Fire And Water

Fire And Water
Cp 54# Angin


__ADS_3

Tidak terasa 3 hari telah terlewati dimana kondisi Ari sudah membaik, Rian sudah bisa pulang namun dia lebih memilih untuk menunggu Ari di rumah sakit, berbeda di negara scarlett terlihat di hotel kalau Putra dan Vera yang sedang bersiap-siap untuk menemui rapat penting di istana bangsa


Selama 2 jam putra terus berkaca dengan pakaian jas dan celana hitam namun dasinya berwarna Biru, walaupun sudah rapi menurutnya kurang pas jika harus berhadapan dengan pemimpin bangsa


"Sepertinya sudah rapi" Gumam putra dengan sedikit merapikan dasi lalu pergi meninggalkan cermin untuk keluar kamar


Dan disaat diambang pintu orang pertama yang ada diluar adalah Vera dengan baju karyawan kantor, dengan bingung putra berkata, "Ver, kenapa kamu pakai baju itu?" tanya putra


"Kalau bukan ini mau apalagi, masa aku pakai jas" ketus Vera


"Benar juga sih, yasudah ayo kita berangkat karena sebentar lagi rapat akan dimulai" ajak putra


"Pergi dengan berjalan kaki apa tidak kelamaan, mendingan kita pesan mobil online saja"


"Eh,.. Kamu tahu tidak uang kita sudah habis banyak selama kita tinggal disini, dan adapun ini akan aku gunakan untuk ongkos pulang" balas putra


"Haa,.. Kalau masalah itu kamu tenang saja, lagian ayahku banyak simpanan di rekan kerjanya, jadi tinggal minta saja"


"Kamu yakin kalau kita akan dikasih oleh mereka?" tanya putra


"Iya, kamu tenang saja"


"Baiklah kalau kamu sudah optimis seperti itu aku pesan mobil online dulu" jawab putra sambil merogok kantong untuk mencari handphone agar bisa memesan mobil lewat aplikasi


"Aku sudah memesan mobil, tinggal kita tunggu saja didepan hotel semoga kendaraannya bisa sampai lebih cepat dari waktu yang ditentukan" sambung putra sambil memasukkan kembali hpnya


"Yasudah, ayo" ajak Vera sambil berjalan pelan ke arah lif dengan diikuti putra dari belakang


Disaat mereka sedang menunggu jemputan, dilain tempat terjadi konflik baku tembak antara mawar hitam dan negara mars, diakibatkan negosiasi antara Rudi dan jendral perang gagal, yang akhirnya perang terjadi dimana pasukan rudi kalah telak akibat kalah metal dan pelatihan


Semua itu terjadi disaat dua hari yang lalu yang mana kapal negera mars sudah melabuh di pesisir pantai dengan disambut oleh rian dan serdadunya akan tetapi sambutan mereka tidak diterima justru malah diancam dengan mariam dan senjata milik negera mars, dika yang saat itu ada diantara tentara negera, hanya bisa diam sambil memikirkan sebuah kaliman yaitu


"Apa dia orangnya?" batin dika yang ikut membidik sasaran dengan anggota 500 orang dari mars dan 231 orang dari mawar hitam itupun sudah termasuk pemimpinnya, antara lain Rudi, Miya, lian dan sina sementara Rian dan Sofia hingga saat itu masih didalam tahanan


"Apa maksud kalian yang berdiri disana?!!" tanya jendral mengunakan toak sekaligus sirene yang terdapat dikapal perang milik negara


Karena ditodong dan diberi pertanyaan membuat Rudi mengangkat tangan sekaligus membalas pertanyaan yang berasal dari dalam kapal, "Maaf, tuan kami tidak bermaksud jahat, kami datang karena kami ingin meminta bantuan kepada anda" balas Rudi dengan nada sedikit berteriak


Hingga tidak lama turun sang jendral dari kapal mengunakan tangga dengan diikuti Prajurit yang ada dikapal untuk dika saat itu dia berada dikapal jendral jadi dia ikut turun, tidak lupa dengan posisi siaga karena mereka tidak tahu watak musuh seperti apa, sementara tentara yang berada dikapal lain hanya menurunkan senjata sambil memantau dari kejauhan


Jadinya saat itu yang turun dari kapal, hanya jendral dan pasukan yang jumlahnya 80 orang, sementara sebagian besar dari mereka masih di atas kapal sambil memantau keadaan


Dengan langkah yang menginjak pasir sang jendral dengan seragam langkap mendekat kekumpulan pemberontak yang kayanya ingin meminta bantuan kepadanya


"Apa maksud dari perkataanmu tadi, bisa kamu jelaskan kembali tentang perkataanmu barusan?" tanya jendral dengan tegas dan gagah yang saat itu berada tepat dihadapan Rudi


"Maaf jendral, mungkin saat ini kita berstatus pemberontak dan tentunya sangat tidak layak jika kami mohon kepada anda tapi saya sebagian komandan saat ini ingin menyampaikan kalau kami bukan orang jahat, kami hanya dipaksa untuk berkerja sesuai kemauan mereka bahkan jika kami tidak menuruti kemauannya kami pasti akan disiksa" balas Rudi dengan menurunkan tangan lalu membungkuk memberi hormat kepada jendral


Tidak hanya dia tapi seluruh anggotanya ikut memohon untuk mendapat belas kasihan dari sang Jeneral


Tapi sayang-Nya tidak mendapat respon darinya justru kini Jendral malah berbalik badan dan melangkah untuk kembali ke kapal namun ditengah perjalanannya dia sempat berkata,

__ADS_1


"Kalian pikir aku bodoh, mungkin kalian bisa melakukan hal tersebut dengan alasan perintah tapi perkataan tersebut malah membuatku yakin, kalau saat ini kalian sedang mendapat tugas dari atasan kalian untuk menyerangku dari belakang, logikanya kalian bisa diperintah untuk membunuh jadi ada kemungkinan kalau kalian bisa diperintah dengan mempermalukan diri"


Ucapan tersebut membuat mental tentara jadi down bahkan Rudi yang memandu jadi tidak yakin dengan jawaban yang di terimanya, "Tapi tuan, kami benar-benar ditekan" ucap Rudi dengan wajah penuh keringat


"Mungkin jika dengan jendral lain, kalian masih bisa mendapat peluang toleransi, tapi berbeda denganku karena dengan satu kalimat yang salah diucap, maka jangan berharap mendapat belas kasihan dariku" jawab jendral dengan tatapan sinis


Hingga membuat Rudi dan teman-temannya merinding ketakutan, "Sial, situasi semakin kacau" gumam Rudi dengan menggerakkan gigi


Setelah sampai di dekat kapal dengan lantang sang Jendral berteriak, "Tembak!!" suara yang lantang


tersebut membuat tentara negara mars menembaki anggota Mawar hitam termaksuk pemimpinnya yaitu Rudi


Drett...


Suara tembakan yang berasal senjata mesin membuat tentara mawar hitam mati secara satu-persatu, namun disaat detik-detik penghabisan Rudi telah lebih dulu mengeluarkan pusaran angin berskala besar, sampai-sampai tentara negara mulai kocar-kacir


Dimoment itulah Rudi menyuruh tentara beserta teman-temannya untuk kambur lewat belakang pusaran yang disengaja dibuat lebih lemah dari sisi lain agar bisa dijadikan rute pelarian


"Lariii..." teriak Rudi hingga dengan serentak seluruh tentara dan pimpinan kabur ke arah pangkalan militernya agar bisa selamat dari tembakan


Sementara dika tidak ikut menembak jastru ia malah membujuk jendralnya yaitu berjalan mendekat lalu berkata, "Lapor, Jendral jika saya bisa kasih saran memang sebaiknya kita pertimbangan lagi tentang tawaran mereka, saya hanya takut kalau semua ucapan orang tadi adalah kenyataan" ucap dika sambil memberi hormat


"Berhenti" perintah Jendral dalam memberi kode tangan hingga dalam waktu singkat tembakan dihentikan


"Lihat, pusaran angin yang besar dan kuat itu, dan kamu kira dengan hal seperti itu kita tidak mati" sambung jendral sambil menunjuk kearah angin besar yang ada dihadapnya


Dengan rasa bersalah dika berpaling melihat pusaran angin tersebut walaupun sedikit jauh namun efeknya sampai ke tempat mereka, "Siap jendral, maafkan saya jika saya lancang" ucap dika dengan rasa bersalah namun tidak bisa berbuat apa-apa


"Siap" jawab serentak tentara dari bawah maupun atas kapal


Sedangkan dilain tempat Rudi dan tentaranya sudah bersembunyi dibalik benteng pertahanan, dengan mental ketakutan terlihat dari balik ekpresi mereka, untuk bentengnya hanya tertutupi oleh karung yang diisi oleh pasir untuk dijadikan sebagai tempat berlindung tentara, dengan disusun meningkat sampai terbentuk benteng


Dan posisi musuh berada di arah timur sedangkan mereka berlari menunjuk arah barat agar bisa sampai dibenteng dengan jarak yang ditempuh sekitar 100 meter dari tempat negosiasi tersebut


"Sial, kita sudah kehilangan sebagian besar kekuatan kita" kupat Rudi dengan pelan kepada teman-temannya yang saat itu sedang berada di dekatnya


"Kamu benar, tapi setelah ini kita harus apa" bingung lian dengan bergumam


"Untuk apa kalian berdiam merana disini, sebaiknya kita fokus dulu kemusuh supaya kita tidak mati" ujar miya sambil memegangi sniper besar, hingga orang-orang disana sangat terkejut dengan apa yang dipegang oleh miya


"Jangan bilang kamu akan membunuh mereka?" tanya Rudi dengan ekpresi terkejut


"Tentu saja, untuk apalagi kita bertahan di situasi seperti ini, ditambah negosiasi sudah gagal, jadi lebih baik kita melawan dari pada mati"


"Tapi, bagaimana dengan rian dan sofia, kalau kita tidak mengikuti apa yang ada ditulis dikertas, mungkin mereka bisa dalam bahaya" ujar Rudi


"Memang benar, tapi kita tidak bisa bertahan disituasi ini, dan lagi kita ini sudah benar-benar buntu, apa kamu lebih memilih mati"


"Tapi kita juga tidak bisa bertindak gegabah takutnya tuan joko bisa marah dan kamu tahukan kalau sampai dia marah, bisa bahaya untuk keselamatan rian dan sofia"


"Lalu kita harus apa, jika kamu menyuruh kami untuk diam maka aku adalah orang pertama yang akan menolak pendapatmu" ucap miya sambil duduk di tanah bersama yang lain

__ADS_1


Setelah semuanya ditempat akhirnya Rudi mulai


angkat bicara, "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melawan tentara negera, dikarenakan mental pasukan belum stabil, jikapun melawan mereka akan dipukul mundur, jadi sebaiknya kita mundur sampai markas pusat dan meminta bantuan kepada mereka untuk menyerang musuh bersama-sama, dengan begitu kita tidak akan disalahkan tuan joko" jelas Rudi


"Jadi kamu mau tuan joko, campur tangan?" bingung lian


"Tentu saja, semua itu karena aku yakin kalau tuan joko akan membantu kita dan tidak akan mungkin menyingkirkan kita sebelum rencana berhasil" balas Rudi


"Kamu ada benarnya, tapi aku kasih tahu kamu kalau pasukan yang ada di markas masih baru dan sedang dalam masa pelatihan, jadi akan sangat bahaya jika mereka ikut melibatkan dan apa kamu yakin kalau kita kesana maka tuan joko akan membantu?" tanya miya


"Tentu saja, coba kamu lihat dikertas tersebut yang tertulis mengajak negosiasi untuk membantu menyerang markas utama, jadi kalau kita pulang dan bersatu dengan markas utama bukannya sama saja"


"Jadi kamu mau kita semua menyerang dari belakang?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi oleh karena itu kita pulang ke markas untuk menanyakan lebih detail lagi kepada orangnya" ucap Rudi


"Kamu benar, kalau begitu perintahkan seluruh pasukan kita mundur sebelum matahari terbenam" usul miya


"Oke" jawab Rudi hingga bangun dari duduknya lalu memberi perintah agar pasukan mau pulang ke markas utama bersama-sama


Dengan pasukan yang tersisa sekitar 134 orang, mereka berbondong-bondong bergerak ke markas, bersama dengan mental yang hancur akibat melihat rekannya mati didepan mata mereka


Didalam perjalanan tidak ada tanda yang aneh bahkan Rudi bisa dengan santainya ngobrol dengan lian mengenai masalah stategi selanjutnya, tapi tidak lama kemudian terdengar suara jet tempur yang melintasi Pulau dengan kecepatan tinggi


Karena suara tersebut mereka terkejut dan panik, mereka takut jika lokasi mereka didektesi oleh tentara mars, karena lokasi mereka ada dilereng gunung yang akan terjun kedalam rimbah, karena markas mereka ada disana yaitu dibangunan kuno dengan dikelilingi pohon hutan


"Apa mereka sudah bergerak?" Gumam Rudi hingga terdengar Lian yang saat itu berada disampingnya


"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas kita harus Mempercepat langkah agar bisa sampai kemarkas lebih dulu dari mereka" usul lian


"Kamu benar" jawab singkat Rudi dengan menyuruh tentaranya untuk melangkah lebih cepat


Dengan wajah muram mereka masuk kedalam hutan belantara untuk pergi ke markas utama mawar hitam, namun diperjalanan menuju markas mereka sempat mendengar suara tembakan maupun dentuman keras meriam yang berasal dari arah timur


Tapi disaat mereka hendak sampai tiba-tiba terlihat segerombolan prajurit berbaris yang sedang bergerak berkelompok ke arah timur, dengan bingung Rudi bertanya kepada salah satu tentara yang berjalan menuju timur


"Kalian ingin kemana?!" tanya Rudi kepada salah satu dari mereka


"Apa tuan tidak tahu kalau kita mendapat serangan dari luar, jadi kami ditugaskan untuk pergi ke medan perang" jawabnya


"Tapikan kita adalah pasukan yang berasal dari perbatasan dan kami datang untuk melapor kepada tuan Nikolaus, jadi dia tahu dari mana soal penyerangan ini"


"Maaf tuan saya juga tidak tahu, itu karena saya cuman menjalankan tugas dari atasan" balas tentara tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke medan perang


"Aneh, apa jangan-jangan tuan Nikolaus tidak mengharapkan negosiasi dari rencananya?" gumam Rudi sambil memegang dagunya


"Sudahlah tidak ada gunanya berfikir disini, lebih baik kita bergegas untuk ke markas karena hanya disana kita bisa mendapat jawabannya" ujar lian hingga mereka melanjutkan perjalanan menunju markas utama yang letaknya hanya beberapa meter lagi


Sesampainya mereka disana alangkah terkejutnya Rudi dan teman-temannya, akibat melihat sudah berbaris ratusan tentara yang berada dihalaman istana kuno dengan dilengkapi senjata dan armor perang yang tertera di tubuh masing-masing tentara


Akibatnya Rudi segera bergerak memasuki istana untuk mendapat jawabannya, namun kepergiannya hanya seorang diri sedangkan untuk teman dan tentara ditinggal ditempat agar tidak terlibat dalam masalah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.

__ADS_1


__ADS_2