
Kembali ke sisi Nicolaus yang kini sudah hampir 80% bangkit dari alam kematian, bahkan menurut Zhang Xuan kebangkitannya tinggal menunggu menit saja, setelah itu semuanya akan sempurna dimana kematian yang ditunggu selama ini telah dibayar dengan kebangkitan tubuh baru, dan ketika sedang menyempurnakan kekuatannya
Secara mengejutkan datang 7 orang berjubah hitam dari atas kepala hingga ujung kaki, yang datang dengan bersujud dihadapan Nicolaus, sambil berkata, "Selamat, atas kebangkitan anda Tuan Zhang Xuan" hormat mereka secara bersamaan dengan bersujud di hadapan tuannya
"Aku sangat senang, karena akhirnya tiba juga di hari aku akan bangkit sepenuhnya" ujar Nico dengan sumringah senyum sadisnya
"Kami turut senang dengan kebahagiaan tuan Zhang, jika anda berkenan anda bisa memberi kami perintah!!" ucap salah satu dari mereka sembari tadi tidak ubah dalam posisinya
"Perintah,.. Oh iyah, karena kalian menawarkannya maka dengan senang hati akan aku beri kalian perintah, yaitu bantu aku untuk mencari anak Firdaus"
"Baik tuan" ucap serentak dari ketujuh klon ciptanya sebelum mereka pergi dari hadapan Zhang Xuan
Setelah ciptanya pergi menjauh tiba saatnya untuk dia beraktivitas yaitu pertama-tama dia akan menemui setiap gerbang diberbagai tempat untuk menyempurnakan tahap akhirnya supaya ketika gerbang itu terbuka maka akan semakin sempurna juga untuk membangkitkan kembali tubuhnya karena untuk saat ini kekuatannya sangat terbatas
Bahkan untuk ke lokasi yang jaraknya cukup jauh tidak butuh kendaraan baginya, karena hanya dengan kekuatannya Nico dapat terbang dengan cepat bagaikan pesawat pada umumnya. Sedangkan dilain tempat terlihat Krise dan Putra yang kini sudah mencapai kawasan kapal yang di sana sudah tergeletak bangkai pesawat akibat perang yang terus berkecamuk bahkan sampai saat ini saja perang itu terus berlangsung
"Wih,.. Gila, banyak banget bangkai pesawat di sini,.. Satu... Dua.. Tiga" ucap Putra sambil menghitung setiap pesawat hancur pada saat itu
"Sampai kapan perang ini terus berlangsung?" tanya Krise yang meratap ke langit dengan pemandangan yang memperlihatkan terus-menerus terjadi perang jet dari pihak Sekutu maupun organisasi ilegal
"Aku juga tidak tahu" balas putra sampai tiba dirinya terkejut karena hasil hitungannya ternyata pesawat yang ada di pesisir berjumlah 8 buah pesawat itu belum termasuk yang ada ditempat lain
Setelah cukup lama melamun akhirnya putra memecah keheningan dengan berkata, "Sudah mari kita masuk kapal, aku berharap nanti ada beberapa makanan untuk ku makan, karena aku sudah sangat lapar" keluh Putra sambil berjalan lebih dulu melewati Krise kemudian disusul oleh Krise dari belakang sehingga mereka mulai memasuki kapal induk tersebut
Setelah masuk kedalam kapal tersebut Putra langsung menuju keruang rapat karena ada kemungkinan Vera dan yang lainnya berada di sana, sementara Krise hanya bisa menurut dengan mengikuti adiknya yang entah akan membawanya kemana setelah berjalan cukup jauh melewati lorong kapal Putra dan Krise seringkali menemukan mayat yang sudah tergeletak tak bernyawa
Ada diantara mereka yang tubuhnya sudah tak utuh akibat ledakan granat tapi karena perasaan Krise kuat membuatnya tidak merasakan hal lain, berbeda dengan Putra yang baru masuk langsung merasa mual-mual di perut, karena momen itu adalah pemandangan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya selama hidup
"Huek,.. Huek... " terlihat Putra yang tersungkur sambil mual-mual dengan begitu histeris sampai-sampai Krise cuman bisa menggelengkan kepala karena sangat terkejut dengan apa yang terjadi oleh adiknya
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Krise yang jongkok sambil memijat punggung Putra secara perlahan
"Hmm... Aku tidak apa-apa kok" jawab Putra sambil mengusap-usap mulutnya
"Tidak apa-apa?" gumam Krise yang bertanya-tanya tentang keadaan adiknya saat itu
"Sudahlah mari kita lanjut saja perjalanan kita dari pada diam disini terus-menerus" ajak Putra
"Memang kamu bisa?" tanya Krise dengan pandangan aneh
"Hah!!" bingung Putra yang menatap dalam ke arah kakaknya yang penuh dengan pertanyaan di benaknya
"Coba kamu lihat ke sana!!" unjuk Krise sambil menunjuk ke arah tumpukan mayat yang kini sudah tak berbentuk akibat ledakan telah menghancurkan tubuhnya
Awalnya Putra hanya menatap penuh kekosongan namun tidak lama kemudian lamunannya di gantikan dengan rasa mual yang kini semakin menjadi-jadi, "Janc*k,.." kupat Putra sambil mengusap-usap mulutnya untuk ke sekian kali tapi anehnya setelah kejadian itu berlalu kini tubuh Putra tampak lemas tak berdaya
Mukanya lesu, dan otot sarafnya tampak melemah sehingga susah untuk berjalan dengan kedua kakinya lagi, yah ujung-ujungnya Krise harus memapah tubuh lemah sang adik, "Maaf karena merepotkan mu, kak" ujar Putra dengan malu
"Memang dari awal kamu sudah merepotkan ku, jadi untuk apa kamu minta maaf" celetuk Krise dengan angkuh
"Cih,.. Nih anak perhitungan amat" batin Putra sambil mencibir kakaknya
"Dimana ruangannya?" tanya krise yang memecah suasana tak mengenakan tersebut dengan melontarkan pertanyaan singkat kepada Putra
"Di dapan kamu akan melihat tag ruangan yang berangka 00, nah disitulah ruangannya" jawab Putra dengan sinis karena perkataan Krise telah menyenggol hati kecilnya
__ADS_1
"Okelah" karena tidak merasa aneh sama sekali Krise terus membawa Putra menuju ruangan yang menjadi tujuan mereka
Setelah mereka mencapai ambang pintu Putra mulai melepas tangannya yang waktu itu berada di punggung Krise dan berjalan sendiri memasuki ruangan 00, dan ketika membuka ruangan tersebut terlihat Vera dan Jenderal berada didalam ruangan yang sama, Vera yang waktu itu duduk disalah satu kursi rapat sedangkan jenderal masih sibuk mengotak-ngatik radionya untuk digunakan sebagai alat komunikasi
"Vera!!" panggil Putra yang mengejutkan Vera dari lamunannya sontak Vera langsung beranjak dari tempat duduknya dan melompat ke pelukan Putra sehingga dengan spontan Krise langsung terkejut dengan tingkah Vera terhadap adiknya
"Syukurlah kamu tak apa-apa" ucap Putra yang waktu itu membalas pelukan Vera dengan hangat
"Aku juga bersyukur karena kamu selamat" balas Vera dengan menenggelamkan perasannya
Dilain sisi Jenderal dan Krise hanya bisa diam membisu tanpa ada kata-kata yang keluar, karena situasinya sangat menyakitkan bagi mereka yang seorang diri
"Ehmm,..." deheman jenderal yang masih sibuk dengan urusannya membuat Putra dan Vera langsung melepas pelukan mereka dalam keadaan kaget
"Apa kalian berdua sepasang kekasih?" tanya Krise dengan polos sampai-sampai tanpa disadari pertanyaannya telah membuat wajah Putra dan Vera merona secara bersamaan
"Putra, kenapa kamu diam!!" karena rasa penasaran membuat Krise bertanya lagi sehingga putra yang ketus berkata
"Mau tahu saja kamu, kak" jawab datar membuat Krise kesal sendiri, tapi berbeda dengan Vera yang tampaknya kebingungan dengan kehadiran pria asing baginya apalagi Putra sempat memanggilnya 'Kak'
"Kak!!,.. maksudmu kakak?" tanya Vera dengan bingung
"Iyah, aku kakaknya" jawab Krise dengan datar sehingga Vera mengerutkan dahinya karena bingung dengan pria yang ada dihadapannya
"Putra, bisa kamu jelaskan?" tanya Vera yang menatap dalam seakan-akan sedang meminta penjelasan
"Ah,.. Jadi ceritanya sedikit panjang" gagap putra yang bingung ingin menjelaskannya dari mana
"Kalau begitu jelaskan secara singkat supaya aku bisa paham" ketus Vera dengan tatapan tajam yang tidak bisa diartikan karena perasaannya saat itu terkejut dan bingung
"Hah!.." Bingung Vera yang tidak bisa diartikan lewat kata-kata karena menurutnya semua itu terlalu sangat singkat jika dibilang penjelasan
"Apa kamu tidak sadar dengan penjelasan mu itu" ketus Vera dengan nada tinggi
"Lah!.. Memangnya kenapa?" bingung Putra yang kini terlihat ling-lung
"Penjelasan mu terlalu singkat tahu, kalau seperti itu malah membuatku bingung sendiri"
"Lah kok, malah jadi aku yang salah" masam muka putra yang menerima omelan Vera
"Biar aku saja yang menjelaskan, kerena semua ini karena kehadiranku yang begitu tiba-tiba" potong Krise yang kasihan melihat adiknya disalahkan secara sepihak oleh kekasihnya
"Tidak mau, aku maunya dia yang menjelaskan" bantah Vera dengan menatap putra dengan tajam
"Eh,.. Sulit dimengerti" batin Krise yang menerima kenyataan dengan lapang dada
"Cepat jelaskan!!" perintah Vera kepada Putra
"Baiklah akan aku jelaskan" jawab putra yang secara langsung menjelaskan cerita kakaknya dengan begitu detail sehingga Vera tampak sangat paham dengan keadaannya saat itu walaupun begitu semua ceritanya tidak akan logis jika tidak didukung dengan fakta-fakta yang ada jadi Krise lah yang kini menjadi saksi untuk semua kejadian tersebut
Singkat waktu akhirnya semua cerita telah disampaikan secara lisan kepada Vera sehingga dalam waktu singkat Vera bisa mengerti dengan kenyataan yang ada, bahkan sang jenderal yang sembari tadi setting radionya hanya bisa menyimak dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Putra maupun Krise
Namun ketika Vera sedang mencerna situasi tiba-tiba terdengar suara jenderal yang berkata dengan radionya, "Lapor, disini pasukan AL milik negara Jupiter, Ganti" seru jenderal kepada mic yang dipegangnya
"Laporkan identitas dan situasinya!!" balas suara yang berasal dari radio tersebut
__ADS_1
"Saya jenderal angkatan laut, kode nama saya Link, posisi saya berada dikawasan musuh yang diberi misi untuk menuntaskan pemberontakan disebuah pulau, Ganti"
"Kode nama Link?"
"Benar, tolong segera diperiksa!!" perintah Jenderal dengan suara yang mendesak
Beberapa saat kemudian terdengar lagi suara dari radio yang berkata, "Baik, kami sudah mendapat indentitas anda jenderal"
"Bagus sekarang tolong laporkan pada petinggi kalau saya meminta bantuan" ujar Jenderal yang mendesak markas pusat
"Baik jenderal, tapi jarak antara kita dan anda sangat jauh jadi butuh memakan waktu cukup lama untuk bisa membantu anda"
"Tapi awak kapal ku tidak bisa bertahan lama jika ini terus berlangsung, apalagi saat ini mereka sedang disibukan dengan pesawat tempur yang bertempur di udara" jawab jenderal
"Saya tahu tapi ini memang keadaan kita, jarak telah menghalangi kita"
"Baiklah, kirim secepatnya" perintah jenderal yang menutup saluran komunikasi secara sepihak
"Sialan, kenapa ini bisa terjadi" kupat jenderal yang emosi ketika saluran komunikasi telah mati
"Anda tidak apa-apa?" tanya Putra dengan bingung
"Keadaan kita sangat buruk" jawabnya yang berdiri tegak menghadap Putra dan yang lainnya
"Lalu kita harus apa?"
Disaat suasana mereka sedang bingung secara mengejutkan Jenderal bersuara yang mengagetkan mereka, "Apa kalian tidak merasa aneh?"
"Aneh?!" bingung Vera yang menatap Jenderal dan Putra
"Iyah, kenapa suara pesawat tidak terdengar dan dari kaca tidak terlihat ada pertempuran" bingung Jenderal sambil melihat keluar dari balik kaca
"Apa mereka sudah selesai berperang!!" tebak Krise
"Tidak, jika mereka selesai berperang kemungkinan akan ada salah satu kru kapal yang melapor, tapi ini anehnya aku tidak mendengar laporan?"
Seketika hening sejenak sebelum Jenderal berlari keluar ruangan untuk menuju ke atap kapal dengan disusul oleh yang lain, di pelarian mereka pikiran jenderal tak karuan karena yang ada dibenaknya hanya ada rasa cemas dan takut dengan apa yang terjadi nantinya
Bahkan Putra tidak bisa melontarkan pertanyaan apapun karena pada saat itu pikiran mereka sudah tidak kondusif lagi, sehingga mereka sudah mencapai koridor kapal yang hanya menaiki anak tangga untuk bisa mencapai pintu keluar kapal induk
Kreak....
Suara dorongan pintu kapal yang keras sehingga membuka dan memperlihatkan sisi luar kapal yang pada saat itu juga memperlihatkan pemandangan penuh darah dari kru kapal yang sudah menjadi mayat tak bernyawa, darah sudah menggenang kemana-mana bahkan Vera dan Putra harus mual untuk kedua kalinya
Melihat mayat penuh luka dan dan darah membasahi setiap tubuh, bahkan di sana sudah tidak tersisa satu pun orang yang hidup kecuali mayat yang tergeletak sangat banyak, bisa-bisa mencapai puluhan orang
"Apa-apaan ini semua!!!" bingung jenderal yang tatapannya sudah kosong tak bernyawa akibat melihat seluruh rekannya mati ter-bantai, bahkan tidak terlihat satu pesawat pun yang ada di udara maupun di kapal induk kecuali api yang membakar lantai kapal dengan bangkai pesawat sisa.
********
𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚'𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖
𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..
𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋
__ADS_1