Fire And Water

Fire And Water
Cp 70# Masa Lalu Antagonis 2


__ADS_3

Setelah beberapa saat berkeliling, Nico (dewa) tidak menemukan apapun didalam hutan, bahkan cukup susah untuk mencari buah yang hidup di hutan kecuali hewan liar, dirinya berputar-putar dari satu lokasi tanpa meninggal area yang telah dia tandai, supaya dirinya tidak terjebak kedalam hutan terlalu jauh


Karena pada awalnya rencana ia hanya untuk mencari makanan bukan untuk mencari jalan keluar, hingga Nico mengunakan mode ukir di pohon yang menurutnya bisa di bilang jalur kembali, setelah berkeliaran di hutan akhirnya Nico (dewa) berhasil menemukan pohon pisang liar sehingga tampak dari wajahnya yang bersemangat


"Akhirnya aku bisa menemukan makanan, dengan begini aku bisa mengumpulkan staminaku sebelum matahari terbit" gumam Nico (dewa) sambil menatap tajam kearah pohon yang menjadi incarannya


Awalnya suasana sangat hening, namun tiba-tiba terdengar suara raungan hewan dari belakang, sehingga dengan cepat Nico (dewa) melirik Kebelakang dan dengan jelas seluruh tubuh serigala yang sedang dalam posisi siaga seperti hewan yang sedang berburu mangsa


Tapi kegarangan hewan tersebut hanya dibalas dengan senyuman yang aneh dari muka Nico (Dewa) walaupun begitu hewan tersebut tidak memiliki insting bahaya ketika melihat manusia jadinya hewan tersebut berjalan mendekati Nico yang berdiri menghadapnya


Namun disaat jaraknya kira-kira 6 meter, Nico (dewa) kembali berkata dengan senyum lebar di bibirnya


"Anak anjing, sebaiknya kamu diam saja deh" ketus Nico dengan tatapan tajam tapi disaat kata-katanya selesai anjing tersebut langsung melompat untuk menerkamnya tapi dengan mudahnya Nico melenyapkan serigala tersebut hanya dengan satu ayunan tangan sehingga dalam waktu singkat


Serigala tersebut terbakar oleh api hitam yang tiba-tiba muncul ketika Nico (dewa) mengayunkan tangan keatas, bahkan api hitam itu tidak meninggalkan abu dari targetnya


"Bukannya aku sudah bilang, jangan ganggu aku!!" gumam Nico sambil tersenyum aneh sebelum dia kembali memperhatikan pohon pisang yang ada dihadapannya saat itu


Sesudah dirinya mengisi perut, ia segera bergegas keluar dari hutan saat itu namun dirinya sedikit bingung ingin memulai langkah dari mana karena setelah dirinya lihat, gua yang ia semayang kan jauh dari permukiman atau bisa dibilang tempatnya berada ditengah hutan belantara


"Ck.. Menyebalkan" gerutu Nico (dewa) yang waktu itu sedang di depan gua dengan tubuh yang rentangkan ke atas langit


Kemudian dirinya melihat sekelilingnya namun yang dirinya lihat hanya pepohonan dari hutan dengan semak belukar yang menutupi jalan setapak milik Nico, saking tingginya tubuh Nico hampir terlewat dengan rumput tersebut


Tapi lagi-lagi, Nico harus memasang wajah aneh sambil menggerutu kepada dirinya sendiri


"Apa aku hancurkan saja hutan ini saja?" gerutunya sambil memegangi dagunya


"Tidak, aku tidak boleh mengeluarkan tenaga yang selama ini aku kumpulan di dalam gua, karena aku sudah berjanji akan mengunakan kekuatan ini untuk menghancurkan roh milik Tang san, supaya ketika kebangkitan ku tiba, maka sudah tidak akan ada lagi pengganggu rencana milikku untuk menguasai dunia" sambung dewa kematian tersebut namun tidak bergumam melainkan bicara didalam batin


"Tapi aku harus bagaimana sekarang, jika aku tidak segera keluar dari sini maka aku bisa mati konyol didalam hutan" gumam Nico (dewa) dengan kesal


"Huh,.. Yasudah lah, terpaksa aku harus berjalan kaki untuk mencari jalan keluar" hela nafas Nico (dewa) dengan berjalan melewati jalur yang dirinya tandai ketika sedang mencari makan


Tidak lama kira-kira 3 jam berlalu namun tidak menemukan sedikitpun petunjuk akan kebebasannya Nico (dewa) dari dalam hutan, karena luas hutan bukanlah main-main dan lagi hari sudah menjelang malam, yang membuat Nico kebingungan sendiri


"Sial, hari sudah petang dan sekarang aku harus bagaimana?" gumam Nico dengan kebingungan


"Hah,.. Yasudah aku bermalam disini saja" sambung Nico sambil menghela nafas panjang


Ketika itu Nico segera mencari ranting kering untuk digunakan sebagai media bakar, walaupun begitu mencari ranting di hutan adalah hal yang mudah sehingga dalam beberapa menit Nico berhasil mengumpulkan semua kayu yang sekiranya cukup untuk semalam


Setelah ditata kini tinggal menghidupkan apinya saja, tapi Nico mendapat kesulitan tersendiri karena membuat api bukanlah hal yang mudah, bahkan sang dewa saja akan kesulitan jika menghidupkan api mengunakan metode manusia karena jikapun mengunakan api kegelapan


Dirinya tidak akan menjamin kalau suasana bukan terang melainkan gelap bagaikan gulita, hingga beberapa saat Nico (dewa) berfikir sejenak untuk memecahkan solusinya


"Sial, aku benar-benar sudah buntu, yasudah aku akan gunakan metode jaman dulu saja" Nico kini mengambil kayu besar lalu mencari ranting kecil untuk dikikis secara diputarkan kepermukaan kayu besar tersebut dengan cepat dengan berharap kalau teori tersebut memang benar


Tapi selama 5 menit pun, Nico tidak mendapatkan kemajuan dari apa yang dirinya usahakan sehingga tanpa sadar dewa yang ada didalam tubuh Nico ngamuk sendiri yang masalahnya tidak jelas


"Janc*k,.. Gak ada gunanya aku melakukan hal bodoh ini" emosi sang dewa pun membuat di sekitarnya menjadi gempa, bahkan emosinya sampai merusak kayu besar yang tujuan awalnya untuk dijadikan alat pembuatan api


Dengan dirinya memukul kayu tersebut kini usahanya benar sia-sia karena sekali di pukul kayu besar tersebut langsung hancur, kini Nico hanya bisa duduk dan menghela nafas berat sambil bergumam


"Sudahlah, tidak ada gunanya aku diam disini terus-menerus"


Nico berdiri dari duduknya secara perlahan lalu berjalan meneruskan perjalanannya untuk mencari jalan keluar, beberapa jam berlalu dan hari sudah malam kira-kira menunjukkan pukul 8 malam dengan dibawah bulan membuat pandangan Nico terbatas

__ADS_1


"Kenapa di hari pembibitan ku malah sial, banget sih" gerutu Nico


Setelah hari cukup malam akhirnya Nico memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar dengan bersandar sambil mencoba untuk memejamkan mata sehingga beberapa saat dirinya tertidur ditempat tersebut


Malam berganti kini matahari telah terbit dari arahnya dipukul 07.00, Nico terbangun karena terpampang sinar matahari menabrak wajahnya sehingga dengan wajah mengantuk Nico (dewa) berusaha untuk sadar dan berdiri menatap matahari dengan bergumam pada dirinya sendiri


"Hari ini cukup cerah" Nico berjalan dari tempatnya untuk melanjutkan perjalanan


Tidak lupa dirinya mencari makanan seperti buah dan lainnya, menurutnya lebih baik makan apapun yang ada dari pada harus mati kelaparan di hutan yang tidak jelas keberadaannya


Tapi di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah yang sepertinya tidak jauh dari Nico berdiri saat itu, hingga dengan cepat ia berlari ke arah ledakan, mengunakan kekuatannya dan kecepatannya bukan seperti orang normal lainnya karena kecepatannya bisa menandingi kecepatan mobil bahkan tubuhnya kini hanya terlihat bayangan hitam yang melesat


Sehingga tidak butuh waktu lama akhirnya sampai juga Nico (dewa), menemukan jalan keluar dari ledakan yang terjadi beberapa menit yang lalu


"Akhirnya, aku bisa keluar dari dalam hutan yang memuakkan itu" gumamnya sambil memperhatikan sekelilingnya


Dan dirinya sudah berada di padang rumput yang luasnya sampai beberapa kilometer tapi sayangnya di sana tidak terlihat warga maupun bangunan rumah, sehingga Nico (dewa) menjadi bingung akan tujuannya sekarang


Walaupun begitu Nico tetap tidak mau mengunakan kekuatannya karena untuk saat ini energinya sangat amat terbatas dan itupun dirinya tidak bisa meregenerasi karena ia hanya roh yang menumpang pada tubuh orang lain yang jelas-jelas tidak terbiasa untuk mengisi energi untuk kekuatan besar


"Sekarang aku harus kemana?" gumam Nico sambil memperhatikan sekelilingnya dengan cara teliti


Tapi lagi-lagi terdengar suara ledakan dari arah samping kanan, walaupun tidak tahu dimana namun tidak memungkinkan Nico tertarik untuk berkunjung ke sana sehingga dirinya melaju ke sana tanpa berfikir dua kali


Sesampainya ia di sana terlihat sebuah bangunan yang telah runtuh dan hancur menjadi beberapa bagian bahkan lahan yang awalnya luas dan dipenuhi oleh rumput hijau kini telah menjadi kubang ledakan dan api yang melahap habis rumput tersebut


Tidak hanya area itu saja yang terbakar tapi banyak mayat manusia yang terbakar dan mati didalam jangkauan bangunan besar tersebut, bangunan itu tak lain adalah sebuah Laboratorium sekaligus markas milik ayah Nico sebelum kejadian kudeta di markas


Nico dari kejauhan hanya tersenyum sambil melangkah maju dari posisi awal menuju bangunan runtuh tersebut bahkan rumput hampir sebagian tergenang oleh darah berbau amis dari seorang manusia


"Ada apa ini?" bingung Nico (dewa) karena aneh dengan keadaan disekitarnya


Tapi bisa jadi kalau ledakan tersebut terjadi karena kehancuran bangunan laboratorium tersebut karena keadaannya saat itu sudah rata dengan tanah namun tidak terlihat ada lubang kawah bahkan bangunan di sekitarnya tidak hancur seperti ledakan nuklir atau selainnya


Tembok yang menjadi pelindung area kini sudah hancur seperti ada orang yang membobol masuk mengunakan boom dari beberapa sisi


"Aneh, ada ledakan namun tidak ada wujudnya" bingung Nico (dewa) sambil memegangi dagunya seakan-akan sedang berfikir keras


Tapi disaat ia sedang berfikir terdengar suara dari arah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sehingga dengan senyuman sinis ia berjalan kearah tersebut dan benar saja tidak jauh ia berjalan akhirnya bertemu juga dengan beberapa orang berjubah putih dan beberapa tentara dengan armor berwarna coklat


Hingga dengan santai Nico berjalan menghampiri mereka sambil berkata dengan ucapan yang membuat mereka terkejut, "Loh, kenapa kalian masih hidup?" ucapan yang terlalu vulgar membuat mereka terheran-heran dengan bocah berusia 15 tahun yang ada dihadapan mereka


"Apa maksudmu, bocah!!" ketus dari salah satu anggota berjubah putih yang kebetulan sedang berada di antara mereka


"Sudah jangan terlalu kasar kepada anak kecil" suara yang memotong pembicaraan mereka membuat rekannya tak habis pikir dengan pola pikir ketuanya


"Tapi ketua, dia benar-benar enggak sopan kepada kita" bukannya diam justru ia malah menimpali masalah tersebut kepada ketuanya


"Kamu ini benar-benar gak berubah sama sekali ia, komat"


"Dasar bego, aku sudah pernah bilang jangan sebut nama itu" emosi Azarya


"Baik-baik, tapi kamu harus ingat kalau masih baru bekerja diorganisasi ini jadi jangan banyak buat masalah untukku yah"


"Cih,.." cibir Azarya sambil membuang muka dari hadapan Firdaus


Waktu itu adalah masa dari pembubaran organisasi Merpati putih, tepatnya setelah memberantas sisa-sisa anggota mawar merah yang ingin menyerang pengusaha kaya yang bernama Ziel dari keluarga Okta dengan motif ingin merampas uang miliknya agar bisa digunakan untuk membangkitkan kembali organisasi miliknya

__ADS_1


Tapi Firdaus dengan mudah mengatasi masalah tersebut namun tidak lama, mereka mendapat misi terakhir dari pemimpin manager Organisasi yaitu misi terakhir yang tak lain adalah memeriksa kembali ke markas milik musuh, karena mereka takut akan ada sisa dari anggota mereka yang ujung-ujungnya akan membalas dendam ke negara


Dan akhirnya Firdaus dan timnya harus bertemu dengan Nico bocah 15 tahun yang sedang dikendalikan dewa kematian


"Ayah, siapa dia?" tanya bocah berusia 9 tahun yang ikut bersama ayahnya ke misi kali ini karena menurutnya tidak masalah kalau harus mengajak anak dibawah umur, dan lagi lokasi tumpukan mayat dan dirinya cukup jauh sehingga tidak akan mengundang pertanyaan bagi anak tersebut


Lokasi mereka kini berada di Camp yang jauhnya sekitar 3 kilometer dari laboratorium tersebut dan posisinya berada di dekat hutan yang ditumbuhi rumput hijau, jauh dari pencemaran berada dan ledakan tersebut adalah ledakan untuk menghancurkan pintu ruang bawah tanah milik pemimpin Mawar merah


Jadi anggota Firdaus adalah sekelompok garis belakang atau bantuan untuk pasukan pengintai yang kebetulan dikirim beberapa menuju ke sana jadi Firdaus dan yang lainnya hanya menunggu kepulangan tim pengintai karena mereka sedang ditugaskan untuk memeriksa lokasi dari kejauhan


"Ayah juga tidak tahu" balas Firdaus segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Nico berdiri


"Kamu siapa?" tanyanya dengan lembut sambil didampingi oleh Azarya


Tapi beberapa saat Nico hanya diam dan terpaku dalam perkataan Firdaus sehingga dengan tertawa ia berkata


"Hahaha... Tentu saja aku adalah malaikat pencabut nyawamu!!" Seru Nico (dewa) dengan tertawa lepas sehingga seluruh orang yang ada di sana tampak terkejut dengan perkataan sang bocah itu


"Maksudmu?!" bingung Firdaus


Setelah kebingungan tersebut mendominasi sebagian orang yang ada di sana, tiba-tiba keluar sebuah aura hitam dari tubuh Nico, hingga saking kagetnya Firdaus berkata dengan suara lantang


"Jangan-jangan kamu!!!" kaget Firdaus disertai orang-orang yang ada di sana


"Yah, aku adalah Zhang Xuan, dewa kegelapan" balasan Nico membuat Firdaus berteriak kepada yang lain


"Lari!!!" teriak Firdaus dengan panik sehingga banyak tentara maupun anggota Merpati putih yang berlari menjauh dari tempat tersebut lebih tepatnya ke belakang Camp


Dan menyisakan Azarya, Krise, dan Firdaus ditempat itu karena aura pembunuh yang kuat membuat mereka ketakutan kecuali Firdaus karena ia sudah berhadapan dengan pemimpin mawar merah jadinya ia sudah tahu bagaimana cara untuk menekan aura pembunuh tersebut


"Loh, ternyata tidak kabur semua yah!!" bingung Nico sambil memiringkan kepala seakan-akan ingin menghina situasi Firdaus secara tak langsung


"Hah!!" bingungnya sehingga memalingkan wajah kebelakang dan melihat anak dan rekan kerjanya yang masih bersama dirinya dibelakang


"Bodoh, kenapa kamu disini!!!"


"Maksudmu, aku harus meninggalkan mu disini, seorang diri!!" bukannya menurut justru Azarya malah membentak kembali ketuanya


"Bodoh, maksudku kenapa kamu tidak membawa anakku!!"


"Tapi bagaimana denganmu"


"Tinggalkan saja aku disini" balas Firdaus


"Tapi"


"Anakku mau melihat adiknya, tolong kamu antar dia sampai rumah"


"Tapi" Lagi-lagi Azarya ragu untuk meninggalkannya sehingga dengan emosi Firdaus melontarkan kata-kata kasar kepadanya dengan beberapa kalimat


"Bodoh jika ingin menjadi beban, jadilah sampai akhir" kalimat tersebut membuat Azarya tersadar dan segera meraih Krise anak angkat Firdaus untuk segera pergi dari tempat itu walaupun sempat Krise memberontak dan berteriak memanggil nama ayahnya berulang kali sambil menangis


Namun anehnya Firdaus justru lega karena orang yang berharganya tidak jadi direnggut oleh monster yang kemungkinan akan menjadi lawannya.


*********


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖

__ADS_1


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋


__ADS_2