Fire And Water

Fire And Water
Cp 46# Teman Baru


__ADS_3

Waktu terus berlalu begitu cepat dan tanpa disadari waktu sudah malam hingga dibawah rembulan yang remang-remang dan suara hewan dari serangga kecil maupun raungan anjing liar terus terdengar, bahkan gelapnya malam membuat satu pulau menjadi gelap gulita akan tetapi dibawah rembulan yang gelap ada satu manusia yang terkapar di bawah pepohonan hutan belantara


Putra yang saat itu baru sadar dari pingsannya kini hanya bisa menatap langit yang gelap, dengan diiringi suara bising serangga membuat suasana di sana sangat mencengkeram tapi tidak untuk putra dia sama sekali tidak merasa takut ataupun khawatir tentang keadaannya sekarang, itu karena rasa sakit dan lelah yang terus menggerogoti tubuh bahkan dia sampai lupa tentang keberadaannya


"Hah..!!, Lelah sekali" keluh putra dengan menghela nafas panjang dengan badan terlentang di rumput hingga membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas dimana dia berada, yang terlihat hanya rumput setinggi perut dan pohon yang menutupi sinar rembulan


Sebenarnya putra ingin pergi dari sana namun sayangnya dia masih tidak memiliki tenaga untuk berdiri bahkan karena kecapean dia sampai lupa kalau di hutan ada bahaya seperti ular ataupun serigala yang bisa saja menerkamnya


Dengan nafas panjang putra, kembali mencoba untuk melakukan tahap selanjutnya yaitu ingin mengambil posisi duduk akan tetapi aslinya masih saja nihil, hingga dari kejauhan dia mendengar suara petugas kepolisian yang saat itu sedang patroli di area sekitar


Karena ingin selamat putra bertekad ingin meminta tolong dengannya, namun siapa sangka kalau polisi tersebut kini telah pergi karena menemukan seseorang yang membutuhkan pertolongan Walaupun putra tidak bisa berdiri ataupun berjalan namun dia masih bisa mendengar dan suaranya tampak dengan jelas kalau polisi itu menyebut


Dua pria, hingga yang ada di benaknya hanya ada dua pilihan yaitu antara Rian dan Rico atau Rico dan pria transparan, sebenarnya Putra ingin sekali menyusul namun tidak bisa, mau sekeras apapun dia mencoba hasilnya akan tetap sama, itu karena dia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri bahkan untuk sadar pun ia sudah termaksud beruntung


Putra sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya namun sekilas dia melihat sesosok ibu dan ayahnya yang sedang duduk di samping kanan dan kiri, dengan bingung putra tidak bisa berkata-kata, karena tenggorokan sudah mulai kering, perut lapar dan badannya yang sangat lemah membuatnya tidak bisa mengeluarkan ucapan dari mulutnya


Semua itu bagaikan mulut di kunci rapat dan disaat itu juga putra kini mulai memejamkan mata namun seketika dirinya tersadar di alam bawah sadarnya dan bertemu Tang san yang terlihat kesal, dengan bingung putra berkata, "Master?!"


"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak bilang kalau terjadi sesuatu" bentak Master dengan nada tinggi


"Eh" suara yang berdenging membuat putra sadar kalau masternya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan ataupun memberikan kekuatan berskala besar kepada orang


"Kenapa diam?, coba saja kamu bilang lebih awal mungkin kamu tidak akan sekarat dan Ari juga tidak perlu kamu gendong sampai ke kota, kalau kamu memberi tahunya ke aku lebih awal, apalagi kemarin Ari tidak terluka hanya kehabisan energi doang"


Ucapan yang keluar dari mulut master membuatnya frustasi sekaligus menyesal karena tidak memikirkan kalau didalam dirinya sudah ada orang yang kuat dan bisa dijamin kalau dia akan membantu, dengan mulut diam putra hanya bisa mematung karena kata-katanya membuat putra kena mental


"Cih,.. Tapi untung saja tadi ada arwah orang tuamu kalau tidak mungkin kamu sudah mati sekarang"


"Ayah dan ibu, dimana mereka sekarang? dan aku tadi melihatnya ketika badanku sudah tak berdaya" ucap putra yang kembali berseri karena efek rindunya


"Mereka ada didalam tubuhmu sekarang, tadi waktu kamu sekarat mereka datang untuk membuatmu bertahan hidup mungkin karena ada misi yang perlu kamu selesaikan"


"Jadi mereka datang ingin bertemu bukan jemput aku?"


"Mana aku tahu, kalau ingin tahu kamu serahkan tubuhmu dulu biar aku mengendalikannya aku jamin setelah kamu sadar kamu akan kembali normal"


"Baiklah, tapi posisi dan tubuh sangat tidak memungkinkan, jadi nanti kalau ada kendala maafkan aku ya" balas putra


"Oke-Oke" jawab singkat master hingga menghilang dari hadapan putra namun tidak selang lama akhirnya dia melihat dua arwah yang sangat dia rindukan yaitu ayah dan ibunya, bahkan ayahnya yang selama ini tak pernah ia jumpai tapi kali ini dia melihat dengan jelas wajah ayahnya dan ibunya adalah orang yang paling dia rindu


"Ayah, ibu" putra yang melihat orang tuanya langsung meneteskan air mata dan segera memeluk mereka berdua dengan erat walaupun hanya roh namun sensasinya terasa seperti nyata karena hal itu juga kerinduannya kini bisa terbayarkan


"Sudah jangan menangis kamu itu sudah besar dan kamu adalah orang kuat, ayah percaya itu" suara asing yang baru pertama kali Putra dengar, walaupun suaranya asing tapi Putra merasa nyaman dengan suaranya


"Ayah!!" bingung Putra sambil melepas pelukan dan berdiri dihadapan orang tuanya


"Maafkan ayahmu Putra, sekarang ibu tahu kenapa dia tidak pulang ke rumah kita"


"Apa maksud ibu?"


"Memang benar, ayahmu masih hidup di saat kamu masih kecil namun itu tidak bertahan lama, karena setelah dia menyelamatkan Vera dia harus berhadapan dengan pemimpin baru, dari organisasi mawar hitam"

__ADS_1


"Pemimpin baru?"


"Nikolaus, dia adalah Wakil pemimpin dari pendiri mawar merah dan ia memiliki rencana untuk membunuhmu, tentu saja ayah tidak akan membiarkan itu sampai terjadi namun siapa sangka kalau dia sudah bersetubuh dengan kekuatan hitam, yang membuat aku kalah"


"Nama dari pemimpin mawar hitam, lalu kenapa aku tidak terjadi apa-apa sedangkan dia masih hidup?" tanya Putra


"Tentu saja, kamu akan mendapat jawabannya dari kakakmu" sambung ibu


"Kakak?, kakak dari mana sedangkan aku tunggal dan setahuku aku tidak mempunyai adik" bingung Putra


"Justru itu kamu harus hidup karena jalanmu masih panjang, dan penderitaan ini baru awal karena cepat atau lambat kamu akan berhadapan dengan Zhang Xuan, musuh terkahir atau lawan terberat mu, Putra"


"Tapi aku lelah" keluh putra dengan menundukkan muka, ibu yang melihat itu dengan cepat mendekati anaknya lalu menegakan kembali pandangan putra sambil berkata, "Ibu yakin kamu itu kuat, dan ibu akan selalu menyertai kamu kok, jadi jangan khawatir" ucap ibunya yang langsung memeluk putra dengan rasa kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya


"Sebenarnya ayah ingin sekali memberi tahu mu tentang jalan hidup ayah, namun ini belum saatnya nanti akan ada orang yang membimbing anakku layaknya seorang kakak jadi kamu harus mencarinya sendiri, Oke"


"Baiklah, sekarang aku mengerti kenapa aku harus hidup untuk saat ini dan kedepannya" balas putra yang akhirnya ia kembali tersenyum


"Ibu senang kamu sudah kembali, ingat ya jaga Vera dengan baik di sana" kini putra dan ibu melepas pelukan dan kembali kesamping suaminya


"Benar apa yang dikatakan ibumu, kamu ingat ya wanita seperti dia tidak akan datang untuk ke dua kalinya" ikut ayahnya sambil tersenyum tipis


"Iya-iya, aku janji kok" senyum lebar terpancar dari muka putra


"Nah gitu dong itu baru anak ibu, kalau begitu ayah dan ibu pamit dulu ya, karena waktu kita tidak lama disini"


"Tapi kita belum cerita banyak ayah, ibu!!" bantah putra


"Iya, ayah" ucapan Putra membuat ayah tak kuasa menahan tangis hingga meneteskan air matanya


"Kamu jangan sedih, ibu yakin suatu saat nanti kamu pasti akan mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya" senyum terpancar dari sang ibu membuat suasana menjadi lebih harmonis dan bahagia yang pada akhirnya mereka berdua menghilang secara bersamaan


Putra sadar kalau perjumpaan mereka hanya sementara tapi itu sudah lebih dari cukup untuknya karena dia tahu kemana langkah yang harus dia ambil dalam menjalani hidup, yaitu dengan mengalahkan Nikolaus, mencari kebenaran tentang ayahnya dan mengalahkan Zhang Xuan musuh terakhirnya, itulah tujuan yang saat ini dia yakini


Karena sudah tidak ada lagi hal yang membuatnya bertahan akhirnya dia mencoba untuk menghubungi Tang san, untuk menyerahkan tubuhnya agar dia bisa kembali ke dunia nyata, tak selang beberapa lama akhirnya dia tersadar dan pertama yang dia lihat adalah seorang pria berbaju tentara yang saat itu berada di hadapannya


"Lah dimana aku?" bingung putra sambil memperhatikan sekelilingnya dan yang membuatnya aneh hanya rasa sakit dan lelah seakan-akan menghilang dari tubuhnya tapi yang putra tahu dia sudah melewati jembatan karena posisinya berada di pinggir kota namun letaknya jauh dari jembatan dan untuk rasa sakit kini dia sudah tidak merasakannya


Putra mulai perlahan mencari titik terang dengan keadaan dan tempatnya sekarang, karena beberapa saat yang lalu dia tidak sadarkan diri namun disaat putra melamun tiba-tiba tentara tersebut menepuk pundak putra sambil berkata, "Hey, aku tadi bertanya kepadamu kenapa kamu ada disini?"


"Anu,.. aku juga tidak tahu" balas putra hingga membuat tentara tersebut pusing dengan jawaban putra


"Kok tidak tahu sih, perasaan tadi kamu loh yang jalannya mengendap-endap kaya maling, atau kamu salah satu anggota pemberontak!!" panik tentara yang langsung mundur beberapa langkah dan memasang posisi siap tembak


Putra yang melihat tentara tersebut memegang pistol di saku seketika langsung panik, karena dia takut jika ditembak, "Sebentar Pak jangan ditembak, saya hanya seorang korban dari Pembantai di pulau tersebut" panik putra sambil menutup muka dengan tangannya


"Korban?, bukannya di sana sudah ada anggota tentara yang mengamankan tempat dan sekitarnya mungkin saat ini negara sudah mengirimkan ambulan dan tenaga medis ke sana" ucapan tentara tersebut terselubung rasa curiga karena kalau putra adalah korban dari pembantai naga Es, aturan dia akan diselamatkan oleh tentara negara yang sedang mengeksplorasi di tempat kejadian


"Yah,.. waktu itu saya terjun ke danau untuk menyelamatkan diri dari tentara maupun naga Es, dan tanpa sadar saya terbawa kesini" jawab putra dengan wajah kebingungan karena dia mencari alasan yang logis agar lawan bicaranya tidak menaruh rasa curiga karena mau bagaimanapun dia adalah seorang petugas yang berhak untuk menangkapnya


"Oh,.. Begitu ya" tentara tersebut akhirnya percaya dengan perkataan putra dan melepas posisi siaga hingga putra dapat menghela nafas lega karena perkataannya sudah dipercaya oleh tentara tersebut

__ADS_1


"Iya, maafkan saya kalau saya mengendap-endap seperti maling, karena saya takut kalau saya harus diisolasi oleh tentara karena saya masih trauma dengan pembantaian yang dilakukan tentara kemarin pak" Ucap putra dengan kebohongan


"Jadi yang kemarin melakukan pembantaian adalah pemberontak bukan naga?"


"Iya pak, penduduk desa di bunuh tentara sedangkan tentara dibunuh naga" balas putra dengan polos tanpa harus pikir-pikir lagi


"Kalau begitu, bagaimana cara kamu lolos dari sana?"


Ya, waktu itu terjadi penyerangan di desa, saya sangat takut yang akhirnya langsung terjun ke danau"


"Kalau begitu kamu hanyut dong?"


"Iya, Om" balas putra


"Kalau gitu gimana cara kamu bisa melihat kejadian kalau kamu langsung terjun ke danau" ucapan dari tentara membuat putra Skakmat tapi karena tidak mau dicurigai dia hanya berkata


"Yah, kemarin saya berenang jadinya sempat melihat kejadian"


"Oh,. Begitu ceritanya, kasihan sekali kamu pasti keluargamu tewas semua"


"Eh" bingung putra hingga terpaksa berpura-pura menangis yang sebenarnya tidak, dengan tangis buatan putra berkata, "Iya, pak saya kemarin sangat sedih namun siapa sangka kalau keluarga saya rela berkorban untuk melindungi saya"


Akhirnya Semua perkataan Putra yang penuh kebohongan dipercaya oleh tentara dan dimalam itu juga terlihat dua orang bodoh yang saling bercerita tentang hal yang tidak begitu jelas bagaimana tidak mereka bercerita layaknya teman akrab sampai lupa dengan statusnya, karena suhu malam yang semakin dingin akhirnya pria tentara mengajak putra menuju kamarnya supaya putra bisa beristirahat di sana, dijalan mereka sempat ngobrol biasa tanpa ada rasa curiga di antara mereka


Putra berfikir kalau tentara itu sangat ceroboh dan tidak teliti dalam menginterogasi seseorang, itu sangat terlihat di setiap perkataan putra dimana putra mengucapkan saksi bohong, yang bermula dari dirinya melihat tentara dan naga membantai, berenang sambil menonton pertempuran sadis, dan orang tua yang mati berkorban, jikapun benar putra memiliki trauma dengan tentara


Dia tidak seharusnya bisa berbicara dengan tentara karena logat putra berbicara sangat santai dan seakan-akan tidak terjadi sesuatu hal yang ditakutinya, sesampainya mereka di depan pintu kemar terlihat jelas di sana sangat sepi bahkan penjaganya sudah istirahat di kamar mereka masing-masing itu karena mereka harus mengumpulkan tenaga di hari esok


"Oh iya, selama perjalanan kita belum kenalan kalau boleh tahu siapa nama kamu?" tanya tentara sambil mengulurkan tangan kanan kearah putra


"Nama saya Putra Pandawa, tapi anda bisa memanggil saya dengan sebutan Putra" Putra ikut mengulurkan tangan hingga akhirnya mereka saling berjabat tangan


"Kalau saya Andika, tapi kamu bisa memanggil saya kak dika"


"Iya, kak dika salam kenal" akhirnya mereka saling berkenalan dan tanpa mereka sadari mereka telah melanggar aturan militer yang dimana membiarkan seorang korban dirawat di kamar tentara tanpa melapor terlebih dahulu


"Baiklah Putra, mari kita masuk masih banyak yang ingin aku ceritain ke kamu" ajak dika yang akhirnya Putra ikut ke dalam kamar untuk beristirahat bersama dika


*𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙡𝙪*


Dimalam hari dengan bulan telah mencapai atas atau bisa dibilang waktu itu jam sudah menunjukan pukul 21.00, dika seorang anggota militer ingin tidur namun tidak bisa tidur yang akhirnya memutuskan untuk keluar rumah berharap dia bisa menenangkan pikiran yang akhirnya dapat tidur tanpa ada beban pikiran


Karena yang ada dibenaknya cuman hari esok dia harus berangkat ke medan perang, karena itulah dia menjadi panik dan kepikiran, sebenarnya itu semua bukanlah pengalaman pertamanya namun setelah beberapa dekade dia tidak ditempatkan lagi kedalam misi mengintai membuatnya merasa Insecure dan pada akhirnya menjadi beban pikiran


Di luar dia hanya berkeliling di tepi kota yang letaknya tidak jauh dari komplek rumah, namun ketika di tengah menghirup udara segar tanpa sengaja dia melihat seorang pria remaja yang baru beranjak dari tepi danau tapi anehnya dia berjalan dengan mengendap-endap hingga dengan sigap dia langsung menyusul pria tersebut sambil berkata, "jangan bergerak, diam ditempat karena kau sudah tercyduk" teriak pria tersebut hingga membuat Tang san diam membeku


Namun beruntungnya dia tidak dihadapan dengan tentara menyebalkan karena Putra telah memintanya untuk menggantikan untuk mengontrol tubuh, oleh karena itu ketika Putra tersadar dirinya sudah bersama dengan anggota tentara.


****


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙠, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙠𝙪!!!.

__ADS_1


__ADS_2