
Setelah muter-muter cukup lama akhirnya Sina memutuskan untuk menyerah karena mungkin Lian belum ditemukan jadi tidak ada di area camp, bahkan miya juga berfikir demikian, oleh karena itu dari pada mereka berkeliling tanpa ada tujuan lebih baik mereka langsung menunggu ke camp pengungsian karena mungkin Lian sudah ditemukan dan di karantina di sana
Sesampainya mereka di sana dengan segera Sina bertanya kepada salah satu staf penjaga, "Permisi tuan, bolehkah saya bertanya kepada anda?" ujar Sina dengan tutur kata lembut sambil membungkukkan sedikit badan
"Silahkan nona, dengan senang hati saya akan menjawab sebisa mungkin" jawab staf itu dengan senyum ramah
"Kalau gitu apakah anda melihat seorang pria yang kisar umurnya mungkin 20-an ke atas?" tanya Sina
"Kalau menjawab pertanyaan anda saya jadi bingung karena disini sangat banyak pria berumur dari 10 hingga 40 tahunan jadi saya tidak bisa membedakan yang mana nona cari!!" balas Tentara tersebut dengan mengerutkan kening
Terlihat Sina berfikir keras untuk menjelaskan ciri-ciri yang memudahkan lawan bicaranya mengerti dengan maksud dari pria yang bernama Lian tersebut, sambil memegang dagu dan mengernyitkan alis akan tetapi ketika berfikir Miya menyela pembicaraan dengan memberi unjuk selembar foto di tangan
"Kalau begitu apakah anda tahu dengan orang ini?" tanya miya sambil memegang foto sehingga Sina yang melihat langsung tertegun sejenak sebelum ia bertanya kepada miya penuh nada antusias
"Miya, dari mana kamu mendapatkan foto Lian itu?!!" tanyanya yang pipi pun mulai merona
"Bweehh.. Rahasia!!" jawab miya sambil menjulurkan lidah dengan mata tertutup seraya ingin menggoda temannya
"Ih..." karena dipermainkan dengan cepat Sina mencubit pelan perut temannya
"Aaawww.... Sakit tahu"
"Bodo amat" jawab Sina yang tidak mau kalah akan tetapi disaat mereka masih tersenyum riang sang staf pun angkat bicara karena ia sudah tahu dengan pria yang dicari oleh dua gadis cantik dihadapannya
"Sepertinya saya tahu dengan orang yang nona cari"
"Eh.. Benarkah?" tanya Sina dengan tatapan optimis
"Iyah, tim kami menemukannya dibawa tumpukan batu kira-kira beberapa menit yang lalu hanya saja dia sudah meninggal" seketika Sina dan Miya langsung mematung tanpa ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut mereka
"Jika nona ingin menjenguknya saya bisa antar kalian ke jenasahnya" ajak tentara tersebut dengan senyum
"Anda pasti bohong?" tanpa di sangka Sina mengeluarkan kalimatnya dengan tatapan sudah kosong
"Eh... Saya tidak bohong memang begitu keadaannya saat kami menemukan dia"
"Hiks.. Hiks.." Tanpa sadar sina mengeluarkan air mata dengan tersungkur dihadapan staf tersebut, miya juga pada waktu itu hanya bisa terbengong tanpa ada satu katapun yang keluar dari bibir mungilnya karena pukulan terhadap Rudi belum hilang kini mau ditambah Lian, pada saat itu ia sudah tidak bisa membayangkan reaksi apa yang bakal dikeluarkan oleh Samuel ketika tahu semua sahabatnya telah meninggal
"Enggak mungkin" bantah Sina dengan nada tinggi yang dengan cepat berdiri dan menarik kerah tentara
"Nona, tenangkan diri anda!!" ucap tentara tersebut dengan lembut karena mau gimana pun ia sudah bisa menghadapi reaksi manusia yang kehilangan orang tersayangnya mau itu di medan perang semua itu bukanlah hal yang tak bisa dipungkiri
"Cepat, antar kami ke tubuh pria tersebut" kecam Sina dengan emosi campur aduk
"Baik, tapi sebelumnya tolong lepaskan dulu tangan anda dari seragam saya" pinta Tentara tersebut dengan rasa enggan untuk mengantar tapi mau gimana lagi sang kekasih harus tahu keadaan korban
Setelah masuk kedalam tenda Sina dan Miya segera dibawa menuju tandu yang dilekatkan di tanah karena disitu sudah terbaring pria dengan tubuh di tutup kain putih dari ujung kaki hingga ujung rambut, sina yang melihat jasad tersebut hanya bisa menangis dengan sedu tanpa ada suara yang keluar dari rongga mulut
Karena bibirnya telah ditutup oleh kedua telapak tangannya, sambil air mata terus bergelimang di pipi cantiknya, "Miya, aku yakin ini pasti bercanda kan!" seru sina dengan terisak-isak karena tangisnya
"Aku yakin dia pasti orang lain, karena kita belum lihat wajahnya jadi kita tidak bisa 100% percaya begitu saja"
__ADS_1
"Tapi Nona, saya yakin kalau dibalik kain ini adalah orang yang sama persis dengan orang di foto tersebut" bantah tentara tersebut akan tetapi argumennya malah dibalas dengan sorot mata intimidasi dari Miya, yang waktu itu berusaha untuk menenangkan temannya
Glek...
Terdengar suara tentara tersebut yang menelan air liur sembari bergidik ngeri akibat melihat tatapan sinis dari seorang wanita yang sedang marah, bahkan tidak sampai disitu miya dengan tatapan sinis juga ia berkata dengan penuh penekanan, "Buka kainnya!!" perintahnya walaupun tidak terdengar sopan tapi staf tersebut tidak bisa berbuat banyak selain menurut
Perlahan tentara tersebut membuka kain yang digunakan untuk menutup tubuh dari orang yang di sangka Lian, tapi setelah membuka kain putih di bagian kepala memperlihatkan wajah asing bagi Miya dan Sina sehingga mereka sama-sama terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu
"Dia bukan Lian" tampak Sina mulai tersenyum walau pada saat itu masih berharap kepada takdir
"Kamu benar Sina, dia bukan Lian dan ternyata kita sudah dibohongi oleh tentara itu deh" ucap Miya dengan antusias karena temannya sudah mulai membaik
Akan tetapi disela pembicaraan Sina dan Miya, Tentara tersebut mulai berkata lagi dengan ucapan sedikit gagap, "Ma-masa sih, salah orang!!" ucapnya yang raut wajah terheran-heran, hingga lagi-lagi untuk kedua kalinya ia harus mendapat tatapan intimidasi dari seorang gadis
"Aku benci dengan orang yang suka penyebar berita hoax, jadi kita sate saja dia sebagai ganjarannya!!" sinis Miya dengan tatapan layaknya pembunuh
"Heh.." batin tentara tersebut yang mati kata untuk berkata-kata, sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan wanita kanibalisme itu bersama temannya
"Permisi nona, sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah salah mengira tapi sepertinya saya banyak tugas, kalau begitu saya izin undur diri dulu" pamit tentara tersebut yang tergesa-gesa meninggal gadis jelita yang waktu itu terlihat lebih baikan disaat tahu kalau orang yang mereka kira Lian tenyata bukan
"Cup.. Cup... Yasudah mari kita cari lagi" ujar Miya dengan membekap tubuh Sina sambil menepuk pelan punggungnya
Ketika mereka mencoba untuk mencari Lian. Tanpa disangka ternyata Lian telah sadarkan diri walaupun pada saat itu ia berada dibawa tumpukan batu, tapi menurutnya itu sudah mujizat karena masih bisa hidup setelah semua yang dilaluinya
"Aduh-duh... Kenapa badan ku sakit semua!!" rintis Lian dengan tergeletak di tumpukan batu
Dan ketika ia sudah membuka mata, alangkah terkejutnya ia melihat banyak bata yang menimpa dirinya tapi beruntung karena ada pilar yang menahan batu besar hingga tidak menimpanya secara langsung tapi kerikil sudah menumpuk di tubuh Lian, sehingga Lian panik dengan wajah tak ada henti bercucur keringat dingin
"Sial, situasi macam apa ini!!" gerutu Lian yang terlihat sebisa mungkin untuk tidak panik dengan cara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan
Tidak bisa berbuat banyak karena kakinya sudah tertimpa batu cukup besar yang kemungkinan kakinya sudah patah dan itu sudah terjadi ketika ia berhadapan dengan Nicolaus atau lebih tepatnya Zhang Xuan karena tubuhnya telah di kendalikan secara langsung walaupun belum 100%
Walaupun tidak bisa berbuat banyak tapi setidaknya ia bisa mengontrol dirinya sendiri supaya tidak panik karena panik tidak akan hanya membuatnya kehabisan nafas tapi juga membuat goncangan terhadap gerak tubuh yang mulai memberontak panik dan itu sangat berbahaya nantinya
Beberapa saat ketika sedang menunggu bala bantuan, dirinya melihat ada cahaya yang mulai menerangi dari sela tumpukan batu sambil mengucapkan kata-kata lembut walaupun yang berkata adalah seorang pria
"Apa ada orang?, Jika ada tolong katakan jika tidak beri bunyi yang kami bisa dengar, agar kami tahu kalau didalam sini ada seseorang yang masih hidup!!" perintah tim penyelamat tersebut dengan sebisa mungkin mengeluarkan suaranya dari balik cela
Tentu saja Lian yang mendengar segera berkata dengan suara lirih, "Tolong.." teriaknya pelan karena tenggorokannya pada saat itu benar-benar kering dan lagi seluruh tenaganya sudah mencapai batas jadi pada waktu itu Lian sudah sakaratulmaut
"Tolong tuan tenang dulu, kami akan segera menyelamatkan anda dan sebisa mungkin untuk tidak panik karena tumpukan batu ini sudah sangat rawan jika bergerak sedikit saja mungkin bisa berakibat fatal"
Perkataan tersebut langsung diterima Lian tanpa bantahan sama sekali karena kejadian ini bukan kejadian pertama kali baginya sehingga sebisa mungkin dirinya menanggapi lawan bicaranya dengan berkata, "Baik, saya akan tunggu kalian!!" jawab Lian dengan nada yang sama seperti sebelumnya
Dan sesaat tidak terdengar lagi suara manusia di atas tumpukan kecuali suara langkah kaki yang perlahan mulai meninggalkan lokasinya, walau begitu Lian bisa menarik nafas lega karena sebentar lagi ia akan ditolong
Singkat waktu akhirnya datang tim penyelamat untuk kedua kalinya yang membuat Lian senang adalah usaha menunggunya tidak sia-sia, karena pada waktu itu batu yang berada di atas pilar segera dipinggirkan dengan berbagai alat ringan walaupun ada sebagai baru kecil yang menimpa tubuhnya
Sampai ada batu yang secara tidak sengaja terjatuh walaupun sudah tahu jatuhnya tapi Lian tidak bisa menghindar yang akhirnya kepalanya harus terbentur kerikil hingga mengeluarkan darah pada keningnya
"Aww... Kenapa sial banget nasib ku!!" batin Lian sambil menutup luka di kening dengan tangan sendiri
__ADS_1
Setelah di evakuasi akhirnya Lian dibawa ke camp menggunakan tandu militer yang letaknya tidak jauh dari lokasi sehingga tidak butuh waktu lama, Lian pun sampai di area camp karena pada waktu itu Lian pusing jadi ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak tapi siapa sangka
Ketika dua tentara yang membawa dirinya harus di halang oleh seorang gadis yang terlihat air mata mengalir di pipi chubby sambil berseru dengan kencang, "Kenapa dengan dia?!" tanyanya dengan nada lantang sehingga tentara yang membawa tandu menelan air liurnya karena terheran-heran
Karena mereka tidak tahu situas seperti apa yang harus mereka hadapi pada saat itu sementara Lian hanya menutup mata tanpa menggubris ocehan Sina bahkan ketika ia sedang bersikap tenang, harus mendengar kedatangan gadis lainnya dan itu merupakan masalah besar karena dia adalah Miya, yang kata-katanya penuh intimidasi
"Katakan kenapa dia!!!" tanya Miya dengan mata langsung membulat lebar seakan-akan menekan kalimatnya
"Ah.. Dia merupakan korban dari perang, nona" jawab salah satu tentara yang berhadapan langsung dengan wajah Miya
"Aku tahu itu tapi yang aku tanya adalah jelaskan kenapa dia bisa terluka di kepala dan kakinya?"
"Sebelum kami menemukan korban, kami melihat dirinya berada didasar tumpukan batu jadi luka ini bisa dibilang karena ia tertimpa batu"
Setelah mendengar ucapan tersebut seketika Sina langsung tersungkur ke tanah dengan derai air mata mulai berjatuhan, miya yang melihat hanya bisa jongkok dengan tinggi setara lalu membekap erat tubuh temannya, tentu saja tentara medis yang melihat langsung terheran-heran karena mereka belum memberi tahu kalau korban masih hidup
Akan tetapi sebelum mereka menanggapi, Lian telah dulu berbicara dengan tubuh masih tergeletak ditandu dan mata masih terpejam, "Kalian ini mengganggu tidurku tahu!!" serunya sampai membuat Sina dan Miya terbengong dengan suara yang tak asing tersebut
"Lian?!!" tampak Sina terkejut sekaligus tertegun sejenak dengan apa yang dirinya dengar dari suara orang yang paling ia suka yaitu Lian itu sendiri sehingga ia mengusap air matanya dan berdiri menghampiri tubuh Lian dengan cepat memeluknya
Akan tetapi lain cerita dengan miya yang waktu itu merasa dipermainkan oleh Lian, sehingga dengan tatapan pembunuh ia mulai lontarkan arah ke Lian walaupun tidak bisa berbuat macam-macam tapi wajahnya terlihat merah padam dengan terus mengumpat di dalam hati
"Dasar.. anak kurang ajar!!" Umpat Miya dalam hati yang wajahnya terlihat sangat kesal
Ketika itu Sina sangat terharu karena Lian masih hidup hingga detik ini dan itu merupakan sesuatu yang membuatnya bahagia walau luka yang di deritanya bukan sekedar luka biasa, karena setelah dibawa di tenda Lian mendapatkan perawatan secara intensif terutama di cedera kaki yang tidak bisa di jelaskan secara detail bagaimana hancurnya
Tapi beruntung kaki Lian masih bisa diselamatkan dengan proses pemulihan yang memakan banyak waktu yang menggunakan cara di gips dan selang infus yang tertanam di lengan, tentu disaat dirinya terbaring ditandu ia ditemani oleh seorang gadis cantik yaitu Sina tidak untuk Miya
Karena kejadian itu dirinya kesal dan tak ingin menjenguk Lian ataupun menemaninya ketika masa pemulihan.
Berbeda dengan Vera yang masih setia menunggu Putra dan ayahnya karena pada waktu itu mereka di rawat oleh Vera di satu tenda hingga mudah baginya untuk memantau keduanya, terlihat Vera yang terus mengusap keringat sang ayah karena terlihat koma dengan keadaan tak sadarkan diri
Sedangkan Putra yang perlahan mulai membuka matanya hanya bisa memperhatikan punggung Vera di samping kiri sebenarnya putra ingin memanggilnya namun tak ada tenaga untuk melakukannya, sehingga untuk sejenak ia cuman bisa memperhatikan gerak-gerik Vera
"Ver, maafin aku kalau sudah membuatmu cemas" batin Putra yang merasa bersalah tapi ketika masih meratap tanpa disengaja Vera menyadarinya dan segera memalingkan pandangan ke arah Putra dan tampak senang dirinya ketika melihat Putra sudah tersenyum tipis dihadapannya
Sehingga tanpa berfikir panjang ia memeluk Putra dengan erat sambil menangis haru tanpa ada suara, Putra yang dipeluk langsung membalasnya hingga mereka saling memeluk satu sama lain tanpa adanya suara kecuali isak tangisan kecil, setelah beberapa menit melepas tangisan
..
Vera perlahan melepas tangannya yang memeluk tubuh Putra sambil melontarkan satu pertanyaan kepadanya, "Putra, kamu baik-baik saja?" tanya Vera dengan lirih sambil mengusap air matanya
"Haha... Aku enggak apa-apa kok" jawab Putra sambil tersenyum tipis sehingga suasananya terasa sangat hangat dan tenang
Sampai mereka akhirnya bisa melupakan apa yang terjadi, walau hal buruk sudah membekas di hati dan meninggalkan trauma, asal semua masih bisa tersenyum bukankah hal tersebut akan hilang bersamanya.
*******
𝙃𝙖𝙡𝙡𝙤... 𝙏𝙚𝙢𝙖𝙣² 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚'𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖.
𝙎𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙩 𝙪𝙥𝙡𝙤𝙖𝙙, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙢𝙖𝙪 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝, 𝙮𝙖 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙤𝙧𝙚 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝
__ADS_1
𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣² 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙨𝙪𝙥𝙥𝙤𝙧𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝙘𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!