Fire And Water

Fire And Water
Cp 44# Berdebat


__ADS_3

.


Setelah matahari menyingsing Akhirnya putra dan teman-temannya telah sampai di jembatan yang terhubung langsung ke kota, sedangkan untuk tentara dan Pasukan yang ingin pergi ke medan perang sudah melewati mereka dan untungnya mereka berhasil melewatinya walaupun ada beberapa cobaan seperti menginjak ranting ataupun bunyi daun kering


Akan tetapi tentara tidak menghiraukannya mereka berfikir kalau bunyi seperti itu hanya sebatas tikus ataupun kucing liar yang akhirnya memilih untuk melanjutkan perjalanan, saat itu nafas mereka sudah tidak teratur karena semalam mereka tidak tidur dan tidak makan, karena kecapean mereka mencoba untuk duduk di tanah


Yang letaknya tidak jauh dari jembatan hanya saja terhalang oleh semak dan pohon, karena pria penguna kemampuan transparan telah kecapean karena mengunakan kekuatannya melebihi dari 5 orang itupun dalam jangka waktu cukup lama, karena prajurit yang melintas sangat amat banyak


Hingga membuat jalan setapak sudah tidak terlihat karena telah tersapu oleh mobil besi dan tank, dengan nafas tidak teratur andrian mencoba untuk berdiri dari samak sambil memperhatikan sekeliling, berharap sonia sudah menunggu di sekitar jembatan, namun hanya beberapa kali melihat sambil memperhatikan ke kanan dan ke kiri


Karena sudah cukup akhirnya rian duduk kembali dengan menghela nafas tanpa bersuara mereka semua tahu kalau hasilnya sia-sia, mereka ingin sekali melanjutkan perjalanan namun kaki terasa sakit dan berat bagaikan diikat bersama bola besi dengan berat 42 Kg, Vera dan maya bahkan sudah tidak bisa untuk berdiri


Sedangkan pria transparan sudah seperti mayat hidup karena sekujur tubuhnya sudah mulai membiru karena kehabisan tenaga, putra kini hanya bisa duduk dengan kaki di selonjor ke depan, sambil mencoba mengatur nafasnya supaya jantungnya tidak merasakan sakit


Sekarang mereka hanya ada Enam orang yang sudah kelelahan hingga tidak mampu untuk berdiri akan tetapi rian belum menyerah dia mencoba untuk kembali berdiri sambil memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan apa ada sonia yang sedang menunggunya


Namun lagi-lagi tidak terlihat apapun, yang ada hanya beberapa anggota kepolisian yang sedang menjaga garis polisi dari serbuan wartawan dengan dibantu tentara tentu saja mereka kewalahan untuk menjaga wartawan yang datang dari berbagai perusahaan dan negara agar bisa mendapat informasi panas baru-baru ini


Akibat hasil terus sama akhirnya rian kembali duduk di rumput sambil bergumam kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan putra yang melihat raut wajah rian segera bertanya, "Apa kamu melihat kak sonia atau siapapun dari anggota kita yang ingin menolong kita?" tanya putra


"Tidak, tentu saja aku selama ini hanya terus menunggunya datang menjemput kita disini"


"Siapa?" tanya putra penasaran


"Sonia, karena sebelum aku berangkat ke medan perang, dia telah lebih dulu bilang ke aku kalau dia ingin menunggu kita di sekitar jembatan, jadinya aku mengintip untuk memastikan kalau dia ada disekitar sini atau tidak"


"Oh,.. Begitu ya, aku kira kamu tadi hanya memantau saja"


"Lah, jadi kalian anggap tadi aku menghela nafas karena mencari jalan pulang?"


"Bukan sih, kami kira kamu ingin meminta bantuan dari luar" sambung Vera yang menyela pembicaraan


Setelah mendengar ucapan Vera akhirnya mereka terdiam karena dari mereka semua tidak ada yang satu pemikiran, "Hah, Kalau begini bakal repot" hela nafas putra


"Memang sih" bantu Vera yang ikut mengeluh


"Aku ingin nanya padamu Putra, apa kamu masih marah atau jengkel kepadaku?" tanya rian


"Hmm,.. tidak" jawab singkat sambil mengalihkan pandangannya ke arah semak-semak di sebelah kanannya untuk mengintip di area jembatan


"Syukurlah, aku kira kamu masih marah denganku" ujar rian


"Memangnya bermasalah untukmu jika aku marah atau tidak denganmu" jawab sinis Putra sambil memperhatikan mata rian


Andrian dan Vera yang melihat cara bicara Putra kini sadar kalau pandangan Putra terhadap orang sekitar telah berubah, karena dulu putra lah yang paling banyak berargumen dari pada rian, namun kini sebaliknya serasa putra bukanlah orang yang dulu


Karena perkataan itu kini suasana di sana jadi sangat hening berbeda untuk maya dia hanya sibuk dengan keselamatan Ari walaupun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, hingga dirinya berkata kepada putra, "Putra, bagaimana ini badan Ari semakin panas, sepertinya dia kena demam deh!!" ucap Maya dengan panik


"Hah!!, kok bisa?" tanya putra dengan kebingungan


"Aku juga enggak tahu, tapi memang dari panasnya aku bisa tau kalau dia sedang demam"


"Tunggu biar aku periksa" potong Vera dengan cepat berdiri lalu kembali duduk di samping Ari sambil mengecek suhunya mengunakan telapak tangan yang ia letakkan di dahi


Tak lama Vera memeriksa tubuh ari kini dia berkata kepada Maya dan orang-orang yang ada di sana, "Bahaya, Ari terkena demam berdarah kita harus cepat membawanya ke rumah sakit agar dia bisa mendapat penanganan khusus" panik Vera yang membuat orang di sana ikut kebingungan


"Ya ampun bagaimana bisa, kalau begini kita harus cepat kalau enggak bisa bahaya untuk ari" panik Maya


"Maya, Sebelum kamu bilang seperti itu mendingan kamu lihat orang disekitar mu kalau ingin meminta bantuan" ketus putra


Hingga maya menurut dan mengikuti perintah putra dan benar saja, pria transparan sudah pingsan kehabisan tenaga, Rico juga serupa dia telah pingsan karena semalaman ikut menggendong Ari dan rian juga sudah tidak bisa berdiri karena kakinya terasa sakit dan keram dan untuk dirinya dan Vera sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan, jikapun dipaksa mereka akan pingsan dijalan


"Sial" ketus maya dengan memukul-mukul tanah beberapa kali, Vera yang melihat tingkah maya dengan cepat bergerak untuk menenangkan maya karena dia takut kalau maya akan melakukan hal yang lebih parah

__ADS_1


"Tenangkan dirimu maya, karena tidak ada gunanya kamu marah disini" seru Vera sambil memegangi tangan maya


"Cih,. menyusahkan" Putra mencoba untuk berdiri walaupun sedikit sempoyongan hingga Vera segera bertanya kepada putra karena melihatnya seperti orang kesusahan "Putra, ingin kemana kamu?" tanya Vera


"Tentu saja, mencari jalan keluar dari masalah ini" ucap putra kini sudah kembali berdiri dan memperhatikan sekelilingnya dan tampak dengan jelas beberapa anggota polisi dan tentara yang masih berjaga


"Apa yang ingin kamu lakukan putra?" bingung maya


"Sebelum itu aku ingin bertanya kepada kalian, apa kalian bisa berjalan ataupun berlari?" setelah mendengar itu mereka hanya bisa menganggukkan kepala walaupun tidak yakin dengan hasilnya


"Bagus Kalau begitu rian, apa kamu masih kuat untuk berjalan sambil menggendong ari?" tanya lagi dari Putra


"Aku tidak yakin tapi kalau untuk keselamatan ari, akan aku usahakan yang terbaik"


"Kalau begitu dengarkan rencana ku" ucap Putra sambil menyuruh mereka untuk merapat karena rencananya akan di beri tahu dengan berbisik-bisik


Tidak lama berdiskusi akhirnya mereka sepakat untuk mengunakan cara yang di sampaikan Putra walaupun masih ada rasa ragu mengganjal hati, hingga dengan cepat Putra pergi menjauh ke arah timur meninggalkan teman-temannya di sana


Vera, maya, dan rian kini hanya saling memandang satu sama lain karena mereka hanya bisa percaya kepada Putra, dilain tempat Putra kini sudah berada di antara darat dan laut atau bisa dibilang di pinggir pantai dengan melamun putra mulai mengambil nafas panjang lalu membuangnya lewat mulut dengan menghadap kearah langit hingga dalam waktu singkat api mulai menyembur ke langit


Akan tetapi dia mengeluarkan mengunakan semua kekuatannya dengan skala penuh hingga api mulai membesar dengan selayaknya letusan gunung api, hingga tentara yang ada di jembatan kini menjadi panik akibat melihat kobaran api besar karena takut mereka hanya saling suruh menyuruh


"Halo Pak, bukannya anda adalah seorang polisi jadi masalah itu kami serahkan kepada kalian" ujar seorang tentara negara


"Bac*t!!, kalian kira kami mau mati gitu" bantah polisi dengan emosi meledak-ledak


"Lalu siapa yang akan mengeceknya karena jika nanti terjadi sesuatu terhadap warga siapa yang akan bertanggung jawab"


"Cih,.. Kalau gitu tugas kalian apa, kalian pikir baju kalian yang loreng itu hanya sebagai pajangan" bantah polisi dengan mencibir


"Sudah-sudah, tugas kita disini sama tidak ada gunanya kita berdebat dengan keadaan sekarang ini mending kita ke sana saja ramai-ramai, coba kalian lihat wartawan saja sudah berbondong-bondong ke sana, nanti kalau terjadi apa-apa sama mereka siapa yang akan tanggung jawab kalau bukan kita semua" ujar pihak ketiga dari tentara yang melerai keributan antar polisi dan tentara tersebut


"Okelah, lagian sudah menjadi tugas kita untuk bertaruh nyawa agar warga aman dari bahaya" ucap polisi yang mengajak rekannya untuk bergerak ke lokasi dengan diikuti oleh tentara bersenjata hingga saat itu jembatan dan sekitarnya telah sepi dari wartawan ataupun penjaga


Sedangkan pria transparan dia masih pingsan tak sadarkan diri, mereka berfikir kalau dia bukanlah hal yang harus dipikirkan karena dengan kemampuan milik dia sudah membuatnya lolos dari penjaga tanpa ketahuan


Setelah lewat dari jembatan, tampak dengan jelas rumah-rumah warga yang kini terbengkalai karena seluruh warga yang tinggal di dekat Pulau sudah di ungsikan ketempat yang lebih aman, berjaga-jaga supaya hal kemarin tidak terjadi lagi


"Kenapa disini sangat sepi dan kemana seluruh warga yang tinggal disini?" bingung Vera sambil memperhatikan sekitarnya dan ternyata memang tidak ada orang satupun bahkan di sana sama seperti kuburan


"Mungkin mereka semua sudah di ungsikan" jawab maya sambil memperhatikan sekeliling


"Sudah-sudah, kalian kira aku tidak keberatan" sentak rian dengan badan gemetar


"Oh, maafkan aku rian, sekarang kita cari tempat aman dulu untuk beristirahat" ucap Vera dengan cepat berlari lebih dulu supaya bisa memantau sekaligus mencari tempat aman, tidak selang lama akhirnya mereka sampai disebuah ruko yang tidak sengaja terlihat oleh Vera


Karena menurutnya itu adalah tempat paling aman untuk beristirahat, karena jaraknya cukup jauh dari


jembatan, apalagi jika mereka terlalu dekat dengan area jembatan bisa bahaya kalau terlihat oleh wartawan, dengan pelan rian meletakkan tubuh Ari di teras ruko sambil merobohkan badannya ke lantai


Vera dan maya melihat Rian sudah tidak berdaya kini mereka juga duduk di lantai dengan nafas terengah-engah dengan kaki di selonjoran ke depan "Fuhh,.. Lelah sekali" hela nafas Vera yang mencoba mengambil smart phone namun sayangnya tidak ada mungkin terjatuh di saat mereka sedang berada di hutan


"Lah!!!, kemana phone aku" panik Vera karena hp miliknya tidak ada di saku celana


"Apa mungkin jatuh di jalan" ucap maya dengan merentangkan seluruh otot tubuh


"Iya sih, andrian apa kamu memiliki hp, coba kamu hubungi sonia, siapa tahu dia bisa memberi kita bantuan"


"Tunggu sebentar" jawab singkat rian yang masih tergeletak di lantai dengan cepat memeriksa sakunya dan akhirnya dia menemukannya hanya saja telah mati karena kehabisan baterai


"Sial, hp milikku telah mati" ketus andrian sambil melempar hpnya ke lantai dengan halus


"Maafkan aku kak Vera, karena aku tidak membawa phone jadinya aku tidak bisa membantumu untuk menghubungi sonia" ujar maya yang kini menunduk

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, lagian aku juga tidak masalah tapi yang terpenting sekarang adalah dimana kita bisa mendapat bantuan karena jika terlalu lama bisa sangat bahaya untuk Ari"


"Yah kamu benar, kak rian sudah tidak kuat untuk berjalan sementara kita tidak punya kekuatan jika harus berjalan sambil menggendong ari" ucap maya


'Hahh.. bagaimana ya dengan keadaan Putra sekarang?" khawatir Vera terhadap Putra sambil melihat kearah jembatan walaupun terhalang rumah dan gedung tapi Vera bisa merasakan kehadirat Putra dari balik sana


Sementara dilain tempat, karena Putra telah mengeluarkan seluruh kekuatannya kini dia tampak seperti orang mabuk karena langkah kakinya sudah oleng, apalagi badannya sudah mulai membiru karena mengeluarkan semburan api dengan hampir terlewat batasnya


Tapi karena Putra tidak ingin ditangkap dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu apalagi dia sudah mendengar langkah kaki dengan jumlah banyak, jadi dia sangat yakin kalau orang yang berjaga di jembatan sedang datang dalam jumlah banyak


"Baguslah kalau yang terpancing banyak, kalau seperti itu aku jadi lega dengarnya" Gumam Putra dengan cepat berlari menuju hutan dengan jalan sempoyongan dan gemetar bahkan dia seperti orang yang sedang mabuk karena terlihat oleng dan lesu


Setelah Putra masuk hutan belantara kini ia terlihat beberapa tentara dan polisi yang baru sampai, dengan teliti mereka mulai memeriksa tempat kejadian namun mereka seperti kebingungan karena tidak terjadi sesuatu hal yang bahaya sedangkan api barusan bukanlah api biasa


Putra mengunakan 80% kekuatannya, namun semua itu ada efek nya seperti badan membiru, lesu dan gemetar, akibatnya putra tidak bisa melanjutkan perjalanan dan akhirnya terjatuh dalam posisi tersungkur sambil mata tertutup lemas, dirinya terjatuh di tangah hutan dengan rumput belukar jadinya dia tidak akan diketahui jika terjatuh di sana


Mulai dari polisi, tentara dan wartawan kini sangat kebingungan karena asal suara dan kejadian aneh tidak ada apapun di sana, padahal mereka melihat dengan mata kepala sendiri kalau munculnya api besar berasal dari daerah pesisir pantai


"Aneh sekali, perasaan tadi sudah sangat jelas ada suara dan wujudnya disini?" Gumam polisi dalam posisi berjongkok dan meraba-raba pasir di sana dengan seksama


"Benar banget, tadi kita semua lihat dengan jelas kalau kejadian itu berasal dari sini, masa sih kita salah lihat coba deh kalian lihat wartawan saja merasa kebingungan padahal mereka adalah golongan paling jeli dalam mencari kehebohan" ucap salah satu tentara sambil menunjuk ke arah rombongan yang membawa kamera


"Kalau begitu, bukan hanya kita yang salah lihat tapi semuanya" balas pria polisi dengan menyentuh dagunya


"Kamu benar, kawan"


"Lah kenapa mereka jadi akrab gini bukannya, tadi ribut ya" batin tentara yang awalnya menjadi orang ke tiga diantara keributan Polisi dan Tentara


Di bawah terik matahari mereka masih mengamati tempat kejadian mereka hanya berfikir kalau monster tersebut masuk kedalam air laut, namun ada yang berpendapat kalau monster tersebut terbang ke langit, akan tetapi semua teori tersebut tidak masuk akal jadinya mereka melanjutkan pencarian


Hingga tidak lama diantara mereka ada yang melihat jejak kaki manusia dan bilang, "Halo, Pak saya menemukan jejak disini mungkin ini petunjuk kalau kita bisa menemukan asal api tersebut" ucap dari salah satu regu polisi


"Iyah kamu benar, ini jejak manusia normal jadi memang benar kalau api tadi bukan berasal dari Monster yang dikatakan anak-anak itu" ucap polisi dengan menyindir


"Hah!!, kamu ngajak ribut ya, perasaan tadi kamu juga bilang kalau Monster nya terbang ke langit deh" marah pria tentara dengan kesal


"Sudahlah kalian itu abdi negara kenapa jadi kaya anak kecil sih" sewot pihak ketiga dari tentara


"Jika saya lihat lagi ternyata jejaknya masuk ke dalam hutan, pak" ucap salah satu regu tentara yang menemukan jejak


"Bagus, sekarang kita masuk ke dalam hutan dan cari sampai ketemu siapa tahu didalam sana kita bisa menemukan petunjuk dari kejadian aneh kemarin"


"Baik Pak" ucap serentak dari regu tentara dan regu polisi kecuali dua orang yang sering bertengkar layaknya anak kecil


"Namun sebelum itu kita harus bagi regu karena akan ada satu regu yang tinggal di pos untuk menjaga jembatan dari wartawan" sambungnya dengan serius


"Benar apa yang kamu katakan, Pak" ucap tentara


"Aku sih setuju aja" ikut polisi dengan posisi kembali berdiri


"Baiklah kalau begitu kita bagi saja, polisi amankan warga jadi kalian lindungi jembatan dan tentara kalian lindungi negara jadi kalian semua ikut bersamaku untuk mengamankan negara dari ancaman, sudah paham!!" suara lantang dengan nada tinggi sontak membuat mental dan semangat tentara menjadi membara kecuali sih Dika seorang tentara yang bentrok kepada anggota kepolisian


"Haha,.. Gitu dong, kan sedikit enak di dengar" ketawa ledek dari polisi membuat Dika kesal


"Kecuali kamu, karena kamu berani menentang tentara, bukannya itu petunjuk kalau kamu adalah orang kuat" ucap komandan tentara saat itu


"Eh,." bunyi berdenging membuat polisi itu kini menjadi bengong dan tidak bisa berkata-kata


"Haha,.. Lihatlah sekarang dirimu, malah jadi orang tol*l" ketawa bebas dari Dika untuk meledek polisi tersebut


"Sialan nih anak" batin polisi dengan kesal


"Sudah-sudah jangan ribut lagi, coba kalian lihat wartawan itu sudah pergi, artinya jembatan dalam bahaya" ucap komandan hingga dengan serentak anggota kepolisian berlari terburu-buru menuju jembatan, mereka takut kalau wartawan masuk ke pulau, akan tetapi tidak dengan satu orang yang selalu bentrok dengan tentara

__ADS_1


Dan mereka mulai masuk kedalam hutan untuk menelusurinya, berharap kalau dugaan mereka benar yaitu tentang monster yang mengeluarkan api hingga menyerupai gunung meletus.


__ADS_2