
Setelah makan malam, di waktu itu juga mereka habiskan dengan ngobrol biasa, sampai disaat andrian dan sonia pulang ke rumah, karena waktu sudah sangat malam ditambah lagi mereka masih ada kegiatan sekolah seperti biasa di besok hari, dan malam itu adalah malam yang membahagiakan yaitu dimana Putra tidak lagi merasakan yang namanya kesepian
Setelah kedatangan Ari, Vera, dan Maya semua suasana rumah langsung berubah, entah kenapa Putra jadi lebih sering tersenyum setelah hari-hari yang di dilaluinya dan ditambah lagi dengan kedatangan Vera, semua itu langsung mengubah hidup Putra dengan drastis
Malam itu dilalui dengan cepat hingga hari sudah menjelang Fajar, Ari yang baru bangun tidur langsung menemani maya untuk pergi kerumahnya karena Maya melupakan sesuatu di rumah, sedangkan Putra masih sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah karena ini merupakan hari ia masuk kembali ke sekolah
Vera yang saat itu sedang masak cukup heran dengan tingkah putra, karena tingkahnya seperti orang kemalingan, "Putra, kamu tidak usah terlalu terburu-buru lagian ini masih sangat pagi" ujar Vera dengan asal suara berada di dapur
"Kamu benar, mungkin ini karena aku terlalu panik dengan suasana sekolah" keluh Putra dengan menghela nafas panjang
"Kalau begitu kamu duduk dulu di meja makan, karena masakan susah hampir matang" Perintah Vera sambil mencari mangkok di sekelilingnya
Tidak lama putra menunggu tiba-tiba Vera datang sambil membawa mangkok berisi sup hangat dengan aroma enak membuat Putra tidak sabar untuk menyantapnya, dengan wajah ngiler Putra berkata "Vera, boleh kita makan dulu makanan ini sebelum berangkat sekolah?"
"Tentu saja, mari kita makan" Jawab Vera pada akhirnya mereka melahap sup yang di siapkan Vera, setelah mereka makan dan bersiap-siap akhirnya mereka berangkat sekolah dengan berjalan bersama-sama di berjalan suasananya sangat damai karena seringkali Vera dan Putra ngobrol biasa layaknya sepasang kekasih
Hingga di tengah jalan mereka berpapasan dengan Ari, saat itu Ari ingin lewat di jalan tikus agar bisa sampai lebih cepat, "Loh,.. Maya kamu juga ingin lewat sini?" tanya Vera dengan ekspresi terkejut
"Aku dan Ari ingin lewat sini saja, biar kami bisa sampai lebih cepat kalau kakak mau lewat sini juga yasudah kita jalan sama-sama" ajak Maya pada akhirnya mereka berjalan bersama-sama tapi terlihat jelas Maya dan Vera sangat akrab bagaikan kakak dan adik, sedangkan putra melihat Ari dengan pandangan selayaknya Musuh, yang saling bertatap dingin
Sebenarnya Ari dan Putra adalah dua sahabat akrab hanya saja, mereka terlalu terbawa gengsi hingga akhirnya mereka cuman bisa saling bertatap mata, sesampainya mereka disekolah kini mereka memutuskan untuk berpencar karena ruang kelas yang berbeda-beda
Tapi alangkah terkejutnya putra kalau tau dirinya akan kembali sekelas dengan Vera, namun sayangnya tempat duduk menghalangi mereka posisi putra berada di belakang sedangkan Vera berada di depan, itu menunjukkan kalau Vera lebih di pandang guru secara tata krama dan kepintaran
Sedangkan untuk putra ia hanya siswa dengan nilai rata-rata dan tidak suka bersosialisasi dengan orang sekitar yang baru kenal, namun kelebihannya dia sangat ahli dalam nilai Bela diri, bisa dibilang dia dia adalah seorang senior dalam bela diri tinju
Ari adalah orang yang dikenal pendiam dikelas dan tidak suka dengan pembicaraan basa-basi seperti anak lainnya, itulah kenapa ia tidak pernah dapat sahabat kecuali Putra, menurutnya hanya Putra lah orang pertama yang dia anggap sebagai sahabat, dia adalah siswa cerdas yang selalu mendapat nilai di atas rata-rata dan kemampuan spesialnya adalah Jago dalam memanah di dalam radius 12 Km, biasanya sering di juluki 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙚𝙡𝙖𝙣𝙜
Walaupun Maya tidak sekelas dengan Ari tapi dia juga bukan murid biasa, dirinya selalu di panuti oleh orang sekitarnya dalam kemampuan berfikir dan bertindak, dirinya juga memiliki hati yang lembut dan sikap yang polos itulah sebabnya ia selalu di dekati laki-laki hanya saja Maya tidak bodoh dalam memilih pria, karena dirinya tau siapa di antara mereka yang hanya menginginkan tubuhnya
Dan kenapa ia memilih Ari, itu karena ia merasa kalau dia dan Ari memiliki nasib yang sama ditambah lagi melihat masa lalunya hal itu sudah sangat membuat Maya berempati tetapi di saat masa-masa pendekatan mereka, tanpa sengaja timbul rasa suka dalam hubungan mereka Dan Vera,
Kenapa Vera bisa menyukai Putra, semua itu bukan karena materi ataupun penampilan namun hal itu karena sifat lembut dan jiwa pria sejatinya, dan Vera dari kecil juga di ajarkan untuk saling mengasihi sesama manusia itulah kenapa Vera bisa menyukai Putra yang merupakan orang biasa
Di siang hari di waktu jam istirahat sekolah Putra, Vera, Ari dan Maya berkumpul di kantin sambil makan siang di sana mereka membahas apa yang terjadi selama jam sekolah, tapi yang paling mencolok adalah Putra karena dirinya berkata kalau ia merasa beda level dengan Vera karena di jam istirahat pertama Vera lebih di perhatikan oleh murid yang lainya sedangkan Putra
Dirinya merasa kesepian sepanjang waktu karena tidak pernah di ajak bicara, awalnya Vera merasa aneh dengan perkataan Putra karena semua yang terjadi bukan salah lingkungan tapi karena Putra yang tidak suka bergaul
Akhirnya Putra dan Vera saling berdebat satu sama lain tanpa memikirkan Ari dan Maya saat itu, Putra berkata kepada Vera dengan tujuan menyangkal pendapat vera, "Itukan bukan salahku, lagian siapa coba yang mau di anggap sok akrab" ketus putra dengan ekspresi membuang wajah
"Coba kamu bisa lebih akrab dengan orang-orang sekitar, aku yakin kamu pasti bisa mendapat teman, dan kenapa kamu marah padahal kan yang di dekati aku!!"
"Siapa yang marah sih" Putra yang menyangkal perkataan Vera hingga Ari yang melihat ingin tertawa
"Aku tau, kamu pasti cemburukan dengan pria yang mendekati aku tadi" sambung Vera sambil menahan tawa, setelah mendengar ucapan Vera, Putra saat itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi namun masih mencoba menatap walaupun setengah wajahnya ditutupi oleh tangannya
Kini mereka yang ada sana tertawa kecil melihat tingkah Putra seperti orang cemburu, tidak lama Maya berkata untuk mencairkan suasana dirinya melihat Putra sudah tidak kuat menahan malu
"Sudah-sudah dari pada kita terus membahas ini lebih baik kita makan saja, karena waktu istirahat tinggal beberapa meniti lagi"
"Maya, kamu benar-benar penyelamatku" batin Putra yang merasa sudah tidak ingin melanjutkan hidup karena malu sampai ujung tulang, waktu telah berlalu dengan cepat hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore disaat itu juga adalah waktu Pulang sekolah Putra, Vera, Maya dan Ari berjalan bersama menuju rumah sakit
Putra merasa tidak enak dengan ibunya, karena mau bagaimanapun dirinya sebagai anak harus memberi kabar kepada ibunya mau seperti apapun keadaannya apalagi melihat keadaan ibunya, ia semakin yakin kalau saat ini ibunya sedang mencemaskan dirinya
Di sisi lain Vera juga merasakan hal yang sama dengan putra hingga akhirnya dia memutuskan untuk ikut bersama putra menjenguk bibi siti, dengan di ikuti Maya dan Ari
Di sore hari itu mereka berjalan berempat mengiringi jalan tikus sambil ngobrol biasa dijalan putra bertanya kepada Maya mengenai sesuatu, "Maya Apa kamu tidak pernah di cari oleh ibu atau ayahmu?" tanya Putra sambil memandang maya yang berada antara mereka
"Ibu dan ayahku berada diluar kota untuk sekarang dan aku tinggal di rumah seorang diri, jadi dari pada aku tinggal sendirian lebih baik aku tinggal bersama kalian" balas maya
"Oh,. Begitu ya, tapi menurutku bukannya bahaya kalau seorang wanita tinggal sendirian?
"Kamu itu bodoh atau gimana sih, maya itu punya kemampuan spesial jadi siapa coba yang berani macam-macam" ketus Ari dengan nada kesal
"Lah kenapa dia jadi marah, perasaan tadi aku bilangnya baik-baik deh" Gumam putra dengan wajah kebingungan, sesampainya mereka di rumah sakit kini mereka bertemu dengan ibu putra yang terbaring lemah, dengan wajah cemas putra segera bertanya kepada Suster tentang keadaan ibunya
__ADS_1
Suster tersebut berkata, "Apa kamu keluarganya?"
"Iya, saya anaknya" jawab putra
"Sebelum itu kami pihak rumah sakit ingin meminta maaf kepada keluarganya yang sebesar-besarnya, karena kemarin kami juga tidak tau kenapa dengan tiba-tiba kondisinya langsung kritis, dokter beranggapan kalau dia saat itu sedang drop" jelas suster dengan wajah perihatin
Setelah mendengar itu seketika wajah dan kaki putra menjadi lemas tak berdaya, dirinya merasa kalau selama ini ibunya terus menunggu kepulangannya sampai-sampai ia menjadi stres dengan kekhawatirannya
"Tidak, tidak perasaan terkahir kali aku bertemu dengannya aku lihat dia baik-baik saja, tapi kenapa sekarang malah kalian anggap kritis?!" Putra yang
tidak percaya dengan keadaan ibunya masih terus menyangkal dengan kata-kata panik
"Sebenarnya ibu Siti, memiliki kondisi tubuh yang sangat lemah dari awal kalian bertemu dengannya dan itu bisa saja membuatnya kritis kapan saja jika dia memiliki beban pikiran yang berlebihan"
Setelah berkata seperti itu kemudian suster tersebut pergi meninggalkan putra dan yang lainnya karena dia masih memiliki tugas lain di rumah sakit, kerena mengetahui keadaan ibunya kini putra tersungkur tak berdaya sambil meneteskan air mata dari matanya dirinya menangis sejadi-jadinya
Karena semua yang terjadi adalah salahnya, coba saja dirinya bisa menemui ibunya lebih cepat pasti dirinya yakin kalau nasibnya tidak seperti sekarang tidak hanya putra tapi yang lainya juga merasa sedih ketika mendengar keadaan bibi siti, tidak lama bersedih akhirnya Vera mulai menenangkan putra yang saat itu masih sangat sedih
Vera mencoba untuk menenangkan putra dengan segala upaya namun sayangnya semua tanggapan tidak direspon, hingga Ari mencoba memberi saran agar membiarkan Putra diberikan waktu sendiri supaya perasaannya bisa membaik, dan Vera mengiyakannya dan mencoba meniggalkan Putra sendiri
Karena takut mengganggu Putra kini Vera dan yang lainnya mencoba untuk pergi keluar rumah sakit sekalian untuk mencari makan malam mereka, karena sangat tidak mungkin jika mereka pulang di saat ini, diluar rumah sakit Vera masih terus terpikirkan tentang Putra hingga sepanjang perjalanan ia cuman melamun
Sampai-sampai Ari yang melihatnya segera berkata "Apa kamu masih kepikiran tentang Putra? Tanya Ari kepada Vera yang saat itu berekspresi sedih
Iya, karena aku tidak menyangka kalau semuanya bisa menjadi seperti ini dan setelah kejadian ini aku malah merasa bersalah kepada Putra!!"
Setelah mendengar perkataan Vera kini Ari hanya bisa terdiam, Hingga waktu ke waktu telah terlewati sedangkan Putra dan yang lainya masih menunggu di ruang tunggu untuk menunggu keadaan ibunya yang saat ini sedang di periksa dokter, Vera yang ada di samping Putra segera berkata
"Putra, aku dan yang lainnya sudah membawakan mu makanan jadi tolong dimakan dulu, supaya kamu punya tenaga" ujar Vera sambil memberikan sebuah makanan matang yang di beli Vera dari rumah makan
Dengan perasaan berat putra memakannya, saat itu pikiran putra sudah kosong tanpa ada hal-hal yang dipikirkan dan terlihat juga tatapan kosong dari matanya, sampai Vera berkata kepada putra "Maafkan aku, karena aku kamu jadi harus melihat keadaan ibumu yang sekarang" ucap Vera
"Tidak ini semua bukan salahmu tapi karena kelalaian ku, coba saja waktu itu aku tidak melakukan hal kontrak dengan roh lain, mungkin sekarang ibuku tidak akan kembali KoMa" balas putra tanpa ekspresi di wajah
Semua itu di lalui hingga salah satu dokter keluar dari ruangan dengan di ikuti suster, dokter tersebut adalah dokter yang memeriksa ibu putra, dengan wajah cemas putra segera berkata, "Dokter, bagaimana dengan keadaan ibu saya?!!" tanya putra dengan nada panik
"Apa adik keluarganya?" tanya dokter tersebut yang tidak tau siapa Putra
"Iya saya Anaknya!!"
"Kalau begitu saya akan langsung terus terang saja, sebenarnya ibu adik terkena penyakit keras dan membutuhkan perawatan spesial dari rumah sakit, tapi karena dia tidak bisa merawat kondisinya dengan baik, maka dengan tidak sengaja dia sudah membuat dirinya bahaya" balas dokter tersebut dengan jelas
Putra masih tidak bisa percaya dengan kenyataan, karena itu merupakan kenyataan yang sangat pait untuknya, hingga untuk kedua kalinya ia menangis dengan telapak tangan di atas kedua matanya dan tergeletak tak berdaya di lantai, Vera dan yang lainnya hanya bisa melihat dan tidak bisa berkata apapun
Dokter tersebut juga merasa bersimpati dan segera berkata kepada Putra, "Kalau gitu saya pamit dulu, dan untuk sekarang adik boleh menjenguk ibu adik, dengan syarat adik jangan buat keributan" ucap dokter tersebut yang pergi meninggalkan Putra dan lainnya
Putra dengan perasaan tercampur aduk ia segera bergegas ke ruangan di mana ibunya berada, dan pertama kali yang ia lihat hanya seorang wanita dengan posisi terbaring tak sadarkan diri di sebuah ranjang, dengan menangis ia segera memelukmu ibunya dengan berkata, "Ibu, maafkan anakmu ini dan aku sangat rindu dengan ibu!!" sambil mencoba untuk memeluk ibunya tanpa menggunakan tenaga
Saat itu hari sudah sangat malam dan keadaan sekitarnya juga sangat sepi, namun dari kejauhan yang tepatnya di atas gedung bangunan terlihat seorang pria berjubah sambil memegang sebuah jarum suntik di tangannya, dia berkata, "Hah, padahal aku ingin memberinya suntikan kedua" Gumam pria tersebut dengan senyum jahat
Hingga tak lama datang rekannya dari dalam gedung dia berjalan mendekati temannya sambil berkata, "Kamu jahat sekali, Apa kamu tidak lihat anaknya itu, dia sudah menangis seperti seorang bayi kecil"
"Aku tidak perduli, yang jelas aku harus membalas dendam ku kepada Firdaus, walaupun aku tidak tau dimana dia tapi aku janji akan mencarinya terus sampai ketemu walaupun dia berada di ujung dunia sekalipun" jawabnya
"Apa kamu masih sangat membencinya? Padahal itu sudah terjadi sangat lama"
"Hah, kamu kira setelah dia membunuh ayahku dan melukai mata kananku hingga buta ini, bisa di hilangkan dengan waktu, kamu ingat sampai kapanpun aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun!!!" marah pria jubah tersebut dengan mengeluarkan aura pembunuh
"Haha,. Okelah, aku janji tidak akan menanyakan hal yang bisa membuatmu marah lagi"
Dimalam yang gelap dengan mendadak suasana menjadi mencengkram karena kedatangan musuh baru untuk putra, atau bisa dibilang musuh lama ayahnya, oleh karena itu tanpa di sadari kini musuhnya bertambah banyak dan hal ini juga putra harus melaluinya karena ini semua baru permulaan dari kehancuran yang sebenarnya.
***
★𝘽𝙤𝙣𝙪𝙨★
__ADS_1
~Identitas Karakter Novel~
Nama : Putra Pandawa
Umur : 17 tahun
Hobi : olahraga
Keahlian : tinju
Nama : Arif Pratama
Umur : 17 tahun
Hobi : membaca
Keahlian : memanah
Nama : Vera Oktavia
Umur : 17 tahun
Hobi : menyanyi + merawat hewan
Keahlian : ahli di bidang biologi dan memasak
Nama : Mayalina Tasya
Umur : 16 tahun
Hobi : menanam tumbuhan/bunga
Keahlian : melukis
Nama : ???
Umur : ???
Hobi : ???
Keahlian : ???
__ADS_1