Fire And Water

Fire And Water
Cp 76# Adik Vs Kakak


__ADS_3

Diruang 00 atau lebih tepatnya di ambang pintu masuk, terlihat Vera menatap tak menyangka bahwa jenderal ingin membunuh seseorang yang berpakaian serba hitam, namun sialnya tindakan Jenderal dapat di halau dengan mudah walaupun mengorbankan telapak tangan yang terluka akibat menahan pisau dari Jenderal yang sudah tidak bertenaga lagi


Bahkan ditengah keterkejutannya sempat Pria serba hitam itu menatap tajam tajam ke arah Jenderal sambil melontarkan perkataan yang tidak biasa, karena kata-katanya mengandung isi intimidasi secara spiritual dari jiwa seseorang, "Ternyata kamu tidak takut mati yah" ketus dari pria yang menahan pisau jenderal


"Sialan" batin Jenderal yang sudah ketakutan akibat tidak tahu harus berbuat apalagi karena yang ada dibenaknya cuman rasa takut teramat dalam dari cara ia melihat mata orang tersebut


Ciri-ciri mereka sangat sederhana karena mereka memakai kaus panjang berwarna hitam dan warna celana sama dengan bajunya, tapi mereka mengunakan kain untuk membalut muka mereka supaya tidak dikenali oleh orang lain dan hanya menyisakan mata yang bisa dilihat, tapi lebih detail mereka serupa dengan *******


"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Vera dengan nada tinggi karena ia semakin ketakutan akibat melihat aksi jenderal dan tatapan dari pria misterius tersebut


"Sayangnya kami tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan dari bocah sepertimu!!" balas pria itu segera merebut pisau dari tangan jenderal lalu membuang ke sembarang tempat


"Kawan bisakah kamu bereskan dia!!" perintah teman satunya lagi yang berjalan santai mendekati Vera yang masih ketakutan


"Baiklah" jawab rekannya yang kini telah terluka akibat pisau yang merobek telapak tangannya walaupun begitu tangan yang terluka adalah tangan kiri jadi ia bisa mengambil pistol di sakunya mengunakan tangan kanan


Dan segera menodongkan pistol langsung ke kepala jenderal sehingga jenderal sudah mati langkah bahkan bergerak saja ia tidak berani, jadinya dia cuman bisa bertekuk lutut tanpa bisa melakukan perlawanan


"Begini bukannya lebih baik dari pada kamu melawan" seru pria misterius itu dengan jari siap menarik pelatuk pistol


"Sial,.. Hanya sampai sini" batin Jendral yang mulai pasrah dengan keadaan


Tapi disaat suasana sedang panik tiba-tiba terdengar suara tinju yang membuat pria yang mendekati Vera terpental menabrak dinding, beberapa saat sebelumnya Vera didekati oleh pria tersebut yang terlihat begitu sensual karena terus menerus menatap Vera dari bawah hingga keatas


Namun ketika hendak menyentuh ujung jarinya ke pipi Vera dengan tatapan jijik Vera berkata, "Jauhkan tanganmu dari hadapanku, dasar psikopat gak guna" olok Vera sambil berjalan mundur dengan badan gemetar namun ketakutannya dibalas dengan kata-kata yang tidak mengenakan seperti


"Sudah kamu menurut saja, dari pada bernasib sama seperti jenderal itu"


"Maksudmu" bingung Vera yang tampa sadar sudah menyentuh kaca yang kemungkinan dirinya sudah tidak bisa berjalan mundur lagi selain pasrah


"Maksudku, kamu temani saja kami bermain sebentar tapi kami janji akan membunuhmu tanpa rasa sakit" balas Pria tersebut yang semakin mendekati Vera yang tampak sudah tidak bisa melangkah mundur


"Kurang ajar, kalian benar-benar pria yang ku benci!!" ketus Vera yang tampak semakin tak tahu harus apa


"Lalu kenapa?, lagian kami yang akan memuaskan mu sebelum mati"


"Berani menyentuhku, aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu" ancam Vera dengan ekspresi yang tak berubah


"Haha.. Lucu sekali, tapi aku suka gadis sepertimu" jawab pria itu yang menjulurkan tangan ke muka Vera tapi sebelum menyentuh wajahnya ia telah lebih dulu mendapat tinjuan dari Vera tempat di dadanya, walaupun tidak terlatih namun kekuatan yang didasari rasa takut jauh lebih kuat dari kekurangan pada umumnya


Sehingga sekali pukul pria tersebut langsung terpental menabrak dinding kapal yang terbuat dari baja, dan pada akhirnya pria tersebut langsung pingsan ditempat, Vera yang melihat hanya bisa menutup mulutnya mengunakan tangan lalu berkata didalam hati, "Maaf aku kebablasan"


Karena kejadian itu membuat rekan yang satunya memalingkan fokus mengarah gadis yang memukul temannya tapi anehnya pukulan tersebut langsung membuat temannya terpental tak sadarkan diri, sampai ketika jenderal sadar kalau fokus lawannya telah terbagi sehingga dalam satu teknik dia dapat merebut pistol yang waktu itu hanya dipegang satu tangan dan dalam waktu singkat


𝘿𝙤𝙧...


Lawannya langsung tewas seketika, ketika jenderal menembakkan pistol kearah perut pria tersebut, walaupun musuhnya terlatih tapi tetap saja dia adalah manusia yang memiliki kelemahan pada umumnya, sehingga dalam waktu singkat suasana ruangan langsung sangat sunyi ketika melihat dua orang Assassin telah tergelatak tak berdaya


"Nona Vera, anda tidak apa-apa?" tanya Jenderal dengan memalingkan wajah menatap Vera yang sembari tadi terus menutup mulutnya rapat-rapat

__ADS_1


"Jenderal, apa saya membunuh seseorang?" tanya Vera yang tampak dari wajahnya kalau itu merupakan pengalaman pertamanya dalam membunuh seseorang


"Tidak nona, dia hanya pingsan" jawab jenderal dengan mencoba untuk berdiri sambil memeriksa pria misterius yang telah dibuat pingsan oleh Vera dalam sekali tinju


Setelah ia memeriksa detak nadinya ternyata pria tersebut hanya pingsan tapi anehnya detak jantung sangat lemah, sehingga memungkinkan pria tersebut mati dalam beberapa jam lagi sebelum ia dapat perawatan efisien dari dokter tapi karena tidak ingin membuat Vera bersalah dia berbohong dengan berkata


"Nona Vera tidak perlu khawatir, karena dia hanya pingsan mungkin beberapa jam lagi dia sudah sadarkan diri" seru jenderal yang berdiri menatap vera dengan senyum tipisnya


"Baguslah kalau begitu tapi tetap saja, aku harus merawat lukanya" jawab Vera yang berjalan mendekati pria yang telah ditinju hingga pingsan


"Stop,.. Anda tidak usah cemas, karena lukanya tidak parah"


"Kenapa kamu menghentikan ku?" bingung Vera yang sedikit ling-lung


"Ah.. Maksud saya, jika anda merawat lukanya, dia akan sadar lebih cepat, dan jika dilihat situasinya akan bahaya nanti kalau sampai dia sadar" jawab Jenderal yang tutur katanya sangat gugup karena panik jika Vera sampai tahu kalau korbannya sudah sekarat


"Tapi mau bagaimanapun, dia terluka karena saya jadi sudah kewajiban saya untuk mengobatinya"


"Aduh,.. Bagaimana ini!!" batin Jenderal yang terlihat gelisah akibat Vera terus melangkah mendekatinya


Dilain tempat terlihat Putra hampir kehabisan tenaga akibat terus menerus mengeluarkan kekuatan untuk melawan krise, kakak tirinya yang sudah membunuh keluarganya namun itu merupakan sudut pandang Putra bukan cerita sebenarnya


"Hah.. Hah... Kamu benar-benar bukan manusia yang mudah untuk di kalahkan" ketus Putra dengan terus memegangi perut dengan nafas yang tidak teratur bahkan kini badannya sudah penuh dengan luka memar yang cukup serius di seluruh tubuhnya


"Berhentilah, dari pada terus melawan!!" sahut Krise dengan mengernyitkan alisnya


"Berhenti, jangan membuatku tertawa, bodoh" jawab Putra dengan tatapan sinis


"Persetan dengan tubuh yang terpenting sekarang adalah menghabisi mu dengan tanganku sendiri" ujar Putra dengan sinis


"Ternyata kita sama-sama tumbuh dalam dendam, tapi sayangnya kamu terhadap aku dan aku terhadap dunia"


"Dunia?" bingung Putra


"Benar, selama ini dunia tidak memihak padaku jadinya aku yang akan mengakhiri dunia ini sesuai dengan scenario yang telah ditentukan oleh dewa Zhang Xuan"


"Zhang Xuan, jangan-jangan kamu bersekutu dengannya!!"


"Kalau iya, bagaimana?"


"Dasar brengs*k, kamu adalah kaum terhina dalam sejarah umat manusia!!" ketus Putra dengan nada emosi yang meledak-ledak akibat terbawa suasana yang baru saja dipacu oleh Krise


"Haha... Memangnya aku perduli" tawa sadis terlihat dari seri bibir Krise yang tidak bisa digambarkan


"Dasar gak guna" batin Putra yang merasa tidak berdaya sama sekali


Bahkan untuk berdiri saja ia tak sanggup, dengan luka yang cukup dalam membuatnya tidak bisa bertarung kembali jika bisa pun itu tidak maksimal dan bisa dibilang posisinya sudah mencapai batas, dengan rasa sakit yang terus menggerogoti tubuh dari setiap memar membuat Putra terus meringis


Bahkan dengan kesakitan ini sudah hampir membuat Putra menyerah dari tekadnya tapi sekali lagi dia harus bangkit, bukan untuk Vera melainkan untuk keluarganya yaitu Krise yang harus disadarkan dari kegelapan akibat kebencian terus menyelimuti hatinya

__ADS_1


Dengan badan yang tertantih-tantih, dan tatapan yang terus mengernyitkan alis ke arah Krise membuat lawannya yang tidak nyaman sehingga dengan ketus Krise berkata, "Berhenti menatapku, Bangs*t, aku jijik melihat mukamu lagi!!"dengan cepat dan gesit Krise melesat dan melancarkan tendangan tepat di wajah lawannya sehingga Putra langsung terpental kebelakang


Sehingga Putra langsung tergelatak dengan darah mengalir dari hidungnya, ingin melawan tapi sudah tidak memiliki tenaga, sebenarnya Putra ingin meminjam kekuatan Tang san, namun karena melihat tatapan Krise yang penuh kebencian membuat Putra mengurungkan niatnya dan lagi-lagi Putra kembali bangkit walaupun sudah tak bertenaga


"Cih,.. Walaupun aku tidak mengunakan kekuatan, bukan berarti dia bisa bangkit" batin Krise dengan tatapan kesal


Setelah kembali berdiri dengan kekuatan sisa, Putra dapat mengaktifkan mode badas walaupun tidak sepenuhnya kekuatan besar kembali padanya, tapi setidaknya itu bisa bertahan dalam beberapa saat dengan kekuatan besar yang mengalir dalam tubuh Putra membuat auranya ikut meningkat dan Krise yang melihat hanya tertegun akibat melihat kekuatan besar mengalir dari tubuh adik tirinya


Tapi mau bagaimanapun sekarang Putra berstatus lawan dalam duelnya, jadi ia harus bertarung apapun yang terjadi sampai salah satu dari mereka mati, karena hanya begitulah mereka bisa melampiaskan rasa benci terhadap sesama


Ditengah suasana yang tegang itu tiba-tiba, Putra melesat kembali dengan kecepatan penuh bahkan kecepatannya membuat krise kocar-kacir akibat speednya terlalu cepat, "Sialan, kenapa jadi secepat ini, padahal tadi dia sudah sekarat!!" gumam Krise dengan perasaan panik sekaligus terkejut


Tinjuan dengan kecepatan penuh membuat Krise mendapatkan serangan walaupun sudah ditahan menggunakan kekuatannya, tetapi tetap saja efeknya membuat pukulan dahsyat sehingga Krise mundur dengan pertahanan yang sudah runtuh


"Argh,.. Sial, dia terlalu kuat!!" ketus Krise dengan menggerakkan giginya


Bahkan dengan santainya Putra menyerang kedua kalinya dan berhasil meninju dagu lawan dengan kekuatan yang telah diselimuti api merah, disaat Krise masih kesakitan ketika mendapat serangan dari Putra sehingga dalam satu tinjuan Krise terpental ke langit dengan mulut mengeluarkan darah yang cukup banyak


"Argh,..." rintihan Krise yang terbanting ke tanah seusai terkena pukulan telak dari Putra, bahkan sempat Putra menyerang ke tiga kalinya namun efek dari kekuatan badas terlebih dahulu menggerogoti jiwanya sampai-sampai Putra menjerit kesakitan dengan memuntahkan darah yang berasal dari organ dalam


"Huhk,.. Huhk,.." Putra yang tersungkur ke tanah dengan darah segar yang terus keluar dari mulut begitu menyakitkan terutama pada bagian organ dalam tubuhnya


Sedangkan Krise justru masih tergeletak di tanah dengan berkata dalam benaknya, "Apa dia sudah mencapai batas yang sesungguhnya!!" hanya itu yang terbesit dalam pikiran Krise yang waktu itu dirinya ikut terkapar ke tanah karena tubuhnya kini cukup melemah


Karena tinjuan Putra membuat Krise merasakan sakit dan cedera yang cukup parah pada bagian dagu, terutama pada punggungnya yang secara tidak langsung cidera karena bantingan yang cukup keras dari atas langit


"Kenapa kamu tidak meminta bantuan dari mahluk yang ada didalam tubuhmu itu, karena dengan bantuan dia sudah pasti aku akan kalah telak" ujar Krise yang menatap bulan yang sudah berada di tengah langit dengan badan terlentang, Krise mulai meneteskan air mata yang sudah ia tahan selama ini


"Dia punya nama yaitu Tang san, dan alasan aku tidak menggunakan kekuatannya adalah karena ini masalah keluarga jadi sudah seharusnya aku yang menyelesaikannya bukan orang lain, dan tentunya dengan kekuatanku sendiri" jawab Putra yang ikut tergeletak ke tanah namun bedanya ia dalam posisi tengkurep


"Omong kosong, padahal kamu sudah tahu kalau tadi kamu sudah mencapai batas dan nyawamu berada ditangan ku, jadi mana mungkin kamu mau menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma, apalagi hanya untuk alasan bodoh seperti itu!!"


"Haha... Entah kenapa aku memiliki alasan lain, yaitu kamu tidak berniat membunuhku karena matamu hanya rasa kebencian terhadap diri sendiri bukan terhadapku jadi sudah seharusnya aku mengambil pilihan ini walaupun harus ada akibatnya"


"Dasar orang aneh" gumam Krise yang perlahan memejamkan matanya dengan perasaan menyesal akibat telah melukai adiknya sendiri


Tapi disaat suasana sedang hening Putra kembali bertanya kepada kakaknya, "Hey.. Kenapa kamu memprovokasi ku seperti tadi?" tanyanya dengan memutarkan tubuh dari posisi tengkurep sampai terlentang


"Sebenernya yang membunuh ibu bukan aku tapi salah satu bawahan ku, karena semua itu sudah berada diluar jangkauanku jadinya aku sangat menyesal kepada diriku sendiri karena terlambat menyadari akan kehidupanmu"


"Lalu apa karena itu juga kamu ingin membuatku memukulmu sampai puas" tanya Putra sambil melirik kearah Krise yang sama-sama terkapar di tanah


"Mungkin iya, karena dengan cara itulah kamu bias puas dan rasa menyesal ku pun sedikit terbalaskan"


"Haha.. Alasan macam apa itu" tawa Putra dengan tersenyum tipis, karena mendengar tawa Putra akhirnya Krise pun ikut tertawa bersama Putra saat itu juga sehingga tanpa sadar waktu terus berlalu dan mereka saling bertukar cerita dan bisa mencurahkan isi hati masing-masing dari antara adik-kakak ini walaupun ada rasa ketidaknyamanan karena belum lama bertemu.


***********


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖

__ADS_1


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋


__ADS_2