Fire And Water

Fire And Water
Cp 47# Bersiap-siap


__ADS_3

Dibawah naungan tentara yang letaknya tidak jauh dari jembatan, disebuah kamar terlihat Dika dan putra yang sedang ngobrol akrab, dengan canda dan tawa di sana mereka telah menghabiskan waktu bersama untuk bercerita tentang pengalaman dika sebagai tentara walaupun sedikit aneh namun putra juga terhibur dengan ceritanya


Tentara tersebut bernama Dika dan memiliki tugas di pulau perbatasan yang letaknya tidak jauh dari kota pusat karena letak dan Strategi membuat komandan jenderal perang memutuskan untuk menjadikan kota tempat tinggal Dika sebagai Camp tentara yang akan diberangkatkan ke medan perang di esok hari


Namun disaat malam sebelum dia berangkat ke medan perang membuat pikiran Dika menjadi tak karuan, mulai dari sikapnya dan pengalaman yang pahit membuatnya harus berfikir dua kali supaya dia tidak membebani timnya nanti, namun karena berlebihan membuat dika tidak bisa tidur justru karena hal tersebut Dika memutuskan untuk keluar dari kamar untuk menghirup udara malam


Karena udara malam cenderung lebih sejuk dan menenangkan apalagi di sana dirinya dekat dengan danau itulah yang membuat kini bisa lebih rileks, namun disaat dia sedang berjalan di pesisir kota dan danau tanpa sengaja dia melihat pria remaja yang bertingkah aneh hingga dengan cepat dika menginterogasinya, entah apa yang dipikirkannya dika malah mengajak putra ke kamarnya


Karena hari sudah malam dan menurutnya sangat tidak baik membiarkan korban ditinggal sendirian, apalagi di sana tidak ada kantor polisi itulah yang ada dibenak dika kenapa dia mengajak putra menginap di rumahnya, yang sebenarnya dia sudah melanggar aturan militer ataupun negara


Dikamar hanya memiliki satu kamar yang khusus untuk pasukan negara saja, namun berbeda dengan Putra, justru dika yang memilih untuk tidur dilantai dan menyuruh korban tidur di kasur karena itu merupakan hal yang manusiawi, dengan bingung Putra sempat berkata, "Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Apa kak dika tidak curiga denganku?" pertanyaan yang dilontarkan kepada Dika


Sementara Dika sedang memasak masakan instan untuk dimakan bersama apalagi Dika tahu kalau Putra pasti kelaparan, itu semua didapatkan karena menurut logika Dika saja, namun setelah mendengar pertanyaan Putra kini konsentrasinya terbagi hingga dia segera menjawab pertanyaan Putra, "Tentu saja, karena kamu orang baik" senyum dari pipi Dika membuatnya teringat dengan ibu


Karena Ibunya walaupun sedang memasak ataupun sibuk dirinya tidak pernah marah kepada Putra ketika menanyakan suatu hal yang membuat mereka tidak bisa konsentrasi karena itulah ketika Putra melihat Dika serasa seperti bersama kakaknya sendiri


Ruangan kamar Dika hanya kecil yang terdiri kotak persegi dan satu ruangan kecil namun di bagi-bagi menjadi berbagai macam akses, seperti dapur yang terletak disudut kamar dan ruangan kecil dijadikan sebagai kamar mandi, saat itu posisi kamar dan dapur manjadi satu hanya saja mereka tidak bisa saling berhadapan jadinya Putra hanya dapat melihat punggung Dika yang sedang sibuk masak


Setelah selesai masak akhirnya Dika mengajak makan bersama di kamarnya dengan menyajikan mie instan yang telah tercampur telur, cabe, dan beberapa bahan lain, bahkan Putra yang melihat kini langsung ngiler seperti orang tidak makan 2 hari


"Sabar dulu, Putra" ujar Dika hingga mengejutkan putra yang saat itu ingin mengambil mie kuah mengunakan tangannya sendiri


"Hehe,. Maaf, lagian aku tadi sangat lapar, kak" tawa malu putra hingga terlihat seperti kekanak-kanakan


"Yasudah, mari kita makan" ajak dika yang mengambil piring dan memberi se'centong nasi kedalam piring hingga malam itu mereka menikmati makanan yang masih hangat dengan rasa bersyukur karena pertemuan mereka selayaknya ditakdirkan


Karena sudah kenyang Putra membaringkan tubuh ke kasur dan tanpa sadar ia ketiduran, dika hanya bisa tersenyum dan membersihkan piring yang kotor sebelum dirinya tidur


Sementara ditempat lain, Vera baru terbangun dari tidur, dirinya tidak menyangka kalau dia akan ketiduran disaat dia sedang menjaga Maya diruang rawat, "Ada apa denganku?" bingung Vera yang terbangun dengan tiba-tiba, hingga beberapa saat dia memperhatikan sekeliling akhirnya dia sadar kalau dia kekurangan sesuatu


"Bagaimana keadaan Putra sekarang?" raut wajah gelisah dengan hati yang cemas mulai menghantui vera, karena terbebani dirinya mencoba untuk keluar dan menuju ruang rawat rian untuk bertemu dengan Sonia di sana


Setelah dia sampai di ruangan rian, orang pertama yang dia lihat hanya Sonia yang sedang duduk di sofa sambil main android mungkin karena bosan menunggu andrian bangun, karena waktu mereka sampai di rumah sakit andrian langsung pingsan diwaktu yang bersamaan dengan maya hanya saja mereka beda ruangan karena ruangan rian adalah ruang VIP yang disiapkan Sonia agar rian bisa beristirahat dengan tenang


"Sonia" panggil Vera sambil berjalan mendekati sonia yang duduk di sofa dekat dengan tempat rian beristirahat


Dengan terkejut sonia langsung mematikan phone dan segera berkata, "Vera!!, mari duduk sini" sonia mulai menggeser posisi duduk ke kiri dan memberi tempat kosong untuk Vera


"Terimakasih" suara lembut Vera sambil duduk di dekat sonia


"Ada apa kamu datang kemari, Vera?" tanya sonia


"Ehm,.. Sebenarnya tidak ada hal yang penting, kecuali aku ingin meminjam mobil kemarin"


"Mobil!!, untuk apa?" Bingung sonia


"Aku khawatir dengan keadaan putra saat ini, jadi aku ingin meminjam mobil punyamu untuk ke lokasi dimana aku meninggalkan Putra" suara lembut Vera


"Apa kamu yakin ingin ke sana?, ini sudah sangat malam loh, Vera!!"


"Iyah, aku sangat khawatir dengannya dan menurut aku tidak masalah kalau harus pergi sendirian"


"Tidak, kamu tidak boleh pergi sendirian ke tempat seperti itu, jadi biar aku menemanimu ke sana"


"Tidak usah sonia, lagian kamu harus menemani rian disini" bantah Vera

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, Lagian dia masih belum sadar dan kemungkinan besok pagi dia baru sadar, jadi kita bisa ke sana malam ini"


"Aku jadi tidak enak dengan kamu"


"Sudahlah, lagian tadi yang meminta kamu untuk meninggalkan Putra kan itu karena aku"


Setelah beberapa kali Vera berfikir akhirnya dia memutuskan untuk berangkat subuh karena sangat tidak mungkin dia bisa berangkat di malam itu juga, sedangkan dia sangat yakin kalau di sana akan sangat sepi yang akhirnya membuat mereka takut juga, semalaman Vera dan sonia tidur bersama tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, Pagi


Hingga pagi itu Vera dan sonia langung bersiap-siap untuk ke tempat Putra dengan bermodal mobil milik sonia, sebelum berangkat Vera sempat bertanya kepada Sonia mengenai keyakinannya untuk ikut bersama dia, akan tetapi sonia hanya menjawab kalau dia sedang punya waktu senggang jadinya bisa menemani Vera ke kota pinggiran


"Tapi benar ini, aku tidak merepotkan mu?" tanya Vera sekali lagi


"Ha,.. aku sudah bilang ke kamu, kalau aku tidak masalah jadi gak apa-apa" hela nafas Sonia yang melihat sikap Vera kurang yakin


"Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat"


"Ayo" jawab Sonia setelah menyiapkan barang yang diperlukan dan mengganti baju dengan pakaian tebal supaya nanti diperjalanan dia tidak merasakan dingin, sedangkan Vera dia mengunakan hoodie berwarna pink dan hanya mengunakan Rok setinggi lutut berbeda dengan Sonia dia mengunakan baju dan celana panjang karena dia sengat tidak kuat dengan hawa dingin


Mereka mulai turun dari rumah sakit dan menuju ke mobil untuk bergegas berangkat ke lokasi, ditengah perjalanan mereka tidak merasakan ada hal yang aneh namun setelah memasuki kawasan kota pinggiran mereka mulai mendapat cobaan yaitu dengan tiba-tiba mobil mogok awalnya Sonia bingung dengan apa yang terjadi namun karena penasaran dia keluar


Dari mobil untuk memeriksa mesin mobil dengan diikuti Vera dari sampai, dengan bingung Vera bertanya, "Kenapa mobilmu sonia?" tanya Vera sambil memegangi android untuk menghidupkan senternya


"Aku juga tidak tahu Ver, tapi ini aneh sekali apa ada yang salah ya dengan mesinnya yah?"


"Hmm,.. Aku tidak terlalu tahu karena aku tidak ahli dalam hal seperti ini, namun kita benar-benar terpojok coba kamu lihat disini walaupun kota namun sangat sepi, jikapun kita berjalan menuju kota pusat pasti akan memakan tenaga dan waktu yang banyak" bingung Vera sambil memperhatikan sekelilingnya dan memang tidak ada orang satupun yang ada di rumah padahal lokasi mereka berada di perumahan


"Yah, kamu benar"


"Yasudah dari pada disini lebih baik kita masuk dalam mobil saja biar tidak kedinginan" usul Vera


Walaupun berat namun putra berusaha untuk sadar dari ngantuk nya, dengan menyipitkan mata dia melihat kak dika telah berpenampilan keren, "Kak Dika, kamu ingin kemana?" tanya dia kebingungan walaupun masih sangat ngantuk


"Kakak akan pergi dari sini, karena kakak ingin pergi ke madan perang, jadi kalau bisa kamu pergi dari sini sebelum ketahuan jendral atau rekan kakak yang lain" ucapnya hingga putra melotot dan kini dia bisa melihat jelas bagaimana penampilan kak Dika saat itu


"Perang!!!, bagaimana bisa, perasaan kemarin kakak tidak bilang apapun deh sama aku" bingung putra


"Haha,.. Maaf kalau kakak tidak cerita tapi beneran malam itu aku mau cerita namun siapa sangka kalau kamu tidur duluan"


"Kalau begitu aku harus apa?" tanya putra yang langsung beranjak dari kasur dengan mengambil posisi duduk


"Kalau bisa kamu pergi dulu ke tempat yang aman supaya kamu tidak ditangkap, lalu tunggu beberapa saat sampai matahari menyinari setelah itu kamu langsung saja pulang" jawab Dika yang memberikan uang ke tangan putra


"Ini apa maksudnya yah?"


"Kalau kamu tidak mau diisolasi atau diinterogasi, sebaiknya kamu segera pergi menggunakan uang ini, kamu paham"


"Aku Paham, tapi kenapa kakak segitunya mau membantu aku?


"Karena kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi kakak tidak ingin melihat kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai, termaksud di isolasi"


Putra yang melihat cara pandang Dika kepadanya mulai merasa ada yang aneh, entah kenapa dirinya merasa nyaman berada di dekatnya, walaupun dia sering bertanya, "Apa dia adalah kakakku?" benak putra yang penuh pertanyaan akan tetapi semua pikirannya telah patah ketika dia berfikir untuk kedua kalinya


"Ha,.. coba saja ayah mau menyebut namanya jadi aku tidak perlu repot-repot berfikir terlalu keras untuk mencari jawabannya sendiri" Gumam pelan putra dengan menghela nafas


"Kamu tadi bilang apa?" bingung Dika

__ADS_1


"Tidak lupakan saja, tapi sebelum itu boleh aku bertanya kepada kakak?"


"Boleh mau nanya apa, mumpung kita masih sempat berbicara" balas dika sambil duduk di sebelah putra


"Sebelumnya kakak bilang ke medan perang ya?"


"Iya" jawab dika


"Bisa tidak kakak, kasih tahu aku kemana kakak akan berperang?" sambung dari pertanyaan putra


"Kalau itu kakak, akan berperang di pulau perbatasan, dan rencananya pihak militer ingin berperang melawan pemberontak yang katanya sudah menyerang pulau"


Seketika putra langsung diam membeku ketika mendengar jawaban dari dika, karena dia menduga kalau lawan yang akan dihadapinya adalah organisasi Mawar hitam


"Tapi kamu tenang saja, kakak janji setelah perang selesai kakak akan pulang dan mencari kamu lalu kita akan ngobrol bersama lagi" sambung dika


Putra yang melihat kebaikannya merasa ingin memberi tahunya namun dia takut kalau rahasia tentang samuel akan terbongkar, karena dia memberi tahu rahasianya kepada orang lain namun di satu sisi dia tidak ingin melihat orang baik sepertinya harus mati ditempat tersebut


Namun setelah Putra pikir-pikir dia lebih sedih melihat orang yang dia anggap sebagai kakak harus tewas di medan perang, lagian dia yakin dika tidak mungkin membocorkan rahasia tersebut ke publik maupun ke organisasi mawar hitam, karena peran samuel belum datang jadi dia tidak boleh sampai ketahuan oleh Nikolaus


"Kak dika dengarkan aku, lawan yang akan kakak hadapan nanti jauh lebih kuat dari apa yang kakak bayangkan jadi aku akan berkata berhati-hatilah dan cari yang namanya Rian, karena hanya dialah satu-satunya peluang agar kakak bisa menang" tatapan serius Putra membuat suasana menjadi tegang dan mencengkram


Dika mendengar perkataan Putra hanya bisa menelan liurnya karena tidak menyangka kalau adiknya bisa berkata seperti itu apalagi tatapannya yang menandakan dia sedang dalam fase serius, "Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya dika dengan raut wajah tegang


"Aku mohon berhati-hatilah di sana, aku tidak ingin kakak terluka apalagi sampai mati di sana, jadi sebelum kakak berperang minimal mencari tempat strategis lalu temui orang dari pemberontak yang bernama rian, dan bilang kalau Putra menitip salam"


Setelah mendengar itu dika langsung melompat dan menodongkan sepucuk pistol ke arah Putra dengan jari yang siap menarik pelatuk, dengan pelan dia berkata, "Putra sebenarnya aku sedikit curiga kepadamu sejak tadi malam namun dimalam itu juga aku selalu menangkalnya, karena aku tahu kamu adalah orang baik" ucap dika dengan nada tinggi


"Aaa,.. Kenapa sih malah jadi runyam gini, padahal aku berniat baik tapi kenapa malah jadi begini" kesal putra sambil mengacak-acak rambutnya


"Kamu kenapa putra?" tanya dika dengan wajah penuh selidik


"Sebenarnya kakak, harus tahu kalau identitas aku itu sangat penting dan minimal ini tidak boleh sampai bocor ke orang luar selain kepada manusia khusus"


"Manusia khusus?" tanya dika


Malas menjelaskan putra langsung mengeluarkan api dari kepalan tangan hingga dika terkejut, disaat itu juga putra menjelaskan identitasnya yang berada di pihaknya, dan samuel yang memberontak untuk melawan pasukan mawar hitam, semua dijelaskan putra disaat suasana tegang agar dika mengerti semuanya tanpa harus dijelaskan lebih detail


Tidak selang beberapa lama dika akhirnya mengerti dan paham akan penjelasan putra, walaupun pikirannya masih tidak percaya atas manusia yang bisa mengeluarkan api dan beberapa manusia yang bisa menggunakan kekuatan di luar nalar


Tapi dia mencoba untuk mengerti dan akan melanjutkan pemikirannya ketika dia sudah berangkat karena waktu sangat mepet dan tidak memungkinkan dia harus mencerna semuanya dalam waktu singkat hingga putra berdiri dan menurunkan todongan senjata dika


Lalu berkata, "Kakak hati-hati di sana, dan tolong jaga rahasia ini karena aku sudah menyiapkan semua itu selama berbulan-bulan, jika kakak memberi tahu indentitas rian kepada orang lain maka rencana kami akan terbongkar" ucap putra sambil berjalan ke luar dengan rasa kecewa dia sekarang tahu kalau dika bukanlah kakaknya


Namun sebelum putra pergi dika dengan cepat berkata, "Terimakasih untuk semuanya, aku tahu kamu pasti telah melewati banyak cobaan untuk membuat rencana ini jadi aku tidak mungkin membongkarnya" ucapan dika yang membuat putra tersenyum puas sebelum dia pergi


Di pagi buta putra pergi menuju kota pusat dengan berjalan kaki, dan untungnya dia tidak ketahuan oleh penjaga gerbang karena skill menyelinap nya bisa dibilang cukup tinggi dan dia hanya berharap di perjalanannya dia bisa menemukan bantuan


Dika saat itu berada didalam rumah dengan duduk di kasur melamun dan merenung dengan apa yang dia lihat dan dengar karena seakan-akan itu semua hanya ilusi dan tidak mungkin ada, namun setelah dia berfikir kembali akhirnya dia mulai mengerti dan faham kalau tujuan putra adalah hal yang baik


Dan kekuatan itu hanyalah takdir tuhan kepada orang terpilih, dan tak lama berfikir akhirnya dia mendengar suara alarm pusat yang menunjukkan tentara harus berkumpul di lapangan pusat, dengan perasaan siap dika bergegas berangkat ke lapangan untuk diberangkatkan ke medan perang.


****


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙠, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙠𝙪!!!.

__ADS_1


__ADS_2