
Boom yang diledakkan oleh Dika sejenis boom cahaya yang dalam waktu singkat keluar sebuah flash yang sangat kuat, tujuannya membuat mata menjadi sakit, namun di satu sisi boom tersebut tidak hanya menyerang musuh tapi pemiliknya juga kena imbasnya, bisa dibilang pedang bermata dua, akibatnya Dika tidak bisa menyerang musuh lebih dulu karena matanya masih sangat sakit jika untuk melihat
Karena tidak bisa melihat bukan berarti dika hanya diam saja, dengan momen yang bagus itu ia gunakan untuk mengisi peluru senjata karena ketika mereka sudah bisa melihat, posisi Dika sangat menguntungkan, tidak butuh waktu lama senjata telah terisi penuh
Bagi seorang tentara mengisi peluru tanpa melihat bukanlah hal yang susah, karena tentara dilatih untuk mengisi amunisi dengan cepat dalam perang agar mereka tidak kalah cepat dengan tentara lawan
Ckraagk...
Terdengar suara pompa senjata yang berasal dari Dika membuat pembunuh tersebut panik, karena bagi dia sangat susah untuk menghindari kecepatan senjata dari jarak dekat, apalagi jaraknya 4 meter dari lawan berdiri
Karena panik ia langsung maju dan menghunuskan belatinya, dika yang waktu itu belum jelas pandangannya hanya bisa menerima serangan dari pembunuh tersebut, tapi beruntungnya ia karena belati tersebut tidak menembus kulitnya, melainkan hanya mengenai armor tentara
Tidak lama pandangan mereka sudah mulai jelas Dika yang menerima serangan segera mengecek tubuhnya, dan memang di dadanya ada bekas sayatan hanya saja tidak tembus bagian dalam , hingga dengan cepat ia menembak pembunuh tersebut akan tetapi kecepatan menembak masih kalah dengan lemparan belati dari seorang pembunuh
Argh...
Suara rintih Dika diakibat lengan kiranya terkena goresan luka cukup dalam dari belati yang dilemparkan, saat itu peluang untuk sang pembunuh sangat meningkat, hingga dengan cepat ia melancarkan tendangan kearah kepala dika, mengundang kaki kiri, atau tendangan memutar
Senjata yang dipegang oleh dika langsung dijatuhkan akibat tidak punya tenaga untuk diangkat, dengan begitu ia dapat menangkis mengunakan tangan kiri walaupun ia harus terpental semeter, "Argh,.. Sial, sungguh jelek nasibku" keluh dika yang saat itu sudah tergeletak dilantai kapal
Pembunuh tersebut tidak mengunakan senjatanya lagi karena sudah merasa ia akan menang melawan dika, hingga dengan berani ia bejalan santai mendekati Dika yang saat itu masih tergeletak dibawah lantai
"Sial,.. Sepertinya cuman sampai sini riwayatku" Gumam dika dengan pasrah hingga matanya kini sudah sangat berat untuk dibuka
Dilain tempat yaitu dirumah sakit, dimana Ari dirawat terlihat Rian, Sonia, Ari, Maya, dan Rico yang baru keluar dari rumah sakit dan hendak untuk pulang tapi didepan rumah sakit Ari bertanya kepada teman-temannya
"Dimana, Putra?" tanya Ari dengan kebingungan karena sejak dirinya sadar, ia tidak pernah melihat Putra, yaitu sahabatnya
"Untuk sekarang sebaiknya kamu banyak-banyak istirahat, dan bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya balik Maya
"Aku baik-baik saja, dan kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?" ucap Ari dengan kesal tapi tidak ada yang menjawab hingga dia menjadi kesal sendiri
"Kenapa kalian diam saja, waktu itu kalian bilang Putra sedang sibuk sampai aku keluar dari rumah sakit tapi kenyatannya apa, Mana Putra?"
"Sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja untuk masalah Putra, biar aku yang kasih tahu ke dia untuk menemui " ngeles Rico yang membantu meyakinkan Ari
"Aku tidak akan mau pulang, jika kalian tidak memberi tahuku dimana Putra, kalian ini sebenarnya sembunyikan apa dariku, kalau kalian merasa keadaan aku kurang baik, justru kalian salah, karena keadaanku sekarang tidak seberapa dengan keadaan Orang-orang yang mati didepan mataku waktu itu, aku bisa merasakan bagaimana yang namanya keadaan terburuk " ucap Ari hingga semua temannya merasa binggung
"Baiklah, aku akan memberi tahumu kalau Saat ini Putra sedang melawan pemimpin mawar hitam!!" ucapan Rian membuat yang lain khawatir dengan ekspresi Ari
"Apa!!, bodoh sekali anak itu" ketus Ari
"Kalau kamu sudah tahu, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Rico yang merasa aneh dari ekspresi Ari
"Tentu saja, ingin menyusul dia" jawab singkat Ari membuat seluruh orang di sana terkejut, termaksud Maya yang sembari tadi khawatir dengan keputusan Ari akan menyusul atau tidak
"Ari, keadaanmu kurang baik jadi jangan paksakan Ego mu" bantah Maya
"Tidak Maya, Putra bukan hanya sekedar teman taupun sahabat tapi dia adalah Partner ku, jadi mau ia dalam bahaya aku akan selalu berada didekatnya" balasan ari membuat Maya tidak bisa berkata-kata karena perkataan Pria adalah bukti kalau dia adalah seseorang yang harus penepati janji
"Aku setuju, dangan apa yang dikatakan Ari karena mau bagaimanapun Putra juga berjuang untuk kita, jadi sudah seharusnya kita membantu dia dalam masalah" argumen Rian yang memperkuat perkataan Ari
"Kenapa kalian sangat keras kepala sih" keluh Sonia sambil menghela nafas
"Tapi kita akan menggunakan apa untuk kesana, jarak kita dan Pulau tersebut cukup jauh, jika mengunakan kapal pun kita butuh satu hari satu malam untuk sampai" bingung Maya
Hingga Rico berbicara, "Kalau anggota aku sudah mengaturnya tapi jika transportasi aku belum tahu karena itu diluar kendaliku"
Disaat mereka masih bingung dengan masalah yang mereka hadapi, tiba-tiba Maya membuka mulutnya dengan suara nyaring
"Kalau masalah transportasi kayanya aku bisa mengaturnya"
"Apa!!" terkejut Ari dengan menatap wajah Maya
"Bagaimana caranya kamu ingin mengatasinya?" bingung Sonia
"Ayahku punya Pesawat pribadi tapi sangat kecil, jadi hanya muat kita saja, tidak dengan anggota Superstar"
__ADS_1
"Bagus kalau begitu tunggu apa lagi, mari kita berangkat" seru Ari
"Tapi aku sudah menyiapkan anggota kita, apa kita tidak mengajak mereka juga?" tanya Rico
"Tidak perlu" Jawab singkat Ari
"Apa!!, cuman kita berlima itu sangat berbahaya" bantah Rico
"Kalau begitu, situasi Putra jauh lebih bahaya dari kita" hingga keputusan Ari tidak bisa diganggu gugat walaupun Maya yang menasihatinya
Karena keputusannya mereka sudah tepat mereka segera memesan mobil online untuk menuju Rumah Maya yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit, tapi itu bukan masalah karena mereka dapat sampai satu jam setelahnya, sesampainya mereka disana alangkah terkejutnya Ari karena baru pertama kali melihat rumah Maya
Karena selama ini Maya hanya tinggal dirumah cabangnya itupun sering disebut rumah dekat sekolah
Dengan bingung Ari melontarkan pertanyaan, "May, apa kamu anak kolongmerat, karena aku pikir rumah kamu ada di dekat sekolah"
"Aku pernah bilang kalau aku tinggal sendiri disana, karena ayah dan ibuku tinggal di luar kota, jadi ini termaksud rumah mereka"
"Eh,. Jangan bilang ayah dan ibumu ada disini?" kaget Ari sekaligus panik sendiri
"Tidak ada kok, disini cuman ada asistennya saja dan rencananya aku ingin meminjam pesawat tersebut dengannya"
"Memangnya boleh?" bingung Rico
"Enggak tahu" jawab singkat Maya hingga semua orang termaksud Maya sendiri merasa tidak yakin dengan jawaban yang diberikan asisten tersebut
Rumah besar dengan betingkat membuat mereka ragu untuk memasukinya akibat merasa tidak layak untuk menginjakkan kaki dilantai yang terbuat dari keramik emas, tapi Efek tersebut tidak mempan bagi Maya karena dia yang memiliki rumah tersebut hingga dengan santai dia masuk dan disambut dengan pelayannya bahkan ada seorang pria tua yang mengunakan Jas asisten
Mereka mendatangi Maya sambil membungkuk memberi hormat kepada nona besar dengan sapaan yang sopan dan serentak
"Selamat pagi, Nona besar!!" sapa mereka hingga sang pria asisten tersebut kembali tegak dan melangkah mendekati Maya sambil berkata
"Kenapa nona tidak bilang kalau mau pulang kerumah?" bingung pelayan tersebut
"Justru aku yang tanya kepada kalian, kenapa kalian bisa tahu kalau aku datang, sementara di gerbang masuk tidak ada penjaganya"
"Buset, pasukan khusus memangnya ada intelejen dari musuh" batin Ari tanpa bisa berkata-kata
"Kalau begitu, apa ayahku ada dirumah?" tanya Maya
"Kalau tuan besar tidak ada, tapi kalau nyonya besar ada nona Maya" ucap pelayan tersebut dengan menunduk
"Kalau begitu aku masuk" jawab singkat Maya sebelum masuk dirinya ditanya sekali lagi oleh pelayan pria tersebut
"Tunggu sebentar nona, jika saya boleh tahu siapa anak-anak ini, kata tuan besar mereka yang asing dilarang masuk, kecuali pengemis atau anak jalanan?" tanyanya
"Mereka bukan orang asing, tapi temanku" jawab Maya hingga pelayan tersebut mengangguk pelan tapi tidak untuk Ari dan yang lainya karena menurut mereka justru perkataan tersebut adalah penghinaan terbesar bagi mereka
Lepas dari itu mereka mulai melangkahkan kakinya menginjak keramik milik rumah maya, yang sebenarnya Ari tidak tahu jika ayah Maya adalah seorang pengusaha terbesar dikota, karena seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua Maya
Kecuali pembantunya yang ada dirumah cabang milik Maya, setelah mereka memasuki ruang tamu alangkah terkejutnya mereka karena sekitar maupun dinding rumah sangat indah bahkan Guci rumah terlihat begitu indah karena warnanya kuning kecerahan
Sampai-sampai mereka tidak bisa mengedipkan mata yang telah terjangkit penyakit terpesona, tapi semua itu berubah ketika datang seorang Wanita paruh baya yang turun dari tangga bersama dengan pelayan bergaun Maid yang turun secara perlahan mengiringi majikannya
Dengan sontak Maya berlari sambil berkata, "Ibu, aku pulang!!" seru Maya yang berlari menghampiri wanita tersebut
Rian, Rico, dan Ari bisa merasakan aura wanita tersebut yang begitu pekat harumnya, aura tersebut menandakan kalau ibu Maya adalah orang yang baik dan penyayang, sampai-sampai auranya menutup kondisi tubuh yang sudah termakan usia
Sedangkan Sonia hanya terpukau dengan apa yang dia lihat, karena menurutnya itu adalah kejadian langkah yang pernah ia lihat sepanjang masa, seorang manusia yang mempunyai aura indah dan harum, bahkan seorang gadis kuil tidak bisa menandinginya
Hingga mereka melihat Maya berpelukan dengan wanita tersebut sambil berkata-kata manja, layaknya seorang anak, Ari yang melihat hanya bisa tersenyum sambil bergumam, "Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" setelah itu mereka semua disuruh untuk duduk disofa yaitu di ruang tamu dimana tidak jauh dari pintu luar
Setelah semuanya duduk disana sang ibu berkata kepada Maya yang saat itu duduk disamping kanannya, "May, memangnya bener sekolah kamu hancur?"
"Iya, ma" jawab singkat Maya dengan malu-malu karena kepalanya dipegang oleh telapak tangan ibunya
"Kenapa tidak bilang ke ibu, bukannya ibu sudah pernah bilang kalau terjadi sesuatu kamu harus cepat menghubungi ibu, kalau gitu kamu mau lanjut sekolah mana?" tanya ibu Maya
__ADS_1
"Tidak, ibu saat ini aku tidak ingin sekolah terlebih dahulu karena ada masalah yang harus aku lalui sebelum semuanya terlambat" tolak maya membuat ibunya kini menarik tangan yang ada di kepala Maya
"Masalah?!, masalah apa?"
"Jadi gini, apa ibu kenal dengan sebuah organisasi lama yang namanya Mawar Merah?"
"Tentu saja ibu tahu, karena ayahmu adalah salah satu anggota Merpati Putih"
Hingga seluruh orang yang ada di sana terkejut termaksud Ari, karena menurut dia akan ada petunjuk tentang ayah Putra dan ayah angkatnya jika menjalin kontak dengan ayah Maya
"Kenapa ibu tidak bilang dari awal kalau ayah pernah terlibat dalam masalah itu!!"
"Karena menurut ibu itu adalah hal yang tidak berguna untuk dibahas"
"Kalau gitu apa ibu tahu kalau Mawar hitam adalah Mawar merah?"
"Mawar hitam?, ibu baru tahu kalau ada organisasi seperti itu?" bingung ibu Maya
"Jadi memang benar, berita tentang mereka tidak menyebar luas, tapi ada beberapa orang yang tahu" batin Ari sambil menyimak percakapan anak dan ibu
"Kalau kamu datang untuk menanyakan hal seperti itu saja, ibu tidak percaya sebenarnya ada apa yang kamu inginkan hingga datang kemarin may?"
"Aku ingin meminjam pesawat peribadi milik ayah" jawab maya secara langsung
"Untuk apa?"
"Sesuatu hal yang harus aku lakukan, dan sekarang aku tidak punya waktu yang banyak" balas maya
"Sesuatu hal?, bisa kamu kasih tahu ibu, Hal apa itu!!"
"Melanjutkan usaha ayah untuk mencapai perdamaian"
"Usaha?, perdamaian?, kamu itu ngomong apa" rasa bingung sang ibu kini menjadi-jadi
Dengan terpaksa Maya menjelaskan masalah yang terjadi sedetailnya kepada ibunya sendiri agar tidak terjadi kesalah pahaman, tapi setelah itu ibunya kini malah terkejut dengan aktivitas yang dilakukan anaknya sendiri selama ibu tidak memantau, karena tindakannya yang sudah membahayakan nyawanya sendiri
"Maya, kamu tahu apa yang kamu lakukan itu bahaya!!" suara tegas dari sang ibu setelah mendengar cerita dari putrinya sendiri
"Aku tahu, bu tapi ini semua demi kebaikan umat manusia" jawab Maya dengan menegakkan kepalanya
"Walaupun begitu, tapi tidak seharusnya kamu terlibat dalam masalah ini"
"Kumohon ibu, tolong izinkan aku untuk menyelesaikan masalah yang telah aku buat ini, mau bagaimanapun ini tetap kewajiban aku sebagi manusia berkemampuan"
"Maya!!" suara keras disertai kecemasan dari ibu maya membuat Ari buka mulut
"Sebelumnya saya ingin minta maaf tante, tapi kami semua adalah satu golongan yaitu manusia berkemampuan jadi-" sebelum selesai menjelaskan ibu maya telah lebih dulu memotongnya dengan berkata
"Apa kamu yang telah menyeret anakku kedalam masalah ini!!!" Emosi sang ibu hingga auranya berubah menjadi kemerahan
"Mama, ini bukan salah Ari tapi karena kemauan aku sendiri dan ayah dulu bukannya seperti ini juga, yaitu dia mau membela yang benar karena kemauannya sendiri"
"Kenapa kamu keras kepala sekali Maya"
"Karena aku sudah tahu kemana jalanku berada" jawab singkat Maya yang membuat perdebatan antara ibu dan anak terjadi
Tapi tidak lama ibu Maya tersenyum dan senyuman itu adalah senyum yang tulus dari sang ibu, hingga seluruh orang yang ada disana terkejut, bahkan pelayan-pelanyannya ikut terkejut dengan apa yang mereka lihat
"Ibu tahu kalau kamu itu sangat mirip dengan ayahmu, dan mau seberapa keras aku melarang kamu akan tetap seperti ayahmu yaitu memegang prinsipnya"
"Jadi ibu setuju dengan keputusanku" tanya Maya dengan mata berbinar
"Tentu saja tidak" jawaban langsung dari ibu secara acuh tak acuh
Kejadian itu membuat seluruh orang kini menjadi kebingungan karena jawaban yang diterima tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan, hingga Maya kembali bertanya
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kamu anak perempuan beda dengan ayahmu" ucap ibunya membuat Maya mati kata hingga membuat banyak pertanyaan bagi seluruh orang yang ada di sana mengenai maksud dari perkataan seorang ibu