
Dibawah Rembulan terlihat putra dan para tentara yang sedang berkumpul dan menodongkan senjata ke arah timur dalam bentuk formasi, sedangkan untuk pasukan P.A.U, mereka sudah ready di lapangan penerbangan, karena mereka akan ditugaskan menjadi penyerang udara
Dan untuk pasukan Elite, mereka sudah ditugaskan di garda depan, karena kemampuan dalam bidang taktik membuat mereka mengawasi musuh diperjalanan, dan jika ada peluang mereka akan memanfaatkannya untuk menculik salah satu tentara musuh
Di garis terkahir atau di tenda medis sudah terlihat vera yang bersiap, ayahnya saat itu berada di pasukan pertahanan inti bersama jendral armin, sedangkan untuk putra ia sudah berada di garis depan bersama pasukan Elite untuk memantau gerakan musuh
Di suatu tempat yaitu di lembah hutan terlihat putra bersama salah satu tentara memantau dari kejauhan yang saat itu terlihat hanya tentara berjumlah ratusan, dan untuk bebannya hanya sebuah meriam Artileri, namun syukurnya ialah pasukan mereka memakai baju berbeda dengan pasukan ayah vera
Pasukan mawar hitam mengunakan baju oren dan untuk tentara di pihaknya mengunakan berbaju hitam, jadi putra bisa membedakannya dengan mudah, "hey,. Paman sekarang kita harus apa?" tanya putra kepada salah satu tentara Elite yang bersamanya
"Untuk Saat ini sebaiknya kita pantau dulu dan tunggu sampai ada perintah dari jendral armin" balasannya sambil mengunakan teleskop
"Okelah, aku akan mengikuti kalian saja" ketus putra yang sebenarnya paling malas jika harus menunggu
Hingga entah apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah selatan, putra saat itu sangat kaget dengan serangan dari arah yang berbeda, karena menurut jendral armin mereka akan menyerang dari timur dikarenakan sangat dekat dengan tujuan
Namun seketika terpikirkan oleh putra dengan geografi daerah ini, jika mereka menyerang dari timur kemungkinan mereka akan sampai lebih cepat namun daerah timur adalah daerah Lembah jadi sangat merugikan untuk musuh menyerang dari arah timur,
namun sebaliknya jika mereka menyerang dari arah selatan, Walaupun mereka akan sampai lebih lama, namun letaknya berada di atas bukit jadi sangat menguntungkan bagi musuh
"Sial,.. Jadi memang benar kekhawatiran aku selama ini, sebenarnya jendral armin adalah penghianat" batin putra yang langsung berlari ke arah markas untuk memeriksa keadaan markas
Di markas dengan amat terkejut mereka mendapat serang dari meriam yang mengakibatkan ledakan besar, dan disaat itu juga formasi yang siapkan jendral armin kini menjadi terpecah belah
πΏπͺππ§...
πΏπͺππ§...
Suara ledakan dari dalam markas membuat ratusan tentara mati, awalnya seluruh tentara sangat terkejut dengan apa yang terjadi, "kenapa mereka bisa tau titik kelemahan kita" teriak salah satu tentara yang akhirnya mati meledak
Dari kejauhan ayah vera sangat terkejut dengan serangan dari arah selatan, karena jendral armin telah menyuruh tentara agar memperkuat pertahanan timur saja tidak dengan pertahanan yang lain
"Jendral armin, apa maksud dari semua ini kamu bilang kalau tentara musuh hanya akan menyerang dari arah Tim-" sebelum ayah vera menyelesaikan kata-katanya ia telah lebih dahulu di cekik oleh armin
Agha,..
"Aku akui kalau kau adalah orang paling bodoh yang pernah aku kenal ππππ‘" ucap armin yang seketika berubah menjadi orang lain
"Kau Key, salah satu anggota mawar hitam, bagaimana mungkin kau bisa masuk ke dalam sini, harusnya aku mengetahui keberadaan mu, karena
kemampuanku adalah mencium bau manusia" bingung Ziel dengan berusaha untuk melepaskan tangan key yang mencengkram lehernya
"Tentu saja, sebelum aku datang kemari aku telah membunuh jendral armin, dan mengambil darahnya untuk mengelabui indra penciuman mu"
disaat itu ayah Vera sangat kaget sekaligus bingung dengan keadaannya "Sekarang aku harus gimana? posisiku saat ini tidak memungkinkan untuk memangil tentara" Gumam ayah vera
Key adalah salah satu anggota mawar hitam, kemampuannya adalah untuk meniru wujud orang lain, dengan syarat ia harus meminum darah dari orang yang ingin ditiru, semua rencana itu berawal dari 2 hari sebelumnya
Di sebuah markas yang besar layaknya kastil terlihat dua orang berjas hitam, namun salah satu dari Mereka memberi hormat dengan berlutut di hadapannya
"Dengan hormat saya ingin bertanya kepada anda, sebenarnya apa tujuan anda memanggil saya kemari? Tanya key dalam posisi berlutut dihadapkan pria berjas sambil memegang secangkir teh
" key, aku hanya ingin memberimu misi"
"Dengan senang hati akan saya Terima, tidak perduli
Apapun resikonya" balas key
"Sabotase tentara ziel, apapun caranya buat dia kalah dari kita" perintah bos besar key dengan mengeluarkan aura pembunuh
Saat itu key sangat amat takut dengan aura miliki tuannya, hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar ketakutan, "Baik tuan, akan saya laksanakan" balas key dengan badan yang tak berhenti bergetar
__ADS_1
"Bagus kalau begitu, aku serahkan seluruh pasukan padamu, tapi pastikan kalau harta milik ziel tidak hangus karena tujuanku adalah untuk menjarah hartanya"
"Baik tuan, dengan bertaruh nyawa saya sendiri saya pastikan kalau tugas ini akan berhasil" balas key yang langsung meninggalkan tuannya
"***"
Disisi lain putra keluar dari lembah dan segera menuju Markas, bahkan dari tempatnya berada sudah ada kobaran api besar yang membakar tembok markas, "Sial, kalau seperti ini bisa-bisa aku bisa terlambat sampai!!" Gumam putra sambil terus berlari
Seketika muncul dibenaknya untuk menggunakan apinya agar bisa sampai lebih cepat, Walaupun putra tidak mahir dalam menggunakan api, maka akan ia coba dengan mendorong tubuhnya mengunakan ledakan api
πΏπͺππ§...
Suara ledakan dari tanah akibat putra mengarahkan apinya ke tanah, walaupun ia bisa terbang dengan bantuan ledakan namun itu tidak membuatnya sampai lebih cepat karena efeknya hanya beberapa meter
Namun kegagalannya tidak membuatnya mudur, kini ia mencoba mengunakan ledakan tersebut dari kaki dan tangan di arahkan kebelakang, dengan serentak putra murid meledakkan api di kaki dan mendorongnya mengunakan semburan api dari tangan, hingga putra bisa mengontrol apinya yaitu memanfaatkannya untuk menjadi kecepatan melangkah
Tak lama dirinya telah sampai di depan markas, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat tumpukan mayat bergeletakan di tanah, "apa maksud semua ini?! Gumam putra dengan mencoba menahan muntah
"Aku tidak boleh tertunda disini, sekarang yang harus aku lakukan adalah segera menuju pertahanan pusat, karena di sana ada ayah Vera dan jendral gadungan, aku khawatir kalau ayah Vera akan dilukai olehnya" hanya itu yang ada dibenak Putra sebelum ia melanjutkan perjalanannya
Di camp medis atau garis terakhir, terlihat Vera kini sangat cemas akibat mengetahui kalau markas pertahanan sudah terbobol oleh meriam artileri, dan kerena itu juga sudah banyak korban yang berjatuhan mulai dari luka ringan, luka berat, bahkan kematian sudah menumpuk di markas medis
"Nona vera, sebaiknya anda bersembunyi saja karena saya sangat khawatir dengan keselamatan anda" ucap salah satu suster yang mengunakan helm tentara menghampiri vera dengan wajah cemas
"Terimakasih atas perhatiannya, tapi saya lebih tenang jika berada disini karena disini tidak hanya papaku saja namun Putra juga ikut serta dalam perang, jadi alangkah baiknya aku terus memantau dari belakang" balas vera sambil memandang ke arah timur dimana markas pusat berada
"Baiklah nona, tapi jangan membahayakan diri anda karena bukan hanya melindungi negeri ini melainkan
melindungi nona juga adalah prioritas kita" ujar suster tersebut yang langsung meninggalkan vera
Tiba-tiba ada salah satu tentara yang berlari menuju vera dengan badan penuh luka, "Gawat,.. tentara musuh telah mendekati Gerbang selatan" teriak tentara tersebut sebelum terjatuh ke tanah
Vera yang saat itu melihat tentara itu terjatuh segera memberi pertolongan pertama, untungnya tentara tersebut hanya mengalami luka ringan, yang membuatnya terbangun sebelum ia benar-benar pingsan
"Iya, nona namun untungnya tentara kita tidak benar- benar, musnah kerena yang ada di tembok Selatan hanya beberapa ratus orang saja"
"Baguslah, sekarang kita harus bagaimana agar semua tentara tau kalau kita mendapat serangan dari selatan?!" tanya Vera
"Sekarang nona pergi dimana tuan Ziel berada, karena hanya dia yang memegang alat kendali tentara, mungkin dengan alat itu kita bisa menghubungi seluruh tentara yang ada"
"Okelah kalau begitu, kamu sebaiknya berjalan saja ke camp, apa masih bisa berjalan?"
"Nona tenang saja, karena mau bagaimanapun aku adalah seorang tentara, dan tentara asli tidak akan Gentar dengan luka seperti ini" balas tentara tersebut yang berusaha berdiri dengan bantuan Vera
"Baiklah aku pergi, aku harap kamu selalu disertai tuhan di manapun berada" balas Vera dengan mengunakan kemampuannya agar bisa melangkah dengan cepat
Sementara Putra yang dari tadi terus berlari, kini tiba-tiba mendapat serangan dari arah lain, namun karena Putra sadar dirinya dengan cepat menghindari serangan tersebut
πΏπͺππ§...
"Cih,.. Tidak kena" ketus pria tersebut dengan mengunakan sarung tangan tinju
Putra saat itu juga sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, karena siapa sangka kalau serangan pria tersebut membuat dampak ledakan di tanah, "parah nih anak, baru datang udah mau bunuh orang aja" pikir putra yang langsung mengambil posisi kuda-kuda
"Wah.. aku gak nyangka kalau ada orang yang berani duel 1v1 denganku" ucap pria tersebut dengan tawa kecil di mulutnya
Bacot loh, kamu kira aku mau berantem sama orang, aku juga males tapi mana mungkin orang sepertimu mau membiarkan aku pergi begitu saja" bentak putra dengan kesal
"Oh,.. kalau begitu aku akan memberimu pelajaran agar kamu tau yang namanya sopan santun" ucap pria tersebut yang melesat ke arah putra dengan tinju mengarahkan ke putra
Namun seketika terdengar ledakan besar, karena adu tinju antara putra dan pria tersebut, "apa!! bagaimana bisa? Bingung pria tersebut karena tinjunya dapat ditahan
__ADS_1
"Hah!! kau kira aku bodoh mau bagaimanapun aku juga pernah melawan orang sepertimu" balas putra dengan mengeluarkan api ditangan lalu mencoba menyerang mengunakan tangan kiri
Namun karena lawannya juga sigap, akhirnya putra dan pria tersebut bertarung tinju, terkadang putra juga mendapat berbagai serangan karena kurangnya pengalaman bertarung, Hingga sampai disaat putra mendapat serangan berupa tendangan dari pria tersebut
"Argh..." Teriak putra yang terpental 5 meter dari tempatnya, namun untungnya disaat terakhir ia sempat mengunakan tangannya untuk menahan serangan pria tersebut
"Haha,.. Bagaimana nak, sekarang kamu sudah tau perbedaan diantara kita" tawa pria itu dengan nada meremehkan
Putra saat itu sudah terluka di badan, akibatnya ia hanya bisa bergerak dengan terbatas, karena setiap kali ia menggerakkan maka lukanya akan semakin terbuka, "Sial, semua ini karena aku terpental ke puing-puing bangunan jadinya dapat luka serius" Gumam putra dengan memegang lengannya yang terluka
Tak lama berdiam diri, tiba-tiba Vera datang sambil Memanggil namanya, "Putra, kamu tidak apa-apa" ucap Vera sebelum sadar akan darah yang menetes dari lengan putra
"Putra, ada apa dengan lenganmu mari sini buka jaket mu biar aku obati lukamu" panik Vera dengan melihat keadaan putra dari ujung rambut sampai ujung kaki
"Aku tidak apa-apa, sekarang kamu fokus saja menuju tempat ayahmu berada karena ia sedang dalam bahaya, maafkan aku jika tidak bisa membantu banyak tapi kamu tenang saja, aku akan berusaha yang terbaik untuk membantu kalian"
"Tidak apa-apa dari mana, jelas-jelas lenganmu kini sudah terluka, jika dibiarkan bisa berbahaya untukmu!! "
"Vera, terimakasih kerena sudah mau menanyakan keadaanku, tapi aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku sekarang fokus ke tujuan awal mu, karena ribuan nyawa ada di tanganmu, aku percaya padamu kalau kamu pasti bisa mengakhiri perang ini, aku bersyukur bisa mengenalmu karena kamu adalah orang yang baik" balas putra dengan memegang kepala Vera
"Tapi"
"Sudah jangan terlalu lama disini, dan kamu terlihat cantik hari ini mungkin itu karena kamu memakai rok dan baju putih" ucap putra dengan tertawa kecil
Seketika pipi Vera langsung merona ketika mendengar kata-kata itu, sekaligus terasa malu ketika pakaiannya di perhatian oleh putra, "dasar mesum" ketus Vera dengan malu-malu
"Kalau begitu, sudah saatnya aku mengakhiri ini" balas putra dengan semangat yang membara
"Kalau begitu aku pergi dulu, ingat jangan sampai mati, dan kamu harus datang kembali dengan kondisi baik-baik saja" ujar Vera yang langsung meninggalkan putra dengan pria misterius
"Oke, kalau begitu mari kita akhiri semua ini dengan cepat, karena aku sudah berjanji padanya akan menyelesaikan perang ini" tegas putra dengan mengeluarkan aura api dari tubuhnya
"Hah!!, kau kira kau bisa apa?" ucap pria tersebut dengan wajah kesal
"Mari kita mulai babak ke Dua" ketus Putra dengan cepat melesat cepat ke arah musuhnya mengunakan bantuan dari apinya
"Kalau begitu akanku penggal kepalamu, dan kuberikan kepada kekasihmu itu" ucap pria tersebut yang langsung ikut melesat mengunakan bakatnya
πΏπͺππ§..
πΏπͺππ§..
πΏπͺππ§...
Suara ledakan terus terjadi akibat beradu tinju antara putra dan pria tersebut, bahkan benteng pertahanan yang ada disekitarnya ikut hancur, karena pertempuran sengit putra dengan anggota mawar hitam, setiap kali putra terkena tinju ia akan membalas dengan tinju apinya
tak terasa duel telah berlalu selama 5 lamanya, kini baju dari anggota mawar hitam telah terbakar oleh api putra, hingga bajunya menjadi compang-camping "haha.. Ternyata cukup seru, bertarung denganmu, bocah"
"Dasar gila, apa kamu tidak merasakan sakit sama sekali" ketus putra dengan luka lebam di sekujur tubuhnya
"Menurutku rasa sakit ini sudah biasa dalam hal bela diri jadi untuk apa kita mengeluh akan hal ini, yang terpenting adalah beri tau aku namamu agar aku bisa mengingat nama orang yang telah membuatku seperti ini"
"Aturan kamu dulu beri tau namamu, sebelum menanyakan nama orang lain!!" ujar putra dengan menahan rasa sakit
"Baiklah namaku asta, dan aku senang bisa beradu bela diri denganmu, aku juga sedikit kaget dengan ilmu bela dirimu, jika aku boleh tau apa kamu sudah mencapai pangkat senior"
"Namaku putra dan aku bukan pencinta bela diri, aku hanya senang dengan olahraganya"
Haha... begitu ya, kalau begitu mari kita lanjut ke ronde three" ucap asta dengan cepat melesat kembali ke arah putra namun putra dengan tanggap ia menangkis tinju asta dan kembali menyerang tapi asta dengan mudah kembali menangkis
Akhirnya mereka berdua beradu bela diri dengan segenap kekuatan mereka, namun putra sering kali mengeluarkan tinju dan tendangan api, hingga membakar baju asta secara perlahan
__ADS_1
Disisi lain terlihat ayah Vera yang dilempar ke dinding bangunan hingga mengeluarkan darah dari mulutnya, bahkan di detik terakhir pun dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan sambil melihat senyum key, yang sadis dan bengis.