Fire And Water

Fire And Water
Cp 29# Pulang


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan kini Rian berjalan dengan sempoyongan akibat ketakutan dengan aura milik kedua bosnya, namun sebelum ia jatuh dirinya di bantu oleh Sofia dengan cara di rangkul di pundaknya sambil berkata, "kamu tidak apa-apa, Sam?" tanya Sofia sambil mencoba untuk membangkitkan Samuel


"Aku tidak apa-apa, tadi hanya sedikit takut mungkin jika aku lebih lama lagi di sana aku sudah tidak tau apa yang akan terjadi kepadaku nantinya" balas Samuel yang kembali tenang


"Sudah-sudah jangan di bahas terus, sebaiknya kita segera menemui kelompok Rudi, sekarang dia sudah berkumpul di suatu tempat"


"Ya, kamu benar sekarang kita ke sana saja" jawab Samuel yang segera pergi menuju ke tempat di mana kelompoknya bertemu sesampainya di sana ia sudah melihat 3 orang yaitu Lian, Rudi, dan Sina


Mereka sudah menunggu di sebuah ruangan yang letaknya sedikit jauh dari markas utama, atau lebih tepatnya mereka berada di 60 Km, dari tempat perkumpulan bos besar, mereka di sana di ditugaskan sebagai tim pengintai dengan jumlah tentara 3000 orang, tentara tersebut sudah berada di bawah kendali Samuel


Sudah berkemungkinan tentara tersebut berada di pihak mereka, di sebuah tempat berkumpul 5 orang dengan suasana mencengkram karena mereka sudah mendengar dari kejauhan sebuah suara bos besar marah


Rudi segera berkata kepada Rian yang saat itu berada di satu meja, "Rian sebenarnya apa yang terjadi pada bos besar, baru pertama kali aku lihat dia se'marah ini,? "


"Benar kata rudi, apa ini ada kaitannya dengan masalah pembocoran rahasia besar itu!!" sambung sina yang memberi pertanyaan kepada rian


Sofia saat itu merasa risih karena waktunya kurang tepat, akhirnya mencoba untuk membentak mereka namun rian menghalanginya dan berkata "Benar, ini semua salahku, karena ide ku yang ingin membocorkan lokasi ini akibatnya bos marah besar jadi dalangnya adalah aku"


Seketika suasana menjadi hening tanpa ada lagi yang bertanya kepada rian, terutama Rudi saat itu ia masih tak habis pikir dengan marahnya bos besar membuat mental rian down


"Rian ini semua bukan salahmu, tapi ini salah bersama jadi biar kita selesaikan semua ini dengan cara seksama" seru Sofia yang mencoba untuk menenangkan perasaan rian


Namun rian tidak meresponnya ia hanya terus diam hingga tak lama datang seorang wanita muda dengan memegang sniper ditangannya, ia datang sambil berkata "Jadi disini ya, tempat perkumpulan pemberontakan bos besar!!" ucap Gadis tersebut hingga membuat satu ruangan terkejut terkecuali untuk rian


"Kau?!" Rudi yang langsung berdiri dari tempat duduknya sambil memasang wajah siap-siaga namun gadis tersebut hanya tertawa kecil sambil berkata kepada semua orang yang ada di sana


"Aku bukanlah orang yang munafik, jadi aku akan bergabung dengan kalian tapi sayangnya kita memiliki tujuan yang berbeda, aku untuk membunuh bos besar dan kalian untuk menghancurkan organisasi ini, bukan!!"


"Miya, apa maksud dari perkataan mu tadi" ujar Rudi dengan ekspresi waspada


"Aku tidak ingin bicara panjang lebar jadi aku akan berkata langsung ke intinya saja, sebenarnya aku membenci bos besar di karenakan dia sudah menyakiti tuan kevin jadi aku punya rencana untuk membunuhnya, tapi dikarenakan dia terlalu kuat oleh karena itu aku datang kesini, dan tujuanku datang hanya untuk mengajak kalian bekerja sama" Jelas miya dengan wajah serius


"Kamu pikir aku bodoh, aku yakin pasti tujuanmu datang kemari hanya untuk memata-matai kami!!"


"Tidak Rudi, aku percaya 100% kalau dia berada di pihak kita" potong rian yang saat itu sudah muak dengan pertikaian yang tiada habisnya


"Rian apa maksudmu!!, sekarang saja kita sudah banyak masalah, jangan lagi dengan datangnya dia malah membuatmu terbebani, aku tidak ingin itu terjadi"


"Terimakasih, karena kamu sudah perduli denganku tapi memang dia berada di pihak kita, jikapun dia mata-mata untuk apa dia perlu datang repot-repot kemari, apa lagi setelah kejadian itu aku yakin dia pasti akan dengan mudah melaporkan status kita kepada tuan besar, dan coba kamu dengar kata-katanya barusan aku yakin dia pasti sudah sangat lama mengetahui tentang kita" jelas rian yang membuat anggotanya terkejut termasuk Rudi sendiri


"Heh,..ternyata berbicara dengan orang pintar jauh lebih mudah dari pada manusia berotak udang" ketus Miya hingga terdengar oleh Rudi akibatnya ia langsung emosi


"Apa maksudmu berotak udang, kamu kira aku melakukan ini untuk apa!!" ucap Rudi dengan emosi hingga sina dan Sofia cuman bisa menonton

__ADS_1


"Lalu sejak kapan kamu mengetahui rahasia kita, apa kevin juga tahu tentang rahasia kita?!" tanya rian


"Kalau aku mengetahui ini sudah beberapa hari yang lalu, tapi kamu tenang saja untuk sekarang kevin belum tau apapun tentang rahasia ini" jawab miya


"Baguslah" rian sudah kembali tenang karena untuk beberapa waktu kedepannya bisa di bilang dirinya aman dari bos besar, tapi di satu sisi ia masih khawatir tentang keadaan adiknya yang berada di ibu kota, untuk saat ini dirinya hanya bisa berharap kalau adiknya baik-baik saja


Di lain tempat terlihat putra dan vera masih terus bertengkar akibat hal sepele yaitu tentang putra tidak ingin menjawab pertanyaan vera, sering kali vera bertanya kenapa putra tidak ingin bercerita tentang perasaannya


Tapi disaat itu putra masih terus mengelak yang akhirnya mereka saling bertengkar, vera sering kali cemberut, namun disisi lain putra justru sebaliknya ia malah senang melihat vera cemberut bahkan sering kali dia mencubit pipi vera hingga vera merintis kesakitan


Di waktu itu mereka lalui dengan canda dan tawa, hingga ari dan maya datang ke ruangan putra, dan mereka sangat terkejut dengan kebangunan putra dari pingsannya, seringkali maya menanyakan keadaan putra dan menanyakan kenapa Putra mengalami demam, hingga akhirnya putra menjelaskan kepada mereka yang ada di sana tentang alasan kenapa dirinya mengalami demam panjang


Hingga orang-orang yang ada di sana sangat terkejut dengan penjelasan putra karena menurut mereka hal-hal yang berbau kontrak hanya ada di komik atau novel, tapi yang sangat terkejut adalah vera karena dia baru tau kalau putra terlibat dengan hal yang mengerikan


"Putra, kenapa kamu malah terlibat dengan hal seperti itu?!" tanya vera yang memecah suasana mencengkram mereka


"Aku terpaksa, karena hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bertambah kuat, apalagi setelah mendengar pergerakan dari musuh, aku semakin yakin kalau aku memang harus bertambah kuat lagi" balas Putra


"Tapi tidak begitu caranya, karena masih banyak jalan lain tanpa harus membahayakan nyawamu sendiri"


Putra hanya tersenyum ketika melihat reaksi vera sebelum ia mencubit pipi vera dengan nada canda ia berkata, "Kamu ini kenapa sih, perasaan yang bahaya itu aku, tapi yang panik malah kamu" seru Putra sambil mencubit pipi vera, bahkan Ari dan maya saat itu hanya menggelengkan kepala karena melihat tingkah Putra yang tidak peka sama sekali


"Aww,.. Putra kenapa kamu malah begini, perasaan aku cuman khawatir aja kenapa kamu cubit aku" rintis vera sambil mengusap-usap pipinya


"Hmm,.. Apa kalian tidak menganggap kami berdua disini" potong Ari kerena dirinya merasa kalau kedatangannya hanya sebagi nyamuk untuk Putra dan vera


"Aduh maaf, tadi aku gak lihat kamu ada di sana" ketus putra dengan nada menghina


"Sial, nih anak kalau dia enggak sekarat mungkin udah aku hajar mulutnya" batin ari yang merasa kesal dengan perkataan putra


"Sudah-sudah, dari pada kalian bertengkar terus mending kita makan cemilan dulu, mumpung aku bawa banyak" ujar maya


"Maya kamu terlalu banyak membawa makanan ringan seperti ini, lagian Putra belum boleh makan yang beginian" sambung vera


"Masa sih, kalau gitu maaf ya kak putra"


"Iya, tidak apa-apa kok, lagian niatmu tadi baik jadi sudah seharusnya aku berterimakasih sama kamu"


"Kalau begitu percuma saja, maya repot-repot membawa makanan untuk orang sekarat, mending uangnya tadi dibuat untuk beli makan hewan pelihara saja" ketus Ari dengan mencibir


"Hah,. Apa maksudmu, kamu kira harga diriku senilai hewan peliharaan"


"Kok kaya ada orang yang sedang kepanasan ya" balas Ari hingga membuat vera dan maya tidak tahu harus berbuat apa dan memilih untuk diam

__ADS_1


Di sore harinya Putra sudah memutuskan untuk pulang ke rumah, agar uang tunggangan tidak terlalu berat, karena menurutnya ia merasa sudah sedikit sehat walaupun di awal-awal vera sangat melarangnya karena, dia ragu kalau Putra tidak akan tahan untuk menahan tubuh yang lemah


Diperjalanan pulang, Putra dibantu oleh Ari untuk berjalan karena untuk berjalan saja, Putra sudah tidak sanggup, hingga mereka di jemput dengan andrian dan Sonia yang mengunakan mobil, mereka datang karena beberapa menit lalu mendapat kabar dari Maya kalau Putra butuh bantuan, jadi untuk itu andrian memutuskan untuk meminjam mobil milik temannya agar bisa membantu Putra


"Putra kamu tidak apa-apa?" tanya sonia yang turun dari mobil dengan diikuti Andrian


"Kak Sonia!!, bagaimana kak Sonia bisa tau kalau aku ada disini?!" balas Putra dengan wajah sedikit bingung


"Haha,.. Aku bisa tau itu semua, karena Maya yang memberi tahuku" tawa kecil Sonia dengan cepat membantu putra


"Tapi inikan terlalu merepotkan kakak, dan Maya kenapa kamu tidak memberi tahu aku terlebih dahulu kalau kamu menghubungi kak sonia?"


"Sudahlah Putra, lagian aku disini karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu jadi apa salahnya aku datang kesini" potong Andrian yang segera menggantikan Ari untuk membopong putra


"Maafkan aku karena tidak bilang ke kak Putra, tapi aku memanggil kak ian juga ada maksud lain, dan yang terpenting sekarang adalah membawa kak putra pulang dulu, apa lagi melihat kondisi kakak yang saat ini masih terlalu lemah"


"Benar apa yang dikatakan maya, sebaiknya kamu jangan selalu membebaniku" ketus Ari


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu bersama dengan vera dan kamu Ari tolong jaga maya, ingat kamu harus pulang sebelum makan malam"


"Oke"


Akhirnya Maya dan Ari ditinggal oleh putra, karena kapasitas mobil sangat tidak memungkinkan untuk menampung 6 orang, jadinya 2 orang di antaranya ada yang di tinggal dan saat itu Ari juga tidak ingin memesan mobil, karena jarak antara ia dan rumah sangat dekat hingga dirinya memutuskan untuk berjalan kaki bersama maya


Sesampainya di rumah Ari melihat Putra dan ian sudah berkumpul di ruang tamu, sedangkan untuk Vera dan sonia, mereka sedang sibuk dengan urusan memasak agar bisa menghidangkan makan malam, "Ari, aku bantu kak Vera dulu ya, sebaiknya kamu kumpul saja dengan kak ian dan putra" ujar Maya yang langsung pergi meninggalkan ari


Sebenarnya Ari sedikit malas jika harus bicara dengan Putra tapi dirinya terpaksa melakukannya karena jika ia tidak mendengar pembicaraan mereka maka Ari akan tertinggal informasi, disaat itu suasana sangat aneh karena tiba-tiba suasana menjadi tegang padahal dirinya baru datang dari perjalanannya


Dengan wajah heran, Ari segera bertanya kepada Putra, "Putra, sebenarnya kalian bahas apa, kok tiba-tiba suasana menjadi menegangkan gini?" bingung Ari dengan wajah terheran-heran


"Ari, coba kamu lihat lagi dari tiga orang itu, menurut siapa di antara mereka yang memiliki dada besar!!"


"Hah!!,. Kalian ini bahas apa sih" ekspresi bingung Ari saat itu sudah menjadi-jadi tapi semua itu berubah ketika dirinya melihat Vera, sonia, dan Maya, dirinya merasa kalau mereka membahas tentang tubuh wanita


"Andrian, coba kamu lihat temanmu ini" sambung Ari, hingga dirinya semakin terkejut karena tidak hanya Putra tapi andrian juga sangat fokus menatap para gadis, ketika itu juga mulut Ari diam membisu melihat tingkah temannya sampai dirinya tidak ingin ambil pusing dan lebih memilih diam


Dimalam hari ketika jam makan malam mereka merayakan untuk kepulangan Putra dari rumah sakit, sambil melakukan makan malam bersama-sama, hingga tak terasa waktu sudah larut malam karena mereka merayakan semua itu penuh dengan kebahagiaan sampai Putra bertanya kepada mereka yang ada di sana, "Menurut kalian, apa kita bisa selalu seperti ini?!"


Awalnya suasana hening, tapi tidak lama kemudian Vera menjawab pertanyaan Putra, "Tentu saja, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa seperti ini lagi" balas Vera sambil tersenyum tipis


"Benar apa yang dikatakan Vera, dan aku juga akan bersumpah akan membawakan kemenangan ini untuk kita semua" sambung Andrian


"Kalau begitu, mulai sekarang dan kedepannya mari kita bersatu untuk memusnahkan orang-orang yang akan menghancurkan kebahagiaan kita" jawab Putra dengan semangat optimis hingga Vera dan yang lainya tersenyum melihat putra sudah kembali bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2