
Sebuah pesawat terbang yang mengakut puluhan tentara dengan dilengkapi senjata terlihat mereka sedang duduk menunggu ketibaan mereka di pulau karena ingin menjalankan tugas dari atasan untuk menyelamatkan rekan yang kini sedang berperang di pulau tersebut ketika sembari menunggu tiba-tiba sang pilot berkata dari pengeras suara yang berkata
"Sebentar lagi kita akan tiba di pulau jadi persiapkan diri kalian!!!" ucapan itu terus terulang sebanyak 3x
Membuat Putra terbangun dari tidurnya, dengan badan sedikit pegal membuatnya mengadukan setiap gerakan badan tapi lebih terkejutnya dia ketika melihat melihat Vera duduk di sampainya dengan kepala dipangku oleh pundak Putra
Dengan terheran-heran dia berkata, "Kenapa dia bisa disini!!" bingung Putra melihat sesuatu yang tidak di duga
Namun karena suara Putra terlalu dekat membuat Vera ikut terbangun dari tidurnya, bahkan ketika ia melihat Putra disampingnya dengan senyuman ia berkata dengan manja, "Eh,. Sudah bangun sayangku" ucapan disertai nada manja membuat Putra tidak segan-segan untuk membuangnya ke permukaan
"Eh,. Iya nih, tolong bisa jelaskan kenapa kamu disini dan bagaimana caranya kamu masuk?" tanya Putra dengan senyum masam di wajah
"Hehe,.. Sebenarnya tidak sulit, kamu nya aja yang kurang waspada"
"Kalau begitu kenapa kamu bisa berada di samping ku?"
"Aku menunggumu tidur, karena aku tahu kalau kamu tidur maka aku bisa duduk di sampingmu tanpa ketahuan" jawab Vera dengan meletkan lidah seakan-akan menghina Putra
Karena sudah tidak tahan Putra mencubit di setiap pipi dengan lembut namun bertenaga sambil berkata, "Ini akibatnya jika berani main-main sama aku!!" ucapan Putra dilandasi kekesalan
"Aawww... Sakit" rintis Vera dengan manja membuat seluruh tentara di sana tak kuasa menahan keromantisan sepasang kekasih dihadapan mereka
Ekhmm...
Suara batuk dibuat-buat menghentikan aksi Putra dan Vera dan seketika karena mereka melihat komandan tentara menatap tajam ke arah Putra
"Maaf, Pak" ucap Putra dengan wajah bersalah
Setelah suasana hening Putra kembali berkata kepada Vera dengan nada berbisik, "Kenapa kamu terus mengikuti aku?" tanya Putra
"Mungkin karena kita tunangan"
"Eh,.. Kamu percaya dengan ucapan ku barusan?" bingung Putra
"Jadi laki-laki, itu tukang bohong ya" ketus Vera dengan cemberut.
"Ehmm,.. Memangnya kamu mau denganku?"
"Bodoh, waktu ditepi sungai kamu kan yang nolak aku tapi kenapa sekarang tanya lagi ke aku!!" emosi Vera dengan menatap tajam ke arah Putra
"Hmm... Bagaimana jika pertempuran ini selesai nanti kita adakan acara tunangan kita, agar kita benar-benar resmi berpasangan"
"Boleh, aku setuju" jawab Vera dengan mata berbinar
"Oke" senyuman Putra yang kini mulai pulih padahal belum lama ini dia harus kehilangan orang yang berharga, namun dari pada dia melihat kebelakang menurutnya lebih bagus terus berjalan ke depan dengan berani dan kuat hati
Sedangkan dilain tempat Samuel kini sudah dibawa menuju camp tentara Mawar hitam berada hingga dengan tergesa-gesa Lian membawanya ke tenda tempat Sofia berada, sesampainya di sana dirinya melihat Sofia sedang mengemas peralatan di tas kecilnya walaupun secara mental belum terlalu baik namun kemampuannya bisa mengobati lukanya sendiri
"Sof, bantu Samuel" ucap Lian yang memanggil Sofia dari belakang
"Maksudnya" setelah berbalik badan alangkah terkejutnya Sofia melihat darah mengalir dari punggung Samuel yang kini sudah menetes ke tanah hingga dengan cepat Sofia menyuruh Lian untuk membaringkan Samuel di kasur namun dalam posisi tengkurep
"Baringkan dia di kasur namun jangan dalam posisi tengkurep biar aku bisa mengobatinya" perintah Vera pada Lian dan sembari Lian membaringkan dengan cepat Vera menggeledah tasnya lagi untuk mencari peralatan yang diperlukan dalam menangani luka
Sampai tidak lama Vera berhasil mengumpulkan peralatan yang dibutuhkan dan segera berjalan mengarah dimana Samuel dibaringkan
Selama pengobatan beruntungnya Sofia karena tidak mendapat gangguan dari luar sehingga dia bisa mengobati setiap luka diderita Samuel dalam posisi tenang, dan ketika pertolongan pertama telah selesai barulah masuk kedalam tahap pertolongan lanjut
Yaitu menyalurkan kekuatan kepada tubuh Samuel hingga dengan perlahan tenaga dan lukanya mulai membaik, tidak terasa pengobatan tersebut telah berlalu selama 3 jam lamanya, dan hari sudah menunjukkan pukul 16.00 yang menunjukkan hari sudah semakin sore
Sementara di medan perang jendral dan beberapa prajuritnya berhasil bersembunyi dibalik hutan belantara karena mereka benar-benar sudah berada diujung tanduk
Karena ketika jendral datang pasukannya telah berkurang cukup banyak dan pasukan musuh sudah menyudutkan mereka dari berbagai arah sehingga jendral memerintahkan seluruh anggotanya untuk mudur dengan masuk kedalam hutan agar mereka muda untuk bersembunyi
Akan tetapi mereka harus menerima kekalahan mereka dengan telak akibat formasi mereka sudah kacau
Disaat mereka masih bersembunyi tiba-tiba datang salah satu tentara menghampiri jendral yang waktu itu sedang duduk di rerumputan, "Jendral bagaimana situasi kita saat ini, dan kenapa kita harus mundur?" tanya tentara tersebut
"Untuk sekarang kita sudah kalah, dan hanya ini satu-satunya peluang kita untuk selamat, yaitu menunggu sampai bala bantuan datang"
"Kalah?, bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas diwaktu aku sedang menyusun rencana tiba-tiba datang seorang pembunuh tak kasat mata yang membantai habis rekanku" jawab jendral dengan wajah frustasi
__ADS_1
"Sial, kalau begitu kita benar-benar tinggal menunggu ajal saja" geram tentara tersebut sambil mengepal tangannya
"Kamu jangan khawatir, aku janji akan membawa kita semua pergi dari pulau ini, namun aku ingin bertanya kepadamu berapa prajurit yang kita punya saat ini" jawab dan tanya balik dari jendral
"Sekarang kita hanya memiliki 213 prajurit saja" jawab tentara tersebut dengan murung
"Aku sudah tahu semuanya akan seperti ini" gumam jendral dengan wajah sedih
"Tapi jendral jumlah ini terlalu banyak jika bersembunyi di satu tempat, kita harus mencari tempat yang lebih aman untuk bersembunyi"
"Dimana lagi kita harus mencari tempat bersembunyi sedangkan posisi kita susah terkepung dimana-mana?"
"Kamu benar, jendral" murung tentara tersebut
"Sekarang kamu bisa kembali ke posisi" ujar jendral membuat tentara tersebut pergi meninggalkannya
Akhirnya mereka beristirahat didalam hutan hingga malam menyingsing karena mereka tidak tahu harus bertindak bagaimana, karena mau dipaksakan pun mereka tidak akan bisa pulang dari pulau tersebut apalagi kapal sudah dikuasai oleh pasukan musuh
Namun tidak lama terdengar suara gemuruh yang sangat kencang, membuat jendral terbangun dari tidur singkatnya dan berdiri sambil bertanya kepada tentaranya, "Suara apa itu?!!" bingung jendral karena seluruh tentaranya berdiri menatap langit
"Jendral apa itu pesawat?" tanya salah satu tentara yang ada didekatnya
"Hah?" bingung jendral kemudian menatap langit walaupun tidak terlihat jelas namun di sana terlihat sekilas cahaya pesawat yang berkecepatan penuh dengan mengarah kearah pulau
"Apa itu?" bingung jendral
Namun tidak lama pesawat mulai menurunkan ketinggian dan terlihat 8 pesawat jet tempur yang menembaki misil ke arah kepal perang militer Jendral yang sudah dirampas
Duar...
Duar....
Duar.....
Ledakan besar terjadi membuat kapal hancur lebur bahkan ada sebagai tentara yang berlarian meninggalkan area kapal dengan terburu-buru
Jendral yang melihat itu segera berteriak, "Bersiap!!" suara keras diselimuti semangat membuat api jiwa tentara berkobar, karena mereka tahu kalau jet itu adalah bantuan dari markas
Hingga malam itu terjadi baku tembak dari tentara negara yang membantai prajurit Mawar hitam yang waktu itu masih berhamburan dimana-mana yaitu untuk menghindari area kapal yang telah hancur lebur
Sampai dalam waktu singkat seluruh tentara Mawar hitam gugur tanpa sisa, dan tembakan dihentikan oleh tentara negara agar tidak membuang amunisi secara sia-sia
Bahkan setelah pesawat jet lewat datang pesawat pengangkut yang menerjunkan prajurit dengan senjata dipunggung, jumlah yang diturunkan juga tidak sedikit mungkin jika di hitung jumlahnya puluhan
Mereka turun secara acak sampai-sampai seluruh tempat dikelilingi prajurit sekutu, Nikolaus yang selamat dari ledakan segera mengamuk akibat anak buahnya dibantai abis oleh musuh
Sina dan Maya berada didalam tenda tentara yang waktu itu juga melihat kejadian tembakan misil dari pesawat jet kearah kapal tempur
Joko yang melihat hanya tersenyum sambil berkata, "Seluruh tentara Maju!!" perintah joko membuat seluruh tentara maju secara serentak tanpa pandang bulu mereka menembaki tentara musuh yang mereka lihat, entah itu tentara milik jendral atau prajurit terjun payung
Karena apapun yang mereka lihat maka akan mereka tembak namun dalam waktu singkat tentaranya dapat diringkus akibat kalah jumlah dan tempat kurang strategis karena posisi mereka berada di lapangan terbuka
Joko segera memerintahkan pasukan yang masih selamat untuk masuk kedalam hutan agar terhindar dari tembakan musuh dengan dipimpin oleh dirinya namun ditengah pelarian mereka, terdapat satu orang berkemampuan yang terkena tembakan hingga tewas ditempat
"Yuno!!!" panggil Riza akibat melihat temannya tergeletak di pasir pantai
Namun sebelum dia menyusul temannya seketika, tangannya dipegang oleh Sina sambil berkata, "Kita tidak bisa disini terlalu lama!!" ucap Sina dengan wajah panik
"Tapi Yuno, bagaimana?"
"Kita tidak bisa menyelamatkannya, jikapun kamu nekat kamu pasti akan terkena tembak di sana" balas Sina
Setelah merenung sejenak akhirnya Riza ikut apa kata Sina yaitu mereka masuk kedalam hutan untuk mencari tempat berlindung sementara dari serangan tentara aliansi
Sementara Nikolaus yang terdesak hanya bisa mundur untuk mengumpulkan tenaganya akibat seharian ini sibuk menghancurkan kapal tempur milik lawan, bahkan dengan kemampuan kilat baginya sangat mudah untuk menghindari pertemuan dengan musuhnya walaupun mereka sudah tersebar di mana-mana
Setelah semuanya berlalu akhirnya tentara aliansi berhasil menguasai pantai dengan kapal induk yang berlabuh ditepi pantai dan tentara yang membangun tenda di mana-mana sampai pertemuan antar orang penting terjadi dimana Jendra Mars, Jendral Jupiter, dan Putra dalam satu ruangan yang disebut ruang 00 atau bisa dibilang ruang pertemuan yang terdapat didalam kapal induk
Di ruangan 00 terdapat meja bundar dengan layar LCD yang luasnya hampir sama seperti layar tancap, yang terpampang diantara mereka antara lain Putra, Jendral dari dua negara, Komandan terjun payung, dan Vera yang sembari tadi ikut bersama Putra, melakukan pertemuan untuk membahas langkah lanjut dari rencana seterusnya
Namun disaat mereka sedang rapat, terlihat Nikolaus dan tentaranya baru kembali ke markas untuk membahas rencana selanjutnya, bahkan di sana seluruh tentara masih terengah-engah karena melewati malam panjang dengan suasana penuh darah dan kesedihan
**
__ADS_1
Diarea camp terlihat Nikolaus yang memasangkan wajah merah padam dengan menunjukkan kalau dirinya sudah benar-benar marah dengan lawannya, bahkan tanpa sadar prajuritnya sudah sebagian besar gugur di medan perang tidak hanya sebagian besar tapi semua mental pasukan sudah hancur
Termaksud Riza yang sembari tadi menangis secara histeris dibawah pohon dengan memeluk kedua kakinya
Sina yang melihat hanya bisa duduk di samping sambil mencoba untuk menenangkan temannya dengan cara meminjamkan bahunya untuk bisa dijadikan senderan kepala bagi temannya yang menangis sambil berkata
"Sudah jangan menangis lagi Riz, kita dilahirkan juga tidak ada tujuan lain selain menghampiri kematian, jadi apapun yang hidup pasti akan mengalami yang namanya kematian"
"Tapi aku tidak terima dengan kematiannya Sin!!, kenapa harus ditempat seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu, tapi mungkin saja aku juga akan mati disini" balas Sina sambil menatap langit malam
"Tolong jangan berbicara seperti itu!!" ujar Riza dengan nafas yang terisak-isak
Setelah mereka duduk diposisi yang benar barulah Riza melihat kekacauan yang terjadi setelah perang berlalu yang dimana tentara mengalami luka-luka ditubuh, bahkan ada sebagian lagi yang mengalami gangguan psikologi sampai-sampai dirinya tidak sadar kalau pikirannya sudah hampir stress
Saat itu Nikolaus hanya membaringkan tubuh di rerumputan sambil bergumam yang dirinya tidak ketahui karena posisi sangat jauh, dan tuan joko sembari tadi hanya duduk bersila di rerumputan sambil menatap peta ditangan kanan sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memegangi senter
Namun dari semua orang yang ada di sana, Riza tidak sekalipun melihat beberapa orang yang menurutnya tidak asing baginya yaitu Lian, Miya, Rian, Rudi, dan Sofia, sehingga dia melontarkan pertanyaan kepada Sina yang duduk disampingnya
"Sin, kemana teman-teman kita yang lain?" tanya Riza
"Kamu ingin bertemu mereka?" tanya balik dari Sina
"Iyah"
"Kalau begitu mari ikut aku, kita pergi ke tenda yang seharusnya mereka ada di sana" jawab Sina sambil bangkit berdiri
"Oke" jawab singkat Riza yang mengikuti Sina dari belakang untuk memasuki kawasan kemah dengan melewati beberapa tenda yang ada mereka berjalan hingga sampai di tenda dengan logo Medis di sisinya
"Kita sudah sampai" Ucap Sina yang berdiri di samping tenda tersebut
"Disini?" bingung riza
"Iyah disini!!, kami sengaja memilih tenda sedikit jauh dari Tuan besar karena menurut kami akan menggangu kami dalam mengobati tentara"
"Eh.. Kamu ternyata anggota medis ya"
"Bisa dibilang seperti itu" jawab Sina
"Tapi sepertinya tenaga medis sudah tidak tersisa lagi setelah kejadian dimana kita di serang Sekutu"
"Kamu benar Riz, dan yang tersisa hanya kita" balas Sina dengan murung namun tidak lama mereka berdiri tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari tenda, orang tersebut antara lain adalah Lian, dirinya keluar dari tenda karena ingin mengambil perbekalan agar bisa menjadi makanan bagi Samuel yang sedang sekarat
"Lian?" bingung Sina karena baru melihat lian keluar dari tenda karena ingatan terakhirnya cuman disaat Lian berpencar mencari Samuel seorang diri
"Loh Sina, kok kamu disini?"
"Tadinya sih rencananya cuman ingin menjenguk kalian namun setelah melihatmu aku jadi sedikit bingung, apa kamu sudah menemukan rian?" jawab sekaligus tanya balik dari Sina kepada Lian yang dari tadi berdiri di depan tenda
"Sudah"
"Beneran!!" Ucapan Sina dengan mata berbinar
"Namun untuk sekarang keadaannya kurang baik" jawab Lian dengan wajah musam
"Memangnya dia kenapa?" tanya Sina dengan wajah bingung disaat suasana sedang kurang enak Riza sembari tadi hanya berdiri sambil menyimak percakapan antara temannya
"Kamu bisa lihat sendiri didalam, aku ingin mencari makanan dulu untuk makan malam kita" jawab Lian hingga dengan acuh meninggal Sina dan Riza ditempat itu
"Dia kenapa?" bingung Sina tapi karena tidak ingin ambil pusing dia segera berjalan masuk kedalam tenda dengan diikuti oleh Riza dari belakang
Namun disaat mereka masuk kedalam tenda hal pertama yang mereka lihat hanya Miya dan Sofia yang duduk bersama di kursi dekat ranjang dimana Samuel terbaring, karena Sina cemas membuatnya melontarkan satu pertanyaan kepada Sofia karena melihat keadaan Samuel dengan badan penuh luka
"Ada apa dengan keadaan, Rian?" tanya Sina dengan nada panik karena melihat keadaan Samuel bahkan Riza juga ikut terkejut dengan apa yang dia lihat
"Untuk sekarang dia membutuhkan istirahat, jadi kalian bisa aku jelaskan tanpa perlu membangunkannya" ucap Sofia dengan wajah tampak sedikit pucat
"Sofia, ada apa denganmu?" tanya Sina
"Shhh...." bising Sofia sambil meletakkan satu jari telunjuk di buah bibir sebagai isyarat untuk tidak terlalu membuat suara dengan volume keras
Sampailah dimana Riza, Miya, Sofia, dan Sina saling menceritakan situasi yang mereka hadapi saat itu bahkan bisa dibilang perkumpulan para wanita dalam satu tenda, sampai-sampai Lian yang sudah mengumpulkan bekal tidak berani mengganggu obrolan mereka, sehingga dia dengan terpaksa menunggu diluar tenda seorang diri.
__ADS_1