Fire And Water

Fire And Water
Cp 80# Tidur Panjang


__ADS_3

Dimana hari sudah semakin malam yang memperlihatkan Putra dan Krise sedang berjalan menyusuri pesisir pantai untuk mencari jalur aman dari prajurit sekutu ataupun organisasi Mawar Hitam, yang kemungkinan mereka masih bertempur didalam hutan belantara, sempat Putra bertanya kepada kakak angkatnya tentang kehidupannya dan Krise tidak menyembunyikan semua rahasia yang ia miliki, justru dia mencurahkan apa yang dirinya tahu selama hidup sampai Putra merasa heran dengan kepercayaan Krise


"Jadi kejadian dimana Nicolaus membunuh ayah bukan karena kemauannya melainkan karena kendali Zhang Xuan?" tanya Putra yang memastikan kebenaran tentang cerita kakaknya


"Yah, semua itu benar, karena aku sudah bersama dengannya selama beberapa tahun ini, jadi aku bisa memastikan kalau informasi tersebut benar apa adanya"


"Tapi kenapa bisa dia dibawah kendali Zhang Xuan?, ditambah lagi ayah menyuruhku untuk menemuinya" ucap Putra yang kebingungan


"Ayah menemui mu?" bukannya faham justru Krise kini malah kebingungan dengan perkataan dari adik angkatnya


"Bukan bertemu langsung maksudku tapi ayah sempat bertemu denganku dibawah alam mimpi, di sana dia menjawab semua pertanyaan ku, bahkan jika bukan karena ayah bilang kalau aku punya kakak mungkin aku tidak bakal percaya dengan perkataan mu"


"Kamu benar, apalagi kita tidak pernah bertemu sebelumnya"


"Haha.. Memang kenyataan yang aneh" jawab Putra yang melepaskan tangannya dari bahu Krise


"Kenapa kamu lepas?" tanya Krise yang secara tiba-tiba terkejut


"Tidak apa-apa, aku sudah baikan jadi bisa jalan sendiri" balas Putra yang berjalan menggunakan kakinya sendiri walaupun sedikit sempoyongan


"Baik apanya!, jelas-jelas kamu jalan saja susah gitu bilang kalau kamu sudah baikan" celetuk Krise dengan nada sedikit tinggi


"Jahat banget, padahal aku bukan orang yang lemah" ketus Putra yang memasang wajah kesal, namun ekspresinya bukan kesal akibat marah melainkan kesal ngambek


"Lagian, sudah sewajarnya aku menebus semua kesalahanku" gumam Krise yang muram


Sehingga Putra langsung memukul lengan kakaknya secara pelan namun bertenaga sampai-sampai Krise terkejut dan mengernyitkan alisnya sambil bertanya kepada Putra, "Apa maksudmu!!" ketus Krise dengan wajah kesal


"Yah lagian kamu sih, masang wajah ngeselin gitu" celetuk Putra yang membuat Krise semakin kesal dengan adiknya


"Hah!.. Memangnya wajahku kenapa?" ketus Krise


"Tidak kenapa-napa" jawab singkat Putra sehingga Krise kesal yang mengubah wajahnya menjadi merah padam sambil menggerakkan giginya untuk menahan emosi


"Kamu tahu, selama ini aku hidup bersama ibu yang sudah menderita penyakit keras selama 1 tahun lebih, dan hari-hariku penuh dengan kerja sambilan untuk menghidupi kelurga tanpa ayah tersebut dan disaat itu tidak ada siapapun yang bisa ku jadikan tempat bercerita kecuali bayanganku sendiri" sambung Putra tapi kali ini ekspresinya murung tak bercahaya


Krise yang mendengarnya cuman bisa berempati dengan kisah hidup adiknya walaupun ceritanya bisa dibilang tidak seberapa tapi kenyataannya setiap orang memiliki identik jiwa yang berbeda-beda ada yang kuat, lemah, dan lembut beruntungnya Krise memiliki mental yang kuat sehingga semua masalahnya bisa dilalui tanpa adanya putus asa


"Dan anehnya lagi semua harapanku hilang satu persatu hingga sempat ku berfikir kalau aku tidak akan mempunyai siapapun lagi, tapi siapa sangka kalau aku masih memiliki seseorang yang ku sebut kakak" lanjut Putra dengan nada berat


"Haha.. Mari kita Sudahkan untuk suasana sedih ini" ujar Krise yang senyum tipis


'Huh,.. Kamu benar juga, lagian ceritaku hanya sekilas dongeng untukmu" ketus Putra dengan mengendus berat


"Mana mungkin aku bilang dongeng, ada-ada aja kamu"


"Hahaha... " tawa putra yang kembali merekah diwajahnya sehingga di ikuti oleh Krise, namun ditengah suasana tawa tersebut tiba-tiba terdengar suara ledakan dari balik punggung mereka hingga dengan cepat mereka berpaling akibat kaget dengan suara ledakan yang sangat menggelegar telinga setiap orang, apalagi lokasi Putra dan Krise belum jauh dari TKP


"Tempat itu?" bingung Krise dengan tertegun kaku akibat shock


"Itu bukannya tempat yang pernah kita lalui tadi?" tanya Putra dengan melirik kakaknya dalam-dalam


"Bukan tempat biasa tapi itu memang tempatnya yang dimana istana kuno berada"


"Jadi maksudmu ledakan tersebut terjadi di istana?!" tanya Putra dengan wajah terkejut


"Iyah,.. Bisa dibilang seperti itu" jawab singkat Krise dengan tatapan aneh terus terpaku dalam satu pandangan yaitu kearah api melahap hutan sehingga banyak sekali asap yang disebabkan oleh api Putra maupun ledakan

__ADS_1


Namun tidak lama termenung secara mengejutkan tangan Putra menepuk pundaknya sehingga dalam waktu singkat Krise terkejut dan sontak menatap Putra dengan kesal akibat tingkahnya sudah membuat dia kaget parah, "Kaget aku, dasar anak dajj*l, bisa-bisanya kamu membuat orang kaget dengan tampak tak bersalah" ceplas-ceplos Krise yang dilontarkan secara langsung ke orangnya


"Iya Maaf, lagian kenapa kamu melamun?" tanya Putra dengan senyum tipis sumringah di wajahnya


"Rasanya sedikit aneh kalau aku membenci tempat tersebut" jawab krise yang kembali menatap ke arah kobaran asap mengebul ke langit malam


"Kenapa aneh?" bingung sang Adik


"Karena mau bagaimana pun tempat itu telah membuatku menjadi orang seperti ini, kalau tanpa tempat itu maka sudah tidak terbayang akan bagaimana aku kedepannya" ucap Krise


"Aku kira apaan" hela nafas panjang Putra yang menyepelekan cerita kakaknya


"Haha.. Mungkin aku saja yang paranoid dengan tempat itu"


"Tidak, menurutku sudah sewajarnya kamu membenci tempat tersebut"


"Wajar?" bingung Krise


"Kalau menurutku sih wajar, soalnya kakak sudah banyak mengalami hal mengerikan di sana dan tentunya sudah meninggalkan bekas luka di hatimu, jadi walaupun kamu berusaha untuk melupakan kejadian lalu tapi hatimu akan terus mengingat luka tersebut sampai seumur hidup"


"Kamu benar"


"Namun bukan berarti hal tersebut tidak ada obatnya"


"Obatnya apa?" tanya krise dengan melirik adiknya


"Tentu saja, obatnya adalah kebahagiaan" jawab Putra yang ikut melirik sambil mempersembahkan senyuman tipis bagaikan bulan yang memberikan cahaya walaupun hanya remang-remang


"Dasar" ketus Krise sambil mengacak-acak rambut Putra bagaikan anak kecil


"Bodo amat" balas Krise sebelum mereka melanjutkan perjalan mereka menuju kapal induk milik sekutu. Sedangkan dilain tempat terlihat Nicolaus yang sedang berdiri kaku dihadapan puing-puing bangunan, akibat runtuh yang disebabkan oleh ledakan dari pesawat Jet, tapi anehnya ledakan tersebut tidak membuahkan lecet pada tubuh Nicolaus


Berbeda dengan Lian yang terluka di bagian lengan dan kepala akibat terkena puing bata bangunan, walaupun begitu keselamatan Lian masih berpihak padanya karena jika orang biasa mungkin sudah mati sejak awal, "Sialan, ledakan dari mana ini!!" bingung Lian dengan menahan sakit yang amat luar biasa di kepala


Akibat benturan yang berupa puing bata bahkan pandangnya ikut buram sebelum ia kembali sadar sepenuhnya, selama beberapa detik dirinya tidak bisa melihat apapun yang ada disekitarnya, dengan posisi duduk yang kini kakinya tertimpa bata-bata kecil membuatnya tidak bisa bergerak leluasa, jadinya Lian hanya bisa mengusap matanya yang terkena debu


Setelah pandangannya jelas, hal pertama yang dilihat oleh Lian saat itu adalah Nicolaus sedang terbujur kaku berdiri di atas tumpukan puing bata. Dengan muka terkejut dan takut Lian hanya bisa tertegun dengan apa yang dirinya lihat karena baru pertama kali ini dirinya melihat manusia yang bisa selamat dari ledakan bahkan ditubuhnya tidak terlihat ada luka sedikit pun


Sedangkan dirinya harus terluka yang paling parah dan lukanya ada di bagian lengan dan kepala akibat benturan dengan batu bata dari tinggi kira-kira 17 meter dari dasar hingga ke langit dinding


"Eh.. Bagaimana bisa, dia selamat dari ledakan tadi?" tanya Lian yang ternganga akibat terkejut dengan apa yang dirinya lihat antara lain Nico sebagai objektifnya


Terlihat jelas Nico berdiri diantara tumpukan bata dengan baju compang-camping namun tidak terluka sedikitpun, bahkan lecet dari goresan saja tidak tertera di kulit krimnya, "Monster, dia benar-benar monster, untung bocah tadi tidak bermain-main dengannya sampai ngamuk, jika tidak mungkin bocah itu sudah mati dengan mengenaskan" gumam Lian dengan bocah yang ia maksud adalah Putra


Tidak lama termenung dengan rasa kagetnya, secara mengejutkan keluar aura mengerikan dari dalam tubuh Nico yang begitu kuat dan pekat hitamnya, bahkan didalam aura tersebut sudah tertera ribuan jiwa yang meringis kesakitan dari balik aura


"Aura apa ini" kaget Nico yang tertindih puing-puing bata di bagian kakinya sehingga susah untuk dirinya bergerak apalagi kabur dari tempat itu, yang ada ia hanya terdiam kaku sambil bercucur deras keringat dingin dari pelipisnya


"Ha-ha-ha-ha..." tawa kencang yang terus-menerus terdengar di gendang telinga Lian dengan begitu jelas hingga tanpa berhenti keringatnya terus keluar membasahi wajahnya, semua itu karena rasa takut yang amat luar biasa, karena posisi Lian bagaikan berhadapan langsung dengan Godzilla


Semua itu bagaikan Lian yang berhadapan dengan sesosok monster yang mengerikan sampai-sampai susah untuk mengucapkan satu kata jika harus berada dihadapannya, bahkan untuk bergerak saja sudah tidak sanggup akibat tenaganya hilang dibawah angin yang ada hanya rasa takut yang luar biasa, ditambah dengan tawa jahatnya tentu saja Lian sudah benar-benar mati kata dan langkah


Yang ada hanya rasa ingin menghilang dari situasi tersebut, karena ingin pingsan pun rasanya enggan, sampai situasinya berubah drastis ketika mendengar suara asing keluar dari mulut Nicolaus, "Akhirnya aku bisa bangkit dari tidur panjang ini, haha..." ucapan yang disertai tawa sadis membuat Lian terbujur kaku tak bersuara berharap kalau permohonannya terkabul yaitu menghilang dari situasi tersebut


Namun mau sekeras apapun dia memohon semua itu tidak akan berubah karena situasi yang ada diposisi Lian adalah takdirnya, tidak selang lama akhirnya Nico melirik ke arah Lian yang sudah diam mematung dengan duduk ditempat yang tak ubah posisinya


Terlihat jelas tatapan dingin yang tajam bagaikan pisau tak terlihat mulai menusuk mental Lian secara perlahan sehingga membuat lawannya tak mampu berkata, karena yang ada di dalam benaknya cuman ingin menghilang, "Habis sudah riwayatku" gumam Lian dengan badan bergetar hebat semua itu terjadi sehabis melihat tatapan Nico yang sudah bagaikan pembunuh berdarah dingin

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanya dari pinta suara lain tapi satu tenggorokan dengan Nicolaus


"A-A-ku" terdengar suara ketakutan yang membuat Lian gagap sendiri dengan perkataannya


"Kamu, lawan atau kawan?" suara berat yang mempertanyakan jawaban dari Lian, sehingga dirinya bingung harus menjawab apalagi, karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan tabu dari seseorang yang tidak diketahui statusnya


Dimana Nicolaus adalah lawan bagi Lian dan kawannya, namun di satu sisi lagi statusnya sebagai kawan apalagi di situasi seperti ini, jadi pertanyaan tersebut adalah pertanyaan sulit dijawab oleh Lian, ditambah lagi dari segi kekuatan jelasnya Lian tidak ingin menjadi lawan Nicolaus yang saat itu sudah dibawah kendali orang lain


"Bagaimana jika aku bilang kalau aku lawan mu!!" Dengan berani Lian berbicara walaupun seluruh badannya ketakutan


"Hah?"


"Iya,.. Aku lawan mu, karena kamu bukan Nicolaus yang ku kenal lagi yang aku anggap sebagai bos besar ku"


"Kamu mau mati" ketus suara berat dari mulut Nicolaus, bahkan Lian setelah sekian lama berbicara tidak bisa memberi kepastian tentang siapa yang ada di dalam tubuh Nico


Pada saat itu Lian cuman bisa menelan air liurnya akibat tidak tahu harus berbuat apalagi, semua itu ibaratkan nyawanya sudah berada di ujung kuku, yang bisa mati kapan saja, tapi sekali lagi Lian tidak menyesalinya karena semua yang terjadi saat itu adalah takdirnya


"Mana mungkin aku bisa melawannya" batin Lian yang menelan air liurnya


"Kenapa, kau takut?" pertanyaan yang di lontarkan kepada Lian membuat tubuhnya tidak bertenaga tapi sebelum menjawab ia menarik nafas panjang lalu di hembuskan secara perlahan, semua itu bertujuan untuk menenangkan diri


"Takut?, tentu saja aku takut dengan monster sepertimu tapi aku tidak ada alasan untuk menghindari kematian karena ini sudah menjadi resiko ku" jawab Lian dengan pasrah karena sekuat apapun dia berusaha semua ada di tangan Nicolaus yang berbeda


"Jawabanmu menunjukkan kalau kamu takut denganku namun tidak punya tenaga untuk melarikan diri" balas Nico dengan datar sehingga membuat Lion langsung menggigil ketakutan akibat jawabnya benar apa adanya


"Kalau memang benar, apa kamu akan tetap membunuh ku?" tanya Lian dengan darah mengalir dari sela batu, yang menandakan kalau kaki Lian sudah terluka dibawah tumpukan batu


"Aku membunuhmu!!, apa untungnya buatku lagian kamu bukan ancaman bagiku"


"Ancaman?" bingung Lian dengan nada pelan sambil terus berfikir keras dalam waktu singkat sebelum dia kembali melontarkan pertanyaan


"Apa rencana mu?" sambung Lian dengan pertanyaan yang nada suaranya cukup tinggi


"Apa alasanku untuk menjawab pertanyaan dari seorang kecoa seperti mu"


"Kecoa?" gumam Lian dengan kesal walaupun dirinya tidak berani untuk mengutarakannya secara langsung, tentu membuat ia hanya bisa mengupat dalam hati


"Tapi karena kamu adalah orang pertama yang telah melihatku bangkit, jadi aku berjanji akan membunuhmu tanpa rasa sakit" ucap Nico dengan pita suara berbeda, sehingga Lian yang mendengar sontak terkejut dengan balasan dari Nico yang telah di kendalikan orang lain


"Apa maksud!!" suara tinggi Lian dengan wajah heran, kini langsung berubah ketika Nico mengayunkan tangannya kesamping sehingga terciptanya sayatan hitam yang panjang dan kuat, sampai-sampai terjadi ledakan di saat kekuatan itu menabrak lantai dimana Lian telah mati langkah


𝘿𝙪𝙖𝙧...


Suara ledakan yang begitu besar mulai menghancurkan bangunan sekitar, karena pada dasarnya beton istana sudah kuno sampai-sampai mudah untuk di robohkan, apalagi dengan kekuatan Nico yang mempunyai kekuatan diluar nalar, tentunya ledakan tersebut bukanlah ledakan biasa karena pada saat ledakan terjadi tidak hanya objeknya saja yang terkena dampaknya


Tapi pondasi lain juga ikut terseret dalam ledakan sehingga dalam waktu singkat seluruh lorong Istana runtuh dalam waktu cepat, tepatnya ketika terjadi ledakan dari kekuatan Nico yang begitu dahsyat, bahkan ketika runtuhnya bata bangunan istana Nicolaus tidak mendapatkan luka, karena auranya telah melindunginya dari benda padat berbeda dengan Lian yang kini tertindih puing-puing bangunan seusai runtuhnya lorong istana


"Haha.. Manusia masih tidak berubah dari dulu hingga sekarang, mereka lebih memilih mati dari pada menuruti sisi lemahnya" senyum Nicolaus yang kini sudah benar-benar berdiri di atas puing bangunan yang sudah menumpuk layaknya gunung dan ketika suasananya sedang hening tiba-tiba Nico secara tidak sengaja melirik kearah beberapa tentara yang waktu itu masih tersungkur ke tanah.


********


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚'𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋

__ADS_1


__ADS_2