Fire And Water

Fire And Water
Cp 22# Kekalahan


__ADS_3

Ditengah Kobaran api terlihat sesosok pria dengan diselimuti oleh api merah, yaitu Putra saat itu putra sudah mencapai batasnya, jikapun dipaksakan yang ada ia malah pingsan ditempat, hanya saja badannya masih terus memancarkan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya, semua itu menandakan kalau Putra masih marah dengan musuh-musuhnya


Untuk kembali melangkah, putra sudah tidak kuat badannya sudah penuh dengan luka ledakan, dan pandangannya juga ikut memudar seakan-akan ingin jatuh pingsan, hingga baru beberapa langkah aura Putra kini sudah mengecil tidak hanya itu keseimbangannya juga ikut menurun


Tapi disisi lain, Putra tidak mencemaskan hal itu dirinya hanya terus berjuang agar semua penderitaan, kesakitan, bahkan kematian tidak akan terjadi lagi karena ia takut jika hal itu terjadi maka akan membuat Vera teringat kembali dengan traumanya


"Aku harus menghentikan perang ini" Gumam putra dengan nada lemas, karena semakin di paksa maka api yang melindunginya juga semakin mengecil hingga api kecilnya tidak akan bisa lagi digunakan untuk melindungi Putra


Hingga sampai dimana putra sudah mencapai batasnya, tetapi sebelum putra jatuh ke tanah dirinya sudah di peluk Vera dari depan, dengan menangis Vera berkata, "Bodoh, kenapa kamu melakukan semua ini, Putra!!!" tangis Vera dengan wajah penuh air mata


"Aku hanya ingin melindungi-mu!!" Ucap putra dengan pelan sebelum ia pingsan di pelukan Vera


"Terimakasih, terimakasih karena sudah ada disaat aku membutuhkanmu" bisik Vera yang langsung mengamankan Putra, selama di perjalanan menuju tenda medis Vera sudah tidak memperdulikan sekelilingnya karena Prioritasnya adalah untuk menyelamatkan Putra


Disisi lain, tepatnya berada dari kejauhan benteng pertahanan terlihat seorang pria dengan wanita cantik di sampainya sambil memegang sebuah sniper besar berwarna oren belang-belang, "Tuan kevin, menurutmu berapa lama mereka bisa bertahan dari serangan kita?!" tanya Miya dengan senyuman jahat di wajahnya


"Haha,.. Menurutku mereka hanya bisa bertahan dalam hitungan menit lagi, coba kamu lihat benteng yang ada didepan kita ini, sudah hancur lebur bersama tanah" balas kevin dengan tawa jahat


"Kalau begitu mari kita bertaruh tuan kevin, aku bertaruh kalau pertahanan mereka akan tembus dalam waktu 10 menit ke depan"


"Kamu terlalu meremehkan musuh miya, kalau gitu aku akan bertaruh 23 menit ke depan"


"Kenapa lama sekali tuan kevin?" bingung miya dengan perkiraan kevin, sampai tak lama mereka terkejut dengan datangnya seorang tentara berteriak ketakutan sambil berlari terbirit-birit, menghampiri Jendral kevin


"Hey, ada apa denganmu tentara bodoh?!" tanya kevin dengan image yang berkharisma


"Kami baru saja bertemu dengan sosok monster, Jendral kevin" balas tentara tersebut dengan mengatur kembali nafasnya


"Monster? apa maksudmu, apa kamu ingin menipuku, kamu harus ingat ini medan perang bukan tempat berkhayal" bentak kevin, yang merasa kalau ia sedang di permainkan oleh tentaranya


"Tapi saya bicara apa adanya tuan, saya memang bertemu dengan sesosok monster yang menjelma manusia, yaitu sorang pria dengan kobaran api di badannya saat itu kami sudah menembaknya dengan seluruh kekuatan kami, namun hasilnya nihil sampai-sampai tank yang bersama kami ikut menembak namun semua itu juga sia-sia"


"Kamu kira aku bakal percaya dengan lelucon mu, sekarang tegakkan badanmu lalu diam saja karena aku akan menembak mu agar kamu bisa terbebas dari sakit jiwa akibat perang" ketus kevin dengan menodongkan sebuah pistol ke arah tentaranya


"Tapi tuan saya mem-" sebelum kata-kata dari tentara tersebut selesai, dirinya sudah mendapat tembakan dari kevin tepat di kepalanya


Menit demi menit, jam demi jam, waktu telah berlalu dengan suara tembakan maupun jeritan tentara yang menderita di medan perang, saat itu juga pasukan Ziel telah kalah dengan jumlah maupun fasilitas perang, di tengah malam yang gelap ayah Vera benar-benar sudah kalah


Tentara yang masih selamat di pihak Ziel telah ditangkap oleh musuh, ayah Vera saat itu juga sudah di tangkap hanya saja Vera dan Putra yang belum terdeksi karena sebelum tentara musuh sampai di garis terakhir Vera telah lebih dulu bersembunyi bersama Putra didalam hutan


Di dalam hutan Vera hanya bisa menangis dengan nafas tersedu-sedu sambil memeluk Putra, karena saat itu Putra sudah dalam kondisi sekarat, tapi untungnya ia sempat memberikan pertolongan pertama kepada Putra hingga kondisinya saat ini sudah membaik


"Putra, aku takut" Gumam Vera dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya


Di alam bawah sadar, putra kembali bertemu dengan Tang san, dengan perasaan kecewa putra berkata, "Tang san, kenapa aku begitu lemah?" tanya putra dengan perasaan sedih yang tercampur rasa kecewa


"Tentu saja karena kamu kurang latihan" balas tang san dengan singkat


"Kalau begitu beri aku pelatihan darimu, agar aku bisa menjadi yang terkuat, dengan ada kekuatan aku tidak akan lagi merasakan kehilangan dari orang yang aku sayang, dan dengan begitu juga aku bisa melindungi Vera dari bahaya"


"Haha,.. Baiklah, aku akan membantumu supaya kamu bisa mendapatkan kekuatan dariku dan dengan kekuatan itu juga kamu pasti bisa menjadi yang terkuat di antara manusia biasa"


Ketika mendengar perkataan Tang san, seketika wajah putra kembali berseri, karena menurutnya memang jalan tercepat untuk menjadi yang terkuat hanya dengan belajar dengan pengguna element terdahulu


"Kalau begitu kapan kita bisa memulai latihan, aku inginnya kita melakukan latihan secepatnya karena semakin cepat, semakin bagus" tanya Putra dengan wajah yang kembali bersemangat

__ADS_1


"Kalau masalah itu bisa kita bahas di pertemuan selanjutnya, sekarang yang terpenting adalah bisakah kamu pinjamkan tubuhmu padaku, karena saat ini tubuhmu dalam kondisi kritis jika tidak di obati, aku takutnya kamu bakal mati"


"Lah kok aku bisa mati, padahal aku dari tadi enggak melakukan apapun?" bingung Putra dengan wajah terheran-heran


"Dasar bodoh, sebenarnya dari tadi kamu terus-terusan bertarung hingga memaksakan tubuhmu untuk bertarung, hanya saja yang bertarung bukan kamu melainkan amarah yang mengendalikan tubuhmu"


"Tapikan amarah adalah emosi, kenapa aku bisa dikontrol olehnya?"


"Itu bukan marah dari emosi seseorang, melainkan amarah dari lubuk hatimu, karena hal itu kamu sudah membangunkan inti jiwa api jadinya api mu lah yang mengendalikan tubuhmu"


"Jadi begitu ya, benar-benar aneh tapi kalau memang aku dalam bahaya, tolong bantu aku Tang san, karena cuman kamulah harapan aku saat ini"


"Cih,.. Kalau bukan karena rohku bisa tinggal disini mungkin sudah aku biarkan kamu mati" Cibir Tang san dengan wajah kesal


Di dunia real, Tang san baru bangun mengunakan tubuh putra, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat kalau dirinya sudah berada di pelukan vera, hanya saja saat itu vera masih menangis dengan tersedu-sedu, karena rasa kasihan tang san bertanya dengan vera, "Ada apa denganmu, bocah" dengan wajah datar tang san berbicara seakan-akan tidak terjadi apa-apa


Disaat itu juga vera sangat terkejut dengan Putra yang baru bangun dari pingsannya, dan tidak hanya itu dirinya juga kaget dengan ucapan Putra, karena ucapan putra tidak seperti biasanya


"Maksudmu apa ya, putra?" Bingung vera sambil mengelap air matanya


"Tidak, lupakan saja" jawab singkat Tang san yang langsung berdiri Walaupun luka tubuh disebabkan putra namun Tang san ikut memakai tubuh putra jadi ia sedikit kesusahan untuk berdiri


"Jangan bergerak dulu Putra, aku tau kamu masih belum sehat sepenuhnya, jadi sebaiknya kamu istirahat saja"


"Terimakasih karena kamu sudah mengkhawatirkan aku, tapi kamu tidak perlu terlalu cemas, karena aku bukan Putra, aku adalah Tang san yang saat ini tinggal di dalam tubuh putra" balas Tang san yang langsung mengeluarkan aura api putih ditubuh putra sampai membuat luka-lukanya sembuh dengan seketika


Vera yang melihat Putra, seketika langsung ketakutan dengan auranya karena auranya sungguh mengintimidasi orang-orang disekitarnya termasuk Vera yang saat itu ada di samping Putra


"Maafkan aku" Ucap Tang san yang langsung memadamkan api ditubuh Putra, karena ia tau kalau Vera tidak bisa menahan tekanan dari auranya


"Kamu Tang san?" tanya Vera dengan badan yang gemetar karena ketakutan


Mulai dari situ Vera masih tidak bisa berkata apapun, karena mulutnya sudah terkunci dengan erat bersama dengan rasa takut yang menjadi-jadi, tetapi ketakutan itu disadari oleh Tang san


"Hah,.. manusia yang lemah" Gumam Tang san yang langsung kembali ke alam bawah sadar, agar ia bisa bertukar kembali dengan Putra


Hingga sadarnya putra dari pingsan, ia melihat Vera duduk di tanah sambil badan yang gemetar ketakutan karena khawatir putra berkata, "Vera, ada apa denganmu?" tanya putra dengan ekspresi Khawatir


"Putra, Itu kamu ya?"


"Iya, ini aku putra kamu kenapa vera, apa kamu dilukai oleh Tang san?" tanya kembali putra


Dengan cepat vera memeluk tubuh putra karena takut ia berkata, "Putra, aku sangat takut disini" dengan air mata mengalir untuk kesekian kalinya


"Jangan takut aku ada disini untukmu, dan maafkan aku karena aku meminjamkan tubuhku lagi kepada orang lain" jawab putra dengan membalas pelukan vera


Tidak lama kemudian vera sudah kembali tenang dan mulai melepas pelukannya, sambil bertanya kepada putra, "Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Hmm,.. Sepertinya sudah membaik" balas putra yang meraba-raba tubuhnya


"Baguslah kalau seperti itu rasanya aku sudah tenang ketika mendengar kondisimu yang membaik"


"Sebelum itu aku ingin bertanya padamu, kenapa kamu menangis?" tanya putra


Vera pun menjelaskan keadaan yang sedang terjadi mulai dari kekalahan perang sampai dirinya yang terintimidasi oleh tekanan aura Tang san, Putra yang mendengar cerita vera mulai merasa empati sekaligus terkejut dengan apa yang ia dengar dari vera

__ADS_1


"Apa!!, bagaimana bisa kita kalah, dan sekarang bagaimana dengan keadaan ayahmu?


"Aku tidak tau apapun tentang perang, karena selama perang terjadi aku selalu ada di garis belakang, jadi aku memang tidak tau apapun tentang perang ini"


"Maafkan aku karena sudah bertanya diluar prediksi mu, dan maafkan aku juga karena sudah membiarkan Tang san, mengendalikan tubuhku, jadi maafkan semua kesalahanku"


"Tidak, kamu tidak salah sama sekali kok Putra, karena sebelum kamu tau aku sudah tau apa yang kamu butuhkan dan apa yang kamu perlukan, jadi untuk sekarang lebih baik kita cari tempat aman dulu, karena sebentar lagi hari sudah mau fajar"


"Kamu benar, mari kita cari tempat aman untuk beristirahat, setelah itu baru kita cari solusi agar bisa memecahkan masalah ini"


Hingga selama berjam-jam mereka terus mencari tempat aman untuk bersembunyi karena tentara musuh sudah berpencar mencari anak Ziel, yaitu vera diberbagai sudut hutan, selama berjalan 3 jam lamanya Akhirnya Putra dan vera menemukan sebuah Gua batu yang berada di pinggir pantai yang letaknya jauh dari tempat ayah vera


Putra sempat berfikir jika mereka bersembunyi di hutan akan sangat berbahaya bagi mereka, karena hutan bukanlah tempat yang aman untuk dijadikan tempat istirahat dan putra juga bisa menjamin kalau tentara musuh tidak akan sampai menjangkau ke pesisir pantai


Di sebuah gua yang letaknya di pinggir pantai, terlihat putra yang sedang bersama vera meneduh didalamnya, karena hari itu dengan tiba-tiba turun hujan karena hujan putra memutuskan untuk meneduh Walaupun menunda pelariannya tetapi sangat bahaya jika salah satu dari mereka ada yang jatuh sakit


Didalam gua Putra dan vera sangat kedinginan, karena mereka mengunakan baju tipis, Putra yang mengunakan kaos pasien berwarna putih, sedangkan vera mengunakan baju Suster dengan rok mini, karena kelalaian mereka dalam berpakaian jadinya mereka kedinginan di dalam Gua


"Aduh dingin sekali, kenapa disini tidak ada penghangat" keluh putra yang mencoba mengosongkan tangan ke tubuhnya supaya bisa mendapat kehangatan


"Putra, bukannya kamu itu berkemampuan element api, lalu kenapa tidak kamu gunakan untuk menghangatkan tubuh kita"


Dengan terkejut Putra teringat tentang dirinya yang merupakan pengendali api, dengan wajah bersalah putra berkata, "Iya kamu benar, kenapa tidak aku coba untuk menggunakan api ku saja!!"ucap Putra dengan wajah malu


Saat itu Vera sudah tau, kalau Putra melupakan sesuatu tentang dirinya, tapi ia tidak bisa menyalahkan Putra karena itu mungkin karena efek samping dari Komanya


"Haha.. Kalau begitu mohon bantuannya, aku harap api mu bisa membantu kita" ketawa kecil Vera dengan wajah merona


Dan siapa sangka kalau api Putra sangat membantu mereka, rasa dingin yang sebelumnya menyiksa kini secara tiba-tiba mulai menghilang, dan sekarang mereka bisa terbesar dari kedinginan, namun disisi lain Vera justru tertidur di pundak Putra karena terlalu lelah


"Aku tau kamu sudah berjuang keras untuk kemarin malam, jadi biarkan aku yang menjagamu dari sekarang hingga nanti" Gumam Putra dengan senyum di wajah


Selama 2 jam lamanya, akhirnya Vera terbangun dan kaget, ketika melihat ia sudah terbaring di tanah dengan api unggun di depannya, awalnya Vera terkejut dengan apa yang terjadi selama ia tertidur, hingga tak lama putra datang sambil membawa buah di bajunya yang dijadikan kantung, walaupun dirinya tidak memakai baju


"Kyaa,.. Putra apa yang kamu lakukan denganku" jerit Vera dengan reflek karena melihat tubuh putra


Tidak mengunakan baju


"Kamu ini ngomong apa sih, aku datang untuk membawakan mu buah, karena dari tadi aku mencarinya agar bisa mengisi perut, namun siapa sangka kalau buah yang ada disini sangat banyak, jadinya terpaksa deh aku mengunakan bajuku" Jelas putra dengan wajah heran


Seketika Vera jadi malu sendiri karena sudah salah sangka dengan putra, dan memang benar baju yang digunakan Putra sudah terisi dengan buah-buahan dengan malu merasa berkata, "Maafkan aku karena sudah menuduh mu yang bukan-bukan" ucap Vera dengan wajah malu


"Sudah-sudah, dari pada kita debat disini lebih baik kita makan dulu, buah yang sudah aku bawa ini Walaupun tidak kenyang tapi setidaknya bisa mengganjal perut kita"


Waktu terus berlalu, kini mereka sudah membahas apa yang harus dibahas, yaitu tentang langkah selanjutnya dalam menjalani hidup mereka, "Putra, menurutmu kita harus apa sekarang?" tanya Vera dengan ekspresi putus asa


"Tentu saja kita harus kembali ke negara mars karena hanya di sana, kita bisa mendapat jalan keluar, tapi untuk sekarang sangat tidak mungkin untuk kembali ke ibu kota, apalagi saat ini kamu sedang dicari oleh tentara mawar hitam jadi kemungkinan besar mereka sudah berjaga di perbatasan"


Tidak lama merenung akhirnya putra mendapat ide, walaupun sedikit ekstrim, "Vera apa kamu memiliki kapal cadangan, yang kecil pun tidak apa-apa?" Tanya Putra kepada Vera


"Ayahku pernah menyimpan kapal darurat di arah Tenggara, hanya saja kita butuh kunci dan kuncinya ada di pos jaga, letaknya di tower pemantau"


"Bagus kalau gitu, kamu sebaiknya menyiapkan kapalnya, biarkan aku mengambil kuncinya"


"Apa!!, sebaiknya jangan Putra, aku tidak ingin kamu terluka lagi"

__ADS_1


"Tidak ada yang akan terjadi denganku kamu tidak perlu khawatir asalkan untuk kamu, aku rela bertarung dengan mereka" jawab Putra yang langsung meninggal Vera


"Tunggu Putra" saat itu Putra telah pergi ke arah tower pemantau, tanpa mendengarkan nasihatnya namun Vera jua tidak ingin putus asa dirinya segera bangkit dan berlari menuju Tenggara, sesuai dengan apa yang diminta putra padanya.


__ADS_2