
Disaat situasi sudah tenang putra segera melepas pelukan dan mulai berbisik dengan wajah penuh keyakinan "Vera, kamu tidak perlu takut karena aku sudah ada disini"
"Syukurlah kamu baik-baik saja dari tadi, aku sangat khawatir padamu"
"Maaf jika sudah membuatmu khawatir"
Putra yang melihat ari memeluk maya sempat terfikir kalau ada sesuatu yang terjadi dengan maya hingga membuatnya berkata "Ari, bagaimana keadaan maya?" tanya putra yang langsung memeriksa keadaannya
"Dia baik-baik saja, mungkin saat ini dirinya sedang syok karena melihat aura tang san"
"Sulit dipercaya, awalnya aku pikir kalian bakal berbicara selayaknya orang normal, tapi siapa sangka akan jadi seperti ini, maafkan aku semua ini salahku" ucap putra dengan perasaan bersalah
"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, sebaiknya kamu bantu aku untuk membangunkan maya"
Tak selang beberapa lama maya pun terbangun dari pingsannya, dengan ditemani ari disampingnya Walaupun saat itu ari sedang tertidur "Terimakasih, karena sudah mau menemaniku dan maaf jika aku sudah banyak merepotkan mu selama ini" pikir maya sambil Mengusap rambut ari
Hingga tak lama ari terbangun dari tidurnya dengan melihat maya memegang kepalanya, "syukurlah kamu sudah bangun" dengan cepat ari memeluk maya
Maya yang dipeluk ari, seketika wajahnya merona dengan pikiran tercampur aduk, "A-ari, ada apa?!" tanya maya dengan suara terbata-bata
"Kamu tau tidak semalam aku sangat khawatir dengan kondisimu yang tidak sadar-sadar, bahkan aku sempat berfikir untuk membawamu ke rumah sakit"
Haha,.. Kamu terlalu berlebihan ari, tapi Terimakasih untuk semuanya, aku cukup senang jika ada orang yang mengkhawatirkan aku" maya yang tertawa kecil sambil tersenyum membuat hati ari berdebar dengan kencang tak karuan
"Aku juga tidak masalah sama sekali dan baguslah kalau kamu senang" jawab ari dengan memalingkan wajahnya dari hadapan maya
"Wajahmu kenapa, Kok merah?" tanya maya dengan bingung
Aku tidak apa-apa kok, kalau gitu aku pergi keluar dulu untuk memberi tau yang lain tentang kesadaran mu, sekaligus mengambilkan makanan untuk sarapan pagi mu" balas ari yang langsung meninggalkan maya untuk memberi tau putra dan Vera tentang sadarnya maya
Di dapur terlihat Vera yang sedang memasak untuk sarapan pagi dengan ditemani putra walaupun suasananya cukup canggung, "putra, kamu tidak ada masalahkan dengan tang san?" tanya Vera dengan tangan yang masih memotong bumbu
"Tidak ada, kami berdua memiliki hubungan yang baik, dan aku lihat dia bukanlah orang jahat, tapi aku hanya sedikit khawatir dengan kalian"
"Baguslah, kalau kamu sudah berpendapat seperti itu, entah kenapa setelah mendengar kata-katamu barusan membuatku menjadi lebih tenang"
"Vera!!!" dengan tidak sengaja ia berjalan mendekati vera dan mencium bibirnya dengan perasaan tulus, putra merasa kalau dirinya sudah mendapatkan tempat spesial di hati Vera
Karena perasaan tidak tertahankan Vera mulai pasrah dengan keadaan, namun tak lama ari datang dan melihat adegan itu sambil berkata, "sepertinya aku mengganggu kalian" dengan cepat ari membalikkan badan untuk kembali, namun langkahnya terhenti ketika Vera berkata dengan nada keras
"Tidak, kamu salah paham sebenarnya kami tidak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa ceritakan kenapa kamu datang kemari dengan terburu-buru"
Ujar Vera yang mendorong Putra
"Cih,.. Dasar ari, menggangu saja" pikir putra dengan wajah kesal
"Sebenarnya aku datang kesini, untuk memberi tau kalian, kalau maya sudah sadar dari pingsannya"
"Apa!!!" dengan cepat Vera berlari meninggalkan putra dan ari berdua di dapur
Bagaimana dengan sarapan pagi kita?" tanya ari Tanpa merasa bersalah karena sudah dua kali menghancurkan momen bagus putra
__ADS_1
Dikamar maya, vera mulai menanyakan kondisinya, "Maya, bagaimana keadaanmu? Khawatir vera yang langsung memperhatikan tubuh maya
"Aku tidak apa-apa kak vera, maaf jika sudah membuat kalian khawatir"
Vera hanya tersenyum dan memegang Kepala maya sambil berkata, "kamu tidak perlu minta maaf, bukannya sudah wajar jika kita mengkhawatirkan sahabat sendiri"
Untuk pertama kalinya maya melihat senyuman tulus dari seorang sahabat, karena selama ini dirinya belum pernah mendapatkan perlakuan hangat dari seorang teman
"Kamu kenapa maya, kok wajahmu merah?" bingung Vera karena melihat maya tersipu malu
"Nggak ada apa-apa, tapi maya mau berterimakasih kepada kalian semua, karena sudah mau menerima aku disini tanpa mengharapkan apapun dariku"
"Haha,.. Kamu ini bicara apa sih, memangnya kami mau apa darimu, kita ini sahabat dan seorang sahabat tidak akan pernah menuntut hal yang macam-macam pada temannya sendiri, karena tugas sahabat adalah membantu teman agar tidak kesepian dalam menjalani hidup" balas Vera dengan tertawa kecil
Hingga tak lama ari dan putra masuk sambil membawakan biskuit di piring yang mereka bawa dari dapur, "Maya, bagaimana kondisimu saat ini?" tanya putra yang meletakkan piring tersebut ke meja di samping maya
"Aku sudah baikan kok, jadi kak putra tidak perlu khawatirkan tentang kondisiku!!"
"Syukurlah, tapi sebelum itu aku mau minta maaf padamu, karena waktu itu sudah membiarkan tang san mengambil alih tubuhku"
Kak putra tidak salah, sebenarnya aku juga ingin tau tentang orang itu, tapi kenyataan aku tidak bisa menahan tekanannya yang akhirnya aku malah merepotkan kalian, jadi untuk semua aku minta maaf karena sudah merepotkan kalian"
"Haha.. Baiklah aku anggap ini salah kita berdua, jadi untuk kedepannya mari kita membangun satu sama lain" ketawa kecil putra yang mengacak-acak rambut maya
"Cih,.. Dasar putra, tukang caper" ari yang mencibir ketika melihat putra dan maya sangat akrab, dan disaat itu Vera yang mendengar cibiran ari hanya bisa tertawa kecil sambil berfikir "ternyata sih pria Es juga bisa cemburu"
Akhirnya waktu yang berharga itu mereka habiskan dengan canda tawa di dalam rumah, terutama untuk maya sekarang dirinya sudah kembali tersenyum dan tertawa, semua itu berkat ari dan putra yang ribut karena hal sepele, waktu terus berlalu hingga hari menjelang sore
\*\*\*
"Kamu tenang saja maya, aku pasti akan menjaga Vera sepanjang perjalanan dan aku janji padamu, aku akan mengabari jika sudah sampai ditempat tujuan" balas putra
"Vera kenapa tidak besok saja perginya?!" bingung ari karena melihat Vera pergi di sore hari
"Maaf jika mendadak, tapi aku tidak mau pergi di pagi maupun siang hari, karena kalau pergi di saat itu pasti jalanan akan ramai dengan kendaraan yang akhirnya jalan akan macet"
"Baik-baik, tapi jika terjadi sesuatu dijalan, jangan sungkan untuk menghubungiku ya"
"Oke, jika terjadi sesuatu aku akan memberi tau mu secepatnya, namun untuk maya bagaimana denganmu?!"
"Aku akan pulang ke rumah dan mengerjakan tugas sekolah, tapi kak Vera tenang saja aku pasti akan lebih sering melihat keadaan ari disini"
Aku mengandalkan mu karena jika bukan kamu siapa lagi yang akan mengurus ari, kalau aku sudah Sibuk dengan putra" balas Vera dengan menepuk pundak maya
Maya yang melihat Vera mempercayainya, seketika wajahnya merona, karena mengurus seorang pria juga merupakan hal yang istimewa bagi seorang wanita
"Putra, mulai sekarang jangan biarkan tang san mengambil alih tubuhmu lagi" bisik ari kepada putra
"Tidak perlu kamu peringati aku sudah tau, akan aku usahakan agar tidak membuat orang lain tertekan dengan keberadaannya"
Baguslah, tapi entah kenapa aku merasa kalau aura yang dimilikinya jauh berbeda dengan manusia pada umumnya" gumam ari
__ADS_1
"Tentu saja berbeda, orang dia adalah manusia setengah dewa" begitulah pikir putra hingga tak lama datang mobil yang dipesan Vera untuk mengantar mereka ketempat tujuan
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik ya maya" Vera yang memeluk maya sebagai tanda perpisahan
"Iya, kakak juga harus jaga diri di sana" balas maya yang melihat Vera dan putra pergi bersama dengan mobil yang dipesan
***
2 hari berlalu, selama itu tidak ada masalah dalam Perjalanan putra dan vera, bahkan saat ini mereka berdua telah sampai di lokasi ayah vera berada, yaitu berada di balik bukit, bagian utara dari kota pusat di sana sangat jauh dari permukiman atau lebih tempatnya berada di perbatasan dua negara
"Vera, apa disini tempatmu tinggal?!" putra yang merasa heran dengan lokasi rumah vera, karena di sini tidak ada rumah warga dan jauh dari kota, bisa dibilang tempatnya berada di ujung negara
"Benar disini rumahku, Walaupun jauh dari warga ataupun penduduk Sipil, namun dengan anak buah papa yang jumlahnya ribuan, mungkin baginya sudah tidak membutuhkan tetangga ataupun teman"
"Lalu dimana ayahmu berkerja jika bukan di ibu kota?!"
"Papaku, seorang penguasa di berbagai negara, dan juga merupakan aset Pemersatu bangsa jika tidak ada ayahku maka perang dagang akan terjadi lagi, yang mana negara akan saling merebut sumber daya, melakukan monopoli, dan perang dunia, semua itu mereka lakukan agar negaranya menjadi yang terkaya dari negara lainnya"
"Lalu apa tugas ayahmu?" tanya putra
"Tugas papaku, adalah untuk menjual sumber daya yang diperlukan negara atau bisa menjadi dibilang pedagang internasional, misalnya negara 𝘼 kekurangan gandum, dan negara 𝘽 kelebihan gandum, maka tugas papaku adalah membeli gandum di negara 𝘽 dan menjualnya lagi di negara 𝘼"
"Wah.. Membeli makanan di negara tetangga bukanlah hal yang mudah, dan juga bertransaksi di berbagai negara memangnya diperbolehkan?!!"
"Memang tidak masuk akal, tapi yang dilakukan papaku pada langkah pertama adalah mencari dana, meminta izin pada 20 negara, membuat aliansi dagang di berbagai negara, setelah itu mencari pelindung aliansi, dan tidak lama ayahku mendapatkan perlindungan langsung dari 10 negara" jelas Vera
"Ternyata orang tuanya vera adalah orang yang hebat dia bisa membangun karirnya dalam waktu cepat, kalau seperti itu apakah anaknya pantas dinikahkan denganku" batin putra yang hilang semangat
"Apa masih jauh dari sini sampai rumahmu?!" tanya putra karena mereka sudah berjalan selama satu jam lamanya
"Mungkin masih ada 30 menitan lagi jika diukur lewat waktu?!"
"Apa!!,. kenapa ayahmu memilih tinggal di bukit seperti ini sih" keluh putra
"Kamu tidak taukan kalau jalan yang kita lewati selama sejam ini bukan milik negara melainkan milik papaku, jadi sudah sewajarnya kalau papaku tinggal di tanahnya sendiri"
Untuk ketiga kalinya, putra terkejut dangan ayah Vera karena memiliki harta yang banyak sampai bisa membeli bukit berbaris, "tapi untuk apa ayahmu membeli ini semua ini?" bingung putra karena melihat orang terkaya di dunia
"Katanya papaku, dia boleh mendirikan pasukan militer sendiri, jadi dia berencana membeli tanah seluas ini untuk pasukannya, dan katanya juga disini sangat cocok untuk menjadi medan perang"
"Aku Benar-benar gak habis pikir dengan ayahnya vera, tapi dengan begini aku jadi tau kenapa Vera meninggalkan rumah" Pikir putra yang sudah terbiasa dengan hal-hal mengejutkan tentang ayahnya Vera
Tidak terasa mereka telah berjalan selama 30 menit, Hingga terlihat dari kejauhan sebuah rumah bertingkat dengan puluhan orang berbaju hitam yang diselimuti armor, layaknya seorang tentara elite
"Vera, apa itu rumahmu? dan itu Tentara ayahmu?!" tanya putra sekaligus kaget dengan rumah yang menyerupai kastil bertingkat
"Iya, itu rumahku dan orang-orang yang berada di sana adalah tentara papaku"
"Apa ayahnya mau buat negara sendiri, kok rumah dan prajuritnya segitu elitnya" batin putra yang terheran-heran
"Kamu pasti takut dengan ayahku" ketus Vera yang heran melihat raut wajah putra
__ADS_1
"Hehe,.. Tidak kok, aku sama sekali tidak takut" balas putra yang didalam hatinya masih kurang yakin jika harus bertemu dengan ayah Vera
Akhirnya merekapun sampai di depan pintu gerbang dengan dijaga dua prajurit bersenjata, awalnya putra ragu untuk masuk, namun semua keraguan itu berubah ketika Vera menarik tangannya, bahkan putra yang awalnya takut seketika menjadi berani untuk bertemu calon mertua.