
Namun panggilannya tidak tersambung, karena khawatir terpaksa dirinya pergi menuju lokasi Grup π½, karena takut terjadi sesuatu andrian tidak mengajak sonia maupun Lia, agar mereka bisa aman di sini "semoga kalian tidak apa-apa" batin andrian yang saat itu mengunakan kecepatan penuh untuk menunju lokasi ayah ari
Tapi saat andrian sampai dirinya sangat amat terkejut dengan pemandangan yang mengerikan, karena sudah seperti lautan darah, karena orang-orang yang berada di sana, tidak ada yang selamat, "apa yang terjadi" Gumam andrian yang masih tidak percaya dengan pemandangan yang dia lihat
Saat itu adam, Rio, dina, bahkan paman komat ikut terbunuh walaupun sedikit aneh tapi dirinya bisa memungkinkan kalau yang menyerang tempat ini bukan orang lemah, dirinya hanya berharap kalau dari mereka semua masih bisa di selamatkan, hingga ambulans datang karena andrian di TKP jadi dirinya di interogasi oleh polisi
Disisi lain, ari yang baru sampai di rumah sakit segera menuju ruangan putra untuk memastikan keadaannya, Vera pun menjelaskan apa yang terjadi Walaupun ari terkejut dengan cerita vera, ternyata yang mengalahkan orang-orang itu adalah putra
"Bagaimana bisa putra mengalahkan mereka semua? Tanya ari
Aku tidak tau apa, tapi yang jelas di detik terakhir dirinya mengeluarkan kemampuannya dan kemampuannya itu adalah elemen api" vera yang menjelaskan detailnya kepada ari
Ari hanya bisa tersenyum, karena kemampuan yang di tunggu-tunggu oleh putra kini sudah ia dapati, hingga telpon genggamnya berbunyi, ari yang mendapat telpon dari andrian segera menanyakan keadaan yang lain
"Kak Ian bagaimana keadaan yang di sana?"
Andrian hanya bilang kalau grup B, yang ditugaskan menjaga ayahnya kini telah terbunuh semua, ari yang mendengar kata-kata itu seketika langsung jatuh tak berdaya, dirinya tak percaya kalau ayahnya harus meninggalkannya juga
"Bohong, aku yakin kamu pasti cuman bercanda lagian kan kamu, sudah mengirim 3 orang aturan mereka aman-aman saja" sambung ari yang mulai panik
"Memang aku sudah mengirim 3 orang tapi, mereka semua telah terbunuh jadi otomatis ayahmu ikut terbunuh karena yang di target bos mereka adalah ayahmu" jawab Ian yang menjelaskan kejadiannya
Seketika air mata ari kini terjatuh lagi untuk yang ke tiga kalinya karena kehilangan yang amat iya sayangi, awalnya dirinya bisa tegak disini semua berkat ayahnya namun kini ayahnya harus pergi karena salahnya yang terlalu lemah
Vera, Zeref, dan maya bingung tiba-tiba melihat ari bertekuk lutut sambil menangis setelah melihat dirinya ber-telponan, "ada apa ari? Tanya Vera
"Grup B yang saat itu menjaga ayahku, kini telah dikabarkan terbunuh tak tersisa"
Vera yang mendengarnya, ikut terkejut dengan apa yang ia dengar, karena itu menandakan kalau paman komat saat itu ikut terbunuh juga, seketika suasana menjadi hening, ari yang masih tidak percaya segera pergi melihat sendiri untuk memastikan kalau yang dikatakan andrian itu benar atau hanya candaan
Namun saat itu juga putra tersadar dari komanya yang langsung melihat sekelilingnya, dan melihat Vera menangis bersama anggota OSIS yang lainnya membuatnya penasaran apa yang sedang terjadi ketika dirinya pingsan
"Vera, ada apa ini kenapa kalian menangis? Tanya putra yang mulai mengambil posisi duduk
Putra, syukurlah kamu tidak apa-apa, aku sangat menghawatirkan kamu tau!!" ucap Vera yang langsung memeluk putra
Haha.. Maafkan aku kalau aku membuat kalian semua khawatir, tapi sebelumnya kalian kenapa menangis? Balas putra
Awalnya Vera ragu untuk bercerita tapi memang putra harus mengetahuinya, akhirnya Vera bercerita kalau grup yang bertugas menjaga paman komat kini telah diratakan dan tidak ada seorangpun yang selamat, putra yang mendengar itu langsung melompat dari ranjangnya dan segera menyuruh Vera mengantarkannya ke tempat paman komat berada
Namun Vera hanya membalasnya kalau paman komat ikut terbunuh karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya, karena lawan yang menyerang mereka kemungkinan adalah pemimpin mawar hitam
Putra yang mendengar itu seketika badannya kini melemas tak berdaya, Lagi-lagi dirinya harus kehilangan yang penting untuknya, tapi yang seharusnya terpukul itu ari karena hanya paman komat merupakan satu-satunya keluarga yang perduli padanya
"Antar aku ke sana" ucap putra dengan air mata yang menetes
"Tapikan kondisi tubuhmu kurang fit, kalau bisa kita tunda dulu sampai tubuhmu benar-benar membaik" tegur Vera yang mulai merangkul tubuh putra
"Kumohon" ucap putra yang merasa bersalah
Namun Vera tidak memperdulikan dengan tatapan putra, karena jika dipaksakan tubuh putra akan semakin menderita, dan malah memperlambat pemulihannya jadi Vera terpaksa memukul tulang leher putra agar pingsan untuk sementara waktu
Disisi lain, ari yang melihat andrian baru keluar dari kantor polisi segera menyusulnya dan langsung bertanya "kak ian, apa maksudmu saat di telpon, kamu pasti sedang bercanda kan" tanya ari yang menarik baju andrian
Andrian pun menjelaskan sedetail nya, kepada ari dari awal hingga akhir, sampai membuat ari kini semakin terkejut dengan kabar tentang ayah angkatnya
"Apa!!.. enggak mungkin, ayahku kuat, dia gak mungkin bisa dikalahkan dengan semudah itu" ucap ari yang menyangkal perkataan andrian
Tidak ada gunanya aku berbohong, tidak hanya ayahmu saja yang jadi korban tapi anggota ku juga ikut tewas, jadi sudah tidak ada gunanya kita membahas ini sekarang yang harusnya kita lakukan adalah menguburkan mereka"
"πΌπΌπΌ...."
Ari yang saat itu menjerit sekaligus meneteskan air matanya, karena sudah kuat untuk menahannya
Andrian yang saat itu tidak bisa menenangkan ari karena sudah sewajarnya seorang anak menangisi ayahnya yang telah meninggal Namun tak lama datang seorang gadis yang keluar dari mobil dan segera berlari menuju andrian dan ari
"Kak ian, apa yang terjadi?!" tanya maya yang baru sampai
Andrian pun menjelaskan semuanya, bahkan maya kini mendadak langsung bersimpati dengan ari, dan mencoba menenangkannya, karena perasaan ari yang saat itu sedang sedih dengan reflek langsung memeluk maya dengan erat, maya yang dipeluk ari pun seketika merona, namun karena situasinya, membuat maya tak menolak pelukan ari
***
Di pemakaman ari hanya terus bersedih sekaligus menyesal akibat dirinya yang tak bisa menolong ayahnya, maya hanya bisa terus berada di samping ari walaupun dirinya juga sedih akibat kehilangan teman-temannya
Tak lama datang putra, Vera dan zeref ketempat peristirahatan terakhir paman komat, putra yang mendapatkan lokasi pemakaman dari andrian segera datang ke lokasi setelah sadar dari pingsannya, Walaupun ibunya tidak bisa datang karena keadaannya yang membuatnya tak bisa keluar dari rumah sakit
Putra yang saat itu sangat amat terpukul dengan kematian paman dan teman-teman seperjuangan
__ADS_1
Seketika mengeluarkan api dari tubuhnya yang membuat sekelilingnya merasakan panas, bahkan Vera yang saat itu juga ikut merasakannya, hingga membuat orang-orang di sana terkejut dengan panasnya aura putra
"Panas,.. Putra tolong tenangkan dirimu, jika kamu marah disini akan terjadi kebakaran nantinya" ujar Vera yang mulai menenangkan putra
"Mereka harus mati!!, mereka harus mati!!!" Gumam putra yang terus bergumam berulang-ulang kali
"Putra.. Tidak cuman kamu yang marah, tapi aku juga, jadi mari kita bersatu untuk mengalahkan mereka" teriak ari yang mencoba menyadarkan putra
Putra yang melihat ari berdiri dengan air mata mengalir di pipinya, mulai mengingatkan kembali ke masa lalunya yang mana dirinya melihat sesosok pria tak dikenal namun muncul di mimpinya, putra pikir itu hanya mimpi biasa namun setelah melihat ari, dirinya merasa kalau sosok yang pernah ada di mimpinya itu memiliki arti tersendiri
Namun disaat itu juga putra mulai kembali tenang, karena amarah tidak akan membawanya keberhasilan Jadi untuk sekarang dirinya hanya fokus ke pemakaman paman dan teman-temannya
Setelah pemakaman usai, ari hanya terus diam di sepanjang perjalanan, walaupun putra dan maya sering mengajaknya berbicara, namun ari tidak meresponnya mungkin karena dirinya masih sedih dengan kematian ayah angkatnya,
"Ari, kamu pasti tidak punya tempat tinggalkan, kalau kamu tidak punya kamu bisa kok tinggal dengan aku dan Vera di rumah kami" ajak putra yang tau kalau tempat ari tinggal saat ini sudah jadi area polisi
Baiklah, tapi aku akan pulang dulu untuk mengambil Barang-barang ku yang tertinggal di rumah" jawab ari tanpa ekspresi
Kalau begitu aku akan menemanimu ari, aku sedikit khawatir kalau kamu pergi sendirian" sambung maya yang memotong pembicaraan putra dan ari
Baiklah, tolong jaga dia maya" ucap putra
"Baik, kak Putra"
Diperjalanan ari hanya terus berdiam diri tanpa berkata apapun, bahkan maya yang di sana merasa sunyi, apa lagi ketika melihat wajah ari tanpa ekspresi membuat maya semakin merasa risih
"Maya, kenapa kamu mau menemaniku? Tanya ari
Ah.. Sebenarnya tidak ada alasan istimewa hanya merasa tidak baik jika membiarkanmu pulang sendirian"
"Kamu bisa kok langsung pulang, lagian aku bisa mengurus diriku sendiri, atau kamu kasihan dengan aku, aku kasih tau kamu aku tidak butuh kasihan orang lain, karena aku sudah merasa kalau diriku ini benar-benar orang tak berguna" ucap ari
Seketika maya langsung merasa kalau ari salah paham dengannya, walaupun dirinya sedikit bersimpati tapi dirinya tidak pernah menganggap kalau ari itu orang yang tidak berguna
Kamu salah, memang aku sedikit bersimpati denganmu, tapi itu bukan karena kamu itu butuh dikasihani, aku hanya merasa kalau kamu sama seperti aku jadi aku ada disini karena kamu itu butuh seseorang, dan aku tidak menganggap kamu itu orang tidak berguna justru aku mengagumimu" jelas maya
Untuk yang kedua kalinya ari, merasa kalau keberadaan maya membuatnya lebih tenang karena setiap kali melihatnya mengingatkan ari dengan ibunya, tapi disisi lain dirinya tidak boleh lupa dengan tujuannya, yaitu menyelamatkan ibunya
"Terimakasih karena kamu mau menemaniku, tapi sejujurnya aku tidak terlalu memikirkan perasaanku, karena untuk saat ini aku sangat sibuk memikirkan rencana ku kedepannya"
Tidak, menurutku perasaan adalah hal terpenting dalam hidup manusia, asalkan kamu memiliki perasaan yang kuat dan teguh akan pendirian mu, aku yakin ayahmu pasti bangga dengan anaknya" bantah maya
Asal kamu tau, otak dan hati itu bermusuhan walaupun kamu bilang tidak membutuhkan orang lain, tapi sejujurnya kamu membutuhkan teman yang selalu ada di sisimu bukan" sambung maya
"Terimakasih" balas ari yang langsung memeluk maya karena dia tau kalau bukan dengan perkataan maya mungkin dirinya sudah terlarut lagi dalam kesedihan
Maya hanya menerima itu semua karena dirinya tau kalau saat ini ari membutuhkan seseorang yang mengerti tentang hatinya Walaupun dirinya kadang merasa ada yang aneh dengan perasaannya
Saat di rumah, ari hanya mengambil Barang-barang pentingnya saja seperti pakaian, dan seragam sekolah tidak lupa dengan uangnya yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang, namun kerena penasaran dirinya menyempatkan diri untuk melihat kamar ayahnya
Hingga dirinya menemukan sebuah kalung milik ayahnya, dan sebuah kartu bank yang tertulis nama putra, dia merasa kalau kartu tersebut milik putra yang diurus oleh ayahnya akhir-akhir ini, namun berbeda dengan kalung itu, ari merasa itu bukan milik putra, jadi dirinya memakainya sebagai pengingat ayahnya yang telah meninggal
"Kamu sudah mengemas barang yang perlu kamu ambil" tanya maya yang masih menunggu di pintu rumah
Sudah selesai, tapi sebenarnya aku ingin memeriksa bengkel untuk ke terakhir kalinya, tapi seperti tidak mungkin" jawab ari yang merasa keberatan untuk meninggalkan rumahnya
Maya yang melihat ari merasa kalau ari sebenarnya baik-baik saja, namun sebenarnya ari sedang tidak sehat, hatinya sangat sakit karena sudah berkali-kali ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya, namun dirinya tidak mau kalau maya merasa bersalah karena tidak bisa menghiburnya, jadi ari terpaksa harus terlihat seolah baik-baik saja ketika bersamanya
"jadi kamu mau tinggal dimana? Tanya maya
Aku sih kurang tau tapi sepertinya aku akan tinggal ditempat putra untuk sementara waktu, sampai aku memiliki tempat tinggal, lagian ada hal yang mau aku bicarakan dengannya" jawab ari
Oh.. Begitu ya, kalau gitu aku akan pulang dulu tapi setelah itu aku akan langsung ketempat kak putra"
"Terimakasih karena telah mau menemaniku, aku akan menunggumu di tempat putra, jadi jangan sampai ketinggalan makan malam ya" balas ari yang mulai malu-malu
"Baiklah, aku akan menyusul mu secepatnya" ucap maya yang langsung meninggalkan ari
Ditempat putra cuman ada Vera dan dirinya awalnya suasana cukup canggung namun saat ini sudah berbeda putra masih terus kepikiran tentang kejadian yang baru saja dilewati,
"Putra, tidak baik kalau kamu memikirkan sesuatu yang berlebihan, aku akan memasak sesuatu untuk makan malam, jadi jangan memikirkannya terlalu berlebihan" ucap Vera yang pergi ke dapur untuk memasak sesuatu untuk makan malam
Putra sama sekali tak merespon walaupun Vera sudah bilang seperti itu, tapi tetap saja putra merasa kalau semua itu bukan hal yang kebetulan, itu terjadi karena dirinya yang terlalu lemah hingga membebani ari
Rasa kesal akan dirinya sendiri, membuat putra selalu terpikir di kepalanya walaupun itu semua bukan salahnya, Vera yang mengamati putra dari jauh mulai merasakan cemas akan putra yang selalu menyalahkan dirinya sendiri, namun saat ini Vera tidak bisa berbuat apa-apa untuk putra karena mau bagaimanapun ini menyangkut perasaannya
Hingga datang ari yang langsung melemparkan kartu ke arah putra, "putra, itu kartumu di dalamnya ada uang untukmu" ucap ari yang baru datang
__ADS_1
Uang? Dari mana? Tanya putra yang masih bingung dengan datangnya uang itu
Hah.. Itu uang yang di urus ayahku, dan belum sempat memberikannya padamu, jadi aku yang akan memberikannya untukmu" jawab ari
Ternyata paman masih ingat dengan kata-katanya" Gumam putra
Tapi sebelum itu kenapa, tampaknya kamu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya" sambung putra
Aku tidak bahagia, mana ada seorang anak bahagia ketika kematian ayahnya!!"
Maafkan aku, ayahmu mati pasti karena aku yang terlalu lemah hingga Membebanimu, padahal kamu bisa menyelamatkan ayahmu saat itu" ucap putra dengan rasa bersalah
Bodoh, itu bukan salahmu tapi itu salah si brengs*k itu" balas ari yang tatapannya mulai kesal
Eh.. Apa kamu tau orangnya?
Tentu saja tau, memang mereka sempat mengincar ibumu, tapi aku juga tau kalau ayahku juga di incar hanya karena dia mantan anggota merpati putih yang sudah membatalkan rencana mereka saat 16 tahun yang lalu" jawab ari
Lalu kenapa kamu tidak melawannya dulu, padahal kamu bisa membunuhnya dari belakang!!" tanya putra
Dia kuat, aku tidak mungkin bisa mengalahkannya jadi aku hanya bisa meminta bantuan orang-orang kuat di organisasi sekolah, tapi siapa sangka kalau kejadiannya akan seperti ini" jawab ari dengan nada menyesal
Tidak ada gunanya, kita berdebat di sini lebih baik kita memikirkan bagaimana cara, agar bisa mengalahkan mereka karena kalau dibiarkan lebih lama akan bisa berbahaya untuk kita" ujar putra yang menepuk pundak ari
Sudah-sudah, makan malamnya sudah aku siapkan jadi mari kita makan malam dulu supaya kita bisa mendapat tenaga lagi" ajak Vera
"Ide bagus itu mari kita makan dulu ari, aku yakin pasti kamu juga lapar kan?!" tanya putra
Iya aku juga lapar, tapi bisa tidak kita tunggu beberapa menit lagi karena aku sedang menunggu seseorang!!" ucap ari
Seseorang? Bingung putra
Tadi aku mengajak maya untuk bergabung dengan kita, jadi mungkin dia sedang dalam perjalanan!! Jawab ari dengan malu-malu
Haha.. Baiklah kalau gitu mari kita tunggu dia beberapa menit lagi"
Selama menunggu mereka hanya menghabiskan waktunya untuk mengobrol, sampai-sampai putra dan ari mulai melupakan sedihnya Vera yang saat itu melihat mereka berdua baik-baik saja sudah membuatnya cukup senang, sampai maya datang
Ketika maya, sampai dengan segera ari sambutnya dengan baik, walaupun dari nadanya terlihat grogi tapi menurut putra itu sudah termasuk kemajuan untuk temannya
"Mari kita makan bersama yang lain sudah menunggumu dari tadi" ucap ari yang sedikit grogi
Maafkan aku karena terlambat, tapi aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu dan yang lainnya karena sudah mau menunggu aku sampai tiba" balas maya dengan wajah sedikit berseri
Tidak apa-apa, lagian kita hanya menunggu sebentar, jadi makanannya tidak dingin" jawab Vera yang segera menarik tangan maya untuk mengajaknya makan bersama, ari yang melihat Vera dan maya hanya bisa menggelengkan kepala
Waktu demi waktu, telah terlewati hingga tidak terasa waktu sudah malam, "Kak Vera apa kamu sudah lama Tinggal dengan kak putra? Tanya maya kepada Vera karena saat itu mereka sedang mencuci piring kotor bersama
Hmm.. Mungkin baru 10 hari yang lalu, sebenarnya tidak ada alasan istimewa, cuman saja waktu itu aku benar-benar tidak memiliki tempat tinggal" jawab Vera
Oh.. Begitu ya, lalu bagaimana dengan ari, apa kak Vera sudah kenal lama?
Jadi tujuannya bertanya seperti itu hanya ingin mengenal ari, padahal dia bisa saja jujur padaku secara langsung, tidak perlu bertele-tele seperti ini, untuk saja aku bukan orang yang gampang tertawa" batin Vera yang saat itu sudah menahan tawanya
Sebenarnya sih, aku juga tidak mengenalnya terlalu lama tapi yang aku tau tentangnya dia adalah orang yang kuat secara fisik maupun mental dan yang membuatnya keren, cuman sifatnya yang terlalu tenang saat menghadapi masalah" balas Vera yang mulai sedikit tersenyum
Maya yang melihat Vera tersenyum langsung bertanya kepadanya "kenapa kakak, tersenyum?
Sebenarnya kamu itu suka dengan ari kan? Bisik Vera
Maya yang mendengar itu seketika wajahnya langsung memerah karena dirinya memang suka dengan ari, hanya saja ia tidak mengenal ari lebih jauh
"Se-Sebenarnya.. Kakak ini bicara apa sih, aku kan tidak bilang seperti itu" sambung maya dengan wajah sedikit panik, hingga suaranya terdengar sampai putra dan ari yang saat itu sedang bermain catur
Haha.. Kamu ini, tidak usah seperti itu lagian kan kita sama-sama wanita harusnya kita bisa saling mengerti tentang perasaan yang lain" balas Vera yang tertawa melihat kepanikan maya
Maya saat itu hanya bisa menahan malunya karena mau bagaimanapun dirinya tidak biasa mengobrol se'akrab ini dengan orang lain, apa lagi menyangkut perasaan
"Lalu bagaimana dengan kakak, apa kakak menyukai kak putra?" tanya maya dengan nada pelan
Eh.. Sebenarnya sih kami sama-sama suka dan telah menyatakan perasaan kami, tapi putranya menolak aku saat itu juga"
Maya yang mendengar itu langsung menanyakan penyebabnya, dan Vera menjelaskannya hingga mereka selesai mencuci piring,
Ternyata seperti itu ya kak, tapi aku tau kenapa kak putra menolak kakak waktu itu, mungkin salah satunya dia tidak mau membebani kakak karena dirinya yang tidak bisa apa-apa, atau dia ingin membuat ayah kakak mengakuinya sebagai calon menantunya dulu!! Tebak maya yang saat itu hanya mencoba menghibur vera
Kamu ini kalau masalah menebak pasti jagonya, walaupun kita tidak mengenal cukup lama tapi sepertinya kamu adalah orang baik"
__ADS_1
Haha.. Kakak bisa saja, ayo kita menyusul kak putra dan ari mereka pasti sudah menunggu kita" ajak maya
Didalam hati Vera, dirinya merasakan kalau maya bukan orang jahat karena sifatnya yang terlalu polos, tapi di satu sisi dirinya cukup takut jika suatu saat nanti maya bertemu dengan orang jahat, apakah maya akan segan menghajar mereka"