
Dihari yang ingin menjelang siang, terlihat di camp tentara mawar hitam dua orang sepasang yang sedang berkeliling di tenda tentara sambil menyebut nama Samuel, orang itu tak lain adalah Lian dan Miya disaat mereka bangun ia mencoba untuk berdiskusi dengan Samuel namun disaat Lian hendak memanggil Samuel dengan terkejut dia mendapat perintah dari Nikolaus
Yaitu dimana seluruh tentara diperintahkan untuk berkumpul dilapangan hingga dengan terpaksa Lian membatalkan niatnya untuk berdiskusi dengan Samuel, akan tetapi disaat seluruh orang berkumpul, Lian sama sekali tidak melihat Samuel yang ikut berbaris namun Miya dan Sina ada disaat itu
Karena tidak ingin berfikir aneh-aneh ia hanya menduga kalau Samuel sedang menunggu Sofia yang saat ini masih diam tanpa berkata-kata, akan tetapi setelah ia tanya kepada Miya dan Sina seusai rapat umum tapi jawaban yang diberikan hanya tidak tahu, dan setelah Lian bertanya
"Apa Samuel tidak bersama Sofia ditenda?"
Namun balasan dari dua gadis tersebut hanya menggelengkan kepala dengan disertai Miya yang berbicara, "Tidak, kami tidak melihat Samuel dilapangan ataupun dikamar Sofia, bukanya kalian satu tenda?" tanya balik dari miya
Miya adalah gadis kuat dan baik walaupun sifatnya sedikit kasar namun dia adalah orang yang lemah lebut, bahkan setelah kehilangan Rudi yang merupakan temannya dia merasakan sedih yang amat terdalam setelah Samuel walaupun begitu Miya tidak pernah mengeluh akan takdir yang terus mempermainkannya menurutnya itu sudah menjadi jalan cerita bagi hidupnya
Lian yang mendengar jawaban dari miya kini malah pusing sendiri, hingga dia memutuskan untuk membagi tim yaitu Miya dan dirinya mencari Samuel didekat Camp sedangkan Sina ditugaskan untuk menjaga Sofia agar dia tidak merasa sendirian
Hingga siang menjelang mereka mencari namun tidak membuahkan hasil bahkan kini mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian dan memutuskan untuk balik ketenda Sofia, setelah sampai di tenda sofia
Disana telihat Sina yang mencoba untuk mengajak Sofia berkomunikasi dengan pelan hingga ucapannya di tanggapi oleh Sofia walaupun nadanya masih lemah
Sina yang melihat Kedatangan pasangan tersebut langsung berdiri dan melontarkan pertanyaan kepada mereka, "Apa kalian sudah menemukan Samuel?!" tanya Sina
Akan tetapi pertanyaan hanya dibalas dengan gelanggang kepala yang mendakan kalau hasil pencarian tidak membuahkan hasil, hingga suasana disana sangat amat sunyi untuk beberapa saat sebelum Miya dan Lian duduk bersama dengan Sofia
Tenda yang ditempati oleh Sofia berukuran Sedang dengan panjang beberapa meter, yang cukup untuk diisi oleh 6 gadis yang berasal dari tenaga medis, tenaga medis diisi oleh suber saya manusia yang sudah cukup tua sekitar berumur 30-36 tahunan, semua tu karena dipinggiran kota sangat susah untuk mencari warga yang berkualitas dan cerdas
Setelah duduk bersama Lian mulai membuka mulutnya yang berkata, "Sebenarnya dimana Samuel?!!" gerutu Lian dengan kesal
"Entahlah, dia menghilang bagaikan ditelan bumi saja" Balas Miya
"Sudah-sudah, dari pada kalian bertengkar lebih baik kalian pikiran dengan tanggapan Samuel disaat seperti ini" ujar Sina sambil membelai rambut Sofia yang ada disampingnya
"Kamu benar, sebaiknya kita pikiran jalan keluar dari masalah yang kita hadapi sekarang ini" ucap Miya
"Dimanapun kamu berada aku harap kamu baik-baik saja, sam" batin Lian
Sedangkan dilain tempat Samuel sudah dikelilingi oleh prajurit berarmor coklat dengan senjata di tangan mereka, dengan bingung Samuel berkata kepada mereka, "Apa-Apaan ini, kenapa aku seperti mau dieksekusi saja" ketus Samuel sambil mengamati sekitar dan setelah ia radar ternyata ada puluhan tentara yang ada di radius 50 meter khususnya 10 orang yang memantaunya secara bersamaan
"Maaf bukannya kami mau menyinggungmu, tapi ini untuk memastikan kalau kamu aman" ucap dari tentara yang ada dibelakang Samuel
"Eh,.." bingung Samuel dengan berdenging ditelinga
Tidak lama datang beberapa tentara yang tak lain di lengan mereka terikat kain putih mendakati dua korban yang telah mati tersebut
Tentara tersebut mendekatinya lalu berkata, "Kalian bisa menurunkan mayat tersebut" usul dari salah satu tentara yang diikat kain di lengan
"Baik" jawab serentak dari dua tentara yang menggendong mayat hingga tanpa pikir panjang mereka berdua menurunkan mayat secara perlahan ketanah, dan setelah dilihat oleh tentara medis tenyata ditubuh korban terdapat 7 sampai 8 peluru yang menancap ditubuh
Keadaan tersebut benar-benar memperhatinkan bahkan Samuel yang menatap hanya bisa merasa kasihan dengan korban akan tetapi yang lebih menarik perhatiannya adalah dua tentara yang menggendong korban tersebut
Rasa ingin tertawa ada dibenaknya karena armor mereka kini telah berubah warna menjadi merah akibat terkena noda darah yang masih segar, namun disaat Samuel ingin tertawa tiba-tiba tentara medis tersebut berkata kepada rekan yang berarmor merah tersebut
"Kalian sebaiknya segera mandi dan bersihkan noda darah tersebut, untuk baju ganti kami sudah menyiapkannya didalam kapal, jadi kalian bisa minta terlebih dulu disana"
"Baik" jawab serentak dari tentara yang berarmor darah
Setalah mereka pergi, entah kenapa Samuel kini merasa diabaikan bahkan keberadaannya tidak dilihat oleh tentara disana kecuali penembakan jitu yang sedang mengamatinya dari jauh
"Sial, kenapa aku dikacangi" batin Samuel yang merasa diabaikan
Hingga di suasana yang aneh tersebut datang seorang pria tua yang berbaju military dengan lengkap aksesorisnya, yang membuat tentara disana berdiri tegak dan memberi hormat kepada pria tua tersebut sambil berkata, "Selamat siang, Jendral!!" ucap serentak dari tentara yang ada disana tidak lupa memberi hormat kepadanya
Kecuali Samuel yang masih kebingungan, walaupun didalam hati dia mengupat orang tersebut dengan berkata, "Ternyata dia jendral dari mereka semua, kalau dilihat lagi, dia jauh lebih tua dari Nikolaus" kupat nya di dalam hati
Dengan badan kekar dan membawa sebuah pistol disaku celana, pria tersebut berkata kepada tentaranya dengan suara lantang, "Siapa dia?" tanya jendela kepada tentara yang baru menurunkan tangannya
"Dia adalah orang yang menyerahkan diri Pak, tapi katanya dia adalah salah satu dari pemimpin mereka" jawab salah satu tentara yang langsung menodongkan senjata kepada Samuel
Dengan tatapan intimidasi jendral tersebut selalu memperhatikannya dengan teliti dari ujung kepala hingga ujung kaki, sampai-sampai Samuel merinding sendiri, tatapan tersebut selalu tertuju kearah Samuel hingga datang segerombolan tentara dengan jumlah sekitar 7 orang, mereka datang untuk melaporkan hasil perang
"Lapor jendral, kami ingin melaporkan hasil perang kepada anda!!" ucap tentara yang memimpin rombongannya hingga jendral langsung menatap pria tersebut dengan cepat mereka memberi hormat dihadapan sang jendral
__ADS_1
"Apa laporan itu?!" tanya sang Jendral dengan tegas sambil memalingkan badan menghadap segerombolan tentara
"Pasukan kami berhasil melumpuhkan sayap kanan musuh, tapi sampai sekarang pasukan inti kita belum ada hasil dalam melumpuhkan benteng pertahanan, itu karena tank mereka adalah jenis tank yang kuat dan anti-peluru kecuali kita harus menggunakan bahan peledak itupun kami masih kesusahan untuk mendekat" lapor sang prajurit kepada jendral
"Kalau begitu untuk koordinat mereka apa kalian sudah dapat, jika kita sudah tahu lokasi mereka mungkin kita bisa meluncurkan meriam kapal"
"Siap Jendral, untuk sekarang kita belum dapat tapi kami akan berusaha untuk terus berusaha agar bisa mendapatkannya"
"Iya aku menunggu hasilnya" ucap sang Jendral sambil mengakhiri percakapan akan tetapi setelah percakapannya selesai kini ia malah kembali bertanya kepada Samuel dengan tatapan intimidasi
"Apa kamu tahu sesuatu tentang ini?!" tanya jendral
"Maksud anda apa ya?"
"Jangan pura-pura bodoh, jika kamu pemimpin kamu pasti tahu apa yang akan terjadi setelah ini"
Oh,.. Kalau masalah itu jelas aku tahu, tapi kalau aku bisa meminta, aku ingin kamu perintahkan agar tentara mu tidak terus-terusan menodong ku seperti ini kalau kaya gini aku malah merasa risih" keluh Samuel yang membuat sang Jendral sedikit jengkel
"Baiklah, TURUNKAN SENJATA KALIAN" teriak sang jendral yang membuat tentara menurunkan senjata disekitar maupun di atas kapal, kecuali penembakan jitu karena mau bagaimanapun jendral adalah prioritasnya
Semua gerakan dan lokasi tentara sudah Samuel ketahui itu karena radar angin yang membantunya jadi ia tahu dimana letak penembakan jitu tersebut berada dan setelah ia lacak ternyata ada dipucuk kapal dengan posisi jongkok dengan kamuflase berupa warna baju dan senjata yang disesuaikan dengan waran kapal dan jumlah ada 3 di setiap kapal yang berbeda
Walaupun tahu tapi Samuel tidak ingin memberi tahunya kepada jendral karena ia takut kalau jendral semakin was-was akan dirinya
Setelah semua senjata diturunkan, mulailah Samuel berkata dengan jelas dan gamblang kalau tempat berbicara dipindah ketempat yang lebih aman karena menurun dia di lapangan yang lapang ini akan terdeteksi oleh temannya
Hingga sang jendral yang mendengar seketika kupingnya menjadi panas dan kesal
"Maksudmu apa, apa kamu mau menantang ku" ucap sang Jendral dengan sedikit kesal
"Maaf saja untuk perkataan ku tadi , tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu akan statusku yaitu sebagai pemberontakan, dan jika aku ketahuan oleh tentara ataupun rekanku, maka akan berbahaya bagi posisiku apalagi di sana masih banyak teman dan rekan tentara yang ingin memberontak"
Setelah mendengar tersebut sang jendral hanya bisa menyipitkan mata dengan serius menatap mata Samuel, walaupun dicurigai namun perkataannya jauh lebih logis bagi sang pemberontakan, mau bagaimanapun jendral tetaplah jendral, itulah sebabnya dia diangkat dengan pangkat tertinggi, karena mau bagaimanapun dia sudah jauh lebih banyak dalam pengalaman mendidik ataupun interogasi musuh
Dan setelah ia lihat tatapan Samuel memang tidak ada hal yang mencurigakan dan dia tahu kalau kata-katanya adalah kejujuran bukan kebohongan hingga sang Jendral berkata kepada Samuel dengan sedikit tersenyum
"Tenyata kamu adalah orang yang jujur dan aku bangga dengan kamu karena sudah berani berkata dan berdiri di hadapan musuh mu sendiri" puji sang Jendral sambil menepuk-nepuk pundak Samuel
"Kalau begitu mari kita keruang rapat, letaknya tidak jauh hanya di atas kapal" sambung sang Jendral sambil berjalan lebih dulu dari Samuel
"Baik" jawab singkat Samuel dengan mengikuti langkah kaki Jendral
Setelah berjalan menaikan kapal mereka bergegas ke ruang kapal yang di sana sudah dijaga dua tentara yang tak lain adalah dika dan rekannya namun sebelum berjalan masuk Jendral bertanya kepada Samuel
"Kalau boleh tahu siapa nama kamu?" tanya Jendral sambil berjalan lebih dulu
"Kalau masalah itu anda bisa memanggil saya Rian" jawab Samuel yang menggunakan nama samaran namun ketika mereka masuk terlihat dika terkejut dengan perkataan Samuel walaupun tidak sengaja mendengar tapi dia tahu apa yang dikatakannya karena begitu jelas di kupingnya
"Rian, Apa dia orang yang dikatakan putra" batin dika sambil melihat Samuel dan Jendral memasuki ruang rapat yang ia jaga, walaupun dia ingin berbicara dengan rian terapi haknya hanya sebagai penjaga pintu rapat, jadi dia tidak diperbolehkan masuk ataupun ikut ngobrol bersama Jendral
"Kamu kenapa dik?, kok mukamu masam gitu" tanya rekan yang ada di sampingnya karena merasa ada yang aneh dengan dika
"Ah,.. Tidak ada kok, aku baik-baik saja" ngeles dika
"Oh,.. Baiklah"
Didalam ruang rapat terlihat meja persegi yang cukup besar dengan beberapa kursi tidak lupa sebuah layar besar yang warnanya putih hingga ruangan tersebut benar-benar terlihat seperti ruang rapat pada umumnya
Samuel duduk di satu meja namun letak kursinya berlawanan yang memudahkan jendral mudah melihat ekspresi Samuel
"Baiklah Rian, kalau boleh tahu bisa kamu ceritakan yang kamu ketahui tentang musuh kita?" tanya jendral dengan nada seperti polisi menginterogasi tahanan
"Oke, akan saya mulai dari penyerangan saat ini, sebenarnya ini baru awal dari perang, karena perang yang sesungguhnya akan terjadi di esok hari"
"Kenapa?!" tanya jendral dengan penasaran
"Bisa dibilang, besok kalian akan melihat Artileri, Tank berjumlah banyak, dan jet tempur milik pemberontak"
"Kenapa bisa begitu?!!"
__ADS_1
"Heh,.. Jadi kamu belum tahu pasokan sumber daya kami"
"Belum semua, karena informasi tentang kalian baru sedikit tapi yang aku tahu sekarang adalah kalian mengambil sumber daya manusia dari rakyat pinggiran yang ada di 5 negara berbeda, bukankah begitu?"
"Yap, kamu benar dan kami membeli senjata dari pasar gelap milik negara Scarlett" balasan dari Samuel
"Apa Scarlett!!!" kaget jendral hingga berdiri dari kursi
"Yah kamu benar"
"Tapi bagaimana bisa, dan dari mana kalian mendapatkan uang sedangkan organisasi ini tidak ada donaturnya?" tanya jendral dengan wajah heran
"Akan aku jelaskan, yang pertama negara maju adalah Scarlett, kedua negara kuat adalah Scarlett setelah negara Jupiter dan negara terkaya adalah Pluto sedangkan negara kaya sumber daya adalah Mars dan negara yang kekurangan sumber daya adalah Negara Scarlett, jadi bisa kamu disimpulkan hasil dari percakapan kita ini" jelas Samuel dengan disertai jari yang menghitung
"Tolong kamu jelaskan, siapa yang membangun Organisasi ini, karena tujuan kalian hampir mirip dengan organisasi Mawar Merah yaitu pemberontakan pada 10 tahun yang lalu"
"Hmm,.. Sebenarnya tidak sulit, tapi tapi aku harus menjelaskannya kepadamu tentang kami, jadi sebenarnya kami adalah organisasi yang dibentuk lagi setelah Mawar Merah dibubarkan oleh pemerintah Mars 10 tahun yang lalu, bisa dibilang gerakan Reformasi dari Mawar Merah dan tujuan kita sama yaitu mendominasi dunia"
"Lalu siapa yang membiayai kalian?"
Dengan senyuman Samuel berkata, "Kalian pasti sudah tahu dengan jawabannya bukan, yaitu musuh Mars pada Perang lalu yaitu negara Scarlett"
"Sial!!!" geram jendral hingga disaat itu juga dia meninju meja dengan keras sebelum kembali duduk ke kursinya
"Jadi kamu menyerang negara Pluto untuk mencuri sumber daya sekaligus mengacaukan perdagangan nasional" sambung jendral yang mencoba untuk tenang
"Ya kamu benar"
"Jadi benar, penghianat dunia adalah pemimpin negara Scarlett"
"Bisa dibilang begitu, tapi kamu tenang saja, karena aku sudah mengacaukan kekuatan milik organisasi Mawar hitam"
"Maksudmu?" bingung jendral
"Apa kamu ingat dengan kejadian dimana pulau pinggiran milik Mars di serang?"
"Tentu saja masih ingat, karena mau bagaimanapun itu adalah kejadian yang paling langkah" balas jendral
"Nah,.. disaat itu juga tentara yang mati hampir semua kekuatan milik organisasi, jadi bisa dibilang saat ini perang yang kalian dijalani hanya sisa-sisanya saja"
"Apa semua itu kamu yang melakukannya?"
"Tidak, bukan saya sendiri tapi tim saya ikut terlibat namun jika anda ingin menangkap kami tolong tangkap saya saja, karena mau bagaimanapun seorang pemimpinlah yang seharusnya menanggung kesalahan rekannya"
Setelah mendengar perkataan Rian, Sang jendral langsung tersenyum dan berkata, "Sebenarnya jika dilihat dari segi kemanusiaan kalian jelas salah, namun jika dari segi kebenaran seharusnya kalianlah yang benar, karena kalian mau menanggung dosa demi kebaikan banyak orang, jadi bisa dibilang kesalahanmu akan aku maafkan"
"Terimakasih banyak, jendral" balasan Samuel yang merasa lega
"Tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu!!"
"Tentang apa itu jendral?" tanya Samuel dengan kebingungan
"Kenapa kalian tidak mengajak bergabung dengan warga sipil di daerah pinggiran waktu itu, dan kenapa harus dibantai?" tanya jendral
"Kalau maslah itu saya kurang tahu, karena komandan kami waktu itu bukan saya tapi atasan saya yaitu pilar dari pendiri organisasi" balas Samuel dengan wajah sedikit bingung
"Oh,.. Begitu ya" jendral dengan menghela nafas berat
"Anda kenapa, jendral?" tanya Samuel
"Aku sedikit tidak menyangka saja, ternyata penghianat dunia adalah negara keamanan itu sendiri"
"Terkadang sesuatu yang kita anggap baik dan ramah terdapat sesuatu yang tidak kita sangka, itulah sebabnya kenapa kita diajarkan untuk tidak mengandalkan manusia"
"Kamu benar, tapi sejujurnya aku takut jika nanti akan terjadi lagi perang Dunia yang dulu pernah terjadi, karena perang tersebut sudah banyak membuat luka bagi kami para jendral yang pernah melaluinya" keluh jendral dengan wajah khawatir
"Aku tahu apa yang anda rasakan"
Disaat mereka saling bertukar cerita terlihat tentara negara yang terus menembaki tentara berbaju oren dengan penuh semangat namun tidak bar-bar, hingga tidak terasa prajurit Mawar hitam yang berada digaris depan sudah menipis akibat terus-terusan terkikis oleh kematian walaupun mereka berada didalam benteng pertahanan namun pengalaman mereka dalam berlatih masih kurang yang akhirnya harus mati dengan keadaan konyol.
__ADS_1
Setelah obrolan Samuel dan jendral usai, akhirnya sang Jendral langsung mengajak Samuel untuk pergi ke meja perang dan lagi-lagi Dika melihat orang yang bernama Rian tersebut berjalan keluar ruangan dan pergi menjauh darinya yang sekali lagi dia harus kehilangan kesempatan untuk ngobrol bersama dengannya.