Fire And Water

Fire And Water
Cp 50# Pemberontakan


__ADS_3

Didepan pintu istana yang terdapat disebuah pulau atau letaknya yang berada didalam hutan dengan dijaga oleh dua tentara yang saat itu sedang menodongkan senjata kearah sepasang pemuda yang tidak lain Samuel dan Sofia, mereka datang hanya untuk memberi laporan kepada tuan Nikolaus tapi di tengah perjalanan mereka dihadang tentara yang sedang berjaga di depan gerbang


Dengan sigap dan teliti mereka mulai menganalisis dua pasangan tersebut, yang terbagi satu depan dan satu dibelakang untuk memastikan mereka agar tidak ada yang melawan ataupun berniat untuk memberontak, dengan bingung Samuel berkata kepada dua tentara tersebut dengan tegas, "Apa maksud semua ini?, apa kalian ingin melawan atasan!!" tegas Samuel dengan tangan masih berada di atas kepala


"Maafkan kami tuan, kami tidak tahu" balas tentara tersebut sambil menurunkan senjata


"Kalau begitu, kalian tentara baru disini?" tanya Samuel ikut menurunkan tangannya


"Iya, tuan" Jawab tentara tersebut yang kembali berjaga di pintu masuk sambil membuka pintu untuk Samuel dan sofia agar bisa masuk kedalam kerajaan namun sebelum masuk sekali lagi mereka membukukan tubuh untuk meminta maaf kepada atasannya


"Kalian Aku maafkan, lagian ini bukan salah kalian, jadi tidak masalah untukku" ucap Samuel sambil berjalan masuk kedalam kerajaan diikuti Sofia dari belakang


Kerajaan yang ditempati Nikolaus merupakan peninggalan kuno dari jaman yang tidak tahu sejak kapan namun yang pastinya kerajaan tersebut sudah berdiri sejak beberapa abad yang lalu, itu karena bangunan dan pilar sudah di tumbuhi tanaman merambat, bahkan ada beberapa sisi istana yang sudah retak maupun hancur Karena faktor usia


Kenapa Nikolaus memilih tempat tersebut sebagai markas itu karena tempat tersebut sering dibilang angker karena menurut keyakinan manusia, peninggalan kuno biasanya akan meninggalkan malapetaka bagi orang yang berkunjung tanpa ada hubungan darah dari pemilik atau pendiri bangunan kuno tersebut


Akibatnya banyak warga yang merasa takut untuk berkunjung Pulau tersebut yang pada akhirnya Pulau tersebut dijadikan sebagai tempat atau penanda dari perbatasan antara negara Mars dan Jupiter, pada akhirnya berdiri tanpa ada pengunjung membuat Nikolaus berminat menjadikan tempat tersebut sebagai markas persembunyian mawar hitam yang sekarang


Didalam istana Samuel tidak berkata-kata, karena dirinya sedang mengumpulkan mental untuk menghadapi bos besar nantinya, walaupun ia tidak tahu nanti akan pulang hidup atau mati, sofia sempat bertanya kepadanya, "Sam, Apa kamu masih takut untuk menghadapi mereka?!" tanya sofia dengan sedikit empati


"Aku tidak akan takut dengan hal yang beginian" balas Samuel tanpa ada ekspresi


"Sam" suara Sofia yang penuh dengan keraguan tentang ucapan yang keluar dari mulut Samuel


"Kamu tidak perlu takut karena aku akan menemanimu ke sana" sambung Sofia


"Apa!!, sebaiknya kamu jangan coba-coba dengan ucapan mu tadi seharusnya kamu tahu kalau tuan Nikolaus adalah mafia dingin yang suka membunuh tanpa pandang bulu" panik Samuel ketika mendengar perkataan Sofia


"Tidak, aku tidak bohong kepadamu"


"Kamu dengar sofia, jika kamu masuk kedalam singgasana kemungkinan kamu akan mati bersamaku tapi jika kamu tinggal disini kamu akan selamat tanpa ada luka" yakin Samuel


"Kenapa?, aku tidak takut" suara datar dari Sofia membuatnya terlihat seperti tidak merasa takut


"Sial, kamu dengar aku" Samuel menghentikan langkah kakinya dan memegang pipi Sofia sambil berkata dengan nada pelan agar tidak terdengar ke telinga orang lain


"Sofia, kamu dengar, aku khawatir denganmu jika kamu ikut denganku oleh karena itu sebaiknya kamu tidak ikut bersamaku"


"Tidak, itu sudah keputusanku" suara datar dari Sofia membuat Samuel kesal


"Kenapa kamu begitu ngeyel denganku?" ketus Samuel karena sudah lelah berdebat dengan Sofia


"Karena aku suka kamu"


"Hah!!" bingung Samuel dengan perkataan yang keluar dari mulut Sofia


"Iya, aku benar-benar suka sama kamu" balas Sofia tanpa ekspresi


"Kenapa kamu bisa suka padaku, perasaan tidak ada yang spesial dariku"


"Menurutmu seperti itu, tapi aku benar-benar suka sama kamu dan aku tidak tahu kenapa"


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita" jawab Samuel sambil membuang muka


"Kalau begitu kamu izinin, aku untuk ikut bersamamu?"


Dengan melepas telapak tangan yang saat itu berada di pipi Sofia dan berkata dengan malu-malu, "Mana mungkin aku izinin kamu untuk ikut bersama aku jika kamu sudah bilang seperti itu"


"Plisss, biarkan aku ikut denganmu, setidaknya biarkan cinta kita seperti kisah Romeo dan Juliet" ucap Sofia dengan memohon


"Ha,. Kenapa kamu keras kepala sih" hela nafas Samuel sambil melanjutkan perjalanannya untuk bergegas ke ruang singgasana dengan diikuti Sofia dari belakang


Setelah masuk keruang singgasana terlihat 2 orang pemuda berjas yang berada di altar singgasana antara lain Nikolaus yang duduk di kursi dan satu pemuda lagi bernama Joko yang berdiri di samping Nikolaus, mereka ditemani oleh tentara bersenjata yang saat itu berada di bawah altar dengan berbaris rapi


Kedatangan Samuel membuat joko dan Nikolaus terkejut, karena seingat mereka Samuel saat ini berada di medan pertempuran bersama gatot dan tentaranya


Dengan modal keberanian Samuel berjalan secara pelan untuk mendekati pemimpin besar dan berlutut di hadapan mereka dengan diikuti Sofia yang ada di samping kanan


Karena takut Samuel membuka mulutnya untuk berbicara kepada atasannya dengan berkata, "Tuan Nikolaus, saya ingin memberi laporan kepada Anda" suara Samuel dengan badan gemetar membuat dirinya berkeringat dingin membasahi area wajah


"Laporan apa itu?!" tanya Nikolaus dengan datar


"Pasukan yang dikirim untuk invasi pulau Mars berserta tuan gatot dan 2 pengikutnya telah tewas, akibat penyerangan balik dari manusia Es"


"Apa!!!,.. Jangan bilang Gatot sang pilar organisasi mati, jangan bercanda kamu Rian" Emosi sang bos besar membuat istana menggelegar

__ADS_1


Dan Untuk pertama kalinya bos besar masuk ke fase amarah, biasanya Nikolaus hanya marah biasa namun entah kenapa setelah mendengar kematian rekannya dia mengeluarkan seluruh amarahnya aura mulai terpancar dari tubuhnya, bahkan joko yang ada di sampingnya mundur beberapa langkah


Suara gertakan gigi dan mata intimidasi membuat Samuel tak mampu berkata-kata, "kawan, tenangkan dirimu, kalau begini kita tidak bisa menemukan jalan keluarnya" suara joko mencoba untuk menenangkan bos besar


Setelah mendengar ucapan tersebut Nikolaus mencoba untuk menenangkan diri agar semua dapat diselesaikan dengan Kepala dingin, hingga tidak lama kemudian tekanan dahsyat berlalu membuat nafas joko dan Samuel kembali normal, sementara Sofia hanya bisa menonton dari kejauhan besama dengan beberapa tentara yang lain


Kejadian itu terjadi ketika Nikolaus mengeluarkan tekanan dahsyat, karena kekuatannya terlalu besar membuat Sofia terpental ke belakang bersama dengan tentara yang berbaris, namun tidak dengan Samuel karena dia memiliki kemampuan gravitasi yang membuatnya tidak ikut terpental


Joko mulai merapikan jasnya dan kembali bertanya kepada samuel yang saat itu masih bertekuk lutut tanpa bergerak, "Aku ingin bertanya kepadamu Rian, siapa manusia Es yang kamu sebut tadi?" tanya Joko penuh selidik


"Tidak tahu tuan, karena kondisi lokasi saat itu malam hari jadinya saya tidak tahu siapa dia" balas samuel


"Kamu kira aku percaya dengan perkataan mu tadi, kalaupun lokasinya malam ataupun dia memiliki kekuatan yang kuat, sangat tidak mungkin dia bisa mengalahkan Gatot dengan mudah"


"Tidak tuan, saya melihat tuan Gatot bertarung dengan pria tersebut dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau dia dikalahkan olehnya seorang diri" balas samuel


"Tangkap dia!!!" perintah joko kepada tentara yang masih mengatur nafas di pintu masuk, tidak butuh waktu lama samuel telah diringkus dan ditodongkan senjata tanpa ada perlawanan karena dia tahu kalau dia melawan maka situasi akan semakin keruh


"Apa maksud dari semua ini, tuan Joko?!" bingung samuel dengan mengangkat tangan


"Kamu kira aku bodoh, sejak awal kamu bilang tidak mengetahui pria Es tersebut tapi kenapa tadi kamu bilang kalau kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri, jikapun lawannya seorang diri kenapa kamu tidak membantu bukannya kamu membawa timmu ke lokasi dan kemana 2 asistennya" ucap Joko hingga akhirnya samuel diam membisu


"Oleh karena itu bisa disimpulkan kalau Gotot mati, karena dia bertarung seorang diri sedangkan kamu adalah penghianat kami" sambung joko


"Tapi tuan, saya benar-ben-" sebelum ucapannya selesai, samuel telah lebih dulu di cekik oleh Nikolaus hingga tidak bisa berkata-kata


Sofia yang melihat segera berjalan untuk membantu namun ia kembali terpental karena untuk kedua kalinya Nikolaus mengeluarkan auranya hingga orang yang ada di sekitarnya terpental termasuk tentara yang meringkus Samuel


"Argh,.." Samuel yang tercekik mencoba untuk melawan namun tenaganya kalah jauh dengan Nikolaus, hingga ia hanya berfikir kalau dia sedang menunggu ajal saja


Sofia kembali berdiri dengan sisa tenaganya dan berusaha untuk menyelamatkan Samuel walaupun bukan tipe penyerang tapi dia akan terus mencoba agar dia bisa menyelamatkan Samuel karena itu janjinya


"Kawan, sebaiknya jangan kamu bunuh dia terlalu awal deh" ujar Joko sambil berjalan pelan ke arah Nikolaus


"Kenapa?"


"Karena kita belum mengetahui siapa saja teman dari pemberontak ini" balas joko


"Kamu terlalu lama bertindak, bukannya kita sudah mengetahui orangnya" geram Nikolaus membuat joko sedikit ketakutan


"Lalu, akan kita apakan mereka yang memiliki niat setengah ataupun sepenuh hati tersebut?!" tanya niko


"Tentu saja kita kasih ganjaran untuk mereka yang pernah melakukan pemberontakan terhadap kita, seperti orang setengah hati akan kita hukum supaya mereka tahu akibat dari melawan kita, dan untuk orang yang memiliki niat sepenuh hati sebaiknya langsung kita eksekusi, supaya orang lain tahu jika mereka berani melawan kita akan mendapat akibatnya"


"Apa kamu yakin kalau rencana tersebut akan berhasil?"


"Tentu saja, namun sebelum itu kamu lepaskan dulu cekikan mu karena rian bisa mati jika terlalu lama di posisi tesebut" panik joko karena melihat muka rian sudah memerah


"Baiklah" Nikolaus mulai melepas cengkeramannya agar Samuel dapat bernafas dengan normal


Dengan terbatuk-batuk Samuel mulai menyetabilkan nafas sambil memperhatikan sekeliling untuk memastikan keadaan


"Kalau begitu aku akan menurut kepadamu" ketus bos besar kembali ke kursi singgasana dengan raut wajah marah


"Kalau begitu, kalian semua tangkap dua remaja ini dan jebloskan mereka ke tahanan!!" perintah joko kepada tentaranya


"Baik, tuan" suara serentak dari tentara dengan raut wajah kesakitan karena mereka sudah dua kali terbanting lantai


Samuel dan Sofia tidak bisa melawan yang pada akhirnya hanya bisa pasrah dengan mengikuti kemauan tentara yaitu dibawa ke sel tahanan


Namun anehnya Joko tidak memasang ekspresi senang ataupun sedih seakan-akan semua itu sudah ia ketahui, "Akhirnya sampai pada tahap akhir, Putra aku menunggu kedatangan mu" batin joko sambil tersenyum aneh


Dibawah tanah terlihat sebuah lorong panjang yang hanya mengunakan obor sebagai penerang sel tahanan tidak hanya itu di sana juga terdapat banyak tahanan yang ditangkap Nikolaus dalam waktu dekat, diantaranya anak-anak, remaja bahkan orang tua sekalipun mereka ditangkap dan dikurung di dalam sana sampai bertahun-tahun


Samuel dan Sofia yang melihat orang-orang tersebut mulai teringat dengan penyiksaan yang di lakukan mawar hitam terhadapnya, bahkan Sofia sudah mengalami trauma parah dengan tempat tersebut, Samuel tahu apa yang dirasakan Sofia namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tahu jikapun dia bisa lolos tapi rencananya untuk mengalahkan mawar hitam semakin sulit


Tidak lama berjalan akhirnya Samuel dan Sofia dimasukkan kedalam sel yang masih kosong, mereka dikunci lalu ditinggal begitu saja, Samuel sudah tidak bisa melakukan apapun lagi karena melihat tangan di borgol dan sofia sudah ketakutan membuatnya merasa putus asa, rasa penyesalan selalu menghantuinya


Karena sudah membiarkan sofia ikut terlibat terlalu jauh sampai-sampai membuatnya harus mengingat traumanya kembali, menurut Samuel itu sudah merupakan suatu penyesalan seumur hidup, "Sofia, kamu harus tenang aku janji akan membebaskan mu dari sini" ujar Samuel sambil menyeret tulang ekor ke arah Sofia


Namun tidak ada respons dari sofia bahkan badannya masih gemetar ketakutan, kaki ditekuk dengan tangan yang mengunci seakan-akan dia sudah benar-benar ketakutan


Samuel mulai menenangkan sofia dengan cara meletakkan tangan yang diborgol keatas kepala dan tangan sedikit di gerakan dengan cara itu ia berharap kalau Sofia bisa sedikit tenang


"Sofia, maaf karena sudah melibatkan kamu hingga kesini" Gumam Samuel Dengan raut wajah sedih

__ADS_1


Sementara itu dilain tempat rian akhirnya sadar dari istirahatnya dengan di temani sonia yang saat itu sedang duduk di sampingnya dengan penasaran rian berkata, "Sonia, dimana Ari?, apa dia baik-baik saja" tanya rian dengan tubuh yang terbaring di ranjang


"Kamu tenang saja rian, dia baik-baik saja cuman sekarang masih dirawat di ruang sebelah"


"Syukurlah, kalau begitu bisa kamu antar aku ke sana?" tanya rian


"Tapi kondisimu masih belum stabil, apa sebaiknya jangan dulu"


"Tidak apa-apa kok, sekarang aku sudah baikan jadi tidak masalah kalau ruangannya dekat-dekat sini"


"Tapi"


"Sudahlah sonia, aku sudah baikan jadi tolong antar aku" ucap rian dengan memohon


Sonia yang melihat tatapan rian, kini hanya bisa menurut dan mengantarkannya keruangan ari mengunakan kursi roda yang sudah disiapkan pihak rumah sakit untuk pasien, dijalan menuju ruangan rian suka sekali komplen terhadap perkataan Sofia barusan, karena awalnya dia bilang hanya sebelahan namun tidak disangka ternyata harus turun tingkat mengunakan liv


"Sofia, tadi katamu hanya terhalang ruangan tapi kenapa sekarang malah terhalang lantai?!" tanya rian yang duduk di kursi roda


"Iya,. Maaf tadi kan maunya cuman menghalang kamu agar tidak memaksakan diri namun siapa sangka kalau kamu malah keras kepala"


"Lah!!, kenapa jadi aku yang salah" batin rian dengan wajah masam


Tidak lama berjalan akhirnya rian dan sonia sudah sampai di lantai bawah hingga mempercepat langkah untuk bergegas menuju ruangan ari, namun di depan ruangan mereka melihat Putra dan Vera yang sedang ngobrol dengan wajah serius, karena rasa penasaran Sofia mencoba untuk menguping pembicaraan mereka


Namun rencana menguping pun gagal karena rian telah lebih dulu memanggil nama putra, sampai-sampai keberadaannya sudah diketahui oleh mereka, "Yah,.. Gagal deh, semua ini gara-gara rian, kaya gak tahu insting wanita aja" batin Sofia sambil memasang muka cemberut


"Sedang apa kamu disini?!" tanya rian setelah dirinya dekat pintu masuk


"Tidak ada kok, hanya ngobrol bias saja tapi yang lebih penting itu bagaimana kondisimu sekarang?!" ucap Putra


"Sudah sedikit mendingan tapi aku tidak apa-apa, jadi bisalah kalau hanya sekedar menjenguk"


"Baguslah, kalau begitu mari kita masuk kedalam karena kamar Ari ada didalam jadi sebaiknya kita masuk untuk mengobrol bersama didalam" usul Putra yang mengajak rian masuk kedalam dan benar orang yang ada di dalam hanya terlihat Maya dan Ari, lalu 4 pasien yang tidak di kenal


"Kak vera, kak sonia, sejak kapan kalian bersama dan kak rian sudah bangun?!" bingung maya dengan banyak pertanyaan yang dilontarkannya


"Kami baru saja bertemu diluar dan Putra mengajak aku untuk masuk jadi aku nurut dan ikut bersamanya kedalam, tapi kamu tidak perlu khawatir karena kondisiku sudah membaik walaupun masih sedikit lemas" ujar Rian yang mewakili teman-temannya


"Oh,.. Baguslah kalau sepertinya itu, tapi aku mau mengucapkan terimakasih banget karena kalian mau datang menjenguk Aku dan Ari disini" ucap maya


"Tidak apa-apa kok, kitakan sudah seperti saudara sendiri jadi kamu tidak usah sungkan begitu" balas rian


Ketika suasana hening tiba-tiba Putra berkata kepada temannya, "Semuanya aku mau minta izin untuk pulang karena ada hal yang harus aku lakukan jadi aku dan vera ingin pamit pulang terlebih dahulu" suara Putra membuat suasana terfokuskan ke arahnya


"Kamu ingin ngapain pulang, Putra?!" suara Rian


"Iya benar, perasaan sekolah masih lama" suara sonia


"Apa ada hal yang serius sampai membuat kak Putra pulang cepat?" tanya maya


"Aku ingin melancarkan rencana berikutnya walaupun tanpa kalian tapi aku yakin kalau aku pasti bisa" balas putra


"Maksud kamu, langkah untuk melawan balik mawar hitam!!" tanya rian dengan nada sedikit terkejut


"Bisa dibilang seperti itu"


"Tapi itu terlalu berbahaya dan aku harap kamu urungkan niatmu untuk berangkat tanpa kami, apalagi tanpa Ari, aku tidak menjamin kamu bisa pulang dengan selamat!!" balas rian


"Kamu terlalu meremehkan aku, lagian aku tidak langsung berangkat untuk perang melawan mereka"


"Lalu??"


"Tentu saja ingin melakukan hal yang spektakuler dalam sejarah hidup, dan untuk berperang aku akan meluncur dalam 4 hari mendatang, jadi kalau semua sudah siap segera menyusul aku di sana" jawab putra dengan senyum


"Kenapa kamu ingin melakukan semua ini?" sambung pertanyaan dari sonia


"Aku tidak tahu, namun aku yakin suatu saat nanti akan mendapat jawabannya, kalau begitu aku dan vera pamit terlebih dahulu dan semuanya tolong jaga diri kalian baik-baik disini"


Kamu juga hati-hati di sana, ingat jangan gegabah dan tunggu bantuan kami datang"


"Oke"


"Kak Vera, kamu harus hati-hati di sana, maaf kalau aku tidak bisa janji untuk datang membantu karena aku masih harus menjaga Ari disini" ujar maya kembali berdiri dari kursi dan memeluk Vera dengan diikuti sonia dari samping


"Pesanku hanya satu, kita harus menghentikan mereka bagaimanapun caranya jadi, jangan paksakan dirimu untuk melakukan hal yang berbahaya seorang diri, dan ingat aku dan rian janji akan mengirim seluruh kekuatan kami untuk membantu kalian di sana"

__ADS_1


"Iya Nia, aku akan menunggu kalian di sana" balas Vera setelah selesai menyampaikan pesan, akhirnya putra dan Vera segera bergerak meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumah supaya mereka bisa menyiapkan barang dan berangkat secepatnya.


__ADS_2