
"Tang san!!" kecam Zhang dengan menggertak gigi seraya menahan emosi yang kini hampir meledak-ledak dari balik jiwa, sehingga seluruh klon langsung bergidik ngeri melihat tuannya
"Jelaskan apa yang kamu lihat!!" tanya Zhang Xuan dengan mengernyitkan alis menatap klon yang sedang berkumpul dengan bersujud hormat
"Kami tidak melihat apapun selain, api putih yang keluar dari tubuh seorang pria yang tuan cari" jawab salah satu klon dengan mulut komat-kamit
"Jangan bilang.." tiba-tiba ucapan Zhang Xuan terputus karena ia sedang berfikir keras dengan apa yang diceritakan oleh klon
"Saya memiliki argumentasi kalau orang yang tuan benci belum lenyap, karena api putih tersebut menandakan kalau rohnya masih ada dan berada di tubuh seseorang"
"Kamu benar, lagian tidak ada manusia awam yang bisa mengendalikan Api Putih selain orang yang telah di titis oleh dewa itu sendiri"
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan kedepannya?" tanya klon yang masih setia bersujud dihadapan tuan agung mereka
"Jangan banyak bertingkah, karena aku sendiri yang akan bertemu dengan anak itu!!"
"Baik tuan"
"Tugas kalian hanyalah, memantau pergerakan mereka ingat jika ada sesuatu yang bisa menjadi ancaman ku maka singkirkan sampah itu"
"Baik tuan, laksanakan" jawab serentak dari ke empat klon sebelum pergi dari posisi awal dengan cara menghilang
"Haha... Benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan teman lama" tawa jahat dengan sumringah senyum ke samping
"Sebelum itu" disaat bersamaan Zhang Xuan berniat untuk menghabisi pria petir yang sudah merusak satu gerbang rohnya, akan tetapi ketika melirik tubuhnya sudah menghilang dari posisi yang entah kemana perginya
"Bajing*n!!!!!!..." teriak Zhang dengan sangat lantang dan keras sehingga suaranya bergema mencapai 100 meteran
Tentu saja suara tersebut mencapai ke kuping pria petir yang sudah jauh dari posisi lawan, terlihat pria tersebut berjalan dengan langkah tertantih-tantih dengan mengunakan pohon sebagai metode penguat tubuh karena kakinya tidak bisa menguatkan langkah kaki, karena tubuhnya sudah tidak bertenaga
"Sial,.. Hampir saja aku mati!!" gumam Pria tersebut dengan mengenalkan telapak tangan
"Dia benar-benar kuat" lanjutan dari kata-katanya namun kali ini berbeda karena ia berkata di dalam hati dengan menatap langit malam yang kini sudah menunjukan pukul 5 dini hari.
Usut demi usut waktu telah terlewati dimana matahari sudah menyingsing dari arahnya, tentu saja sinarnya langsung memapar ke permukaan yang menandakan malam telah berganti, setelah kejadian tersebut terlewati datang lah yang dinanti-nanti yaitu bantuan dari Sekutu menggunakan kapal induk, kapal tempur dan beberapa helikopter berserta serdadu nya
Dengan tujuan untuk mengevakuasi korban perang terutama Putra itu sendiri, akan tetapi sebelum mereka sampai di tujuan ada seorang kapten kapal yang berkata kepada kru nya tentang peristiwa berdarah tersebut, "Kapten, lapor beberapa menit lagi kita akan sampai pada tujuan!!" laporan dari seorang angkatan laut bersenjata
"Persiapkan personil dan senjata, kita akan segera terjun ke lokasi, karena kita tidak tahu pasti keadaan di sana jadi kita harus siap siaga dengan kedepannya!!"
"Baik" jawab yang lantang dari tentara tersebut sambil memberikan penghormatan pada atasan sebelum dirinya pergi memberitahukan yang lain
Pada waktu itu sang kapten sedang berada di ruang kapal induk yang luasnya cukup untuk bermain futsal, karena kapal tersebut sama jadi tak heran jika ada ruang yang sama yaitu ruangan khusus untuk rapat walaupun hanya tiga orang tapi mereka adalah seorang perwira yang di akui oleh negara Jupiter
Antara lain bernama Yino seorang kapten yang memandu kapal induk dan juga merupakan seorang pemimpin dalam pelayaran evakuasi, kemudian Tino yang akan menjadi komandan dalam penerbangan pesawat ataupun helikopter
Setelah kedua orang tersebut ada satu orang lagi yang sudah berpangkat yaitu Rino seorang angkatan darat yang berpangkat Letnan Jenderal yang tentu saja tugasnya untuk memandu tentara angkatan darat
Pada waktu ikut mereka sudah berkumpul di meja bundar untuk membahas isu evakuasi korban yang di angkat oleh kapten Yino, kebetulan baru datang dari luar ruangan seusai memeriksa keadaan kapal, "Bagaimana, Apa ada kabar dari markas pusat?" terlihat Yino bertanya kepada dua temannya yang waktu sedang duduk di kursi masing-masing sambil menyedot batang rokok
"Sudah Yin, ini laporannya sudah aku ketik kebetulan tidak banyak jadi hanya sekedar laporan yang menurutku penting saja" jawab Rino dengan memberikan selembar kertas putih
"Baiklah" jawab Yino yang menerima kertas tersebut lalu membacanya secara perlahan
Setelah membaca tanpa ekspresi kini langsung berubah drastis menjadi merah padam sambil meremas kertas dengan geram dia berkata dengan ketusnya, "Brengs*k,.. Beraninya mereka menentang negara kita secara terang-terangan"
"Aduh... Padahal aku sudah ketik capek-capek malah dirusak semudah itu" gumam Rino dengan wajah pusar
__ADS_1
"Benar, aku juga heran kenapa mereka menentang kita padahal negara kita hanya memberantas pemberontakan saja" ujar Tino menyela
"Bagaimana mereka menentang kita?" tanya Yino
"Kata pemimpin negara mereka, mereka akan memberantas pengancam kedamaian dunia" dengan argumentasi yang ditembakkan secara langsung kepada negara kita
"Cih.. Sok pembela kebenaran padahal sedang mencari pendukung atas negaranya sendiri" cibir Yino
"Tikus politik memang seperti itu!!" sahut Tino sambil membuang putung rokoknya
"Jadi apa yang harus kita lakukan saat ini, apa ada tugas ganda?" tanya Yino
"Untuk saat ini belum ada, jadi tugas kita hanya perlu menjalankan tugas utama saja"
"Begitu yah"
Disaat suasana sedang tentram tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar yang memanggil kapten Yino
"Kapten Yino.. Saya kru kapal ingin memberi laporan!!" ujarnya dari balik pintu sehingga dengan tanggap Yino mempersilahkan masuk orang tersebut
"Lapor kapten, jarak kira terhadap tujuan sudah 100 meter lagi, tapi sejauh mata memandang kami tidak melihat seorangpun yang memberi kode kepada kru kita"
"Maksudmu di kapal mereka tidak ada orang gitu?!!" tanya Rino yang terkejut hingga berdiri dari kursinya
"Kami tidak bisa menyimpulkan tapi memang seperti itu, bahkan kami sudah memakai teropong, tetap saja tidak melihat penghuni dari kapal induk maupun tentara perangnya"
"Berarti benar kata jenderal Rich (nama jenderal dari Jupiter)" ucap Yino
"Benar apa?" tanya Rino yang penasaran
"Kalau waktu itu suasananya sedang darurat oleh sebab itu ia meminta bantuan dari markas pusat"
"Apa benar separah itu yah" gumam Rino
"Baiklah, sekarang kamu boleh lanjutan pekerjaan mu" perintah Yino terhadap awak kapal yang telah memberi laporan
"Baik" jawabnya dengan lantang sambil memberi hormat kepada atasannya sesudah itu dirinya pergi meninggalkan ketiga atasan militer untuk melanjutkan diskusinya lagi
Beberapa saat kini Rino yang membuka mulut dengan berkata, "Sekarang gimana?" tanyanya dengan mata memandang cemas
"Kita tidak boleh mundur, karena kita memiliki tujuan untuk mengevakuasi korban perang, otomatis tujuan kita hanya mengamankan korban bukan berperang" jawab Yino
"Benar apa yang dikatakan oleh Yino" sahut Tino
"Yasudah kalau keputusan kalian seperti itu!!" jawab Rino sambil menghela nafas berat
Singkat waktu akhirnya tiba kapal induk di bibir pantai dan segera menurunkan tentara ke pesisir dengan dipandu oleh Jenderal Rino langsung, kemudian Tino melakukan penerbangan massal dengan jumlah puluhan pesawat jet untuk memberi tanda kalau bantuan sudah tiba sementara Yino langsung membawa kru nya untuk memeriksa kapal induk Rich
Ditempat Yino kini dirinya sudah menginjakkan kaki di lobi kapal yang akan segera naik ke atas untuk memeriksa keseluruhan isi kapal, dan tiba dimana ia sudah mencapai terowongan kapal untuk segera memeriksa ruang rapat namun sebelum sampai ia sempat melihat tumpukan mayat yang sudah tergeletak tak bernyawa
"Mayat dan bekas ledakan ini telah menandakan kalau disini pernah terjadi pertempuran" gumam Yino
"Jenderal sebentar lagi kita akan sempai pada tujuan"
"Beri aku senjata mu!!" perintah Yino kepada awak kapal
"Baik" dengan cepat kru tersebut memberikan senjatanya sambil memberi hormat kemudian mengambil sepucuk pistol di sarungnya
__ADS_1
Terlihat mereka berjalan dengan siaga yang penuh dengan kewaspadaan terhadap musuh, karena melihat kejadian tadi membuat mereka menaikan rasa was-was, sampai mereka di depan pintu rapat yang didepannya sudah tergeletak mayat berpakaian serba hitam, bahkan darahnya sudah mengering tapi baunya masih tercium
"Buka" bisik jenderal Yino kepada bawahannya dengan kode tangan
"Baik" dengan segera salah satu dari mereka mengambil ancang-ancang lalu menendang pintu tersebut hingga terbanting ke belakang
"Angkat tangan!!" terdengar suara asing yang penuh ketegasan dari dalam sehingga seluruh tentara Yino terkejut karena orang yang mengancam mereka adalah jenderal Rich yang merupakan satu angkatan bersenjata
"Jenderal?" tanya Yino yang tertegun kaget, tidak hanya dia seorang tapi seluruh tentara yang lain turut terkejut dengan apa dilihat mereka
"Kalian" desah jenderal yang mengendus lega melihat kedatangan bantuan dari markas pusat
"Jenderal, sedang apa anda disini dan apa yang sebenarnya terjadi?" dengan segera Yino mencecerkan pertanyaan kepada Rich untuk meminta penjelasan
"Nanti akan aku jelaskan, sekarang bawa mereka ke tempat yang layak dulu dan utama pria itu dalam penanganan medis!!" perintah jenderal Rich yang menunjuk ke arah putra karena pada waktu setelah Putra menggunakan api putih dirinya langsung pingsan tanpa sadarkan diri
Karena tidak ada tempat yang aman membuat jenderal Rick memutuskan untuk membawa Putra dan lainnya ke ruang 00 atau ruang rapat agar bisa lebih memudahkan tim penyelamat mencarinya
Singkat waktu akhirnya Putra telah mendapat penanganan khusus dari ahlinya, sedangkan disisi lain seperti di tepat Samuel, ia telah ditemukan oleh sekumpulan tentara bantuan sehingga dengan segera mereka diamankan ke tempatnya, jika untuk pesawat jet mereka telah menemukan sebuah terowongan rahasia yang tak lain dan tak bukan adalah pintu masuk ruang bawa tanah
Hingga pagi itu semua telah dikumpulkan di pesisir pantai, karena korban tahanan cukuplah banyak membuat tentara Sekutu mendirikan tenda darurat agar yang terluka bisa mendapat penanganan seperti Putra, karena Vera seorang perawat membuatnya harus turut membantu korban tahanan
Seperti ayahnya sendiri yang sudah diamankan hanya saja dalam keadaan kritis akibat pukulan maupun benturan seakan habis terkena siksaan, bahkan Vera yang melihat keadaan ayahnya langsung tersedu-sedu karena pemandangan tesebut telah menyayat hatinya
Didalam tenda Vera terus menangis dengan sedu melihat ayahnya sudah tergeletak tak berdaya di atas ranjang, bahkan dengan tangis membasahi pipi dirinya terus berkata maaf berulang kali sampai-sampai korban yang lain merasa bersimpati dengannya karena satu tenda untuk 6-7 ranjang
Dan tenda tersebut ada 10 buah jadi tempat Samuel tidak menjadi satu dengan Vera, namun tidak untuk Putra karena ia selalu senantiasa untuk menemaninya dalam keadaan sakit ataupun sehat
Disaat Vera masih meratap tiba-tiba datang seorang wanita yang kedatangannya telah mengejutkan dirinya sampai-sampai Vera beranjak tegak sambil mengusap-usap air mata di pipi, "Sina, ada apa kamu datang kemarin?" tanya Vera
"Maaf kalau aku mengganggu mu, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu!?"
"Silahkan tanya saja selagi aku tahu.."
"Apa kamu melihat Lian?"
"Lian?" bingung Vera dengan mengernyitkan alis sebelah
"Iyah, dia seorang pria yang menjadi Sekutu Samuel"
"Ah.. Maafkan aku, tapi aku benar-benar enggak tahu sama sekali dengan orang yang kamu maksud"
"Begitu yah, yasudah makasih karena sudah mau meluangkan waktu mu untuk membalas pertanyaan ku"
"Tidak perlu berterimakasih, lagian kamu juga tidak mendapat informasinya"
"Haha... tetap saja, yasudah kalau gitu aku duluan ya, masih ada job yang harus aku selesaikan" ucap sina yang segera meninggalkan tenda
Vera yang melihat kepergian Sina hanya bisa tersenyum tipis karena tidak tahu apa yang sudah terjadi kepada Lian, karena seluruh orang kehilangan kontak dengannya, ditambah sampai saat ini dirinya belum ditemukan oleh tentara Sekutu yang belum jelas keadaannya
Karena perasaan Vera sedang tercampur aduk membuatnya langsung meneruskan tugasnya yaitu merawat Putra dan ayahnya setelah itu baru ke orang lain yang membutuhkan bantuannya walaupun begitu ia masih tetap bersyukur karena untuk sekarang dirinya tidak kehilangan seorang pun yang berharga baginya.
********
𝙃𝙖𝙡𝙡𝙤... 𝙏𝙚𝙢𝙖𝙣² 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚'𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖.
𝙎𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙩 𝙪𝙥𝙡𝙤𝙖𝙙, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙢𝙖𝙪 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝, 𝙮𝙖 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙤𝙧𝙚 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝
__ADS_1
𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣² 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙨𝙪𝙥𝙥𝙤𝙧𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝙘𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!