
Keesokan harinya disaat vera baru bangun dari tidur, dirinya melihat putra yang sedang memperhatikannya sambil mengusap-usap rambutnya secara perlahan, dengan wajah gembira vera langsung memeluk putra dengan air mata mengalir di pipi ia berkata, "Putra syukurlah kamu sudah sadar, aku sangat mengkhawatirkan mu sejak kemarin!!" seru vera sambil menangis
"Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir, tapi aku tidak apa-apa hanya saja sekarang tubuhku masih sangat lemah jadi tolong, jangan peluk aku terlalu kuat" balas Putra dengan nada kesakitan
"Maafkan aku Putra, tapi aku bersyukur kalau kamu sudah sadar" dengan cepat vera langsung melepas pelukannya
Saat itu putra hanya tersenyum, karena melihat kepedulian vera terhadapnya hingga membuat putra semakin jatuh hati kepada vera, sampai tak lama vera langsung berkata, "Kenapa kamu senyum?" tanya vera dengan wajah merona akibat ditatap oleh putra
"Haha,.. Tidak ada kok" tawa kecil putra sambil membuang muka dari hadapan vera
"Kamu pasti bohong, tadi aku beneran lihat kamu senyum-senyum sendiri kok" ujar vera dengan memojokkan putra
"Beneran tidak ada kok, mungkin kamu tadi hanya salah lihat" balas putra dengan panik
"Eh!!!.." Gumam Vera dengan memasang ekspresi cemberut, Putra yang melihat wajah vera kini menjadi salah tingkah sambil berfikir "Sial, wajah vera imut sekali" batin putra dengan wajah merona tapi karena putra tidak ingin membuat dirinya semakin malu akhirnya dia segera berkata kepada vera kalau dirinya ingin tidur jadi sebaiknya vera tidak menggangunya
Disisi lain, Ari dan maya masih berjalan untuk pergi menuju sekolah sambil berjalan bersama, disaat itu suasana sangat tenang tanpa ada suara, hingga maya segera membuka mulutnya dengan berkata, "Ari, apa kamu marah denganku karena aku menanyakan hal yang aneh kepadamu kemarin?" tanya maya dengan menundukkan wajahnya
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" Ari yang tiba-tiba merasa kalau maya sedang sedih
"Tidak, aku hanya merasa aneh saja dengan sikapmu saat ini, jadi aku berfikir kalau kamu sedang marah denganku"
"Kamu terlalu berlebihan Maya, aku tidak akan marah denganmu, mungkin aku diam itu karena tidak biasa dengan wanita"
"Wanita, Kenapa?"
"Aku memang tidak biasa bersosialisasi dengan wanita, jadi memang sedikit grogi jika harus berdekatan dengan wanita" balas Ari
"Oh begitu ya, maaf kalau aku sudah berfikir yang macam-macam tentangmu"
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu" disaat mereka melewati jalan tikus ari berfikir melewati jalan itu bisa membuatnya sampai dengan cepat namun di tengah perjalanan mereka mendapat serangan dari orang tak dikenal yaitu mereka sudah di keliling oleh pria berbadan kekar
Dengan wajah bingung ari berkata, "Ada apa ya bang, kok jalan kami di halang?" tanya ari kepada salah satu orang yang ada di depannya namun pertanyaan ari tidak direspon melainkan pria tersebut langsung mengeluarkan senjata dan menodongkan pistol ke arah ari
__ADS_1
Dengan wajah bejat pria tersebut berkata kepada ari, "Hey,. Jika adik masih sayang dengan nyawa sebaiknya adik serahkan wanita yang ada di belakang adik itu kepada kami"
"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba gitu" tanya Ari sambil mencoba melindungi maya yang ada di belakangnya, namun maya segera berbisik "Ari sebaiknya kamu jangan ikut campur, karena mereka semua adalah musuh ayahku"
"Sial, memangnya harus ya, seorang pebisnis memiliki musuh!!" Batin ari yang merasa dirinya sudah terlibat dalam masalah bisnis
Kemudian pria tersebut berkata kepada ari dengan suara lantang, "Kalau kamu tidak memberikan gadis itu dalam hitungan ke-tiga, maka jangan salahkan aku kalau kamu akan aku tembak!!"
"Terus bagaimana jika aku ingin melawan mu" balas Ari dengan tatapan mengintimidasi hanya saja tatapan tersebut tidak berefek bagi mereka
Hingga pria tersebut tertawa terbahak-bahak bersama dengan anggota yang lainya, karena melihat tatapan Ari yang merasa kuat, "Hey,.. Bocah apa kamu sudah gila akibat ingin mati, kamu harus tahu kalau kami berjumlah 23 orang dan sebagai besar kami memegang senjata, sedangkan kamu hanya sendirian dan juga seorang pelajar, lalu mau bagaimana kamu bisa melindungi gadis tersebut!!!" ucap pria tersebut dengan suara lantang sambil memegang perutnya karena habis tertawa
"Menurutku menghabisi kalian terlalu mudah hanya saja, aku tidak ingin membunuh orang bejat seperti kalian"
"Hah!!, Ngomong kau apa tadi, apa kamu memang sudah tidak sayang nyawa lagi" bentak pria tersebut yang langsung menarik Pelatuk pistol hingga pistol tersebut mengeluarkan peluru yang menembak ari Namun sebelum peluru tersebut mengenai tubuhnya, ari telah menciptakan armor Es dengan mode badas
Terkejutnya seluruh orang yang ada di sana ketika melihat penampilan ari berubah karena seluruh badannya telah selimuti Es, bahkan dengan cepatnya orang-orang di sana merasa kedinginan akibat suhu yang dikeluarkan dari baju zirah milik ari
"Apa-apa ini, kenapa suhu di sini jadi sangat dingin, padahal hari ini sangat cerah" ucap pria yang ada di depan ari sambil menggerakkan giginya sedangkan untuk Maya, dia tidak merasakan apapun padahal dirinya berada di belakang ari
"Ada apa ini, kenapa semuanya menjadi Es?" tanya Maya dengan heran
"Ini merupakan skill yang aku miliki dari element Es dan karena skill ini juga aku bisa melindungi mu dari bahaya, Maya" balas ari yang sudah kembali ke mode normal
Saat itu maya sudah tidak bisa berkata-kata lagi, akibat mendengar ucapan yang keluar dari mulut ari namun karena khawatir maya kembali bertanya kepada ari, "Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, apa mereka masih hidup?"
"Tentu saja mereka masih hidup, kamu tenang saja dalam waktu beberapa jam, es yang menyelimuti mereka akan mencair"
"Begitu ya, maafkan aku karena ayahku kamu jadi ikut terlibat dalam masalah ini, Ari" ucap maya dengan ekspresi bersalah
"Kamu tenang saja lagian ini bukan salahmu, tapi aku sedikit heran dengan konflik ayahmu kenapa sampai-sampai melibatkan anaknya, kalau aku boleh tahu aku ingin bertanya kepadamu mengenai masalah ayahmu, bukannya aku ingin ikut campur tapi aku sedikit tidak terima dengan perlakuan mereka terhadapmu"
"Baiklah aku akan menceritakan masalah ini nanti setelah kita pulang dari sekolah, untuk sekarang sebaiknya kita bergegas ke sekolah karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi"
__ADS_1
"Kamu benar maya, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita" balas ari, akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka untuk ke sekolah dengan meninggalkan orang-orang tersebut dalam keadaan membeku
Di lain tempat terlihat sorang pria paruh baya dengan menggunakan jasa hitam dan logo mawar di dadanya, antara lain ialah Nikolaus, disaat itu ia berada di ruangan bersama joko yang merupakan salah satu pemimpin mawar hitam mereka berdua saat itu sedang membahas mengenai Putra
"Jadi apa kamu sudah mendapat status mengenai bocah api itu?" tanya Niko kepada joko yang saat itu berada di satu ruangan tanpa ada orang lain mendengar mereka
"Kalau masalah itu aku belum tahu, tapi yang jelas kevin masih menyelidikinya"
"Payah, masalah kecil seperti itu apa harus butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya" kesal Niko dengan mengepalkan tangan
"Sebaiknya kamu sabar dulu, lagian ini baru 2 hari dari masa penyelidikan jadi kita harus memberi waktu untuk kevin agar dia bisa menyelesaikan misi ini dengan tuntas"
"Okelah, tapi aku tidak suka menunggu lama-lama, kerena persembunyian kita bisa terlacak oleh negara dan aku tidak ingin itu terjadi"
"Hmm, tanpa kamu kasih tahu, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan" balas joko sambil terlihat senyum jahat di wajahnya
Hingga tak lama datang seseorang keruangan mereka sambil tergesa-gesa, yaitu Rian yang saat itu langsung memberi hormat kepada dua pimpinannya, dengan nafas yang tidak teratur ia berkata, "Tuan Niko, Tuan joko, maafkan saya jika saya lancang tapi saat ini kita berada situasi Genting jika tidak bertindak cepat maka organisasi ini akan hancur"
Karena ucapan Rian seketika membuat Niko dan joko kaget, karena ini baru pertama kalinya mereka mendengar kabar kalau organisasi mereka akan hancur, dengan cepat joko membuka mulutnya sambil berkata, "Kenapa, sebenarnya ada apa Rian?" dengan nada tenang namun di dalam hatinya ia sedang panik
"Lokasi kita sudah terlacak oleh negara, dan kemungkinan besar mereka akan menerjunkan tentara kemari, saya takut jika satu negara saja tahu dia akan memberi tahukan lokasi kita kepada Aliansi perdagangan" jelas Rian sambil memberi hormat
"Sial" ketus Niko dengan menghantamkan kepalan tangan ke meja hingga meja tersebut terbelah menjadi dua diiringi suara amarah Niko berkata, "Siapa, yang berani membocorkan rahasia terbesar kita" Dengan suara amarah membuat satu markas mendengar suara bos besar mereka
Rian seketika langsung tersungkur dengan keringat bercucur deras, itu karena dirinya adalah dalang dibalik pembocoran rahasia jika mereka tahu siapa orang yang membocorkan rahasia mereka, rian bisa menjamin kalau ia akan di bunuh disaat itu juga
"Kamu tenang dulu Niko, kamu tidak akan bisa menyelesaikan masalah jika menggunakan emosi" sambung joko yang berusaha untuk menenangkan bos besar
"Lalu apa rencana mu, joko?" tanya Niko dengan emosi
"Untuk sekarang kita kamuflase dulu markas kita, sebisa mungkin buat sampai tidak di kenali orang luar, dan sisanya serahkan kepadaku karena aku ingin mencari tau siapa yang berani membocorkan rahasia ini"
"Kalau begitu semuanya aku serahkan kepadamu, tapi ingat jika nanti orang itu sudah kamu tangkap jangan langsung kamu bunuh, tapi antar dia ke hadapanku"
__ADS_1
"Baiklah" balas Joko dengan ekspresi kembali tenang
Sedangkan Rian saat itu sudah tidak bisa berkata apapun mulutnya terkunci rapat, dan keringatnya masih terus mengalir tanpa henti, karena ia tau apa resiko dari apa yang dirinya perbuat, tidak hanya kematian yang ia terima, tapi keluarganya akan dibuat menderita oleh Niko.