
Setelah sampai, mereka berdua disambut dengan dua tentara yang berjaga di depan pintu gerbang, "Siapa kalian, dan perlu apa kalian disini?!" tanya salah satu tentara, putra yang melihat tentara itu hanya bisa menelan liurnya karena postur tubuhnya yang besar dan kekar
"Namaku Vera oktavia dan aku berasal dari keluarga okta jadi aku ada disini untuk bertemu ayahku" balas Vera dengan nada yang lantang
"Jangan bilang anda adalah nona vera, yang kabur dari rumah!!!"
"Iya, aku anak dari pemimpin kalian dan sekarang aku tidak mau menunggu lama, jadi tolong pergi beri tau ayahku!!!"
Kemudian salah satu tentara tersebut langsung berlari memasuki halaman rumah, karena ingin melaporkan tentang kembalinya nona vera, kepada bos mereka
Putra yang dari tadi hanya menonton seketika baru tau tentang sifat tegas vera, "Vera, kalau aku boleh tau apa kamu sudah tinggal disini dari kecil?! putra yang merasa kalau Vera sudah terbiasa dengan suasana mencengkram di rumahnya
"Sudah dari kecil aku berada disini, disaat momen kematian ibuku, peperangan, bahkan pembantaian manusia, semuanya sudah aku lihat di rumah ini, mungkin karena itu juga aku pergi meninggalkan rumah" jelas Vera dengan raut wajah yang sedikit sedih
Putra yang melihat ekspresi Vera dengan perasaan sedih, segera mencubit pipinya agar dia bisa tersenyum lagi, "Tadi kan, aku suruh kamu untuk memberi tau doang, bukan untuk di kenang"
"Aww.. Sakit tau, kamu nih asal cubit aja" Ketus Vera yang kesakitan
"Haha,.. Biarin aja, biar kamu kapok"
Tak lama, datang seorang pelayan menghampiri mereka dengan memberi hormat kepada Vera sambil berkata, "nona Vera bagaimana dengan keadaanmu?" tanya pelayan tersebut dengan badan membungkuk memberi hormat
"Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan keadaan ayahku?!"
"Kalau tuan besar dia sehat-sehat saja, sekarang ini dia menunggu nona di ruang tamu, jadi nona bisa menemuinya di sana!!"
"Baguslah, akan aku temui dia saat ini"
"Tunggu dulu nona, bolehkah saya bertanya pada Anda, Walaupun sedikit lancang tapi ini untuk kebaikan bersama dan saya rela jika anda marah pada saya nantinya" ucap pelayan itu yang menghentikan langkah vera
"Katakan saja, tapi saya tidak punya waktu untuk berdebat denganmu saat ini" ketus vera dengan sedikit kesal
"Baiklah kalau begitu, saya ingin bertanya dengan anda, siapakah pria di samping Anda itu apakah dia teman kita?!
"Tentu saja dia teman kita, karena aku dan dia adalah sepasang kekasih" balas Vera yang menggandeng tangan putra
Seketika pandangan pelayan dan tentara terhadap putra pun berubah drastis, bagaikan Harimau yang ingin menerkam mangsanya, "apa-apaan Vera ini, apa dia ingin aku mati ketakutan" batin putra yang sudah berkeringat dingin
"Iyakan, sayangku?" tanya Vera dengan tangan yang masih menggandeng putra
"Ha-ha,. Iya" jawab putra dengan nada terbata-bata
"Kalau begitu maafkan saya, jika sudah lancang dengan nona vera, sekarang Anda dan pacar Anda boleh masuk menuju kediaman keluarga okta"
"Oke" balas vera dengan menarik tangan putra untuk masuk ke halaman rumah, disaat itu putra yang melihat keindahan dari halaman rumah vera sedikit takjub dan terpesona karena halaman rumahnya dipenuhi bermacam-macam bunga dan dilengkapi patung pahlawan maupun patung hewan langkah
Tidak hanya bagian luar saja, namun bagian dalamnya pun diikuti oleh berbagai macam patung, bahkan bagian teras rumah dilengkapi keramik bercampur emas, mulai dari bagian luar hingga kedalam ruangan, semua itu telah terlihat bagaikan emas yang mengkilap
"Gila,.. Nih rumah kaya gudang emas aja, di mana-mana semuanya dilengkapi emas" begitulah yang ada dibenak putra saat itu dan dirinya merasa tidak layak jika harus menginjakkan kakinya ke rumah Vera
"Putra nanti jangan terlalu gugup ya, walaupun ayahku seringkali marah tapi kamu tenang saja, aku pasti akan ada di sampingmu"
__ADS_1
"What!!,.. Ayahnya pemarah tapi dia hanya bilang santai saja, kamu pasti tidak tau perasaan seorang pria kalau harus berhadapan dengan calon mertua, jika aku boleh memilih lebih baik aku melawan hewan buas, dari pada berhadapan dengan ayahmu" batin putra yang hanya bisa pasrah dengan keadaan
"Ada apa putra, kok diam saja?" bingung Vera yang melihat putra berkeringat tanpa adanya panas matahari
"Ha-ha,.. Kamu tenang saja, kalau masalah seperti ini mah pasti bisa aku atasi dengan berani" balas putra yang berbohong dengan keadaanya
"Baguslah kalau begitu, kamu harus menjaga etika, sopan santu dan tata krama dalam berbicara ya, soalnya ayahku paling teliti dalam hal yang begituan"
"Memangnya dimana ruang tamunya?!"
"Dibalik pintu ini" jawab singkat Vera yang memegang gagang pintu dari ruangan yang mana ayahnya sedang menunggu
Tidak ada hujan dan angin, seketika badan putra menjadi lemas karena yang disampaikan Vera bukanlah kejutan melainkan kematian, dan yang ada dibenaknya saat itu hanya kata 𝙈𝙖𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝, hingga mereka memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang tamu dari rumah Vera
Dan disaat putra dan Vera memasuki ruangan tersebut, hal pertama yang mereka lihat adalah seorang pria paru baya yang duduk disebuah sofa indah sambil menikmati secangkir teh hangat, tidak hanya ruangan yang terlihat indah namun kharisma yang keluar dari tubuh pria tersebut juga merupakan kharisma bangsawan tingkat tinggi
Putra juga tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, karena semua pertanyaan maupun ucapannya terkunci akibat pemandangan yang dilihatnya sangat menakjubkan mulai dari ruangan, ayah vera, bahkan pelayan dan tentaranya sudah berada di luar nalar
"Papa aku pulang" ucap Vera sambil berlari menghampiri ayahnya
"Syukurlah,. Anakku baik-baik saja" balas ayah Vera yang langsung memeluk Vera dengan penuh kasih sayang
Sedangkan dari tadi putra hanya bisa menonton dengan badan yang berkeringat, "sekarang aku harus bagaimana ini kalau sudah seperti ini mah, sudah tidak mungkin untuk menghindar" batin putra dengan keringat bercucur deras
Tak selang beberapa lama Vera pun melepas pelukan ayahnya dan mulai berkata, "bagaimana keadaan papa saat ini?!"
"Ayah baik-baik saja, seperti yang kamu lihat saat ini, tapi sebelum itu ayah mau bertanya padamu siapa laki-laki yang tidak sopan itu" tanyanya sambil menunjuk ke arah putra yang masih berdiri memperhatikan vera
Disisi lain badan putra seketika bergetar merinding ketika melihat ayah vera menunjuk dirinya, "kenapa aku dicap sebagai orang tidak sopan, padahal dari tadi akulah yang diabaikan mereka" begitulah yang ada dibenak putra saat dirinya ditunjuk
"Kamu pacaran sama dia?!" bingung ayah vera dengan memperhatikan putra lebih teliti dari pakaian, postur tubuh, dan kharisma
"Iya, dia pacarku"
"Apa!! Papa kira, dia pelayanmu loh soalnya dia gak ada bedanya sama tukang jalanan" ujar ayah vera yang masih tidak yakin dengan kenyataan
"Ah,.. Lebih baik aku mati saja, dari pada harus dihina secara halus" batin putra yang merasa sudah tidak ada kepercayaan diri
"Kalau begitu papa bisa mengenalnya secara langsung" vera dengan cepat memanggil putra, sedangkan putra yang telah hilang rasa percaya diri kini mulai berjalan sedikit kaku
Di sofa putra diberi pertanyaan oleh ayahnya vera dimulai dari keluarga, dan alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui kalau putra adalah anak dari Firdaus, karena nama itu adalah nama pahlawan sekaligus penyelamat bagi keluarganya di masa lampau
Jadi, kamu anak dari Firdaus?! Tanya lagi ayah vera untuk memastikan
"Aku tidak bisa menjamin dengan semuanya, tapi aku yakin kalau Ibuku bukan pembohongan"
"Lalu bagaimana dengan ibumu sekarang?!"
"Saat ini ia sedang dirawat, di rumah sakit"
"Kalau begitu bisa beri tau aku, sejak ayahmu pergi meninggalkanmu apa dia pernah meninggalkan pesan atau mengirim pesan pada Ibumu?!"
__ADS_1
Putra hanya bisa menggelengkan kepala karena sepanjang hidupnya, ia sama sekali tidak mendapatkan pesan maupun diberi tau tentang ayahnya, hingga ayah vera yang melihat ekspresi putra segera berkata "kalau begitu, bolehkah aku menceritakan sedikit tentang ayahmu?" ujar ayah vera dengan nada yang berempati
"Silahkan paman, karena lebih bagus kalau aku mendapat informasi tentang ayahku sendiri" balas putra dengan penasaran
"Baiklah, paman akan memberi tau mu tentang ayahmu tepatnya di kejadian 11 tahun yang lalu, dimana rumah kami di serang oleh organisasi mawar merah, kejadian itu banyak sekali merenggut nyawa manusia tak berdosa, hingga ibu vera juga ikut menjadi korban, awalnya aku pikir semua keluargaku akan tewas di tangannya Namun semua ketakutan itu menghilang ketika datangnya seorang pria berjub-"
"Jadi disaat aku dilahirkan ayahku tidak datang untuk menjengukku?" tanya putra yang memotong pembicaraan ayah vera
"Aku tidak tau pasti, tapi yang aku tau memang dia belum mati ketika kamu dilahirkan dan setelah dia menyelamatkan keluargaku, aku sudah tidak pernah mendapat kabarnya lagi"
"Jadi selama ini ayah kemana dan kenapa dia tidak pernah pulang, apa ia sudah tidak menganggap kami sebagai keluarganya!!" Geram putra yang mengepalkan tangan
"Putra, aku mengerti perasaanmu tapi ini bukan saatnya kamu menyalahkan ayahmu, kita juga tidak tau kalau ia melakukan itu ada alasan tertentu" Vera saat itu mencoba untuk menenangkan putra dengan memegang tangan putra
"Kamu tidak perlu membencinya akan hal itu, mau bagaimanapun dia tetap ayahmu dan seorang pahlawan bagi bangsa ini, jadi aku yakin kalau orang sepertinya akan memiliki alasan kuat kenapa ia harus pergi meninggalkan keluarga" ujar ayah vera
Saat itu suasana seketika hening, sebelum ayah vera kembali bertanya, "Namun sebelum itu aku ingin bertanya padamu vera, tentang sekolahmu?, dan aku dengar kau pernah mengalami kecelakaan bus di bukit?!
Vera pun mulai menceritakan semua Kejadian yang ia alami selama kepergiannya mulai dari kecelakaan bus sekolah, hingga maksud dan tujuannya Vera untuk bertemu ayahnya, selama vera bercerita dirinya mencoba untuk menenangkan perasaan putra yang sedang marah akibat melihat kenyataan tentang ayahnya
Tak lama bercerita, akhirnya ayah vera mengerti tentang apa yang terjadi pada anaknya, "jadi selama ini kamu tinggal bersama nak putra, aku juga tidak habis pikir dengan semua yang kamu alami, tapi kamu tenang saja, ayah janji padamu setelah ini akan ayah hancurkan organisasi jahat itu!!"
"Maafkan aku jika menyela pembicaraan kalian, tapi aku tidak akan Terima jika paman Sendiri yang mengurus mereka, jika aku diperbolehkan aku akan membantu paman karena aku ingin mencari informasi tentang ayahku di sana" sambung putra yang memotong pembicaraan ayah vera
Vera yang melihat putra sudah tenang, kini mulai cukup senang karena jika emosi putra tidak bisa di kontrol maka rumahnya bisa terbakar oleh api putra
"Tidak, paman tidak akan membahayakan anak dari seorang pahlawan negara untuk bertarung bertaruh nyawa, biarkan ini menjadi tugasku supaya kamu bisa hidup dengan bahagia nantinya"
"Maaf jika aku membantah, tapi aku tidak akan bisa tidur nyenyak, jika belum mengetahui kebenaran tentang ayahku, dan aku punya kekuatan jadi paman tidak perlu khawatir tentang aku" jawab putra dengan nada pelan
"Apa!!, baru kali ini aku lihat papa mengkhawatirkan orang lain, perasaan terakhir yang aku tau dia hanya memberi rasa sayangnya kepada aku dan mama saja, apa papa sudah menerima putra?" batin Vera yang bingung melihat tingkah ayahnya
Hingga tak lama datang salah satu tentara dengan terburu-buru, "Tuan ada bahaya" teriak orang tersebut sambil berlari kearah ruang tamu, dan disaat itu juga obrolan putra manjadi terhenti karena situasi yang mendadak panik, "tenangkan dirimu, kamu itu tentara lalu kenapa kamu menjadi panik begini, sekarang tenangkan dirimu lalu bicaralah perlahan!!!" perintah ayah Vera dengan tegas
"Baik, komandan" tegas tentara tersebut sambil memberi hormat pada ayah vera
"Bagus, sekarang beri tau aku laporan yang membuat tentaraku panik!!"
"Kami mendapat kabar dari tim penyelidik kalau tentara mawar hitam, sedang melakukan invasi terhadap markas kita!!!" balas tentara tersebut dengan nada tegas Walaupun didalam hatinya sangat ketakutan
"Apa mereka belum puas dengan perang yang lalu, bahkan aku saja tidak sanggup mengingat kejadian tragis itu, lalu kapan mereka akan sampai dan berapa jumlahnya?!" tanya ayah vera
"Jumlah tidak diprediksi, tapi yang jelas pasukan pengintai telah mengkonfirmasi kalau mereka membawa ribuan personil, kalau masalah waktu meraka akan sampai besok malam"
"Apa!! ribuan, kenapa mereka memiliki jumlah segitu banyaknya?" bingung putra dengan wajah sedikit merasa aneh
"Benar apa yang dikatakan putra, kenapa mereka mempunyai tentara segitu banyaknya" sambung vera
"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi dan kabarkan pada tentara yang lain, kalau kita akan berperang, aku ingin kamu mengumpulkan semua tentara-tentara yang ada mau itu tim pengintai, pertahanan, ataupun penyerang, pokoknya semua harus berkumpul setelah makan malam" perintah ayah vera pada tentara tersebut
"Baik, komandan" hormat tentara tersebut sambil meninggalkan ruang tamu
__ADS_1
Sementara itu putra dan vera masih menunggu jawaban dari ayahnya, mengenai jumlah tentara musuh yang amat banyak
"Dari pada kita ngobrol disini, lebih baik kita ngobrol di meja makan saja, karena sudah waktunya makan malam" usul ayah vera sambil berjalan ke ruang makan dengan diikuti putra dan vera