat di sana sangat banyak pengunjung yang menikmati acara yang disajikan oleh pihak acara untuk penonton
Bahkan Vera yang awalnya hanya cemberut kini matanya sudah berbinar-binar dengan rasa tak tertahankan dia segera berlari mencari tempat agar dia bisa menonton pertunjukan teater yang disediakan sebagai pembukaan Karnaval setelah acara inti dibuka putra segera keluar mencari cemilan agar mereka bisa menonton lebih rileks
Diluar gerbang putra sangat bingung karena di sana tidak ada pedagang keliling yang berjualan disekitar area ditambah lagi putra belum tahu banyak tentang negara luar jadi dia bingung yang akhirnya mati langkah namun disaat keputusan putra mulai mengingat dengan handphonenya karena dengan benda itu dia bisa membuka ataupun memesan berbagai macam barang diluar negeri
Dengan teliti putra membuka GPS, untuk mencari tempat jualan cemilan disekitar area Karnaval dan tanpa berlangsung lama putra menemukan minimarket terdekat yang letaknya hanya beberapa meter dari tempatnya, "Bagus sekarang aku bisa ke sana" Gumam putra yang langsung berlari kearah minimarket tersebut
Tidak lama setelah berlari akhirnya sampailah putra di depan minimarket tersebut dengan nafas terengah-engah, "Sial, aku kecapean" Ketus pelan putra sambil memperkuat tekat agar bisa langkah kembali
Ting,.. Suara pintu minimarket yang terbuka dengan cepat putra masuk dan maju beberapa langkah untuk mencari makanan yang menurutnya menarik sampai dia memutuskan untuk membeli kripik kentang dan drink cola agar terlihat lebih simpel dan praktis
Setelah memilih putra kembali melangkah menuju kasih yang ada di sana, namun lagi-lagi ia mendapat hambatan yang berupa yaitu antrean panjang dari setiap pembeli di toko
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin membuat Vera menunggu lebih lama, tapi aku harus bagaimana sekarang tidak mungkin aku menerobos bisa-bisa aku dihajar masal" batin putra sambil memperhatikan sekelilingnya namun tidak membuahkan ide yang terpaksa harus menunggu sampai gilirannya
Beberapa saat setelah menunggu tibalah disaat putra selanjutnya dan tidak butuh lama Putra hanya menyerahkan kartu bank kepada kasir lalu pergi meninggalkan minimarket tersebut dengan berlari-lari, saat itu Putra tidak berani mengunakan kekuatannya karena masih sangat banyak orang disekitarnya sampai-sampai tidak ada cela untuk menggunakannya
Berlari menghabiskan waktu 6 menit lamanya hingga dia sampai didepan gerbang masuk Karnaval, "Akhirnya sampai juga" hembusan nafas Putra terdengar hanya saja suhu badannya naik sampai 39°C karena sepanjang perjalanan dirinya terus berlari
Disaat dia masih mengatur nafas tiba-tiba terdengar suara Vera yang memanggil namanya, "Putra,. Putra" suara dengan sedikit tinggi membuat putra menoleh ke depan yaitu ke asal suara walaupun ditutupi dengan jumlah orang putra bisa tahu keberadaan Vera karena kemampuannya juga bisa merasakan kemampuan orang lain dari radius 25 meter
Terlihat Vera yang berlari dengan terburu-buru membuat putra sedikit terpesona karena baru pertama kali dia memperhatikan Vera dengan jelas disaat perjalanan menuju Karnaval yaitu pakaian Vera mengunakan baju tipis dan rok mini membuatnya merona
"Ada apa?" tanya putra ketika Vera sudah dihadapannya
"Sebentar biarkan aku mengambil nafas" beberapa saat berdiam diri akhirnya Vera membuka mulut lagi dengan berkata
"Dari mana kamu?!" tanya Vera
"Ini aku belikan kamu cemilan agar kita bisa nonton sambil nyemil" balas putra dengan senyum di pipi
"Ah,. Kenapa tidak bilang dari awal, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot mencari mu"
"Lah bukannya kamu marah denganku?" bingung putra
"Aku tidak marah denganmu hanya sedikit malu dengan penampilanku, tapi aku juga ada kesal karena kamu tidak memperhatikan penampilanku"
"Iya, maaf-maaf aku memang kurang teliti tapi aku akui kamu malam ini sangat cantik dari pada tadi Pagi" puji putra sambil memberikan kantong plastik berisi cemilan
Namun perkataan Putra tidak ada respons justru Vera pergi meninggalkan Putra begitu saja, dengan bingung Putra berkata, "Bagaimana dengan cemilan mu?" ucap Putra sambil memegangi plastik
"Makan aja sendiri" emosi Vera sambil berjalan masuk kedalam Karnaval
"Eeh,.." Bingung Putra sambil memperhatikan tingkah Vera yang aneh
Di rumah sakit yaitu dimana Ari dirawat terlihat Maya yang terus setia menunggu kesadaran Ari walaupun belum ada kepastian dari dokter mengenai kapan ia akan bangun, sering kali Maya berdoa agar Ari bisa selamat dan sadar dari komanya
Hingga sampai jam menunjukan pukul 20.00, disaat itulah Ari mulai membuka matanya dengan cepat Maya mendekatkan diri ke tubuh Ari karena terlihat dari gerakan bibir kalau ia ingin berbicara sesuatu kepadanya, "Maya, dimana Putra" itulah pertanyaan lemah yang dilontarkan Ari kepada maya tapi karena bingung maya hanya bilang kalau Putra
Berada di rumah untuk mengemas baju ganti hanya itulah balasan dari maya walaupun berbohong namun semua itu demi kebaikannya, maya tidak ingin membebani pikiran Ari, apalagi melihat kondisinya yang masih lemah, setelah pertanyaannya dibalas kini dirinya tertidur lagi
Setelah itu maya segera memanggil dokter untuk meriksa keadaannya dan untung dokter hanya berkata kalau keadaan Ari sudah membaik hanya harus lebih sering istirahat untuk beberapa saat ini.
__ADS_1