
Malam hari saat mereka makan malam bersama di rumah induk, mereka membicarakan hal-hal ringan dan mulai membahas rencana pernikahan Izza dan Zein yang akan di selenggarakan 2 bulan lagi. Ayah menanyakan persiapan mulai dari administrasi surat yang diperlukan untuk di KU
Kebetulan malam ini Zein datang karena undangan calon mertuanya. Dia sengaja membawa salad buah untuk hidangan penutup makan malam. Tadi siang dia mendapatkan parcel buah dari seorang pasien nya yang gembira atas kesembuhan anak nya.
Pada dasarnya Zein juga hoby memasak dan membuat kudapan sendiri alhasil buah-buahan tadi di sulapnya menjadi salad segar yang menyehatkan. Dia tahu calon Ibu mertuanya sangat menyukai salad.
Tentu saja buah tangan Zein mendapat kan sambutan senyum lebar dari calon ibu mertua. Potongan apel, pir, strawberry dan kiwi yang warna nya cerah menyegarkan mata dan tentunya lidah.
"Aduh Zein, kok sempat sih bawa salad sebanyak ini. Ibu jadi senang ini bisa teman diet besok pagi" senang sekali Bu Hafisah menerima 1 kotak besar ukuran 2 kg penuh salad buah.
Bu Hafisah menyuruh anak gadisnya untuk menyajikan di atas meja makan sebagai makanan pencuci mulut nanti.
"Ini Zein bikin sendiri bu, tadi dapat parcel dari pasien banyak sekali. Zein gak bakalan habis kalau di makan sendirian"
Izza mengambil salad dari tangan ibunya dan menyajikan di atas piring salad. Sisanya di masukkan ke dalam kulkas. Di ruang makan sudah ada Ayah yang sedang membaca berita dari hape nya dan ada Hafiz serta Aygul yang sudah duduk manis. Zein menyapa calon Ayah mertuanya dengan mencium punggung tangan kanan nya lalu bersalaman dengan Hafiz.
"Lho Zein, kok gk cium tangan calon kakak ipar sih? '' goda Hafiz sambil mengerling.
Zein terkekeh mendengar nya tanpa memperdulikan tangan Hafiz yang terulur ke arahnya. Justru tangan Izza yang menampel ke tangan Hafiz. Kedua kakak beradik itu selalu membuat ramai suasana rumah.
Walaupun Hafiz sudah tinggal di rumah sebelah tapi Ayah menyuruhnya tetap berkumpul saat makan malam di rumah induk, agar sang ibu tidak merasa kesepian dan sendiri. Jadi lah tiap makan malam mereka selalu makan bersama orang tua dan adiknya, hal itu tidak membuat Aygul keberatan karena dia juga butuh teman berbicara saat Hafiz kadang belum sampai di rumah di malam hari.
__ADS_1
Makan malam bersama keluarga besar Hafiz berjalan dengan lancar dan penuh canda, keusilan sang kakak pada adiknya sering kali membuat si adik ngambek dan mengadu pada sang Ibu. Kadang Izza juga menggunakan kesempatan merajuk pada kakak ipar nya dan berakhir dengan permintaan maaf Hafiz di sertai tambahan transferan uang saku buat si bungsu.
Zein merasa nyaman berada di lingkungan keluarga besar Birendra bukan karena kemewahan dan kekayaan mereka, namun karena kehangatan dan penerimaan dengan lapang dada keluarga itu padanya yang basic nya dari keluarga sederhana,sehingga dia merasa menemukan keluarga baru di tanah rantau.
Ayah mengajak mereka pindah ke ruang keluarga untuk membahas kelangsungan acara pernikahan Izza dan Zein. Calon pengantin itu terlihat malu-malu mau dan tak pelak keusilan Hafiz pun mulai menggoda.
Pak Birendra menanyakan pada Izza dan Zein kelak ketika mereka telah menikah, mau bertempat tinggal dimana. Karena sebagai Ayah dia merasa sangat kehilangan sosok gadis kecilnya jika Izza sampai pergi dari rumah induk ini. Namun dia juga sadar jika tanggung jawab nya terhadap gadis kecil yang sudah dewasa itu akan berakhir ketika Zein telah ijab kabul dengannya di depan penghulu.
Rasa sesak dan sedih menggelayuti hati kecilnya, sebagai seorang Ayah rasanya tak rela jika sang buah hati jauh darinya. Dengan suara bergetar menahan pedih Pak Birendra menanyakan hal yang sangat menggalaukan itu pada kedua calon pengantin.
Hafiz dapat melihat kesedihan di mata ayahnya dia paham sekali jika sang Ayah sangat berat melepas anak gadisnya, jangan kan Ayah dia sendiri aslinya juga merasa kehilangan jika setelah menikah nanti izza pergi dari rumah induk.
Atau saat gadis kecil itu merajuk meminta tambahan yang saku dari nya, dia takut meminta lagi dari Ayah ataupun ibunya sehingga pada Hafiz lah dia berani merongrong abang nya.
Bahkan saat Izza menangis saat dulu pernah jatuh cinta pada seorang teman lelaki nya namun harus terpisah jauh karena orang tua temannya harus pindah keluar negeri. Jaman masih mereka remaja belum ada internet seperti sekarang ini sehingga komunikasi hanya melalui surat saja.
Banyak cerita yang mereka lalui berdua sebagai seorang kakak beradik yang selalu bersama dan terpaksa berpisah saat Hafiz melanjutkan kuliah le Kairo. Dari situ mereka sebena masih intens komunikasi melalu email maupun skype.
Ibu mengambil piring kecil di atas meja dan mengiainya dengan salad yang di bawakan Zein lalu memberikan pada masing-masing anggota keluarga nya.
"Izza dan Zein nanti setelah kalian menikah, kalian ada plaining tinggal dimana? Ayah harap kalian tetap tinggal disini bersama kami. Rumah ini kosong nak jika kalian pergi. " Suara Ayah tersengar bergetar.
__ADS_1
Izza yang di tatap Ayahnya sedemikian rupa tampak menunduk sedih. Dia juga berat meninggal kan rumah ini tapi sebagai istri yang baik dia wajib menuruti apapun perintah suaminya kelak. Jika sang suami menghendaki nya tinggal bersama nya di rumah dinas maka dia tak akan sanggup menolak. Tapi di lubuk hati kecilnya sendiri dia ingin bersama orang tua nya.
Gadis imut itu memandang wajah Zein yang menunduk" Izza menurut apa kata Mas Zein aja Ayah, karena nanti setelah menikah Izza harus patuh terhadap suami kan Yah? " lalu dia menunduk
"Zein? " tanya Pak Birendra mengagetkan dokter tampan itu.
"Oh iya Yah, " Lelaki itu tampak menjeda bicaranya karena dia juga sedang berpikir
"Zein nanti setelah menikah mau tinggal dimana? "
Dan dia akhirnya ikut dilema di beri pertanyaan oleh calon mertuanya.
"Begini Yah, Zein kan sudah ada rumah dinas di dekat rumah sakit, kalau ada panggilan darurat bisa segera datang kesana. Namun Zein juga mempertimbangkan jarak kampus Izza dengan rumah sakit itu menjadi lebih jauh. "
Izza ikut bingung mendengar jawaban Zein yang belum ketemu ujung pangkalnya.
"Lalu? " kejar Ayah.
"Zein berpikir mengambil jalan tengah nya saja. Untuk hari efektif kerja kami akan tinggal di rumah ini, Zein bisa berangkat dari sini namun jika Jumat hingga Minggu ijin kan kami tinggal di rumah dinas. " jawab Zein santun
Ayah sebenarnya ingin mereka tinggal selamanya di rumah ini namun apa daya dia harus ikhlas melepaskan egonya menahan anak gadisnya
__ADS_1