Fire And Water

Fire And Water
Cp 78# Ingin Mencari


__ADS_3

"Benar,.. nyonya besar sudah meninggal disaat nona Maya masih kecil, untuk kronologinya saya kurang tahu karena saya baru beberapa tahun menjadi pelayan keluarga nona Maya, jadi saya kurang tahu kejadian persisnya" balas pelayan tersebut dengan wajah suram walaupun tidak tahu kejadiannya tapi ada yang bilang kalau ibu Maya dibunuh oleh seseorang


"Kenapa kamu bisa tahu Ari, padahal sepanjang di rumah Maya, kita tidak pernah melihat raut wajah aneh dari Maya, bahkan yang kita lihat hanya senyum sumringah saja" sahut Sonia


"Tentu saja semua tidak seperti yang kalian pikirkan walaupun nyonya adalah ibu tiri, tapi dia tidak pernah memperlakukan Nona maya seperti ibu tiri lainnya, justru semenjak kedatangannya nona Maya bisa kembali tersenyum bahkan nyonya besar sudah bisa mengantikan Ibu kandung Nona maya" balas pelayan tersebut dengan nada tinggi


"Baguslah kalau seperti itu" hela nafas Ari yang lega ketika mendengar perkataan pelayan dari keluarga Maya


"Aku tahu perasaan nak Ari kepada nona Maya tapi jika saya boleh kasih saran, lebih baik anda melupakan nona Maya segera" pinta Pelayan tersebut dengan wajah iba, tentu saja hal tersebut membuat seluruh orang yang ada di sana sangat terkejut


"Apa maksud anda?" bingung Ari


"Soalnya Nona Maya sudah bertunangan" jawab pelayan itu sehingga Ari langsung tertegun karena fakta yang ia dapat dari mulut seorang pelayan Okta


"Kamu bercanda?" tanya lagi Ari dengan tatapan serius


"Tidak, nak Ari"


Tampak wajah Ari sangat muram karena fakta yang membuatnya terpukul, tapi disela suasana terdengar Sonia bertanya kepada pelayan tersebut dengan tatapan Intens, "Tapi selama di rumah Maya kami tidak mendapat masalah dari Ibu Maya?"


"Nyonya memiliki pendapat lain dari suaminya, yaitu dia memberikan kebebasan Nona Maya untuk mencari kebahagiaannya sendiri, berbeda dengan tuan besar yang sangat terobsesi dengan kekuasaan sehingga dia rela menjadikan Anak-Nya sebagai kepentingan politik"


"Apa.. Orang tua macam apa itu!!" gerutu Sonia yang kesal dengan ayah Maya


"Semuanya tidak seperti yang anda pikirkan nona Sonia" ujar pelayan tersebut


"Lalu?"


"Sebenarnya tuan besar memiliki banyak musuh akibat statusnya sebagai ceo dari perusahaan ternama di negeri ini karena posisinya yang sangat terdesak membuat dia memutuskan untuk menikahkan anaknya untuk mendapatkan calon menantu yang statusnya sebagai pangeran di negara Jupiter dengan begitu maka tidak hanya nona Maya yang akan mendapatkan perlindungan tapi perusahaan milik tuan besar juga akan dilindungi oleh negara Jupiter" penjelasan secara detail dari pelayan tersebut


Ari dalam diam mulai mengingat apa yang terjadi ketika dia dihadang oleh beberapa orang yang hendak menculik Maya, tepatnya ketika ia berada di gang sempit ketika sedang berjalan menuju sekolah


"Menurutku tetap saja itu demi kepentingan sendiri" ketus Sonia dengan membuang muka secara terang-terangan bahkan andrian yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala


"Sudahlah dari pada kalian terus bertengkar, lebih baik sekarang kita siap-siap karena posisi hampir sampai dengan tujuan" sela Ari dengan tatapan seakan-akan tidak terjadi apa-apa tapi semua orang yang ada di sana bisa tahu kalau Ari sedang berusaha baik-baik saja dihadapan semua orang


"Tuan, sepertinya didepan sedang terjadi pertempuran deh" ketika keseriusan mereka membara tiba-tiba terdengar suara dari pria yang menjadi pilot helikopter


"Pertempuran?" bingung pelayan tersebut yang saat itu sedang duduk di samping pengemudi


"Benar, tuan" setelah berkata demikian dengan segera pelayan itu mengambil teleskop yang ada disampingnya dan menggunakannya kearah dimana sedang terlihat sekilas cahaya layak amunisi yang sedang melaju cepat tapi jumlahnya sangat banyak dan itu terulang-ulang tiada henti


"Bagaimana?" tanya Ari dengan wajah datar karena dari kejauhan mereka saat itu tidak terlihat apapun karena jarak pandang sangat terbatas dimalam hari


"Sial, ternyata di sana beneran sedang terjadi pertempuran yang sepertinya kita tidak bisa mendarat di kapal induk tersebut"


"Kalau begitu turunkan saja kami di pesisir pantai tersebut kalau masalah seterusnya kamu bisa kembali supaya tidak ikut terlibat dalam urusan kami" pinta Ari sambil menunjuk kearah pesisir yang letaknya cukup jauh dari pertempuran antara pesawat tempur milik Sekutu


"Terimakasih tuan untuk pengertiannya, saya do'akan supaya nak Ari bisa kembali dengan selamat, dan saya berharap kita bisa bertemu dikemudian hari" seru pelayan tersebut dengan wajah berseri

__ADS_1


"Anda tidak perlu berterimakasih, justru saya yang seharusnya berterimakasih kepada anda karena sudah mau mengantar saya hingga tujuan"


"Ini perintah dari nona dan nyonya, jadi saya harus menuruti apa kata majikan saya"


"Anda benar, tapi yang terpenting sekarang aku harus sampai ke tujuan jadi tolong bantuannya" jawab Ari


"Baik"


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil melewati rintangan maut yang dimana pesawat tempur sedang berperang di langit, walaupun jarak tempuh cukup memakan banyak waktu tapi bagi keselamatan itu bukanlah hal yang harus dikeluhkan karena mau bagaimanapun bodoh boleh tapi tol*l jangan itu prinsip Ari yang selalu ia pegang apapun keadaannya


Trutututu....


Suara helikopter yang mendarat secara perlahan namun pasti membuat suasana cukup mencengkram akibat terus terdengar suara baku tembak dari peluru misil sampai senjata mesin yang terdengar secara menggema dari dalam hutan belantara dan setelah cukup dekat dengan daratan, Ari dan yang lainnya segera melompat sehingga dalam waktu yang bersamaan helikopter tersebut langsung bablas berputar balik dan terbang menuju tempat mereka


Sebagai salam perpisahan mereka pun hanya saling melambaikan tangan, sehingga beberapa saat helikopter tersebut mulai tidak terlihat bersama dengan gelapnya malam, "Kamu tidak apa-apa, Ari?" tanya Andrian yang saat itu mereka sama-sama melihat kepergian helikopter milik keluarga Maya


"Maksudmu?" bingung Ari sambil melirik ke wajah Rian yang tampak sekali kalau tatapannya saat itu sangat serius


"Tidak, lupakan saja" ketus rian yang sama sekali tidak bisa menggambarkan harus dengan apa dia akan berkata kepada seseorang yang seharusnya tidak terlihat datar


Tidak selang beberapa lama akhirnya mereka masuki hutan untuk mencari Putra dan Vera, karena perasaan mereka semakin tidak enak saja, walaupun hari sudah sangat malam tapi tidak menutup kemungkinan jejak mereka akan hilang di dalam hutan jika bukan mereka telah lebih dulu pergi dari tempat tersebut


Disisi lain Vera terus-menerus membujuk Jenderal untuk memberikannya izin agar biasa merawat pria yang telah dibuat pingsan olehnya, tapi setiap alasan selalu di jawab dengan berbagai alasan supaya Vera tidak khawatir pada korban yang telah dibuat pingsan, semua itu agar Vera tidak merasa bersalah jika pria tersebut mati


"Kenapa paman terus menghalangiku?" bingung Vera yang tidak habis pikir dengan jenderal di depannya


"Bukannya begitu, tapi sebaiknya anda tidak perlu dekat-dekat dengannya"


"Saya khawatir jika dia sadar dia akan langsung menyerang nona" jawab jenderal tersebut


"Tapi aku jadi khawatir kalau dia kenapa-napa, paman"


"Sudah ku duga, dia adalah gadis lugu yang belum pernah melukai seseorang, jadi benar keputusan untuk menghalanginya" batin Jenderal dengan cemas


"Yasudah dari pada memikirkan lawan mending memikirkan diri sendiri, karena kita belum tentu akan selamat dari ancaman ini walaupun senjata kita otomatis bukan berarti semua akan terselesaikan dengan mudah" sambung Jenderal karena sudah lama pertempuran belum juga usai


"Anda benar, lalu kita harus apa?" tanya Vera tanpa sadar dirinya sudah teralihkan ke pertanyaan lain


"Sebenarnya kita tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini karena semua tindakan kita akan percuma jika lawannya berada udara" balas jenderal sambil melirik ke arah kaca dan berjalan mendekatinya


"Kenapa anda bisa sesantai itu ketika membunuh orang lain, paman?" tanya Vera sambil menatap jenderal dengan heran karena dia sudah melihat korban yang dibunuh oleh jenderal dengan mata kepalanya sendiri, apalagi darahnya saat ini sudah berceceran ke mana-mana


"Haha.. Aku ini tentara, jadi sudah wajar kalau aku membunuh orang, justru yang tidak wajar itu seperti kekasihmu!!"


"Kenapa dengan dia?"


"Tidak jadi lupakan saja, yang terpenting sekarang aku harus segera mengubungi markas pusat untuk meminta bantuan" seru jenderal yang segera berjalan ke alat komunikasi yang ada disampingnya, atau letaknya di atas meja dekat dirinya berada, meja tersebut bisa dibilang kecil karena hanya cukup diletakkan alat komunikasi seperti radio besar dan terdapat telepon yang ada di samping kotak tersebut


Vera hanya bisa melihat dari jarak 2 meter sebelum dia pergi ke lain tempat untuk memeriksa keadaan di luar karena di ruangan tersebut telah tercium bau anyir disebabkan oleh darah korban, tapi sebelum keluar jenderal sempat bertanya, " Nona Vera ingin kemana?" tanya Jenderal sambil memutarkan antena radio komunikasi untuk mencari sinyal agar bisa menghubungi markas

__ADS_1


"Hanya ingin memastikan keadaan diluar" jawab Vera sambil membuka pintu dan keluar begitu saja, bahkan jenderal langsung terkejut dan langsung berdiri untuk bertanya namun Vera telah lebih dulu keluar ruangan


"Huh... Kenapa, aku bisa sampai lupa untuk menanyakan dari mana asal kekuatan tersebut" gumam jenderal dengan menghendus berat


Diluar Vera terus melihat darah disepanjang lorong bahkan tanpa sadar perutnya sudah mencapai batas sehingga Vera mulai mual-mual di saat itu juga, "Sial, kenapa aku harus melihat beginian!!" keluh Vera sambil mengusap mulutnya dimana tubuhnya sudah mulai memanas dan perut terus berbunyi akibat rasa mual yang berlebihan


Tidak hanya bau darah tapi dirinya juga melihat mayat di mana-mana, walaupun pernah melihat tapi dia tidak pernah melihatnya secara langsung di hadapannya dan lagi itu juga kejadian lama jadi bisa dibilang Vera mulai tidak terbiasa dengan hal begitu walaupun sudah pernah melihat


Karena tidak tertahan lagi Vera segera mengambil langkah seribu untuk kembali lagi ke tempat jenderal berada, selagi ia belum mabuk darah. Sedangkan ditempat Nico, diri-Nya sudah berhasil menghabisi seluruh tentara yang ada bahkan terlihat di sana hampir kebanyakan tentara yang sudah terkapar tak berdaya di sekelilingnya


"Dasar manusia tidak tahu diri" ketus Nico dengan tangan ter-simbah darah, Lian yang melihat hanya bisa tertegun sambil badan terlihat sangat bergetar ketakutan, walaupun dia ikut membunuh tapi total membunuhnya jauh berbeda dengan manusia yang dijuluki Mesin Pembunuh


Bahkan dengan darah di tangan maupun ditubuh tidak membuatnya risih ataupun hal lainnya justru ia malah terlihat sedang tersenyum lebar menyaksikan rintihan dari setiap mayat yang ia bunuh mengunakan tangannya sendiri, dalam diam Lian mulai menggenggam erat pistolnya ditangan dengan kepalan yang bergetar sangat hebat


Sempat dia ingin menembak dari belakang tepat di punggung Nico, tapi ia masih harus mengumpulkan tekadnya lagi walaupun saat itu Nico sedang berada di fase lengah terhadap sekitarnya akibat separuh jiwanya sedang berada di kendali Zhang Xuan, walaupun begitu Nico tidak sadar dan malah terus terlarut dalam kesenangannya


"Sialan, kenapa aku harus terjebak bersama dengan iblis ini sih" benak Nico dengan rasa kesal sekaligus takut yang saat itu sendang tercampur aduk di pikirannya


Tapi di saat suasana sedang mencengkram tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari segerombolan kaki yang mendekati mereka, semua itu terdengar jelas karena suaranya sudah bergema hingga ke kuping Nico walaupun saat itu sudah menghadapi gelombang kedua tapi tenaganya masih fit seperti baru pemanasan


Dibalik lorong yang gelap dan sunyi terdengar suara langkah kaki yang terus terdengar, bahkan dari suaranya mereka sudah semakin dekat dengan keberadaan Nico, walaupun begitu Nico tetap tersenyum sumringah dengan sadis walaupun posisinya bisa dibilang sedang terdesak bagi Lian yang waktu itu malah berubah pikiran


"Kumohon jangan mendekati monster ini" batin Lian dengan memohon kepada langkah tersebut yang semakin lama semakin mendekat.


Jenderal Lion terus melangkah bersama dengan beberapa tentaranya, bahkan ada diantara mereka yang bertanya kepada dirinya, "Jenderal, Apa anda yakin akan menyusul mereka?" tanya tentara tersebut yang ikut berlari pelan ke tempat tujuan


"Tentu saja, semua itu karena aku sudah dengar ada beberapa tentara yang melapor kalau gelombang dua kita sudah di ratakan jadi aku tidak bisa tinggal diam disaat mereka sedang berbahaya"


"Tapi jenderal Lion, kita kan tahu kalau jumlah yang kita kirim kedalam istana ini sudah cukup banyak dan mereka semua sudah tumbang, apalagi kita yang hanya membawa 23 prajurit saja, saya jadi tidak yakin dengan kedepannya" ragu prajurit tersebut


"Aku tahu kalau yang kita lawan tidak biasa, mungkin bisa dibilang golongan manusia super, walaupun aku sedikit tidak percaya dengan kenyataan kalau kita akan berhadapan dengan mereka" balas jenderal yang menghentikan langkahnya dengan diikuti oleh yang lainnya


"Lalu apa jenderal tidak merasa takut?" tanya tentara tersebut yang ikut berhenti dalam pelariannya


"Sedikit, walaupun aku ini seorang jenderal tapi tetap saja aku masih memiliki rasa takut selayaknya manusia biasa"


"Aku tahu perasaan jenderal, apalagi seperti kita yang sudah mempunyai anak dan istri"


"Namun aku ingin katakan sekali saja, yaitu aku takut mati bukan berarti aku hanya berdiam diri seperti pengecut, apalagi tidak cuman aku yang dalam bahaya tapi negara tercinta kita juga dalam bahaya, jadi sebelum organisasi ini tumpas aku tidak akan menyerah sebelum aku mati" jawab jenderal dengan serius


Sehingga Tentara tersebut mulai tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, mari kita habisi mereka semua jenderal!!" ajak tentara tersebut dengan antusias.


**********


𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙪𝙥𝙡𝙤𝙖𝙙 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙗𝙪𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙪𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣²


𝙃𝙖𝙡𝙤.. 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣-𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙇𝙞𝙠𝙚, 𝙨𝙝𝙖𝙧𝙚, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙠 𝙛𝙖𝙫𝙤𝙧𝙞𝙩, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙚𝙣𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖


𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙭𝙩 𝘾𝙝𝙖𝙥𝙩𝙚𝙧!!..

__ADS_1


𝙂𝙤𝙤𝙙𝙗𝙮𝙚👋


__ADS_2