
Saat itu hanya ada Ari dan pria berjas yang mencurigakan, yang telah melukai putra dengan sebuah belati tajam yang dilempar, saat itu Ari memasuki medan dimensi yang dibuat oleh orang dari anggota mawar hitam, karena Ari sudah memantau mereka sebelum mereka menyerang putra dan Vera
Lebih tepatnya ketika di malam hari, Ari menguping pembicaraan bos dan anak buahnya, dan di pagi hari dia memantau keadaan dan mengikuti putra dan Vera agar ketika mereka di serang ari bisa membantunya dengan cepat, dan hal-hal yang dibicarakan bos mereka pun tidak sedikit yang ari tidak tau, terutama bos mereka yang mengincar ayah angkatnya
Walaupun ari sedikit marah, tapi dia tau anggota yang di misi kan untuk menangkap vera berjumlah 8 orang dan 4 diantaranya bisa menggunakan kemampuan khusus, tapi sudah dua orang yang berkemampuan telah Ari kalahkan, jadi bisa dibilang Ari semalam tidak tidur dan terus bertarung dengan orang-orang mawar hitam
Hey,.. Kawan ada apa dengan matamu?! Apa kamu bergadang semalaman?!" tanya pria tersebut
Tidak ada, alasan untuk aku menjawab pertanyaan mu!!
Kamu orang yang cukup dingin ya, aku suka untuk membunuhmu" dengan cepat pria tersebut melempar belatinya ke arah Ari
Ari yang tau, dengan cepat menghindarinya dan langsung melesat ke arah pria tersebut, kerena mendesak pria tersebut melempar 4 belati tersebut secara bersamaan, namun dirinya kalah cepat, Ari telah lebih dahulu membuat diding Es kearahnya yang membuatnya membeku tak bisa bergerak
Sial, dia jago dalam mengendalikan kemampuan" ucap pria tersebut yang mencoba bergerak namun hasilnya nihil,
"Apa ada Kata-kata terakhirmu?" Tanya ari yang saat itu sudah berada di depan pria tersebut dengan menodongkan tombak es
"Boleh aku tau siapa kau sebenarnya?" pertanyaan terakhir dari pria tersebut
Namaku arif pratama, dan aku hanya anak SMA tapi satu hal yang perlu kamu tau, kalau kemampuanku sebenarnya pengendali πΎππ©π§π ππ‘ππ’" jawab ari yang langsung menusuk dadanya hingga pria tersebut muntah darah
Tanpa sadar ari, langsung tergeletak ketanah depan mengatur nafasnya, "mungkin aku sudah mencapai batasnya, tapi yang lebih penting saat ini adalah pergi dari tempat ini, sebelum pria itu mati" Gumam ari yang langsung meninggalkan area pertarungan
Pada dasarnya kemampuan manusia bisa di gunakan ketika jantung dan sel-selnya masih bergerak, namun ketika mereka mati kemampuan yang mereka gunakan maupun kemampuan yang ada di dalam tubuh mereka secara otomatis akan ikut mati, jadi ari meninggalkan area itu agak ketika dimensinya hilang dirinya tidak akan terlihat orang lain
Disisi lain, vera masih merangkul putra dengan cepat ke rumah sakit terdekat agar putra dapat diselamatkan, "Kumohon putra, kamu harus kuat sampai kita bisa mengobati luka-lukamu" ucap vera yang amat cemas ketika melihat keadaan putra
Namun ditengah perjalanan lagi-lagi vera bertemu dengan anggota mawar hitam, "Wah,. Wah aku kira kalian sudah di kalahkan oleh Petta, ternyata kalian masih bisa selamat ya, tapi Omong-omong bagaimana caranya ya?" tanya salah satu orang dengan jas yang berlogo mawar
Dan 4 orang lainnya, yang saat itu memegang sebuah senjata api ditangannya, vera yang sudah di todong pistol hanya bisa pasrah dengan keadaan yang sedang di alaminya karena menurutnya ari tidak akan datang saat itu
"Turunkan senjata kalian, tidak baik jika baru bertemu sudah main todong saja" ucap pria berlogo mawar, namun disaat yang bersamaan pria tersebut melesat dengan cepat menangkap vera yang masih merangkul putra
Putra yang tidak sempat melihat keadaan tiba-tiba terjatuh ke tanah dan disaat dirinya mencoba melihat vera, yang pertama ia lihat vera kini sudah di tangan pria berjas logo mawar
"Sial,.. Jangan sentuh dia" ucap putra yang nadanya melemah
Oh.. Kalau aku tidak mau kau bisa apa? Tanya pria tersebut dengan meletakkan mulut pistolnya ke arah jidat vera, saat itu vera sudah tidak bisa apa-apa, bergerak pun dirinya pasti akan ditembak
π½π§ππ£ππ¨ππ ....
Hah.. Apa aku tidak dengar, Oh iya aku belum bilang kalau nyawa ibumu saat ini sudah berada di tangan aku loh!!!" ucap pria tersebut yang sudah mulai meraba-raba tubuh vera
Putra yang melihat vera mengeluarkan air mata, dan tau bahwa ibunya dalam bahaya, tanpa sadar dirinya sudah diambang amarah terbesarnya, karena sejak kecil putra adalah orang yang ceria dan penyabar, putra hanya marah ketika teman maupun dirinya sedang di ganggu oleh anak nakal, Karena ibunya tidak mengajarkannya untuk memukul orang lain, melainkan bersahabat dengan orang lain
Namun kali ini ada seseorang yang telah membuat putra marah besar, pria tersebut telah membuat putra marah yang seharusnya tidak pernah marah
Walaupun sedikit demi sedikit, putra kembali bangkit dari terpuruknya, dan tanpa sadar putra mengeluarkan kobaran api dari tubuhnya, tidak hanya vera tapi semua orang yang ada di sana ikut terkejut
Sekarang aku hitung sampai tiga jika kau tidak berlutut, aku tidak akan bisa menjamin keselamatanmu" ujar putra yang saat itu tatapannya berubah
Kamu kira, kamu siapa bisa menyuruhku!!! Jawab pria yang masih menyandera vera
Putra yang mulai merentangkan tangannya, dan langsung menebak kan sebuah bola api yang amat kencang ke arah kepalanya, hingga membuat pria berjas hitam tersebut terpental menabrak dinding bangunan, 4 orang lainnya dengan cepat menembakkan senjatanya ke arah putra
Namun hanya dengan satu ayunan saja, membuat peluru tersebut terbakar habis oleh api, saat itu putra langsung melesat ke arah mereka sambil menendang dan memukul dengan kombinasi bela dirinya, tak butuh waktu lama semua orang yang ada di sana telah terkapar di tanah dengan kulit mereka yang sebagian terbakar
__ADS_1
Vera yang melihat kejadian itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena dirinya juga baru pertama kali melihat kemampuan putra yang luar biasa, seketika putra tergeletak tak berdaya di tanah setelah menumbangkan musuh-musuhnya
Disisi lain terlihat dua orang yang salah satunya seorang berbadan kekar dengan menodongkan sebuah senjata api, ke arah seorang pria paru baya yang sudah terbaring tak berdaya
"Haha.. Aku yakin kini anak buah ku, sudah menyelesaikan misinya" ucap dari pria berbadan kekar
Kamu menyuruh orang untuk menangkap Vera, sepertinya aku tidak yakin apa anak buah mu itu berhasil" jawab paman komat dengan badan tak berdaya
Pria yang bersamanya memang terlihat memiliki sebuah bakat, namun aku tidak yakin kalau dia bisa bertarung" balas pria tersebut
Kalau gitu mari kita bertaruh jack, aku sudah lama tidak melihatmu di hajar habis-habisan jadi aku ingin melihatnya ketika kamu membunuhku, apakah anakku dan putra akan diam saja"
πΏππΌπ...
"Bacot, aku paling tidak suka dengan pria banyak omong, tapi aku cukup senang karena kita bisa bertemu lagi disini Guru jadi aku bisa membunuhmu di tanganku sendiri, dan kamu cukup melihat saja di mana anakmu dan pria yang kau sebut putra itu ikut mati di tanganku" Gumam Jack yang meninggalkan paman komat setelah menembaknya
Di suatu gang sempit yang terlihat ari masih berjalan dengan sempoyongan sambil memegang perutnya "sial,.. Aku harus cepat, pasti saat ini putra masih dalam bahaya" Gumam ari yang masih sempoyongan karena tenaganya sudah habis di pertempuran sebelumnya
Sementara itu Vera masih berusaha merangkul putra menuju rumah sakit terdekat, karena kejadian tadi membuat nafas putra semakin melemah hingga di tengah perjalanan mereka bertemu dengan 2 anggota OSIS karena Vera sedikit Bingung kenapa mereka bisa di sini, dirinya pun bertanya kepada mereka
"Kenapa kalian ada, disini?"
"Kami datang karena bantuan dari ari, jadi kami membuat 3 grup yang lainnya sudah ketempat ibu putra dan ayah ari dan kami sebagai sisanya hanya perlu membantu yang terluka" ucap maya salah satu anggota Osis
Zeref pun, merebut rangkulan Vera dan segera membawa putra sambil dirangkul di pundaknya, Vera yang belum melihat ari segera berbicara dengan nada panik
"Tolong Ari, Maya dia membutuhkan bantuan di sana jika tidak cepat kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti" ucap Vera yang meminta tolong pada Maya
Oh.. Baiklah aku akan bergegas ke sana" jawab Maya yang langsung berlari menuju Ari
***
Ari yang masih mengamati orang-orang yang ada di sana, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, saat itu ari sudah tau siapa yang akan memanggilnya, karena waktu ari menguping pembicaraan bos mawar hitam ari sudah merasa kalau dia butuh pertolongan yang ternyata dirinya hanya bisa meminta tolong pada anggota osis di malam itu
Kamu tidak apa-apa, kak ari? Tanya Maya yang mulai mencemaskan keadaan ari
Iya aku tidak apa-apa hanya sudah tidak punya tenaga lagi untuk bertarung" jawab ari
Maya awalnya terkejut dengan pemandangan yang baru dia lihat, jika ari tidak bisa bertarung lalu siapa diantara mereka yang bisa mengalahkan orang sebanyak ini, Vera dirinya tipe kekuatan walaupun dia kuat dan cukup cepat, tapi tidak mungkin jika dia bisa menandingi senjata api yang di pegang mawar hitam
Ari hanya bisa berkata kalau, pertarungan ini tercium bau gosong yang berkemungkinan kalau pertarungan ini di ikuti oleh seseorang yang berkemampuan api, tapi menurut data-data anggota osis, di antara mereka semua tidak ada satupun yang memiliki kemampuan api
Tapi karena itu bukan hal penting, jadi mereka meninggalkan orang-orang itu dan segera keluar dari sana, di perjalanan maya bertanya kepada ari
"Kak ari, Kenapa kau mau membantu kak putra hingga segitunya?" Tanya maya
"Hmm.. Mungkin karena dia sahabat pertamaku!!" Jawab ari dengan datar
"Ternyata kak ari orang yang setia kawan ya, Walaupun kamu cukup dingin tapi hatimu itu melebihi cinta seorang ibu, aku yakin pasti ibu kak ari adalah orang baik" maya yang mencairkan suasana mencoba mengajak ari ngobrol
Ari yang melihat senyum maya, mulai teringat dengan ibunya, ibunya adalah gadis tercantik menurutnya walaupun hanya sebentar tapi Ibunya berperan sangat besar, karena ketika melihat maya dirinya teringat dengan wajah ibunya
"Rambutmu" seketika ari berbicara hal yang aneh ketika melihat maya
Rambutku? Ada apa dengan rambutku?! Tanya maya yang memegang rambutnya
Tidak, rambut pendek mu mengingatkan aku dengan ibuku, aku sedikit menyukainya"
__ADS_1
Ah.. Terimakasih" jawab maya yang tersanjung dengan pujian ari hingga membuatnya merona
Memangnya dimana ibumu, kak ari? Sambung maya
Ibuku di tangkap oleh organisasi mawar hitam, disaat aku masih kecil, mungkin karena itu juga aku mau berkerjasama dengan kalian" jawab ari
Seketika maya mulai merenung ketika mendengar cerita ari, karena nasib hidupnya hampir serupa dengannya, namun bedanya ibunya mati ketika melawan anggotanya
Kenapa kamu diam? Tanya ari
Tidak ada apa-apa baiklah mari kita keluar dari sini, kemungkinan Zeref sudah membawa putra ke rumah sakit sekitar sini jadi kita bisa menyusulnya dengan mencari rumah sakit yang paling dekat" jawab maya yang mengalihkan pembicaraan
"Iya kamu benar"
Disisi lain, di rumah sakit Rembulan terlihat Sonia, andrian dan Lia yang sedang bersama ibunya putra mereka berbicara seolah-olah hanya seorang penjenguk saja, padahal yang sebenarnya andrian lakukan saat itu untuk memantau dan menjaga ibunya putra karena kemungkinan targetnya juga ibu putra
Bibi bagaimana keadaan bibi? Tanya sonia terhadap ibunya putra
Bibi gak apa-apa, kalian siapa ya kok Siang hari gini sudah menjenguk bibi" jawab bibi siti dengan nada halus dan lembut
Kami semua datang karena, ingin menjenguk ibunya putra, karena kami semua teman sekolahnya putra" balas sonia
Kalian temannya putra ya, haha... Bibi sedikit terkejut ternyata putra suka berteman dengan banyak orang"
Dari saat itu sonia ngobrol dengan bibi siti layaknya ibu dan anak, andrian yang melihat sifat sonia mulai merasa kalau dia adalah gadis yang penyayang dan penuh dengan kelembutan hati
Hingga membuatnya jatuh hati padanya namun yang lebih mengejutkan adalah seketika pipi sonia memerah akibat membaca pikiran andrian karena saat itu andrian ada di dalam jangkauannya, jadi tanpa sengaja pikirannya terbaca termasuk tentang dirinya yang jatuh hati pada sonia
Eh.. Sonia, ada apa? Apa kamu tidak enak badan?! Tanya andrian yang melihat wajah sonia memerah
Andrian, kamu itu bodoh atau apa, kamu berbicara tentang aku ketika sedang bersama dengan aku" jawab sonia seketika jadi judes
Hah?.. Membicarakan kamu" namun tak lama wajah andrian ikut memerah akibat baru menyadari kemampuan sonia yang bisa membaca pikirannya
Haha.. Kalian ini kenapa sih padahal saling suka, tapi kenapa tidak jadian saja coba, dari pada kalian terus bertengkar seperti ini" sambung Lia yang menjadi penengah dalam hubungan andrian dan sonia
Bibi siti hanya tersenyum ketika melihat andrian dan sonia bertengkar, karena seketika dirinya mulai mengingat anaknya putra dengan Vera yang baru-baru ini ia temui, tapi entah kenapa bibi siti merasa kalau hubungan putra dengan Vera akan terus berlanjut hingga jenjang pernikahan
Bibi siti yang hanya berperan sebagai ibunya putra, hanya bisa mendoakan anaknya agar tetap sehat, mau bagaimanapun dirinya cepat atau lambat akan mati, entah itu karena penyakit atau karena usia
Oh.. Iya nak, kalian apa ada yang melihat putra, karena sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya jadi bibi sedikit khawatir
Bibi tentang saja, putra saat ini sedang ada urusan jadi dia tidak bisa datang kesini, tapi lain waktu pasti dia akan aku suruh kesini, jadi untuk sementara biar kami yang akan menemani bibi disini" jawab sonia dengan nada lembut
Baguslah, tapi entah kenapa perasaan bibi jadi enggak enak ya" Gumam bibi siti hingga terdengar ke telinga andrian yang membuat andrian juga ikut cemas dengan keadaan mereka yang berada di garis depan
Andrian mencoba menjauh dari bibi siti agar dirinya bisa menelpon Grup Zeref, mengenai keadaan putra saat ini,
Halo.. Zeref, bagaimana keadaan di sana? Tanya andrian lewat telepon genggam
Putra dan Vera baik-baik saja, hanya saja putra mengalami masa-masa kritis, tapi dia saat ini baik-baik saja, hanya menunggu masa pemulihan saja" jawabnya
"Masa kritis, bisa di lewati dalam beberapa jam saja, apa dia benar-benar manusia" batin andrian yang merasa terkejut dengan pemulihan putra
"Lalu bagaimana dengan Ari?" sambung ian
"Kalau dia sampai saat ini belum terlihat, tapi kemungkinan dia sudah aman karena sudah ada maya di sana" jawab Zeref
__ADS_1
Baguslah kalau begitu, aku serahkan di sana padamu, aku akan mencoba menelpon grup π½, yang sedang bertugas di tempat ayahnya ari, jadi sisanya aku serahkan padamu Zeref" ucap ian yang langsung mematikan telponnya