Fire And Water

Fire And Water
Cp 101# Tragedi


__ADS_3

Terlihat di sebuah pelabuhan tempat camp militer melakukan agresi yang tujuannya untuk melindungi jalur laut jika kalau didapati serangan laut dari musuh hanya saja setelah kepergian Putra dan teman-teman justru malah menjadi malah petaka bagi mereka karena tempat tersebut telah menjadi lautan api dengan bara api yang membakar setiap perumahan


Dengan pesisir pantai yang telah terlapisi oleh darah hingga ke air laut dan bungker rata bersama tanah membuat suasana pada waktu itu begitu mengerikan tetapi yang lebih mengerikannya lagi ketika terlihat seorang pria berjubah mencekik leher salah satu perwira yang antara lain adalah jenderal rino sendiri dengan sekeliling terkumpul mayat


Hasil buruan Zhang Xuan, yang waktu itu dilakukan dalam waktu 10 menit setelah ia sampai di lokasi karena tidak merasa aura Putra dan teman-teman terpaksa Zhang Xuan membunuh semua orang di pelabuhan untuk melampiaskan kekesalannya akibat orang yang dikejar tak kunjung ia dapati


"Katakan dimana dia?" tanya Zhang Xuan dengan aura intimidasi yang amat mengerikan sehingga siapapun orang yang merasakan pasti langsung bergidik ngeri, termasuk jenderal Rino itu sendiri


"Mau sampai berapa kali aku harus bilang, kalau aku tidak tahu!!" jawabnya dengan ngotot sambil meronta akibat kesakitan karena dicekik oleh Zhang Xuan dengan satu tangan


"Jadi kamu mau mati" seru Zhang dengan senyuman sadis. "Hehe.. Memangnya kalau aku menjawab pertanyaan mu maka kamu akan dibebaskan ku hidup-hidup?!" Jawab Rino dengan tubuh semakin lemas karena cengkramannya masih begitu kuat sehingga susah untuk bernafas


"Dasar tidak idak tahu diri" ketus Zhang Xuan dengan memperkuat cengkramannya. "Akh.. Sepertinya tidak" balas jenderal Rino yang sudah tidak memiliki tenaga untuk bertahan sehingga detik itu akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan leher tercekik


"Benar, mau dijawab atau tidak pun hasilnya akan tetap sama" gumamnya dengan perengai buruk yang disertai senyuman sinis


Sehingga setelah kejadian itu datang salah satu pengawalnya yang langsung bertekuk lutut dihadapan sang tuan sambil menurunkan nada bicaranya. "Tuan, sepertinya saya tahu dimana keberadaan mereka"


"Hah!! Dimana?" tanyanya dengan sinis. "Jika menurut prediksi memang benar, sekarang mereka sedang mengincar salah satu gerbang"


"Sialan, mari bergerak" seru Zhang dengan mengibas jubahnya dan berpaling dari hadapan semua untuk menciptakan portal menuju salah satu gerbang miliknya dengan cara menyodorkan salah satu tengan ke depan dan terbentuklah portal sejenis pusaran angin setelah itu mereka masuk kedalam menuju tempat berikutnya


Tentu saja berita akan hancurnya pelabuan tersebut membuat berita besar bagi kedutaan negara, bagaimana tidak jika pelabuhan hancur tanpa adanya jejak serangan musuh, tidak hanya petinggi bangsa tetapi seluruh rakyat sipil menyaksikan tragedi berdarah tersebut lewat sorotan media TV yang disiarkan secara live


Banyak sekali komentar negatif dari para netizen bangsa ataupun petinggi, karena hal ini bukanlah perkara kecil, walaupun dilokasi tidak menunjukkan serangan musuh tetapi terdepat kehancuran bangunan yang seperti terkena ledakan dalam skala besar


Disebuah ruangan rapat dengan diisi oleh seluruh petinggi negara Jupiter yaitu didalam istana kebangsaan banyak sekali orang yang berdatangan mulai dari menteri Pertahanan sampai menteri perdagangan mereka datang untuk membahas perihal perang dingin yang terjadi saat ini


"Untuk memulai rapat kita, sebaiknya kita berdo'a kepada Tuhan supaya negeri tercinta kita bisa mendapat perlindungannya" seru seorang Menteri Keagamaan


"Ck... Apakah Tuhan perduli dengan kita? Lagian sudah banyak serdadu kita yang mati tapi apa, dia tidak datang untuk menolong mereka yang ada malah membiarkan mereka mati semua!!" sahut menteri Pertahanan


"Sudah cukup, ini bukan waktunya untuk kita berdebat dan lagi kamu jika tidak se'frekuensi dengan kami setidaknya hargai kami, karena itu adalah hukum yang tertera di negeri ini"


"Baik-baik" setelah begitu dengan cepat mereka mulai melaksanakan do'a sesuai dengan kepercayaan masing-masing sebagai unjuk rasa toleransi terhadap sesama dan bagi yang autisme tidak di haruskan untuk mengikuti kelompok kapitalisme karena itu merupakan hukum bangsa dimana semua pilihan ada ditangan mereka sendiri


Sesuai melaksanakan do'a mereka langsung memulai melaksanakan bagian inti dari kenapa mereka dipertemukan dalam satu tempat. "Jadi, apakah kalian sudah tahu tentang kasus pelabuhan kita, dengan serdadu yang ditugaskan untuk menjadi garis depan dari pertahanan pelabuhan?" tanya sang pemimpin bangsa dengan wibawanya yang begitu perkasa dan kharisma


"Saya sudah menerima kabarnya, dan itu merupakan kabar yang memilukan bagi kita semua" balasan dari menteri militer sambil diiringi oleh yang lain dengan cara menundukkan kepala sebagai ke heningan atas tragedi tak masuk akal tersebut


"Aku ingin tahu, apa kita bisa bertahan dengan jumlah militer sekarang, terlebih musuh sudah masuk ke dalam perbatasan"


"Kalau hal tersebut saya pun juga sudah tahu, bahkan untuk saat ini saya belum bisa mengirim pasukan, karena tujuan saya mengumpulkan kembali militer ke pangkalan untuk mendata ulang pasukan supaya saya bisa memperkirakan kekuatan dan kestabilan tentara" penjelasan dari pihak berwenang dengan tutur kata sopan


"Aku tahu akan hal itu, akan tetapi aku tidak ingin negeri ini mengalami keterpurukan untuk kedua kalinya, dan harapan saya adalah perang dingin ini cepat berakhir"


"Kami semua juga mengharapkan hal yang sama seperti anda"


"Lalu untuk menteri hubungan, bagaimana dengan kontak kita kepada sekutu? Lanjut pemimpin bangsa bertanya kepada salah satu anggota rapat


"Untuk sekarang, saya sedang berusaha untuk mengkontak mereka hanya saja selalu saja ada ganguan, dan lagi pihak militer telah mengirimkan pasukan intel untuk menyelidiki penyebab dari ganguan tersebut, alhasil negara Mars sedang dalam kehancuran" jawabnya dengan murung

__ADS_1


"Hmm... Benar-benar susah untuk diperkirakan oleh kita semua" gumam pemimpin bangsa dengan menghendus berat. "Kami bisa merasakan kegelisahan anda, tapi untuk sekarang kita harus bersabar karena sudah banyak hal gegabah berujung kegagalan"


Yang lain hanya bisa menundukkan kepala dan berharap kepada takdir walaupun tidak ada kepastian untuk mereka. Dilain tempat Putra baru sampai dilokasi yang mereka tuju yaitu salah satu gerbang milik Zhang Xuan debat perasaan aneh Putra merasakan aura sangat intimidasi dari balik benda tebal tersebut


"Kekuatan apa ini?" bingung Putra dengan tertohok melihat salah satu gerbang yang ada di muka bumi. "Aku juga tidak tahu, tapi memang ini merupakan salah satu dari kekuatan musuh kita!" balas Krise


"Apa bisa dihancurkan?" tanya Miya. "Jika menurut teori ku sih bisa" jawab Samuel dengan termenung menatap tajam ke arah gerbang yang berdiri tegak tanpa ada palang yang tertancap disisinya


"Kalau begitu, mari kita coba untuk menghancurkan benda ini" sahut sonia dengan antusias


"Tunggu dulu" gertak Andrian hingga menghentikan langkah temannya sampai mereka menaruh tatapan penuh tanya kepadanya. "Kita masih belum tahu, sebesar apa isi dari kekuatan didalam ini, dan lagi bukannya kalian sudah lihat kalau intimidasi dari benda itu saja sudah sangat menekan kita, aku takut jika kita hancurkan justru yang terjadi malah akan ledakan" sambungan dari Rian untuk memperjelas maksudnya, dengan raut wajah tegang


"Kamu benar" sahut Putra ketikan mereka sedang melamun tanpa sadar muncul sebuah portal dengan bentuk seperti pusaran angin kecil, dimana keluar 5 orang berjubah dengan tudung hitam sehingga mereka tampak terlihat serba hitam dari ujung kepala sampai kaki


"Siapa mereka?" batin seluruh orang secara serentak sambil menanyakan kedatangan orang asing tersebut kecuali Krise, karena ekspresi pertamanya bukanlah terkejut melainkan ketakutan akibat orang yang selalu mereka hindari telah datang di hadapannya


"Matilah" gumam Krise hingga terdengar seluruh orang sampai dengan waktu bersama mereka saling bertatapan memandang Krise yang terbujur kaku. "Jangan-jangan-_.." batin semuel yang secara paksa menolak kenyataan didepan matanya


"Huh... Dasar, kalian seperti tikus saja yang hobinya berlari" gerutu pria berjubah hitam sambil melepas tudungnya sehingga memperlihatkan wajah Nicolaus dengan perangai senyum yang terkesan sadis


"Haha... Benar-benar diluar dugaan" batin Putra yang akhirnya sadar dengan siapa dia berhadapan


"Selamat siang" sapaan dari manusia berjubah itu dengan senyum tipis. "Kenapa rasanya aku ingin mati, padahal belum juga bertarung" gumam Samuel


"Bolehkan saya bertanya?" ucap dari Zhang Xuan yang tersenyum, akan tetapi tidak mendapat balasan dari Putra dan teman-temannya karena mereka sudah terlanjur terkelut dalam ketakutan sehingga mati seribu kata tanpa suara


"Kenapa diam?" ucapnya dengan mengeluarkan sebuah aura mematikan sehingga seluruh orang merasakan sesak nafas. "Kekuatan ini, Kenapa aku seperti melihat seorang pembunuh berdarah dingin?" batin Putra dengan wajah penuh keringat dingin sehingga sekilas dirinya melihat kehidupan dari orang dihadapannya semua itu bukan dari penglihatan matanya melainkan ingatan Tang San yang terhubung


Dimana Putra melihat seseorang pria berjubah hitam dengan sebuah pedang berjenis katana berdiri diantara tumpukan mayat dengan darah segar mengalir ke permukaan tanah, disaat itu pria terlihat bermata merah dan berambut putih dengan pedang terlumuri oleh darah dari korbannya


Putra bisa merasakan betapa mengerikannya orang tersebut, karena dia menghancurkan satu kerajaan seorang diri, walaupun kuat dia terlihat seperti orang yang tersakiti bahkan rambutnya bisa terlihat dengan jelas telah berganti ke warna putih. "Monster!!!" batin Putra yang tersadar dari lamunannya dan tersungkur ke tanah dengan derai air mata mengalir dari satu sisi


Sontak seluruh orang melihat Putra dengan intens karena baru pertama kalinya mereka melihat ekspresi Putra yang sudah putus asa sebelum bertarung, walaupun dia suka kalah tetapi ia paling pantang dengan yang namanya 'Menyerah' hanya saja sensasi kali ini sangat berbeda jauh dari sebelumnya


Karena merasa dibutuhkan Sonia mencoba membaca apa yang dipikirkan oleh Putra walau sedikit tidak sopan tetapi agar dirinya tahu ada apa dengan reaksi temannya, akan tetapi setelah melihat ia langsung muntah di tempat, tentu disaksikan oleh semua orang karena merasa aneh dengan reaksi Sonia yang ikut berubah


"Sonia! Ada apa?" tanya Andrian dengan khawatir tingkat hard. "Dia, monster yang bisa menghancurkan satu bangsa" sebut Sonia sebelum terkulai lemas merasakan aura semakin menekan batin


"Sial" umpat Rian dengan melirik kearah musuhnya berada sambil memegangi tubuh Sonia agar tidak terjatuh ketanah, disela kecemasan mereka dengan lantang Krise berkata kepada orang dihadapannya


"Tentu saja, silahkan!!" ucapnya kepada Zhang Xuan sehingga lawan tersenyum tipis dan memperlihatkan tampangnya yang terlihat sangat mengintimidasi Krise dan rekan-rekan sampai membuat mereka tidak tahu harus berbuat apa


"Untuk apa kalian datang kemari?" pertanyaan yang dilontarkan kepada krise sehingga jantungnya berdetak dengan sangat cepat, karena tujuannya adalah untuk menghancurkan gerbang milik musuh, dan ia takut jika sang lawan tahu bisa-bisa dirinya akan dijadikan manusia goreng


Sampai-sampai dalam waktu singkat Krise kehilangan respect untuk membalas pertanyaan dari Zhang Xuan, hingga sang lawan bicara, hanya mengernyitkan alis sambil menatap krise dengan intens


"Semua ini karena mu, jadi aku harap kamu bisa menyelesaikannya" bisik Samuel karena merasa kalau krise sama saja dengan joko


"Haha... Jangan pasang mental korban deh, kalaupun aku tidak berkerjasama dengan mereka mungkin kalian sudah mati lebih awal dari perkiraan"


"Maksudmu?" bingung Samuel dengan mengerutkan keningnya

__ADS_1


"Dulu tuan Nicolaus, sama sekali tidak bisa terkendali, jika bukan karena aku mungkin kalian sudah tewas untuk dijadikan lampiasan rasa benciannya"


"Sejak kapan?"


"Sejak kalian masih menjadi tawanannya"


"Berarti sudah lama sekali, Nicolaus menahan semua itu hingga ia harus melepaskan seluruh tenaganya agar kesadarannya terus normal supaya tubuhnya tidak terambil alih oleh makhluk lain?" ujar Samuel dengan tanda tanya


"Benar dan caranya hanya terus membujuknya agar tidak kalah dari kekuatan musuh dengan membantu dari setiap sisi, hingga tanpa sadar aku justru malah mengotori tanganku sendiri"


"Aku tidak ingin mendengar curhat mu, bodoh!!" ketus Samuel dengan dingin karena mau bagaimana dia adalah korban dari skenario Krise mungkin tidak hanya dia seorang melainkan sahabat-sahabatnya


"Apakah kalian sedang berdiskusi?" tanya Zhang Xuan dengan kesal namun disembunyikan dibalik senyuman yang terkesan sadis


"Bagaimana jika rencana kami adalah untuk menghancurkan gerbang itu!!" tunjuk Krise tanpa rasa takut sedikit pun yang terukir diwajahnya walau didalam hatinya sudah amat pasrah dengan takdir


"Sepertinya kalian harus diberi pelajaran supaya tidak lagi lancang kepada leluhur mu!!"


"Haha.. Sepertinya kita benar-benar dalam bahaya" sahut Samuel dengan tawa kecilnya. "Yah... Kamu benar" jawab krise


"Putra" panggil krise dengan nada rintih, walaupun pelan tapi putra bisa mendengarnya dengan jelas sehingga ia menoleh ke arah kakaknya. "Kamu bisa lari sekarang!!" sambung sang kakak dengan senyum akan tetapi tidak mendapat respon dari adiknya


"Jika Kamu tidak ingin pergi setidaknya bertarung lah untuk dirimu sendiri" ucapan tersebut langsung menyadarkan Putra sehingga secara perlahan dia mulai bangkit dari keterpurukannya, walau kemenangan hanya 0% tetapi dia yakin, bersama-sama bisa membalikkan keadaan secara ringan


Begitulah ideologis yang dicamkan oleh putra hingga detik ini. "Itu baru, Putra yang aku kenal" seru Krise dengan menyuguhkan senyum kecil. "Baik.. Mari kita mulai!!" gumam Putra dengan serius


***


Di hutan belantara terlihat sepasang remaja yang terlihat sedang kebingungan. "Kita harus kemana sekarang?" tanya seorang pria dengan duduk di bawah pohon besar dan hembuskan nafas berat. "Aku juga tidak tahu, tapi jika menurut naluri ku sih, kita harus ke barat" seru gadis yang berdiri sambil celingak-celinguk kesana-kemari


"Hah!!,.. Jadi kita hanya berjalan tanpa tujuan gitu?" gerutu pria itu


"Hehe.. Maaf, lagian aku juga manusia biasa" seru gadis itu yang terkekeh. "Kamu, Manusia?" bingung pria itu dengan ekspresi datar


"Cih.." cibir wanita itu dengan sinis. "Sudahlah tidak ada waktu untuk berdebat" setelah menyudahi perdebatan akhirnya pria itu berdiri. "Tunggu!!!" seru wanita itu dengan lantang sehingga gerakan tubuh sang pria ikut terjeda


"Ada apa?" bingung pria tersebut. "Aku merasakan kekuatan yang berasal dari selatan" ucapnya dengan tampang serius


"Maksudmu?"


"Kekuatan ini, tidak salah lagi, kita harus kesana" gumamnya tanpa menggubris pertanyaan temannya bahkan lebih parah lagi, wanita itu pergi tanpa berkata apapun


"Tunggu" teriak pria tersebut yang mencoba untuk menghentikan langkah sih gadis namun tidak berhasil. "Dasar kamu, Angel" gumam pria yang tak lain bernama Josua teman gadis itu sehingga ikut berlari menyusul gadis yang bersamanya.


********


Hallo teman-teman saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah mau membaca karya kecil saya, walau tidak sebagus seperti yang lain, setidaknya bisa menghibur kalian itu sudah menjadi kesenangan untuk saya sendiri, jadi kemungkinan karya ini akan tamat pada waktu dekat dan jika alurnya tidak seperti yang kalian inginkan, setidaknya itulah yang author mau dimana semua bisa kembali seperti semula


Jadi mohon untuk apapun hasilnya kalian bisa maklumin author, karena saya juga manusia biasa.


Walau berat tapi kita harus terbiasa dimana khayalan yang kita buat harus kita tutup dengan end yang bagus supaya karya bisa sempurna dimata sang penulis

__ADS_1


Ya.. Begitulah curhat author jadi untuk kedepannya, apapun hasilnya tolong untuk menerimanya..


Good bye...


__ADS_2