
Matahari mulai menyingsing memberikan sedikit cahaya dengan sinar cakrawala yang memancar ke setiap benua, khususnya pulau perbatasan dimana seluruh pengungsi ataupun anggota militer sudah berkumpul menjadi satu untuk keberangkatan mereka ke negara tercinta, dengan satu kapal induk dan 2 kapal tempur telah tersiapkan, hanya saja menunggu intruksi dari kapten Yino
"Lama sekali,.. sudah berapa lama kita menunggu disini" keluh salah satu pengungsi yang berdiri di bibir pantai bersama yang lainnya. "Semunya mohon bersabar, karena kapten sadang melakukan pendataan ulang, supaya tidak terjadi kesalahan nantinya!!" sahut tentara dengan suara lantang sambil membawa senjatanya
Hingga seluruh warga mulai ricuh karena merasa bosan menunggu, apalagi mereka sudah disana pukul 5 pagi dini hari. Namun di sisi lain terlihat Ari berdiri jauh dari bibir pantai, seperti sedang mengasingkan diri lebih tepatnya di bawah pohon sambil duduk di rerumputan dengan menatap penduduk dengan mata kosong
"Kamu kenapa Ri?" tanya Putra. "Tidak ada" jawab singkat Ari dengan lesu
"Apa kamu masih kepikiran dengan ibumu?" tanya Putra lagi
"Ya, bisa dibilang seperti itu, karena dari semua orang yang ku lihat, tidak terdapat ibuku disana"
"Apa kamu merindukannya?"
"Tentu saja"
"Lalu apakah kamu masih mau melanjutkan pencarian?"
"Yah.."
"Kalau begitu berdiri, dan aku akan membantumu untuk mencarinya!!" sahut Putra sambil mengulurkan tangan
"Ck.. Terlalu banyak gaya" gumam Ari namun menerima sambutan tangan dari Putra dan akhirnya mereka sama-sama berdiri
"Perjalanan kita masih panjang, jadi tidak ada waktu untuk menyerah sekarang" ucap Putra sambil mengarahkan tinju ke ari
"Yah.. kamu benar" jawabnya sambil membalasnya dengan kepalan tinju sehingga mereka saling tosan namun versi kepalan tangan
"Aku akan terus menunggu mu!!"
"Oke, tapi kamu jangan sampai mati sebelum aku datang!!"
"Haha.. Kamu terlalu meremehkan ku" tawa kecil Putra dengan seyum sumringah
"Hmm.." balasan Ari dengan dehaman
Beberapa saat akhirnya mereka mulai meluncurkan kapal setelah menunggu sampai 3 jam lebih, untuk Ari dan penduduk, mereka menaiki kapal induk dengan dikawal kapal tempur, sedangkan kelompok Putra pergi ke Jupiter dengan satu kapal tempur, tentunya bersama jendral Rino dan beberapa awak kapal
Selama perjalanan tidak ada yang aneh atupun hambatan sehingga mereka bisa sampai lokasi dengan selamat. Sementara itu dipulau perbatasan, terlihat sebuah portal dengan aura hitam pekat, yang berbentuk pusaran angin sehingga beberapa saat keluar lima orang misterius dengan jubah hitam dan tudung kepala
"Disini, sangat sepi?" gumamnya dengan nada berat
"Sepertinya kita telat, tuan!!" jawab salah seorang dengan menundukkan kepala serta tubuh diikuti oleh 3 temannya
"Kemana mereka? dan sudah berapa hari mereka meninggalkan pulau ini?"
"Jika diprediksi sudah 2 hari yang lalu, tuan"
"Hmmm.... Berarti kita yang terlalu bersantai"
"Tapi tuan, sepertinya tujuan mereka ada di negara Jupiter"
"Kenapa kesana?"
"Ada kemungkinan kalau negara itu masih dikategorikan zona kuning, sedangkan negara mars sudah hampir terbakar oleh api"
"Tidak masuk akal" gumamnya setelah itu salah satu anak buahnya kembali berkata namun beda orang. "Jika diperkirakan, mungkin ada rancangan lain yang sedang mereka rencanakan"
"Kenapa? Kamu prasangka seperti itu?"
"Lantas kenapa mereka semua harus ke negara Jupiter, padahal kedua negara ini sedang masa-masa genting"
__ADS_1
"Jadi kesimpulannya?"
"Saya hanya menduga, kalau mereka punya seluk-beluk lain"
"Jangan bertele-tele"
"Mungkin mereka ingin menghancurkan gerbang cabang, atau mungkin ingin bertemu dengan pria petir itu!!"
"Hah?" bingung sang tuan
"Maafkan hamba jika saya lancang tuan, hanya saja ada kemungkinan kalau seperti seperti itu, karena diantara mereka sudah ada yang tahu 70% tentang kita!!"
"Joko?" gumamnya
"Yah... Ada kemungkinan kalau opini saya benar, karena hanya dia seorang yang tahu tentang rencana kita!!"
"Buka portal menuju, pelabuhan Jupiter!!" perintahnya dengan tegas
"Jangan-jangan?!" bingungnya yang berkeringat. "Yah.. Kalau itu mau mereka terpaksa aku sendiri yang akan memporak-porandakan negara tersebut!!"
"Baik tuan!!" jawab serentak dari keempat pengawalnya kemudian salah satu dari mereka mulai menjulurkan tangan sambil mengucapkan mantra, sehingga muncul sebuah kabut yang berputar secara cepat, hanya saja bentuknya sangat kecil, jika ingin dibandingkan dengan angin beliung
"Silahkan tuan" jawabnya dari pengawal yang membuat portal kemudian kembali menunduk ngikutin ke tiga temannya. "Hehe... Aku datang" senyuman sinis yang langsung menyeringai sambil berjalan memasuki portal berbentuk pusaran angin
Tanpa Putra sadari ternyata mereka sudah sangat berbahaya dimana Zhang Xuan mulai menargetkan mereka sebagai sasaran utama, namun dibalik bahaya itu akhirnya Putra dan yang lainnya baru sampai di pelabuan Jupiter, bahkan kesan pertama yang terlihat sangat jauh lebih menegangkan dari apa yang dirinya bayangkan
Karena tentara dengan jumlah banyak mulai mendiami daratan pinggir pantai dengan membangun Bunker dan Land Fort, sebagai tanda dari darurat militer level 3, bahkan banyak penduduk yang telah mengungsi ke kota pusat sehingga daerah pantai sudah tidak terlihat penduduk
Sampai-sampai ketika Putra dan kelompoknya tiba, mereka langsung mendapat sambutan dengan posisi siaga dan itu sudah termasuk beruntung, karena jika tentara Jupiter tidak melihat bendera Mars, mungkin kapal mereka sudah diterjang peluru meriam sebelum sampai daratan
"Angkat tangan kalian!!!,... dan letakkan dibelakang kepala!!" perintah dari seseorang namun lewat sirene sehingga suaranya begitu jelas di telinga Putra dan lainnya
Tetapi sebelum Putra turun dari kapal tempur untuk menemui tentara Jupiter terlihat dirinya menggengam sebuah kalung yang berlambang hati dan benar saja, Putra mulai mengingat kejadian dimana dirinya mulai melakukan salam perpisahan dengan Vera lebih tepatnya 2 hari yang lalu. Yaitu disebuh pesisir pantai sebelum mereka masuk ke dalam kapal sesuai dengan jurusan masing-masing
"Oke.. Kamu tenang saja!!" jawab Putra sambil senyum merekah dengan menatap vera dengan lekat
"Hihi..." balasannya justru malah tawa kecil dengan wajah imut sehingga memberi kesan begitu cantik dimata Putra, sampai-sampai pipinya merona setelah melihat tawanya
"Gila,.. Imut banget!!" goncangan hati Putra dalam batinnya, namun seketika Putra kembali fokus ke Vera karena waktu itu ia melepas sebuah kalung dari lehernya
"Ini..." sahut Vera dengan memberikan sebuah kalung dari tangannya
"Apa ini?"
"Ini merupakan kalung pemberian dari papa ku, ketika ulang tahun yang ke-6"
"Kenapa diberikan kepada ku?" bingung Putra
"Tentu saja, buat jimat"
"Hah?"
"Terima saja kenapa sih, dasar gak peka" balasan Vera dengan emosi yang langsung memberikan secara instan ke tangan putra
"Pokoknya bawa kalung ini, dan tolong kembalikan lagi ke tangan pemiliknya yah" sambung Vera langsung pergi meninggalkan Putra ditempat menuju kapal induk karena disana sudah sembari menunggu kedatangannya
"Kok aku bingung sendiri yah?" gumam Putra sambil menatap kepergian Vera menuju kapal.
**
Kembali ke masa kini dimana Putra sudah turun dari kapal mengunakan kalung yang dikenakan dilehernya dengan diikuti yang lain, terutama awak kapal dan serdadu dari jenderal Rino, sesampainya mereka di sana tanpa istirahat Putra dan yang lainnya langsung di karantina dan jenderal Rino diminta untuk memberikan penjelasan terhadap situasi perang maupun saat ini
__ADS_1
Disalah satu rumah warga namun saat ini sudah menjadi area militer, membuat bangunan tersebut sudah menjadi tempat karantina, sehingga Putra dan teman-teman dikumpulkan dalam satu atap dengan pintu dijaga ketat oleh tentara maupun mobil armor yang selalu stay di depan rumah
Terlihat dua sepasang remaja yang hadapan-hadapan di dapur sambil bercakap ringan. "Kenapa kamu tetap ngotot mau ikut dengan ku?" seru Andrian kepada sonia dengan nada sedikit tinggi. "Tentu saja untuk membantu mu!!" balasan dari sonia dengan tegas
"Setidaknya kamu harus tahu kalau kemampuan mu, tidak dibutuhkan disini?"
"Tetapi aku bisa membantu kalian walaupun lewat pikiran, karena pikiran merupakan hal yang tidak bisa dijangkau manusia, sedangkan kamu sendiri hanya hipnotis dan itu butuh jarak dekat, apakah itu berguna disini, jika di sekolah anggap saja itu berguna tapi ini berbeda" pembalasan Sonia dengan penuh penekanan dari kalimatnya
"Kok malah aku yang dipojokan!!" batin Andrian dengan kebingungan
"Kenapa diam?"
"Ck.. Dasar keras kepala!!" gerutu rian dengan berjalan ke ruang tamu, dimana seluruh orang sudah berkumpul
"Humm.." Sonia langsung cemberut menatap kepergian Rian
Diruang tamu seluruh orang duduk disofa yang saling menatap dengan pandangan serius seperti hewan predator, sampai Krise memecahkan suasana yang hening tersebut dengan kalimat opininya. "Apa bagus jika kita tinggal disini terlalu lama, kalau menurut ku sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sebelum musuh tahu keberadaan kita"
"Benar apa katamu kak, tapi hal tersebut tidak mudah" sahut putra. "Ditambah penjaga disini terlalu ketat" timpal lagi dari Putra untuk memperjelas
"Sebisa mungkin kita harus pergi dari sini" sambung Rico, tanpa disangka-sangka ternyata teman rian telah mengikutinya sampai sejauh ini, dan itu bukan hanya bermodalkan nekat tapi keberanian dan tanggung jawab yang sudah ia pikul semenjak mendapatkan kekuatan spesial
"Kalau begitu mari susun rencana!!" sahut miya dengan terapan intens, setelah berdiskusi cukup panjang lebar akhirnya mereka mulai menjalankan rencana tersebut dengan begitu hati-hati supaya tidak ada kesalahan sedikitpun
Dimulai dari Andrian keluar rumah sehingga menarik perhatian sang penjaga untuk menghadangnya. "Kamu mau kemana?!" tanya salah satu dari penjaga dengan senjatanya sampai Andrian menjawab sedikit gugup untuk tidak terkesan mencurigakan
"Saya mau bertemu dengan jenderal Rino" jawabnya dengan berpura-pura panik. Sehingga dua penjaga itu saling bertukar pandangan sebelum salah satu dari mereka berkata. "Tidak bisa, karena dia sedang sibuk!!"
"Tapi ini mendesak jika tidak tempat ini pasti akan diserbu" jawaban dari Rian sangat berdampak bagi prajurit penjaga, bagaimana tidak dari tampangnya tampak sekali mereka mulai gelisah dan takut akan serangan yang baru saja diucap oleh rian
"Jangan bercanda!!" ucap salah satu dari mereka
"Memangnya masih ada waktu untuk bercanda di situasi seperti ini" sekali lagi mereka saling berpandangan kemudian salah satu dari mereka kembali berkata. "Baik, tunggu disini!!" ucapnya kemudian pergi meninggalkan rian dan rekannya
"Huh.. Tunggu sebentar, rekan saya akan kembali nanti besama dengan jenderal Rino"
"Baik" jawab singkat Rian kemudian memegang pundak tentara tersebut sambil tersenyum sinis. "Maafkan aku, pak" gumam Rian, yang melihat tentara yang dipegangnya telah terbujur kaku sambil memperlihatkan tatapan kosong
Kemudian Rian memperhatikan sekitar untuk melihat situasi dengan seksama sambil memegangi pundak prajurit dan mengintip dari balik tubuhnya, diluar dugaan ternyata sudah banyak prajurit yang diperketat di area karantina, yaitu satu mobil armor dan 12 orang tentara
"Kalau gini sepertinya akan sulit" gerutu Rian dengan menggertak gigi
Namun bukan berarti tidak ada cara, bukan Rian jika masalah seperti ini tidak bisa ia tangani, pertama-tama Rian mengunakan tubuh yang telah hipnotis tersebut ke arah kerumunan tentara, dengan cara belari tergesa-gesa, kemudian setelah sampai dengan cepat prajurit tersebut mengeluarkan sebuah granat dengan pikiran yang telah di perintah oleh Rian yaitu dari armor tentara tersebut
Hingga teman-temannya tampak sangat bingung sampai melihat cincin boom ditarik, "Apa yang kau lakukan!!" teriak tentara dari salah satu kerumunan kemudian berlari kebelakang mobil untuk mencapai tempat persembunyian
Karena sudah seperti itu prajurit yang terhipnotis langsung melemparkan boom tersebut ke arah berlawanan dari teman-temannya, lebih tepatnya ke arah Rian berdiri hanya saja masih berjarak cukup jauh sehingga tidak terkena dampak dari ledakannya
Duar....
Ledakan dari granat membuat suara bising yang cukup keras, disertai dengan asap yang berngebu-ngebu sehingga jarak pandang terhalang oleh butiran debu
"Keluar!!!" teriak Rian dari balik pintu sehingga keluar semua orang-orang yang ada didalam dan mengikuti Rian berlari meninggal rumah karantina tersebut
Karena kejadian itu mereka tampak sangat senang karena rencana Miya bisa berjalan lancar walaupun dengan hasil kerja Rian seorang diri, karena sudah demikian mereka kini langsung berjalan ke perbatasan sebelah selatan Jupiter karena disana terdapat sebuah gerbang dan akan dihancurkan oleh Putra dan yang lain
Dengan begitu maka akan menghambat kekuatan Zhang xuan nantinya, begitulah informasi dari sumbernya antara lain Krise, yaitu kakak Putra akan tetapi kepergian mereka justru malah menjadi mala-petaka untuk camp militer di perbatasan laut Jupiter, karena setelah mereka pergi semua tentara dibantai oleh Zhang xuan secara membabi buta tanpa panda bulu sehingga siang itu perbatasan telah menjadi lautan darah
********
Hai.. Teman-teman sepertinya cerita author tidak akan bertahan lama, karena di akhir-akhir ini alurnya suka buntu dan kadang author suka kehabisan ide untuk mengulur jalan ceritanya, supaya awet akan tetapi alhasil sekarang malah ruwet sendiri kalau mau bertahan mungkin hanya 10 eps lagi tetapi kalau ingin di perpanjangan, maka alurnya akan author rombang dan itu adalah hal yang tak diinginkan saya.
__ADS_1
Karena saya membuat cerita ini dengan tema membalas dendam bukan drama sedangkan genre romantis hanya untuk pelengkap cerita agar membuat cerita asik, akan tetapi siapa sangka justru author malah terjebak didalamnya, dan rencana author ingin tamat tidak lebih dari 100 episode tetapi malah kelebihan
Jadi informasi ini mungkin akan sedikit mengecewakan kalian, tetapi beginilah jadinya jika tema balas dendam di kombinasi dengan drama percintaan yang ujung-ujungnya malah abu-radul, tetapi untuk kedepannya author akan membuat karya kedua dengan tema BERTAHAN HIDUP jadi di tunggu aja infonya lebih lanjut di akhir cerita.