
Malam mulai menua, udara di luar rumah makin dingin membuat dua security di pos nya menaik kan resleting jaket kulit nya ke atas. Kepulan uap panas dari cangkir kopi berwarna putih itu mengebul ke atas.
"Mun, kok makin kesini makin banyak Paketan gak jelas pengirim nya ya? " tanya security bernama Sarmin ke teman nya Munandar.
Kedua lelaki berusia 25 tahunan itu sedang standby menjaga rumah Hafiz. Mereka sudah hampir 1 tahun ini bekerja disini atas referensi security di rumah induk yang masih ada hubungan kekerabatan.
" Gak tahu Min, tapi kata Mas Bos nanti klo ada paketan lagi untuk Nyonya muda tanpa nama dan mencurigakan di suruh sortir aja disini. Terus kalau isi nya makanan kita di suruh makan aja! "kata Munandar sambil menyalakan televisi berukuran 14 inch itu di dinding pos.
"Kalau makanan nya beracun gimana? metong dong kalau kita makan? "balas Sarmin galau.
Munandar menggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal. Lelaki yang berasal dari daerah Kudus itu merasa ketakutan juga jika makanan itu mengandung racun. Wah bisa batal nikah dengan Mimin kekasih nya yang di desa.
Sarmin merenges memperlihatkan kan gigi nya yang besar-besar. " Wah kamu galau kan ya? tapi selama in makanan yang di terima Mas Bos kan aman saja kalau kita makan. Jadi kayak nya gak perlu takut deh sama racun! "
Lelaki yang lebih tua 2 tahun dari Munandar itu mencoba menyakin kan teman nya, selama ini makanan pemberian dari Bos muda tak pernah membuat mereka sakit dan berakhir ke rumah sakit.
Akhir nya mereka sepakat mengabaikan kegalauan hati nya agar tak bersuudzon pada hal yang belum terjadi. Saat mereka sedang bercakap-cakap, sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah mewah itu. Seorang lelaki paru baya yang masih bertubuh atletis dan memiliki sedikit cambang di wajah nya keluar dan membuka kan pintu mobil untuk wanita yang ada di sebelah nya. Lalu kedua orang itu mengayun kan langkah ke arah pos security.
"Selamat malam Pak, Saya mau bertemu dengan Bapak Hafiz Birendra" sapa lelaki yang ternyata suami dr Ratih.
Serempak kedua security itu menoleh dan berdiri menghormati kedatangan tamu tuan muda nya.
"Selamat malam, maaf dengan Bapak siapa ?" tanya Sarmin sopan.
__ADS_1
"Saya Rudy dan ini istri saya dr Ratih yang akan memeriksa kandungan istri bapak Hafiz." jawab suami dr Ratih dengan ramah.
Bergegas Sarmin dan Munandar mempersilah kan tamu nya masuk dan menyuruh mobil nya di parkir kan di halaman dalam saja karena di luar rawan maling orderdil mobil.
Pak Rudy kemudian memberikan kunci mobilnya pada Sarmin setelah menanyakan apakah sexurity itu bisa mengendarai mobil dan ternyata Sarmin memang bisa dan mengambil alih untuk memarkirkan kendaraan tamu nya.
Sedang Mundandar mengantarkan kedua orang itu masuk ke dalam rumah. Kebetulan kedua orang tua Hafiz sednag berkumpul di meja makan bersama anak dan menantu nya untuk makan malam bersama menikmati masakan Izz yang tadi sore belajar memasak dengan Bibi.
Bu Zahira sangat senang sekali dengan kedatangan adik angkat dan suaminya dan mengajak sekalian untuk menikmati masakan anak gadis nya.
Pak Rudy dan dr Ratih akhir nya mau mengikuti ajakan Bu Zahira. Dan setelah kedua nya duduk, Pak Birendra mengajak semua nya berdoa.
"Silahkan Tante dan Om di coba masakan Izza kalau gak enak harap maklum ya karena baru belajar" kata Iza malu-malu
Setelah selesai makan, dr Ratih dan suami nya mengucapkan banyak terima kasih atas jamuan makan nya yang enak. Lalu dr Ratih mengajak Aygul untuk melanjutkan pemeriksaan kehamilan nya di ruang pribadi Ibu mertua nya yang dulu nya adalah tempat untuk praktek kebidanan yang letak nya di rumah induk.
Sedang kan Ayah mengajak Pak Rudy serta Hafiz untuk ke ruang keluarga untuk bersantai. Pak Rudy yang seorang dosen tampak sangat serius mengikuti pembicaraan tentang dunia pendidikan yang sedang marak dengan kasus bullying. Selagi para lelaki bercakap-cakap,para wanita dewasa itu pergi ke rumah induk.
Aygul masih belum percaya diri untuk berjalan dengan kaki nya sendiri dia masih ragu dan penuh ketakutan jika berjalan sedikit jauh dari kamar nya sehingga dia masih mengandal kan kursi roda nya untuk beraktifitas hilir mudik di dalam rumah.
Bibi dan teman-teman nya telah membersih kan meja makan dan membagi buah tangan dari dr Ratih untuk di nikmati bersama.
4 kardus martabak telur yang masih hangat menguarkan aroma nya yang lezat. Bibi menempatkan pada piring-piring lalu mengantar kan di ruang keluarga, di ruang para asisten dan di pos security.
__ADS_1
Sudah jadi tradisi dan didikan tuan rumah nya jika mendapatkan rejeki makanan semua akan di bagi rata agar sama-sama bisa menikmati rejeki.
Di ruang kebidanan yang masih tertata rapi dan bersih itu, dr Ratih menyuruh Aygul berbaring di bed pasien dengan di bantu adik ipar dan mertua nya. Kebetulan karena tak ada mesin usg disitu maka dr Ratih menggunakan dopler saja untuk mendengar detak jantung janin.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan sederhana dr Ratih melepaskna sarung tangan dan membuang nya ke sampah non medis yang ada disitu.
"Gimana kondisi Aygul dan calon cucu ku didalam situ Rat?" tanya Bu Hafizah dengan sorot mata yang sedikit kuatir namun hanya bisa di baca oleh dr Ratih saja karena dia sudah kenal karakter kakak angkat nya itu.
Wanita yang berkaca mata itu tersenyum simpul lalu duduk di kursi kerja,Bu Hafizah dan Izza membantu Aygul turun dari ranjang dan duduk kembali di kursi nya.
"Alhamdulillah semua sehat dan baik. Namun Aygul tidak boleh terlalu banyak pikiran yang nikin stres ya ?kasihan baby di dalam nanti ikut stres juga" jawab nya mencoba menenang kan.
Seolah tahu dr Ratih berbicara lebih lanjut hanya dengan diri nya saja Bu Hafizah menyuruh Izza mengantarkan Aygul ke kamar nya kembali.
Setelah anak dan menantu nya kembali ke rumah sebelah, Bu Hafizah segera memberondong berbagai macam pertanyaan di seputar hasil pemeriksaan kehamilan menantu nya tadi.
Dr Ratih menghela nafas dengan perlahan seakan berat mengatakan hal yang menurut nya agak riskan di ungkap kan. Namun Bu Hafizah mendesak karena dia juga berhak tahu kesehatan menantu dan calon cucu nya agar dia bisa mengambil tindakan lebih cepeat jika ada sesuatu yang membahayakan mereka berdua.
Wanita yang masih cantik di usia senja nya itu menggenggam erat pergelangan tangam adik angkat nya.
"Sebenar nya mereka baik saja namun..."
Tok..tok..tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan kedua wanita itu.