
Dr Ratih masih berkutat dengan buku resep di meja nya,dia ingin menuliskan resep untuk pasien nya.
"Bu, saya berikan resep antibiotik di minum 1x 2 sampai habis jangan di sisakan. Lalu ada salep yang di oleskan di tempat yang gatal dan obat minum untuk gatal dan nyeri."
Dewi mengangguk "baik dokter"
"Untuk sementara waktu jangan berhubungan in-tim dulu karena akan memperparah sakit nya. Jika telah sembuh nanti gunakan pelindung /****** jika sedang melakukan hubungan" kata dr Ratih lagi.
Dewi mengangguk malu, dia tak menyangka akan mendapatkan penyakit sial itu, untung saja dia segera ke klinik ini, jika tidak dia akan tersiksa dengan nyeri gatal dan pedih di area terlarang nya.
Setelah selesai konsultasi Dewi keluar ruangan dr Ratih dan menuju kasir. Dia menanyakan biaya konsultasi dan menebus resep itu, setelah kasir menghitung jumlah yang harus di keluarkan Dewi, kasir muliai menyebutkan nominalnya.
Dewi meneguk saliva nya dengan sangat kasar, dia tak menyangka jika kenikmatan yang Leon berikan akan menguras dompetnya saat ini.
"Obatnya di tebus di apotek ya bu, tunjuk kan saja resepnya itu" kata si kasir yang berwajah timur tengah.
Dewi segera mengambil resep itu dan berjalan menuju Apotek. Setelah menyerahkan kertas resep itu, dia duduk di bangku paling depan untuk menunggu panggilan dari apotek.
"Sedang apa ya Mas Hafiz kemari? Jangan-jangan Aygul hamil?!" tanya sendiri lalu di jawab sendiri pula.
Pasien dr Ratih silih berganti masuk ke ruangan nya untuk konsul, jam dinding bergambar pesawat komersial itu berdentang 9x itu artinya hari telah malam. Dan makin malam pasien makin banyak yang datang.
__ADS_1
Dewi bergegas keluar klinik setelah mendapatkan resepnya. Dia melambai memanggil taxi yang kebetulan habis mengantar pasien ke klinik.
"Apartemen Mutiara Emas ya Pak" titah nya pada sang driver. Taxi melaju dengan sedikit kencang atas permintaan penumpang yang ingin segera meminum obat agar rasa gatal dan pedih nya hilang.
30 menit berlalu akhirnya Taxi telah berhenti di apartemen yang berada di tengah kota, apartemen milik nya termasuk berada di segitiga emas di Jakarta sehingga nilai jual nya tinggi.
Apartemen ini di berikan Mr Fangfang untuk di tempatinya bukan di miliki nya karena dia telah berhasil membuat kaya Mr Fangfang. Dia tak ambil pusing yang penting dia tak akan menggembel di ibukota saat ini.
Dewi sudah pindah dari rumah kontrakan nya yang lama karena mendapatkan fasilitas mewah itu. Dan kompensasi nya dia harus melayani Mr Fangfang saat dia tiba di Jakarta untuk mengurus bisnis nya.
Mr Fangfang berjanji akan membelikan nya sebuah mobil mewah jika proyeknya bersama Hafiz itu goal. Memang Dewi saat ini belum memiliki mobil karena itu kemana-mana dia selalu mengandalkan taxi online.
Dewi berjalan menuju lift yang ada di pintu apartemen, dia menekan tombol angka 10 yang akan membawa nya ke tempat tinggalnya.
Entah sudah berapa puluh kali dia bermain cinta dengan leon dan dia tak pernah menghitung nya setiap kali bercinta tak pernah sekalipun dia memakai pengaman karena Leon tak pernah mau memakai nya, dia beralasan jika memakai pengaman maka tak ada sensasi kenikmatan yang di rasakan nya.
Dewi sangat geram karena Leon lah penyebab sakitnya. Namun dia juga sadar jika sekarang ini dia adalah wanita pemuas nafsu laki-laki sesaat. Sehingga tak hanya Leon yang bisa memberinya penyakit bisa juga patner ranjang nya yang lain juga berpotensi di curigai sebagi triger penyakit kelamin itu.
Setelah pintu lift terbuka dia segera menempelkan key card nya pada pintu apartemen. Lalu masuk lah Dewi dengan tangan menenteng tas kresek berisi obat.
Dia menjatuhkan diri ke atas ranjang nya yang empuk, lalu tak lama kemudian rasa gatal mulia menyerang area genitalnya.
__ADS_1
Dewi segera ke kamar mandi dan mulai menggaruk di pinggir **** * nya, karenq keenakan menggaruk akhirnya saat membasuh dengan air dia menjerit perih karena **** * nya sudah lecet. Dia meringis kesakitan karena sensasi rasa lecet dan terbakar yang di rasakan nya. Dia membuka botol cairan antiseptic yang di perolehnya dari resep dr Ratih.
Cairan itu di campurkan nya dengan air hangat rasanya seperti di berikan sensasi dingin ketika dia mulai menyemprotkan cairan obat yang telah di campurnya dengan air hangat.
Setelah beberapa saat dia sudah kembali ke kamar nya dan mulai mengoles dengan salap area yang lecet tadi.
Tringg...
Tringgg..
Hape nya berbunyi dua kali, dia mengambil benda itu yang tergeletak di ranjang.
Leon yang menelpon. Dewi masih kesal sebenarnya tapi dia tak berani menolak karena dia telah menerima uang yang sangat besar dari Leon selama 1 bulan untuk melayani nya.
Sial!!
Rutuk nya dalam hati kesal, ingin rasanya menolak tapi dia tak berani melakukan nya.
"Ha..halo" kata Dewi pelan
"Halo sayangku...kenapa lama sekali angkat telpon nya?"
__ADS_1
Dewi tergagap menjawab pertanyaan Leon. "Aku baru saja ke kamar mandi"
"Bersiap lah ke hotel seperti biasa nya, aku merindukan mu dan aku akan mengenalkan mu dengan Edward teman ku dari Belanda"